Love Is Only You

Love Is Only You
Trauma



Samar-samar tubuhku terasa sangat ringan dan sedikit berguncang, samar terdengar suara troli beriringan dengan langkah kaki terburu-buru, dan samar terdengar seseorang memanggil namaku terus menerus. Suaranya terasa berat seperti tengah menahan tangis. Semakin lama suara suara itu hilang ketika tubuhku berhenti berguncang. Pandanganku yang sebelumnya samar kini gelap seutuhnya.


Saat membuka mata aku bisa melihat cahaya yang sangat menyilaukan mata hingga membuatku menunduk tak tahan dengan teriknya. Sesaat ada seseorang yang menghalangi cahaya itu hingga nampak siluetnya yang kurus tinggi dengan tangannya yang mencoba menggapaiku.


“Chaca anakku.” sahutnya mengawali, aku berusaha mengenali sosoknya meski dengan mata menyipit berusaha memfokuskan pandanganku.


“Ayah, kaukah itu?” seketika air mataku mengalir setelah mengenali siapa sosok di depanku. Aku menangis sejadi-jadinya meluapkan segala beban yang kutampung selama ini. Tangannya yang besar namun lemah itu membelaiku dengan lembut mencoba menenangkanku. Bahkan tangisku semakin deras saja ketika sadar akhirnya ada seseorang yang bisa kubagi rasa ini.


“Maafkan ayah nak, ayah justru tak bisa mendampingimu disaat sulitmu. Maafkan ayah yang meninggalkanmu dengan memberi tanggungjawab atas perbuatan ayah. Pasti kamu kesulitan selama ini.” tangannya beralih menggenggam tanganku dengan tatapan bersalahnya.


“Ayah, aku percaya dengan ayah. Selamanya aku percaya dengan ayah, jadi bisakah ayah terus bersamaku? Aku butuh ayah.” kini tangisanku mulai reda. Aku tak begitu jelas mendengar jawaban ayah namun aku bisa membaca gerak bibirnya dan berkata “Maaf nak.” Sosok yang kurindu itupun semakin lama semakin pudar, tiba-tiba suara ikut menghilang. Sunyi kembali membelengguku dan gelap menyelimutiku.


***


“Cha....Cha.... Kamu sudah sadar?” seseorang sedang berbicara. Aku membuka mata dan nampak langit-langit putih dengan lampu dibeberapa sisinya. Aroma dan suara alat-alat medis terdengar jelas hingga akhirnya aku sadar bahwa aku berada di rumah sakit. Aku menoleh ke kanan dan mendapati seseorang yang kukenal ada di sana sambil memandangiku pernuh khawatir.


“Kenapa kau masih di sini? Kau harus pulang.” ucapku tanpa melihat kondisi.


“Kau sudah sembuh rupanya. Bisa-bisanya berkata seperti itu dengan kondisimu sekarang. Tapi syukurlah akhirnya kau sadar.” dia yang sebelumnya berdiri akhirnya duduk dan nampak lega melihatku sadar.


“Aku akan pulang nanti setelah dokter memeriksamu. Tunggu sebentar aku keluar dulu.” tambahnya sambil kembali berdiri dan pamit untuk memanggil dokter.


Tubuhku rasanya masih sangat lemas bahkan tak sadar kalau dokter sudah selesai memerikasaku. Aku melihat Wina sedang berbincang dengan dokter dan kemudian kembali duduk disampingku.


“Win, apa katanya?” tanyaku membicarakan percakapan tadi.


“Katanya tubuhmu drop akibat trauma yang kamu miliki. Kau bahkan menyembnyikan traumamu dariku. Sekarang aku sangat merasa bersalah mengerti!” wajahnya nampak kecewa denganku.


“Win, maaf tapi,...”


“Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu, tapi kali ini aku tidak akan bertanya.” potongnya.


“Terimakasih. Aku akan bercerita jika sudah saatnya.


“Baiklah. Kau sudah berjanji, jadi tepati janjimu. Mengerti?” tegasnya sambil menunjukku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.


“Oh iya haruskah aku memngabari Rey?” tanya Wina sambil mencari ponselnya dalam tas. Belum sampai aku menjawab ternyata dia sudah menekan tombol memanggil diponselnya.


“Rey, ini aku Wina. Kau di mana? Aku di rumah sakit menemani Chaca. Dia masuk rumah sakit kemarin malam. Bisakah kamu ke sini?” dengan singkat Wina menutup panggilan.


“Aneh kenapa kedengarannya dia tak terkejut dengan ini ya? Bahkan dia hanya bilang ‘Aku akan segera ke sana’. Bukankah itu aneh? Ah... apa memang sikap laki-laki seperti itu.” Oceh Wina sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Bisa saja seperti itu. Tapi seharusnya jangan memberitahunya. Bagaimana kalau dia sedang sibuk, justru akan merepotkan dia kau tahu.” jawabku.


“Sudahlah. Setidaknya kita memberitahunya, mau dia datang atau tidak itu urusanya sendiri.”


***


Percakapan berhenti sampai di situ. Aku kembali terlelap hingga Rey datang. Seseorang mengetuk pintu dan Wina membukanya. Nampak Rey dengan jaket hoodienya sambil membawa parsel buah masuk dengan senyum tipis. Baru selangkah maju dia langsung bertanya.


“Bagaimana keadaanmu Cha? Sudah mendingan?” langkahnya berakhir di dekat meja dan meletakkan bawaannya.


“Sudah lebih baik dari sebelumnya. Terimakasih sudah datang.” ucapku sambil berusaha mengubah posisi untuk duduk.


“Butuh bantuan?” Rey mencoba membatuku.


“Tidak terimakasih, aku bisa sendiri kok.”


“Cha, karena Rey sudah datang aku pamit pulang dulu ya. Nanti aku kembali lagi setelah urusanku selesai.” Wina membereskan tasnya.


“Jangan lupa makan dulu sebelum pulang daritadi kamu belum makan.” Sahutku.


“Emm, baiklah. Rey tolong jaga Chaca dulu selama aku tidak ada.” menunjuk ke arah Rey.


“Siap.” Jawab Rey dengan berpose seorang tentara dan kemudian Wina pergi.


“Tidak usah. Aku sudah dapat makanan dari rumah sakit tadi.”


“Aku membelinya bukan hanya untukmu. Aku juga butuh camilan sambil menjaga pasienku ini. Mengerti!” tatapannya mengajak bercanda membuatku tersadar dan tertawa.


“Benar juga, apa aku terlalu percaya diri.” Akupun tak mau kalah menjahilinya. Dia hanya tertawa ringan.


“Tapi kamu tidak apa jika ku tinggal sebentar?”


“Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja.” jawabku.


Rey pun berlalu dan pergi mencari camilan. Saat sendirian aku mulai memikirkan hal-hal yang menggangguku lagi. Akankah semua baik-baik saja. Aku bahkan tak berani melihat ponselku. Aku tak tahu harus bagaimana bersikap dihadapan Rey atau bahkan bagaimana menjelaskanya. Apalagi dengan harus tidaknya aku bercerita pada Wina. Semua membuatku gelisah.


“Ayah apa yang harus kulakukan? Datanglah dimimpiku lagi dan berikan aku saranmu juga kekuatan untuk melalui ini Ayah.” batinku dalam hati.


Tak terasa sudah cukup lama Rey pergi tapi belum kembali, Aku melihat cairan infusku hampir habis, namun perawat belum ada yang berkunjung, Aku memutuskan untuk keluar mencari perawat. Perlahan aku turun dari ranjang dan mencari disepanjang lorong. Aku lihat di ujung lorong nampak banyak orang kurasa akan ada perawat di sana.


“Sus, bisa tolong gantikan infusnya, cairannya mau habis.” ucapku setelah akhirnya bertemu dengan perawat yang bertugas.


“Nona, kenapa anda berjalan-jalan sejauh ini. Maaf tadi saya masih di kamar lain untuk menganbil sampel darah. Nona duduk di sini sebentar ya, biar saya ambilkan yang baru.”


“Baiklah, terimakasih.” jawabku.


“Tunggu sebentar biar sekalian nanti saya antar nona kembali ke kamar.” perawat bertubuh mungil dengan senyum manis itu pergi mengambil infusnya. Aku menunggu didekat meja administrasi. Ketika melihat dari posisiku nampak Rey kembali dengan camilan ditangannya. Belum sempat aku hendak melambaikan tanganku ke arahnya, terlihat seseorang menepuk pundaknya hingga Rey berbalik melihatnya. Nanpaknya itu kenalan Rey, mereka mengobrol. Karena tak terlalu jauh aku mencoba menghampiri sampai posisiku cukup dekat sampai bisa mendengar percakapan keduanya, aku terhenti dan bersembunyi ketika mendengar sesuatu.


“Rey, mana pacarmu? Katanya kau berhasil mendapatkannya. Kau bohong kan?” tanya kawan Rey.


“Dia di kamarnya. Sudah ku bilang aku berpacaran dengannya. Itu artinya aku menang taruhannya. Paham?” jawab Rey tegas.


“Tenang kawanku.”


“Besok kumpulkan yang lainnya. mereka harus membayar taruhannya mengerti. Termasuk kau juga harus datang.” ucap Rey sambil menunjuk ke arah temannya itu.


“Kudengar kau sengaja memang mendekatinya. Apa kau sungguhan punya rasa dengannya?” ledek teman Rey dengan senyuman godanya.


“Jaga perkataanmu. Aku memang sengaja mendekatinya untuk alasan pribadi mengerti. Jangan urusi urusanku. Bayar saja taruhannya.”


Mereka meanjutkan langkahnya dan melewatiku yang bersembunyi di sisi lorong. Aku hampir tak percaya dengan apa yang ku dengar. Apakah ini sungguhan atau hanya halusinasiku semata. Jadi aku hanya barang taruhan. Pantas saja semua yang terjadi terasa mengganjal.


Aku kembali ke kamar bersama perawat yang membawa infus. Entah kenapa aku menarik napas panjang sebelum memasuki kamar. Mungkin untuk mempersiapkan diri melihat Rey yang sudah menunggu di dalam.


“Cha dari mana kamu? Aku tiba kamu tidak ada di kamar?” tanya Rey yang langsung berdiri ketika aku masuk.


“Aku mencari perawat tadi untuk mengganti infus.” ujarku.


Aku kembali merebahkan diri sembari perawat mengganti infusnya.


“Saya sudah menggantinya, saya permisi dulu nona.” ucap sopan si perawat.


“Terimakasih sus.” sahutku.


“Terimakasih suster.” Rey ikut menyaut. Dia mengarah mendekatiku setelah si perawat pergi dan duduk dibangku sambil membuka camilan yang dibelinya.


“Aku kira kamu tadi pergi kemana. Hampir saja aku melapor kehilangan pasien.”


godanya. Aku tak tahan ingin menanyakan masalah tadi meski berkali-kali ingin kutahan saja.


“Rencana, sopan santun atau peduli?” ungkapku akhirnya.


“Maksudmu?”


“Perkataanmu sekarang apakah sopan santun, peduli atau semua ini hanya rencanamu demi taruhanmu dengan teman-temanmu?”


“Cha, apa yang kau bicarakan?” ucap Rey nampak kebingungan. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Tiba-tiba aku dan dia membisu tanpa kata. Hanya saling melempar emosi dari tatapan masing-masing.