Love Is Only You

Love Is Only You
Tokoh Pendukung Part 2



Setiap kali waktu terus berputar, setiap kali rutinitas yang nampak membosankan terus menerus dilalui, dan setiap kali peristiwa baik yang terkenang maupun yang terlupakan selalu melintas tanpa ada yang meminta ataupun diminta, semua akan terasa sebagai adegan yang sudah dirancang tanpa diketahui siapa perancangnya. Meski ada kalanya akan ada waktu ketika sesuau yang terlewat dirasa terlalu berkesan hingga tak akan jadi peristiwa biasa. Kapasitas dari ingatan memang tak akan mampu menampung seperti apa wajah dari seluruh manusia yang berada di dunia ini, tapi tetap saja tak menutup kemungkinan bahwa salah satunya tak akan pernah dilupakan.


Pertemuan setelah sekian lama antara dirinya dengan Chaca sungguh disyukuri oleh Vin. Seolah waktu tengah memberinya kesempatan sekali lagi sejak terakhir kali pertemuan mereka. Vin tak ingin membuang kesempatan yang sudah ada di depan matanya. Tapi sepertinya untuk kedua kalinya dia harus mengurungkan niatnya kembali setelah mendengar ada beberapa masalah yang telah terjadi pada Chaca. Wina cukup banyak mengoceh tanpa sadar mengungkit mengenai Rey saat banyak berdebat dengannya saat Chaca tak ada di sana.


“Aku akan menunggu, menunggumu sampai bisa melupakannya. Akan ku buat kau melupakannya dengan cepat Cha,” ungkap Vin dalam hati sambil terseyum tipis.


“Seperti apa tempat yang kamu tuju dulu itu?” tanya Chaca setelah seteguk minuman ditelannya.


“Tunggu sebentar,” tangan Vin sibuk menggeledah tas ranselnya. “Ini dia ketemu,” menyerahkan buku usang yang nampak tak asing.


“Bukuku, bagaimana ada di kamu?” mengambil dengan cepat buku kesayangannya.


“Sudah ku bilang, tadi malam aku seperti melihatmu di acara festival. Aku mencoba mendekatimu untuk memastikan tapi terlambat ketika sampai, justru kamu sudah pergi. Karena banyak kerumunan, aku tak bisa mengikuti lagi. Aku menemukan bukunya di meja termpamu sebelumnya,” jelas Vin.


“Tapi apa hanya karena melihat seperti diriku? Kamu sampai menghapiri orang yang tidak begitu yakin kamu kenal sungguh aku atau bukan.”


“Mungkin karena merindukanmu, sampai aku berharap orang itu memang kau. Keyakinanku semakin kuat saat melihat isi bukunya.”


“Isi buku? Tapi di dalamnya aku tak menuliskan namaku satu pun.”


“Memang tidak ada namamu tapi gaya tulisanmu. Aku ingat jelas itu tulisan tanganmu apalagi dengan gambar bintang yang selalu kamu gambarkan dipojok bawah ketas. Itu kan ciri disetiap tulisanmu,” jelas Vin mengutarakan bagaimana dia mengenal lawan bicaranya itu dengan baik.


“Sekarang aku mengakuimu sebagai temannya,” saut Wina mengakui alasan Vin.


Vin yang mendengarnya jadi tersenyum puas dengan pengakuan itu. Begitu pula Chaca yang hampir tersedak minumannya ikut tertawa setelahnya.


“Berikan aku nomormu, akan kuhubungi lagi besok,” Vin menyerahkan ponselnya ke Chaca.


“Baiklah,” menanggapi dengan sedikit tertawa.


“Kau terlalu ketara meminta nomornya secepat ini,” Wina menanggapinya juga.


“Jangan salah pahan, aku biasanya sangat pelupa dengan niatku sejak awal. Jadi ketika ingat aku harus segera lakukan. Dan alasan lainnya karena aku harus segera pergi,” menghabiskan minumannya yang tinggal setengah. “Aku ada urusan hari ini. Ini juga diluar perkiraan bisa bertemu denganmu hari ini juga. Kupikir aku harus beberapa kali ke tempat ini untuk mencarimu Cha.”


“Aku sungguh berterimakasih dengan bukunya,” mengembalikan kembali ponsel Vin. “Senang bisa bertemu denganmu. Ini juga tak terduga olehku.”


“Win, berikan nomormu juga. Jika aku tidak bisa menghubungi Chaca setidaknya aku bisa menghubungimu untuk bertanya,” menyerahan kembali ponselnya ke Wina.


“Aku hanya cadangan ketika tidak bisa menghubungi Chaca, begitukah?” raut Wina kesal dengan alasan itu.


“Jangan terlalu dimasukkan hati. Aku juga senang memiliki kawan baru hari ini.”


“Baiklah. meskipun akhirnya begitu pun ku rasa aku tak akan membantu banyak. Karena besok aku harus kembali,” ungkap Wina sedih.


“Iya, Wina harus pulang. Dia ada di sini karena mengambil cuti dari pekerjaannya. Besok adalah waktunya untuk kembali,” Chaca ikut menjelaskan maksudnya.


Setelah meminta nomor dari Wina, Vin bergegas pergi meninggalkan teman lama dan teman barunya. Pria yang nampak gagah dari belakang itu lama kelamaan menghilang setelah menyebarang jalan. Waktu yang tak terduga mengingatkan Wina yang harus segera bergegas membereskan dokumen dan perlengkapannya untuk kepulangannya juga.


“Baiklah kita pulang saja, aku bantu kamu bersiap-siap,” Chaca menawarkan bantuannya.


“Tidak usah. Biar aku saja, habiskan minumanmu dengan santai saja. Aku akan masakkan makan malam nanti. Jadi jangan pulang terlalu malam ya!” Wina ikut menghilang setelah beberapa saat. Kini tinggal dirinya seorang yang masih duduk di bawah rindangnya pepohonan di cuaca yang cukup cerah. Chaca menikmati minumannya sedikit demi sedikit sambil memainkan ponselnya.


Tak pernah ada yang bisa menebak bagaimana waktu akan memberi alur bagi pemakainya. Tak akan ada yang pernah bisa menebak apa yang akan dihadapi di dalam alur tersebut. Seperti saat bagaimana debu yang sudah sejak lama menetap di sebuah toko tua, tiba-tiba terbang karena barang yang jatuh lalu menempel ke si pemilik toko yang beranjak pergi. Tanpa sadar terbang kembali setelah terpaan angin yang cukup kencang membuatnya menabrak segala hal tanpa bisa mengendalikan arah yang di lalui. Bisa jadi sepanjang waktu sang debu hanya bisa terombang ambing diudara tanpa henti ataupun mengalir tanpa arah setelah air hujan mengandengnya menyusuri permukaan tanah lalu lenyap tanpa jejak.


Waktu yang berlalu ternyata membawakan kembali seseorang yang sangat di kenal oleh Chaca secara terus menerus hari itu. Wajah yang tak asing namun lebih dewasa, rambut pendek namun tebal, alis yang tak tebal namun juga tak tipis, dan senyuman ringan itupun juga melengkapi ekspresi yang ditampilkannya di hadapan Chaca yang mulai tersadar oleh keberadaannya. Sesaat waktu seperti berhenti baginya. seolah waktu diluar diri mereka berlalu sangat cepat dan hanya menginggalkan keduanya yang saling menatap. Chaca mencoba meyakinkan pandangannya itu sungguh nyata atau hanya imajinasinya saja.


“Cha,” kata pertama si pria membuat Chaca yakin itu adalah kenyataan. Sadar itu bukan hanya imajinasinya, dia beranjak pergi dengan terburu-buru.


“Aku akan pergi, jangan khawatir.”


“Tunggu Cha!,” tahan si pria menarik tangan Chaca.


“Aku tidak tahu kamu ada di sini, aku tak bermaksud untuk membuatmu bertemu denganku. Maaf aku akan pergi sekarang.”


“Chaca kubiang berhenti!” Rey menghentikan kembali niat Chaca yang hendak pergi.


“Aku ingin kau kembali masuk dalam kehidupanku. Aku tarik ucapanku dulu yang memintamu menghilang,” tambah Rey. Mendengar hal itu, Chaca berbalik perlahan dan memberanikan diri untuk menatap kedua mata lawan bicaranya itu.


“Kamu tau apa yang kamu bicarakan Rey?” tanyanya dengan sedikit ragu.


“Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Aku sadar dengan apa yang kukatakan,” menatap dengan yakin ke arah Chaca. Dia mendekat selangkah lebih dekat di hadapan Chaca. “Maafkan aku, selama ini aku salah paham padamu. Aku sudah tahu semuanya,” terdiam sejenak. “Mari kita berteman seperti dulu lagi Cha, Aku mohon maafkan aku,” tambahnya sambil meraih tangan Chaca.


Mendengar permintaan maaf itu membuatnya bahagia karena kesalahpahaman sudah terselesaikan namun mendengar kata teman yang dilontarkan Rey, membuatnya merasa sedih seolah jawaban atas perasaannya tak akan bisa didapatkannya sebelum dimulai sekalipun.


“Aku memaafkanmu Rey tapi, untuk kembali berteman seperti dulu ku rasa aku masih belum bisa terbiasa,” Chaca berbalik dan pergi meninggalkan Rey dengan sedikit meneteskan air matanya.


Saat dia menyebrangi jalan rupanya Vin berada di sisi lain jalan dan bersembunyi di sana. Percakapan antara Chaca dan Rey rupanya di dengar seluruhnya oleh Vin. Meski bagaimana detail masalahnya tak diketahuinya, yang pasti dia tak senang melihat Chaca menangis seperti itu.


“Rupanya dia yang bernama Rey,” ucapnya pelan sambil bersandar di dinding.


“Cha, tunggu aku. Aku akan membuatmu melupakannya. Aku akan mendapatkanmu dan tak akan membuatmu menangis lagi,” tambah Vin dalam pikirnya. Ingin rasanya Vin memanggil Chaca saat melewatinya, namu Vin mengurungkan niatnya. Mencoba memberi waktu bagi Chaca untuk menenangkan dirinya.


Sebenarnya alasannya kembali adalah untuk memberinya buku novel kesukaan Chaca dulu. Vin sudah lama menyiapkan hadiah itu sejak lama. Dia mengingatnya setelah masuk ke dalam mobil dan melihat bukunya di mobilnya.