
Jika langit dipenuh dengan awan gelap di tengah hari, jika langit tak sanggup menahan tetes air yang semakin melimpah dan jika seseorang tahu bagaimana rasanya menjadi tetes air itu berada diantaranya. Pasti hanya akan ada kepasrahan yang melintas dibenaknya. Hanya bisa menerima bagaimana dia akan dijatuhkan karena tak ada yang sanggup menahannya untuk tetap bersama dengan awan. Pasrah dengan apa yang akan ada di bawahnya. Tak akan bisa menutup mata dan telinga karena semuanya tetap terjadi. Ada beberapa kemungkinan yang bisa saja membuat jalannya jadi berbeda dengan apa yang dipikirkan. Menghilang saat tiba ditengah jalan karena habis bergesekan dengan udara lepas atau bertahan sampai menimpa dasar dengan rasa sakit sampai akhir. Keduanya mungkin memanglah sebuah pilihan, tapi akhirnya akan tetap sama.
“Win,” menangis tersedu-sedu sebelum berucap banyak saat menerima panggilan yang masuk beberapa kali. Chaca menerima panggilan yang sebelumnya telah beberapa kali berdering di ponselnya.
“Cha ada apa? Sepertinya kamu menangis? Apa yang terjadi. Kamu dengan siapa sekarang?” pertanyaan terus terlontar dari Wina yang mulai tak tenang mendengarkan sahabatnya menangis sampai terisak-isak.
“Wina, aku butuh kamu,” ucapnya terhenti lagi karena tak sanggup berkata banyak.
Meski butuh waktu, Chaca menceritakan sedikit-demi sedikit kejadiannya melalui telepon. Dengan sabar, Wina yang merasa khawatir itu tetap mendengarkan dengan hati-hati apa yang dikatakan oleh sahabatnya yang sangat membutuhkan dirinya itu. Bahkan sempat terpikir untuk menemui Chaca secara langsung. Dia pun menawarkan hal tersebut pada sahabatnya dan meminta pendapatnya.
“Tidak usah, jangan sampai merepotkanmu Win. Aku sudah sedikit lebih baik setelah menceritakannya padamu. Terimakasih sudah mendengarkanku,” suaranya sudah tidak seperti sebelumnya. Dia secara perlahan sudah mulai bisa mengatur napasnya dan merasa lebih tenang.
Setelah panggilan itu berakhir, Chaca meminta sebuah jaket dari penginapan untuk dipakainya agar menutupi penampilannya yang tak karuan. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah tanpa memberitahu kakaknya lebih dulu. Sepanjang perjalanan, pikirannya kosong meski sesekali masih terisak karena tangisannya sebelumnya. Berusaha tetap mengatur napasnya dengan menghirup dalam-dalam. Tanganya saling mengait satu sama lain dan memainkannya sesekali untuk menghilangkan rasa kegelisahannya.
Rumah yang di tuju sudah di depan mata. Membuka pintunya dan merebahkan diri di atas sofa tanpa melepas sepatunya. Baru sebentar menutup mata, terdengar suara pintu depan yang dibuka. Rupanya Sean pulang sebelum waktunya. Melihat kepulangan kakaknya, Chaca langsung terduduk dan menatap kakaknya yang juga sedang menatap adiknya.
“Kak Sean, kenapa sudah pulang?” tanya Chaca agak canggung dan segera membenahi penampilannya.
“Astaga Cha. Kamu tidak terluka kan? Apa dia melakukan hal buruk padamu?” tanya Sean yang seolah tahu apa yang terjadi. Sang kakak memeriksa wajah dan badan Chaca sisi kanan dan kiri bergantian.
“Kakak tahu?” Chaca kembali bertanya.
“Wina tadi menghubungiku. Dia sudah menjelaskannya lewat telepon. Kamu sungguh tidak apa?”
“Aku tidak apa. Aku tidak terluka dan pria itu tidak sampai melewati batas padaku.” jelas Chaca sedikit takut jika kakaknya marah padanya.
“Syukurlah,” memeluk erat adiknya dan sesekali tangannya yang besar membelai rambut dan menepuk pundak sang adik. “Apa kamu yakin kita tidak butuh ke rumah sakit?” tambah Sean setelah melepas pelukannya.
“Hmm, tidak perlu.” jawab Chaca semakin lemah. wajahnya mulai lelah.
Saat kakak dan adik itu masih saling melempar perhatian, bel rumah berbunyi. Sean yang meminta Chaca menunggu sebentar itu keluar untuk melihat siapa yang datang.
“Kak, Chaca di sudah kembali?” Vin rupanya tamu yang datang dan berulang-ulang memencet bel dengan tak sabaran.
“Iya, dia di dalam. Kamu...” hendak menanyakan alasan kedatangannya.
“Aku mendapat kabar dari Wina. Dia bilang untuk menemani Chaca. Katanya dia sudah pulang ke rumah. Jadi aku datang langsung kemari,” jelas Vin dengan cepat.
Sean mempersilahkan dirinya untuk masuk. Vin dengan cepat masuk dan mencari Chaca yang bersandar di sofa dengan lemas.
“Cha, kamu tidak apa-apa?” Vin langsung duduk di sampingnya dan memegang telapak tangan Chaca yang saat itu terasa sangat gemetar. “Bgamana kalau kita pergi ke rumah sakit? Kamu terlihat sangat lemas Cha,” pinta Vin yang sangat khawatir.
Sean yang melihat Vin begitu peduli dengan Chaca merasa sedikit tenang ada yang membantunya untuk menjaga Chaca saat ini. Setidaknya ada teman di sampingnya saat dia sangat membutuhkannya apalagi Wina sahabatnya tidak ada di sini sekarang. Merasa dirinya sudah tidak terlalu dibutuhkan saat itu, Sean meminta Vin untuk mengantar Chaca ke kamar dan beristirahat.
“Antarkan dia ke atas dulu!”
“Baik kak,” jawab Vin menyetujui. Melangkah pelan, Vin menggandeng Chaca untuk istirahat di kamar.
“Mandilah dulu lalu segera istirahat. Jika membutuhkan sesuatu panggil saja aku. Aku akan ada di bawah dengan kak Sean. Kamu mengerti!”
“Terimakasih Vin. Maaf merepotkanmu.”
Senyumnya yang hangat menanggapi ucapan Chaca lalu dia mengusap kepala Chaca pelan dan bergegas turun menemui Sean. Melihat apa yang terjadi saat itu, Chaca mulai berpikir bahwa masih ada banyak pilihan bagi setetes air untuk melewati apa yang terjadi alih-alih hanya pasrah dengan yang sudah terlihat. Bahkan ada banyak fakor yang bisa merubah jalan yang akan di lalui setetes air itu nantinya. Ada angin, yang bisa membawanya menuju tempat yang mana membawanya menuju lautan kembali menemui teman-temanya. Ada pula akar pohon, sekalipun terjauh dengan penuh kesakitan, pada akhirnya ia akan meresap ke dalam tanah dan diserap akar pohon dan menjadi manfaat bagi kehidupan. Meski ada banyak hal buruk yang bisa terjadi, tapi hal baik juga akan ada diantaranya.
Ruangan sudah dipenuhi cahaya lampu, mengingat hari semakin gelap. Sean terlihat menggosok-gosok kepalanya yang tak gatal beberapa kali. Bersandar lalu menghela napas kuat hingga terdengar oleh Vin yang menuruni tangga. Melihat sikap Sean yang terlihat gusar.
“Kak,” menepuk pundak Sean yang masih tak sadar akan keberadaannya.
“Kamu sudah turun rupanya. Bagaimana Chaca?”
“Dia sedang mandi.”
“Aku akan buatkan minuman hangat untuknya. Tolong nanti kamu antarkan untuknya ya?”
“Baiklah,” jawab Vin yang kini ditinggal Sean untuk membuatkan minuman untuk adiknya.
“Apa yang sebenarnya terjadi. Pasti masih ada cerita dibalik kejadian ini?” batinn Vin yang berbicara dengan dirinya sendiri.
Setelah tidak lama menunggu Sean membuat minuman, kini giliran Vin mengantarkan minumannya untuk Chaca. Ketukan pertama, ketukan kedua hingga yang ketiga. Sama sekali tak ada balasan. Vin memberanikan diri masuk secara perlahan. mendapati Chaca sudah terlelap, dia masuk dan mendekat. Vin duduk di samping Chaca yang terbaring.
“Cha, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membuat perhitungan dengan orang-orang yang mencoba mencelakaimu. Maafkan aku. Hari ini aku bahkan tidak bisa menjagamu,” ucap lirih Vin sambil menatap wajah yang sangat dikenalnya itu. Wajah yang biasa dilihatnya dengan senyuman kini nampak sangat tak bersemangat. Dering ponsel di dalam kantong Vin membuat Vin tersadar dan mengambilnya cepat. Melihat nama Wina yang menelepon, Vin memutuskan untuk meninggalkan kamar Chaca karena takut membangunkannya.
“Halo Win.”
“Vin, bagaimana kondisi Chaca?”
“Sudah lebih baik. Sekarang dia sedang istirahat di kamarnya.”
“Syukurlah. Sial, aku jadi sangat kesal jika sampai seperti ini. Aku bahkan tidak di sana sekarang,” nada suaranya terdengar jengkel.
“Tidak apa. Kamu bahkan sudah memberitahu kak Sean dan aku dengan cepat. Itu sudah sangat membantu.”
Mendengar nama Sean disebut oleh Vin, Sean menoleh dan mengamati si penyebut nama. Vin melihat Sean yang menggerakkan bibir tanpa beruara. Jelas Vin tahu apa yang di tanyakan olehnya. Sean menanyakan, “Siapa yang menelpon?”. Vin menjawab dengan cara yang sama, tanpa suara. Dia mengucapkan kata, “Wina”.
Vin duduk kembali di sofa diikuti oleh Sean di sampingnya. Vin yang peka akhirnya membuat panggilan itu dalam mode speaker. Percakapannya pun bisa di dengar oleh Sean juga.
“Jadi sekarang kamu dan kak Sean ada di rumah bersama Chaca kan?”
“Benar,” jawab Sean menyela.
“Ah, apa itu kak Sean. Kak maafkan aku karena tidak di sana.”
“Sudahlah, ini bukan salahmu.”
“Aku punya firasat yang aneh dan sangat ingin menghubungi Chaca saat itu. Aku jadi kesal sendiri, bagaimana jika saat itu aku tidak menghubunginya? Dia pasti akan sendirian di sana.”
“Sudahlah Win, justru dengan firasatmu saja sudah sangat membantunya,” balas Vin mencoba menenangkan teman barunya itu.
“Benar kata Vin. Aku yang justru harus berterimakasih padamu karena sudah memberitahu kami. Dan juga terimakasih sudah menjadi teman yang selalu ada untuk Chaca,” Sean menambahkan.
“Dia temanku, dia sahabatku dan akan selalu seperti itu kedepannya,” kata Wina.
“Bisakah kamu menceritakan kembali kejadian yang dikatakan Chaca padamu?” pinta Vin mulai serius.
“Baiklah akan kuceritakan lagi dari awal.”
Tidak sampai membutuhkan waktu lama Wina menceritakan ulang semuanya. Ketiga orang itu pun masih belum bisa menemukan titik terangnya. Seakan Chaca sebenarnya belum sepenuhnya menceritakan detailnya. Panggilan itupun berakhir saat Sean menerima panggilan yang lain.
“Oke aku akan ke sana sekarang,” jawab Sean menerima panggilan itu.
“Vin bisakah kamu menginap di sini untuk malam ini? Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu karena tadi aku pergi begitu saja. Jadi tolong jaga Chaca sementara aku tidak ada,” kata Sean meminta bantuan. “Ingat jangan macam-macam dengan adikku, Paham!” Sean mencoba memperingatkan.
“Aku mengerti. Kakak tenang saja. Biar aku yang menjaganya, kakak selesaikan saja dulu urusannya.”
“Aku akan percaya padamu. Akan ku usahakan untuk segera menyelesaikannya dan pulang secepatnya.”
“Jangan terburu-buru. Ini sudah malam jadi kakak tetap harus hati-hati,” ucap Vin mengingatkan.
Kunci saja pintunya. Gunakan saja kamarku jika kamu mau tidur lebih dulu. Aku sudah bawa kunci cadangannya,” Sean yang sudah siap, meninggalkan adik-adiknya di rumah.
Setelah Sean pergi mengurus pekerjaannya, Vin sibuk mengotak atik ponselnya mencari sesuatu. Dia sedang menelpon seseorang malam itu.
“Maaf mengganggumu malam-malam,” ucap Sean mengawali pembicaraan. “Bisa aku minta tolong padamu. Aku ingin memastikan sesuatu.”
“Vin Dairus? Kemana saja kamu? Kau sudah kembali? Kamu membutuhkan bantuanku? Kenapa?” tanya kenalan Vin.
“Lihatlah foto yang ku kirim padamu! Bisa carikan lokasinya untukku dari foto itu.”
“Itu tidak penting sekarang. Tolong carikan tempatnya secepat mungkin. Hubungi aku jika sudah menemukannya. Aku akan menemui secara langsung nanti.”
“Baiklah. Akan ku usahakan secepat mungkin. Aku sudah ada perkiraan dimana tempatnya tapi akan kupastikan lagi dan akan kuhubungi kamu nanti.”
“Terimakasih atas bantuanmu,” Vin mengakhiri panggilan itu. Dia meminta temanya untuk mencari tahu dimana lokasi yang sesuai dengan foto yang dikirimnya itu. Foto itu adalah foto yang menampilkan interior kamar dari penginapan yang di gunakan untuk menjebak Chaca. Wina lah yang memngirimkan padanya yang sebelumnya dimintanya pada Chaca saat Chaca menerima panggilan teleponnya.
“Aku sudah berjanji akan memberi perhitungan kepada siapapun yang macam-macam dengamu Cha,” ucap Vin dalam hati.
***
Cahaya kuning semu diselimuti udara dingin berembun memberikan kesan pada paginya. Di dalam sorotan cayaha dari balik jendela berdiri dua pria yang mempersiapkan sarapan. Pria yang lebih tinggi menyicipi sup yang baru di masaknya di atas kompor dengan perlahan meniupnya. Pria satunya meletakkan makanan yang sudah siap di meja makan. Seiring satu persatu tertata di tempatnya, Chaca menuruni tangga dan melihat kedua pria yang mengenakan celemek di balik kaos berwarna terang dan seperti anak kembar itu membautnya tertawa tak tertahankan. Sampai duduk di depan meja makan pun masih di ikuti tawa di wajahnya.
“Apa yang kamu tertawakan,” kata Vin merasa malu. “Aish, ini karena kamu kak Sean. Sudah ku bilang jangan memberikanku pakaian seperti ini,” tambah Vin menyalahkan Sean.
“Jika kamu mau, silakan pilih sendiri di dalam lemariku. Semua warnanya adalah warna wanita kesukaan Chaca,”
“Apa?” masih tak percaya. “Cha, kasihanilah kakakmu biarkan dia seperti laki-laki seutuhnya,” canda Vin.
Chaca yang mendengarnya menahan tawanya lagi.
“Aku sudah sering melihatnya keren saat bekerja. Jadi aku ingin melihat dirinya yang lucu saat di rumah,” ucap Chaca menambahi candaan Vin.
“Oke, semua makanannya sudah siap. Mari kita sarapan.
Ketiganya menikmati sarapannya dengan lahap seolah melupakan apa yang terjadi kemarin. Saat dikira tak ada yang membahas masalah itu, Vin mendahului pertanyaan.
“Kamu sudah lebih baik Cha?” tanyanya di sela-sela sarapan.
“Seperti yang kamu lihat. Aku sudah puas menangis. Aku sudah memutuskan untuk melupakannya,” jelasnya. “Tapi sepagi ini kamu sudah ada di sini bahkan memakai pakaian kakak, itu bukan karena ingin sarapan di sini kan?” tanya polos Chaca menambahkan.
“Vin menginap di sini semalam,” Sean menyela.
“Menginap? Di sini? Apa karena aku ya? Maaf ya jadi merepotkan kamu dan kakak,” kaget dengan perkataan Sean.
“Dia bahkan tidur di sofa. Padahal aku sudah bilang untuk tidur di kamarku semalam,” Sean menambahkan.
“Sungguh?” Chaca bertanya.
“Itu karena aku ketiduran. Jadi tidak sadar sampai pagi rupanya aku tidur di sofa.”
Sarapan pagi mereka pun berkahir. Chaca membatu Vin mencuci piring hingga selesai. Sean bersiap untuk berangkat kerja dan pergi dengan mobilnya. Tinggal Chaca dan Vin di sana.
“Vin bekerja tidak hari ini?”
“Tidak. Mungkin nanti sore aku baru berangkat,” Vin menjawab dengan santai.
“Ikutlah denganku!”
“Kemana?”
Chaca enggan memberitahu kemana tujuannya. Chaca dan Vin berangkat ke lokasi yang diminta Chaca sebelumnya.
“Kedai ice cream? Kamu mau ke sini? Kamu masih sama. pemulih tenagamu adalah ice cream, benar kan?”
“Benar. Ayolah akan ku traktir.”
Chaca masuk ke dalam sementara Vin masih memarkirkan mobilnya. Lalu Vin masuk dan melihat Chaca sudah duduk di dekat jendela dengan dua mangkuk ice cream sudah ada di atas meja. Satu ice cream vanila dan satu rasa coklat.
“Kenapa sembarangan memesan ice cream? Aku kan belum bilang mau ice cream apa,” ucap Vin yang mendapatkan vanila.
“Itu kan kesukaanmu. Lagipula aku yang traktir, jadi terserah padaku.”
“Oke. Akan kuterima karena ini gratis,” jawabnya dengan senyum. “Setelah ini mau kemana lagi?” tambah Vin.
“Entahlah. Pikirkan itu nanti setelah menghabiskan ice creamnya.
Silih berganti beberapa pelanggan yang memesan di tempat itu. Bahkan Chaca sudah memesan satu untuk kakaknya nanti. Mereka memutukan untuk kembali saja daripada melanjutkan perjalanan ke tempat lainnya. Vin sangat paham mengapa hari ini ice cream tujuan dari Chaca. Baginya, ice cream seperti bahan bakar untuk mengembalikan semangatnya. Memang sejak pagi tadi dia seperti baik-baik saja. Tapi dia pasti masih merasa sedih atas apa yang terjadi. Melihatnya yang sudah kembali bersemangat, Vin nampak sangat senang dengan perubahan itu.
Beberapa kali notifikasi ponsel Vin berbunyi seiring perjalanan pulang. Pesan dari teman yang dimintai tolong olehnya itu telah memberitahu bahwa dia menemukan tempatnya dan kamarnya secara spesifik. Dengan sigap, Vin langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku karena takut jika Chaca tahu hal itu.
“Ada apa Vin?” tanya Chaca yang penasaran karena ponsel Vin terus berbunyi. “Pekerjaan ya?” tambahnya.
“Iya begitulah.”
“Apa kamu harus bekerja sekarang? Jika iya turunkan saja aku di sini. Aku akan pulang denga taksi.”
“Tidak boleh seperti itu. Biar kuantar kamu dulu sampai rumah. Setelah itu aku baru akan pergi. Kamu tidak apa kan di rumah sendiri?” tanya Vin khawatir.
“Tenang saja. Aku akan baik-baik saja.”
“Jika membutuhkan sesuatu, hubungi saja aku! Mengerti?”
“Baiklah, aku mengerti. Kamu tenang saja.”
Seperti yang sudah direncanakan Vin, setelah mengantar Chaca sampai rumah, dia langsung pergi untuk menemui temannya di tempat yang sudah ditentukan. Di perjalanan dia mengubungi Sean.
“Halo kak,” menyapa Sean.
“Ada apa Vin?”
“Aku sudah dapat informasi lokasinya dari salah satu temanku baru saja. Sekarang aku dalam perjalanan ke sana,” jelas Vin singkat.
“Benarkah? Aku akan menyusul sekarang.”
“Menurutku tidak usah. Biarkan aku saja yang ke sana. Aku akan cari informasi lain lagi. Setelah itu kita bagi tugas untuk kedepannya,” pinta Vin.
“Begitukah? Kamu yakin tidak apa?”
“Aku yakin. Aku juga bersama teman jadi tidak masalah.”
“Baiklah. Terus kabari aku. Jika membutuhkan bantuan langsung hubungi aku. Mengeti?” Sean memberi penjelasan.
“Aku mengerti.”
“Kalau begitu hati-hati di jalan. Kumatikan ya.”
Saat Sean hendak memutuskan panggilan, Vin Darius menahannya dan membicarakan sesuatu yang lain.
“Tunggu kak!” tahannya. “Aku tahu ini tidak seharusnya kukatakan sekarang. tapi aku ingin bilang bahwa aku ingin menggunakan alasan atas apa yang terjadi menjadi alasan untuk mengatakan hal ini.”
“Apa maksudmu?” tanya Sean penasaran.
“Aku ingin mendapatkan Chaca menjadi wanitaku. Aku ingin menjaganya dan melindunginya agar hal semacam ini tak pernah terjadi kedepannya. Aku menyukainya sejak lama dan kali ini aku akan gunakan alasan ini untuk memberanikan diriku mendapatkan dia. Langkah pertamaku adalah meminta restumu.”
“Itu yang ingin kau katakan?” terdiam sejenak. “Aku sudah mengenalmu sejak dulu bahkan aku juga melihatmu yang sekarang sangat peduli dengan Chaca. Restuku mungkin sangatlah sulit didapat tapi, jika aku sudah melihat bagaimana perilakumu selama ini maka itu tidak akan sesulit yang ku kira,” jawab Sean.
“Jadi kakak merestui?”
“Restuku saja tidak cukup, karena jawaban kuncinya ada pada Chaca. Kamu tahu itu kan. Tapi menurutku, berikan dia waktu. Biarkan dia tenang seutuhnya.”
“Terimakasih kak atas restumu. Itu saja sudah memberiku semangat. Maka tidak akan kusia-siakan kepercayaan ini.”
Perjalanannya berlanjut dan panggilan sudah dihentikan. Perjalanan mencari kebenaran untuk melindungi wanita yang di sukanya masih terus berlanjut. Mengungkap dan memberikan pelajaran kepada orang-orang yang berani mengganggunya adalah janji yang dibuatnya sendiri. Menghentikan tangisan berharga sang wanita adalah keinginannya. Angin berusaha membawa tetesan air hujan mengarah ke tempat yang akan membuatnya bahagia meskipun terjatuh. Sang angin bertiup mencari arah yang tepat untuk membatunya. Menemaninya disepanjang perjalanan. Meski menemui banyak hal tak terduga, dia akan tetap berusaha menemani sampai akhir. Dan membuatnya bisa mendapatkan apa yang pantas untuknya di tempat barunya