Love Is Only You

Love Is Only You
Festival Fantasi



Sebulan penuh waktu yang berlalu hanya digunakannya untuk mempersiapkan diri pada kompetisi yang akan datang. Kamarnya penuh dengan kertas yang ditempelkan di dinding dan berserakan diatas mejanya. Sebulan lalu disaat perjalanan di pinggiran dekat pertigaan jalan yang cukup ramai, Chaca berjalan-jalan menikmati sore yang cukup menyenangkan itu. Sekumpulan orang berpakaian unik seolah rasanya sedang masuk ke dunia fantasi. Chaca yang melihatnya tertarik untuk mendekat dan mencari tahu apa yang terjadi. Setelah mendekat ke salah seorang yang memakai topi tinggi dengan riasan yang kuat pada area matanya itu memberinya selembar kertas berwarna hitam dengan desain tulisan yang cukup menarik.


“Mix your story with your fantasy,” ucap si pria dengan sedikit membungkut memberi hormat lalu berdiri tegak dan memasang senyum. Chaca membalas senyumannya dan beranjak pergi.


Rupanya mereka tengah mengadakan sebuah festival dengan kompetisi bercerita tema fantasi. Chaca cukup tertarik dan ingin mencobanya namun dirinya sempat ragu karena sudah cukup lama tak menulis apalagi selama ini ynag ditulisnya hanya sebuah puisi bukan cerita. Apalagi kompetisi ini bukan sekedar menulis cerita tapi menceritakannya secara langsung seperti tengah mendongeng di depan umum. Setelah merenung dan memikirkannya, Chaca memilih untuk ikut festivalnya dengan alasan bahwa dirinya memang menyukai tulisan tak peduli dalam bentuk apapun dan bagaimana penyajiannya, dia sangat bersemangat untuk mengikutinya.


Selembar demi selembar, kalimat demi kalimat, dan coretan demi coretan hingga jari tangannya sesekali terasa pegal karena terlalu lama menulis. Dia menghabiskan banyak waktu di depan meja kerjanya merangkai setiap cerita. Sesekali di berdiri dan melakukan peregangan untuk melemaskan kembali otot-ototnya lalu kembali fokus pada ceritanya. Sebulan penuh akhirnya cerita yang dibuatnya cukup membuatnya yakin itu telah rapi di meja. Hanya tinggal satu minggu sebelum festival. Kini fokusnya berganti untuk menemukan gaya berceritanya.


“Oke. Sekarang mari kita coba bercerita.”


Chaca berdiri dan mencoba berdiri di depan cermin namun belum sempat memulainya, pintu kamarnya diketuk beberapa kali.


“Ya.” jawab Chaca menyaut.


“Istirahat dulu, lanjutkan nanti. Kita makan dulu saja. Cepat turun, aku tunggu dibawah,” kak Sean membuka pintu dengan sedikit terbuka dan meminta Chaca untuk makan siang.


Chaca menuruni tangga lalu melihat meja makan sudah penuh dengan hidangan sederhana yang dibuatkan kakaknya. Langkahnya jadi semakin cepat melihat ada makanan pedas kesukaannya.


“Wah, apa ini hari spesial? Ada si pedas di sini,” tanya Chaca dengan mata yang masih terpana dengan makanannya.


“Tidak ada hari spesial, hanya ingin memasaknya saja. Cepat makan!” jawab kakanya sembari meletakan lauk dipiring Chaca.


“Selamat makan,” ucap Chaca girang dan segera menyantap makanannya.


Setelah selesai makan, keduanya membereskan meja dan mencuci piring.


“Kak, menurutmu gaya yang seperti apa yang cocok untuk bercerita ya?” tanyanya membuat kakaknya berhenti sejenak dari mencuci.


“Gaya? memangnya tulisanmu sudah selesai?” tanya balik Sean dan melanjutkan lagi beres-beresnya.


“Tentu saja sudah. Semuanya beres tinggal prakteknya saja.” tambah Chaca.


“Gunakan perasaanmu jangan terlalu dihafal setiap katanya. Santai dan masuk ke dalam ceritanya. Gunakan pula ekspresi yang alami. Ekspresinya harus bisa membuat orang yang mendengar dan melihat seolah bukan mendengarkan cerita saja tapi seolah bisa melihat cerita yang kamu sajikan. Yah semacam sedang menonton film.”


Setelah selesai dan setelah banyak meminta saran dengan kakaknya, Chaca kembali ke kamarnya.


“Siap, laksanakan,” jawab Chaca mengerti.


Setelah diminta untuk istirahat Chaca berpikir untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tiba-tiba dia terpikirkan untuk membuka blognya yang sudah lama tak dibukanya. Setelah melihat ternyata ada begitu banyak pesan komentar yang masuk. Ada banyak dukungan yang memintanya untuk kembali mengirimkan puisinya lagi. Chaca yang membaca komentar itu senang dibuatnya. Namun, senyumnya itu terhenti ketika membaca sebuah komentar dari akun bernama BLUE. Ada cukup banyak kiriman darinya. Sekilas Chaca membacanya dan menutup ponselnya lalu mencoba menyadarkan dirinya lagi.


“Jangan berpikir yang tidak-tidak Cha, nama seperti itu belum tentu dia. ada banyak orang menggunakan nama-nama semacam itu. Itu pasti orang lain. Tidak mungkin itu dia, dia membencimu Cha. Jangan terlalu berharap. Lupakan dia Cha, lupakan. Itu keinginannya jadi jangan ingkari janjimu,” ucap pelan Chaca yang berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


Chaca membuka ponselnya lagi dan meninggalkan komentar untuk menanggapi banyak pesan itu sekaligus. Kemudian dia menuliskan sebuah puisi yang sudah lama dibuatnya lalu mengirimkannya. Satu puisi setelah sekian lama tak pernah ditulisnya di blog miliknya itu. Baru sebentar dia meninggalkan ponselnya untuk membersekan mejanya, ternyata sudah banyak yang meninggalkan komentar. Kebanyakan isinya mengatakan senang bahwa akhirnya ada kiriman puisi lagi. Setelah memeriksa, Chaca kembali merebahkan diri. Teringat kata kakaknya yang memintanya untuk beristirahat. Chaca menyingkirkan ponselnya dan mencoba memejamkan mata. Tanpa sadar, dia tertidur cukup nyenyak sampai suasananya terdengar cukup sunyi. Tubuhnya bahkan tak bergerak sedikitpun seolah menandakan tubuhnya cukup kelelahan selama ini.


“Cha.... kamu tidur?” suara ketukan pintu terdengar.


“Cha, aku masuk ya,” Sean mengintip dari baik pintu dan mendapati adiknya tertidur pulas. Dia masuk perlahan takut membangunkan adiknya itu. Dia duduk di samping tempat tidur dan mengamati adiknya.


“Dia pasti kelelahan. Tidurnya sampai tak bergerak seperti ini,” Sean mengambil selimut dan memberinya selimut itu.


“Tunggu, festivalnya masih seminggu lagi. Coba kutanya dia dulu,” Sean nampaknya merencanakan sesuatu. Dia beranjak pergi dengan langkah pelan dan menutup pintunya.


Sean bersantai sambil memainkan ponselnya di depan tv. Dering ponselnya membuatnya terkejut dan segera menerima panggilan.


“Ada apa?”


“Kenapa bisa ada yang terlewat? Tunggu aku. Aku akan segera ke sana. Siapkan yang lainya dulu. Setibanya aku di sana langsung berangkat saja,” ucapan Sean nampaknya ada hal genting terjadi di kantornya. Sean bersiap dan mengambil beberapa barang lalu bersiap untuk berangkat. Tanpa berpamitan, Sean hanya meninggalkan sebuah pesan saja untuk Chaca.


Waktu berlalu cepat hari itu. Chaca terbangun dan mendapati hari sudah sore. Dia terduduk di kasur sejenak mengumpulkan tenaga. Lalu keluar dan melihat sekitar. Dia mulai memanggil dan mencari kakaknya namun tak ada jawaban sampai saat dia melihat ponselnya, rupanya ada pesan dari kakaknya.


“Cha, aku pergi ke kantor. Sepertinya ada masalah mendadak. Kurasa aku akan pulang larut malam jadi tidak usah menunggu. Makan malamlah sendiri, makanannya ada di dalam lemari es. Tinggal kamu hangatkan saja. Maaf aku tidak berpamitan dulu.”


“Kenapa minta maaf, biasanya juga seperti ini kan. Wah tapi apa aku benar-benar sangat nyenyak sampai tidak dengar mobil kakak pergi ya,” ucap Chaca terheran-heran karena sampai tak terbangun. Dia duduk dan minum segelas air yang dia ambil sebelumnya. Dia menghabiskan waktu menonton tv setelah mandi dan membereskan rumah.


“Berita internasional, “Kafe Blue” menjadi kafe paling populer akhir-akhir ini semenjak pemiliknya berganti. Kini pemilik bernama Rey Choslar menjadi orang yang cukup sukses. Banyak pelanggan dari beberapa daerah dan mancanegara yang datang....” kilas berita yang ditonton Chaca saat itu sungguh membuatnya terdiam lama sambil mengamati gambar si pemilik yang ditampilkan.


“Syukurlah jika kini kamu sukses Rey, seharusnya aku menghilang sejak lama jika aku tahu bahwa kau akan hidup lebih baik dengan tidak adanya aku,” ucap lirih Chaca sedikit gemetar.