
Saat melihat bintang di malam yang gelap namun dipenuhi dengan nyala lampu disekitar, apakah akan nampak bintang yang dicari? Atau justru melebur bersama cahaya terang dari sorot lampu? Ada baiknya ketika hendak melihat cahaya dengan jelas yaitu dengan memposisikan diri di sebuah tempat gelap dan jauh dari cahaya lainnya. Namun, jarak juga sangatberpengaruh pada keindahan dari cahaya yang ingin dilihat. Terlalu dekat pandangan dengan sumber cahaya justru membuatnya kesakitan dan tak sanggup menikmati sinarnya. Tapi sebaliknya, bila melihat cahaya dari kejauhan justru lebih menyenangkan dan bisa dinikmati dalam waktu lama.
Hari demi hari, ketika waktu terus bergulir. Chaca tak pernah sekalipun mengiyakan perawatan yang diajukan kakaknya atas traumanya yang semakin memburuk itu. Pikirnya, mendengar kabar akan kembali ke rumah lama dan bisa bertemu teman-temannya lagi adalah obat yang paling ampuh baginya. Disepanjang waktu itu pula Vin maupun Rey tak pernah muncul dan terdengar kabarnya.
Dering telepon di meja kerja Wina berbunyi layaknya novel. Setiap dering pertama selesai ditanggapi, sering berikutnya datang lagi. Terus menerus seperti tak ada sela diantaranya. Wina yang menanggapi terlihat akan meledak sewaktu-waktu. Hari kerjanya cukup melelahkan kali ini. Bahkan tak sempat memberi ruang untuk memikirkan bagaimana kondisi perutnya yang belum sempat makan siang. Namun diantara rekan kerjanya yang lain, nampaknya ada yang sedikit perhatian. Dia menghampiri Wina dan menepuk pundaknya.
“Makanlah sebentar, nanti lanjutkan lagi,” katanya sambil memberikan sekotak makanan yang dibelinya dari kantin.
“Kubawakan minuman juga. Sebagai ganti traktiranmu sebelumnya,” kata seorang rekan lainnya sembari memberikan sebotol minuman dingin dan meletakkannya di dekat kotak makanan.
“Apa ini?” tersenyum menggoda. “Kalian ingin terlihat keren ya? Jarang sekali baik padaku,” ucap Wina menyindir.
“Tidak mau? Kembalikan kalau begitu,” Salah seorang rekannya yang kesal mengulurkan tangan mencoba mengambil kembali pemberiannya.
“Hei...., jangan marah! Akan kuterima makanan dan minumannya. Terimakasih semuanya,” katanya dengan memeluk erat pemberian kedua rekannya itu.
Ketika Wina beristirahat sejenak dan menikmati makanan yang diperolehnya itu, dering ponselnya berbunyi. Kesal dengan keadaan saat itu, tanpa melihat siapa yang menelpon, Wina langsung menjawab dan menanggapinya sebagai seorang karyawan yang sopan.
“Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?” ucap sopan Wina kepada si penelepon. Rekan lainnya secara bersamaan menoleh ke arah Wina.
“Tuan apaan? Wina, ini aku Chaca.”
Terkejut dengan suara perempuan yang menjawab. Dengan cepat, Wina menarik ponselnya dan melihat nama si penelepon adalah nama sahabatnya. Menyadari bahwa panggilan itu berasal dari ponselnya bukan telepon kantor, membuat wajah Wina sedikit memerah karena malu. Apalagi melihat rekannya yang lain mencoba menahan tawa karena tingkah Wina yang salah tanggap.
“Ah, maaf maaf. Ku pikir telepon dari klien.”
“Kamu sibuk sekali ya? Apa aku mengganggu pekerjaanmu?” tanya Chaca dari seberang.
“Hmm,” mengiyakan. “Hari ini cukup membuatku sibuk. Tapi tenang saja kamu tidak mengganggu kok. Aku juga sedang istirahat.”
“Jam berapa kamu selesai? Kamu tidak lembur kan?”
“Kurasa tidak. Aku hampir selesai mungkin tinggal dua sampai tiga jam lagi dari sekarang.”
“Oke. Selesaikan saja pekerjaanmu. Selamat bertugas,” ucap Chaca mengakhiri pembicaraan.
“Baiklah,” balas Wina. “Apa? Tunggu! Hanya itu? Hei Cha,” menyadari panggilan singkat hanya sebatas itu. Bahkan Wina tak paham inti dari pangglan Chaca kepadanya saat itu.
“Kenapa bocah ini? Apa terjadi sesuatu?” batin Wina. “Tidak mungkin. Aku selesaikan saja dan menghubunginya lagi nanti.
Sesuai dengan dugaanya, dalam tiga jam pekerjaannya selesai. Mendahului rekannya yang lain, Wina memutuskan pulang. Baru sampai di lobi dia teringat untuk menghubungi Chaca. Belum sampai menemukan kontak Chaca diponselnya, panggilan dari orang yang dibicarakan muncul.
“Win,” satu panggilan samar terdengar oleh Wina.
“Win, Wina. Di sini,” panggilan kedua lebih jelas.
Wina mencari-cari panggilan itu menoleh ke kanan, ke kiri, dan belakang. Sampai akhirnya menemukan seseorang yang melambai dari kejauhan. Melihat siapa yang terlihat, Wina terkejut sampai berkedip berkali-kali mencoba memperjelas apa yang dilihatnya.
“Chaca?” ucapnya pelan. “Chaca,” ucapnya lagi namun kini lebih kencang setelah yakin bahwa yang dilihatnya adalah Chaca.
Keduanya bertemu tepat diluar pintu lobi. Chaca nampak senang dan tersenyum lebar saat bertemu. Namun berbeda dengan Wina yang masih heran dengan kedatangan Chaca.
“Kenapa?” tanyanya yang melihat Wina sedang membolak-balik tubuh Chaca.
“Ini sungguhan?”
“Tentu saja ini aku.”
“Kapan kamu tiba? Kenapa kemari? Ada masalah?”
“Kamu tidak suka, aku berada di sini?” ucap Chaca kecewa.
“Bukan begitu. Tapi kenapa tidak mengabari sebelumnya jika kemari.”
“Kejutan! Bagaimana?” goda Chaca kepada sahabatnya itu.
Wina yang tidak menjawab langsung itu hanya tertawa ringan dan menggandeng teman yang lama tak ditemuinya itu.
“Ayo?” ajak Wina.
“Kemana?”
“Terserah kamu. Kamu mau kemana?”
“Aku sudah pesan tempat di kafe dekat sini. Aku barusan dari sana sambil menunggumu. Bagaimana kalau ke sana?”
“Baiklah.”
Berjalan sambil melempar canda diantara keduanya begitu menyenangkan. Waktu yang setelah sekian lama tak berjumpa bukan berarti menjadikan pertemuan itu terasa canggung.
Seperti sebuah cerita tentang para pemilik kaki kayu. Bagi mereka tak penting bagaimana tampak dari kaki yang mereka miliki, tentang bagaimana pandangan orang lain menanggapinya, maupun bagaimana semua simpati dan empati bahkan ejekan yang diterima. Apapun yang mereka miliki adalah jejak yang akan selalu jadi benang cerita selama perjalanan hidupnya. Setiap angkah yang mereka ambil, jejak bulatan kayu yang membekas memberitahu mereka bahwa jalan ini pernah mereka lalui dengan berbagai cerita yang terjadi. Meski adakalanya terhapus oleh hujan maupun jejak yang lain, namun selama ingatan yang mereka miliki dan keyakinan yang selalu mereka yakini itu ada, maka selamanya jejak itu akan membekas.
***
Separuh perjalanan yang mereka lalui, terdapat 4 orang anak SMP yang berada di sisi jalan yang lain. Chaca menghentikan langkah lalu memperhatikan anak-anak itu. Salah seorang anak terduduk memungut kertas yang berserakan sedangkan anak lainnya merobek dan menjatuhkan barang-barang dari dalam tas. Jelas terlihat anak yang memungut itu sengan menangis dan yang lain tertawa satu sama lain. Wina melihat apa yang di lihat Chaca dan menyadari perubahan suasana yang dialami Chaca saat itu. Takut trauma Chaca muncul karena melihat anak-anak itu seolah dirinya dimasa lalu, Wina mencoba menarik Chaca agar berpaling dari adegan itu. Tapi sudah didahului oleh langkah Chaca yang menghampiri anak-anak itu.
“Apa ini? kamu tidak punya barang lain selain buku ya?”
“Sepertinya begitu, lihat saja seragamnya saja sudah lusuh.”
“Dia pindah ke sekolah kita, mungkin karena tidak mampu di sekolah sebelumnya. Jadi dia dikeluarkan.”
“Paling-paling tidak lama lagi dia juga akan keluar dari sekolah kita karena tidak mampu membayar.”
Ejekan dan ocehan ketiga anak itu begitu jelas dan diakhiri dengan tawa dan masih merobek buku yang baru diambilnya dari dalam tas.
“Jika kalian tahu bagaimana kondisinya. Kenapa malah memperburuk? Seharusnya kalian itu membantunya bukan malah melakukan hal bodo seperti ini,” ucap Chaca lagi. Kini dia melepaskan genggamannya dengan menghempas keras tangan anak itu. Wina yang mengikuti di belakang langsung membantu anak yang menangis dan membereskan tas juga bukunya.
“Kami hanya...” ucap anak yang tangannya kesakitan karen Chaca mencoba membuat alasan.
“Pergi!” teriak Chaca membuat semua yang di sana kaget. “Kubilang pergi! Atau mau ku..” tangan Chaca terangkat seolah akan memukul anak nakal itu namu dihalangi oleh Wina.
“Cepat minta maaf lalu pulang. Jangan sampai berulah lagi,” ucap Wina akhirnya membuat ketiga anak itu menurut.
“Maafkan kami!” ucap ketiganya pada temannya dan Chaca lalu berlari pergi dari sana.
“Cha, mereka juga masih anak-anak. Jika kamu memukulnya menurutmu masalah akan selesai? Justru akan membuat masalah baru Cha. Sudahlah yang penting anak ini juga sudah tidak apa-apa.”
“Terimakasih kak. Kakak sudah menolongku.”
“Siapa namamu?” tanya Wina.
“Yoga. panggil saja Yoga,” kata si anak.
“Kamu bodoh? Pukul saja anak-anak nakal seperti itu. Kenapa jadi lemah seperti itu,” ucap Chaca terdengar membentak. “Dasar tidak berguna,” tambah Chaca yang mulai berucap kasar.
“Cha, jaga bicaramu. Kamu kenapa sih? Seperti bukan kamu saja,” ucap Wina sedikit kesal setelah melihat sikap Chaca mulai aneh.
Wina akhirnya meminta Yoga ikut dengan mereka sementara Chaca masih terlihat bersikap kasar meski sekarang sudah lebih diam. Sampai di tempat tujuan, makanan yang telah dipesan sebelumnya oleh Chaca sudah tiba dan Wina meminta tambahan untuk Yoga. Wina memberikan minuman yang baru tiba untuk Yoga sembari menunggu pesanan yang baru tiba.
“Minum ini saja dulu. biar nanti kakak minum yang baru dipesan saja,” ucap Wina mengalah. Wina mengamati ingkah Chaca yang terlihat kesakitan dikepalanya itu.
“Cha kamu tidak apa?” tanyanya tak ditanggapi oleh Chaca.
“Cha, kenapa? Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya masih tak ditanggapi membuat Wina khawatir melihat Chaca terus memegangi kepalanya yang nampaknya kesakitan.
Panggilan dari Sean mengalihkan pandangan Wina saat itu.
“Win, kamu bersama Chaca?”
“Kak Sean, Syukurlah. Kak, Chaca terlihat kesakitan bagaimana ini?”
“Kamu tenang dulu Win. Coba periksa tasnya ada botol obat warna merah. Berikan obat itu.”
“Obat?” dengan cepat Wina mengambil tas Chaca dan mencarinya. “Obat apa ini?” tanya Wina setelah menemukannya.”
“Itu obat pereda rasa sakit. Berikan saja dulu. Biar kujelaskan setelahnya.”
***
“Aku merepotkan ya Win?” ucap Chaca setelah lebih tenang dan reda rasa sakitnya.
“Kakak itu sedang sakit ya?” ucap Yoga pada Wina.
“Ah tidak, hanya sakit kepala biasa. maaf ya, apa tadi kakak bersikap kasar padamu?” tanya Chaca yang telah mendapatkan kembali kesadarannya.
“Tidak apa kak. Lagi pula yang kakak katakan tadi memang benar. Aku akan jadi lebih kuat lagi agar tidak diremehkan orang lain.”
“Baguslah,” seru Wina sambil mengusap kepala si anak. Wina mengamati Chaca kembali. Setelah mendengar penjelasan dari Sean tentang kondisi Chaca, tak heran sikapnya jadi seperti orang yang berbeda.
“Jangan melihatku seperti itu. Aku tahu kalau aku cantik,” ucap Chaca mencoba merubah pandangan temannya itu.
“Ternyata kak Chaca itu sangat percaya diri ya?” seru Yoga terheran-heran dengan sikap Chaca.
“Tentu saja. Bahkan kakak ini juga manis,” kata Chaca menanggapi dengan berkedip berlagak manis di depan si anak.
“Jangan percaya dengannya. Tentu saja yang cantik dan manis itu aku,” ucap Wina setelahnya sambil bertingkah meniru Chaca.
Ketiga orang itu tertawa bersama hingga melupakan kejadian sebelumnya. Wina dan Chaca mengantar Yoga pulang setelah membelikan beberapa buku untuk mengganti buku yang rusak sebelumnya.
***
Disepanjang perjalanan pulang Wina memutuskan untuk menginap di rumah Chaca. Sebelumnya Chaca menceritakan rencana kepulangannya itu. Mendengar bahwa seterusnya Chaca akan tinggal di sana membuat Wina merasa senang. Apalagi saat mendengar bahwa Sean juga akan tinggal, membuat Wina semakin bersemangat.
“Ah, aku akan bertemu kak Sean terus-terusan. Itu berita yang sangat baik.”
“Jadi meskipun aku tidak ada, itu pun tak akan berpengaruh?” sindir Chaca.
“Kamu yang terpenting,” memeluk Chaca dari samping. “Kamu sungguh tak apa?” tanya Wina masih khawatir.
“Sudah ku bilang jangan melihatku seperti itu.” menghalau wajah memelas Wina yang mengarah padanya. “Jangan melihatku seperti orang sakit, mengerti?” tegas Chaca.
“Baiklah...Baiklah,” ucap Wina menyerah.
“Bukankah aku keren,” membuat tanda V dengan tangannya.
Melihat sikap temannya itu membuat Wina merasa sia-sia mengkhawatirkannya. Wina menyadari bahwa Chaca bukan lagi gadis lemah. Dia sempat meragukan bagaimana kerennya Chaca yang ada di sampingnya itu.
“Bukankah aku juga harus punya Wina yang lain untuk meladeni Chaca yang satunya.”
“Hei, kau bercanda?”
“Aku serius. Chaca satunya tidak bisa dengan mode biasa. Kamu tau itu.”
“Dasar kamu ini,” mengetahui ucapan Wina hanya gurauan, Chaca tak menanggapi berlebihan.
Pada dasarnya masing-masing dari diri seseorang memang memiliki sikap yang bertentangan. Memang ada yang bisa dikendalikan namun saat tertentu pun besar kemungkinan akan lepas dari kendali.