Love Is Only You

Love Is Only You
Salah Paham yang Berulang



Penilaian yang umum dilakukan kebanyakan orang disetiap pertemuan pertama selalu mendasar pada penampilan, kedua dari akhlak dan ketiga adalah faktor yang sangat beragam tergantung beberapa orang lainnya. Menciptakan pandangan yang bijaksana tak semudah membicarakannya. Bahkan perasaan antara wanita dan seorang pria sangat berbeda sumbernya. Tak seperti wanita yang menitikberatkan pada emosinya, seorang pria cenderung memikirkan logikanya. Keduanya memang berbeda tapi bukan tak mungkin untuk jadi kesatuan yang cocok. Rutinitas yang membosankan kadang membuat hal-hal yang seolah jadi sekadar satuan faktor menjadi masalah. Ketika masalah timbul akibat tak ada keseimbangan antara apa yang terjadi dengan apa yang hanya dianggap benar oleh pikirannya maka kualitas dari sebuah kesimpulan dapat menghalangi penilaian yang sesungguhnya.


Rutinitas yang dipikir tak akan banyak berbeda rupanya sekali lagi membawa pemeran lainnya dari masa lalu. Wajah bersih nan cantik dengan rambut panjang tergerai berwarna gradiasi antara abu dan biru gelap berdiri tepat dihadapan Chaca. Hari dimana dia akan menghadiri acara konferensi penulis buku kesukaannya. Meski sudah lama, namum wajah itu tak bisa dilupakan begitu saja olehnya.


“Sarah?” ucapnya penuh tanya dan terkejut dengan kehadiran seseorang itu.


“Bukankah ini... Chaca? Kamu ada di sini rupanya. Kenapa ada di Amerika? Ah... apa hanya untuk menghadiri acara ini sampai berani jauh datang kemari?” menyilangkan kedua tangannya. “Apa mungkin karena ingin bertemu denganku?” terdiam memperhatikan ekspresi Chaca yang masih terkejut. “Kamu tidak mungkin tidak tahu kalau aku adalah pemerannya kan? Jelas sekali namaku ada di dalam spanduknya,” tambah Sarah dengan arogannya.


Sarah adalah salah satu teman sekolahnya dulu. Dia merupakan siswi yang selalu menggangu Chaca dulu. Meski dia sering berbuat jahat namun tak ada yang tahu bagaimana kejahatannya itu dibalut dalam sikap sok baiknya. Dia tak pernah sekalipun mendapat hukuman atas perbuatannya karena dia selalu menggunakan orang lain sebagai tamengnya. Cara kerjanya, dia akan menghasut orang lain agar melakukan apa yang dia inginkan. Seolah-olah yang ingin berbuat adalah orang itu, bukan dirinya.


“Benar, memang ada namamu di sana. Tapi hanya sebuah nama tanpa gambar. Jadi, mana mungkin aku bisa yakin nama itu milikmu. Yang kutahu nama ‘Sarah’ ada banyak,” hanya berlalu tanpa berhenti, Chaca berjalan melewatinya dan mencari tempat duduk di barisan tengah.


Seperti yang dikatakan sebelumnya. Hari ini si penulis yang digemari Chaca mengadakan jumpa fans dan pers dalam waktu persamaan. Sekaligus dia akan mengumumkan bukunya yang baru itu akan segera dibuat sebagai sebuah film. Salah satu pemeran yang akan memerankan tokoh dalam bukunya adalah Sarah. Itulah alasan wanita jahat itu ada di antara pemeran lainnya di depan sana.


Chaca yang ingin memperhatikan si penulis saat memberikan sambutan, melupakan sejenak kekesalannya saat itu. Sampai saat giliran sesi tanda tangan dari sang penulis dan para pemeran, Chaca melangkah ke depan dan berhadapan langsung dengan idolanya itu. Sebuah tanda tangan dan jabatan tangan diterimanya saat itu. Dia tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya karena terlalu bersemangat. Tiba waktunya saat tanda tangan bagi para pemain, Chaca melewati meja Sarah begitu saja tanpa meminta tanda tangannya dengan sikap yang sangat dingin. Nampak jelas Sarah yang melihanya hanya melewatinya saja itu, mencoba mempertahankan senyumnya yang hampir hancur karena kesal. Acaranya lancar hingga akhir acara. Semua tanda tangan sudah didapatkannya kecuali milik seseorang.


Seperti sebuah lingkaran kecil, Chaca melihat Rey berlari membawa sebuah rangkaian bunga yang indah ditangannya ke arahku.


“Cha,” katanya.


“Rey, kamu kenapa ada di sini?” tanyaku.


“Aku mau menemui seorang teman. Lalu kamu?”


“Aku mendapat tiket acara ini dari Vin. Seharusnya dia juga akan ikut, tapi karena hari ini ada pekerjaan dia tak bisa datang,” jelas Chaca padanya.


Pandangan Rey beralih jauh ke belakangku menatap seseorang yang memanggil nama Rey. Suara perempuan yang di kenal Chaca menghampiri keduanya.


“Maaf aku terlambat,” ucap Rey pada temannya itu sambil memberikan bunga yang dibawanya. Rupanya teman yang dimasudnya adalah Sarah si wanita jahat.


“Cha kamu kenalkan di teman selah kita dulu,” katanya menatapku.


“Kami sudah bertemu tadi. Aku terkejut saat melihatnya ada di sini. Benar kan Cha?” ucapan manisnya sudah mulai keluar dari mulutnya yang licik. Chaca yang enggan menjawab mencoba tersenyum sebagai jawaban darinya.


“Benarkah? Pertemuan ini jadi seperti sedang reuni ya,” ucap Roy yang sangat polos. Bahkan Chaca tak habis pikir bagaimana Rey bisa tertipu dengan wanita ular itu.


“Kalau begitu bagaimana kalau kita makan bersama. Sarah harus mentraktir kita karena dia mendapat peran yang bagus. Kita harus manfaatkan teman artis kita ini. Bagaimana menurutmu Cha? Kamu tidak keberatan kan?” tanya Rey mengharap Chaca akan setuju.


“Aku sepertinya tidak bisa. Aku harus segera pergi lagi. Mungkin lain kali,” jawab Chaca mencoba menolak ajakan dari Rey.


“Ayolah kita akan jarang bertemu kelak. Ini kesembatan bagus,” Rey masih mencoba mempengaruhi.


“Jangan memaksanya Rey. Dia mungkin masih sibuk. Biarkan saja,” kini Sarah yang mencoba membuat diriku menjauh dengan cara yang sangat halus dan tidak nampak seperti sebuah usiran dengan tetap menjaga imagenya.


“Ayolah Cha sekali ini saja,” Rey masih memohon. “Apa kamu masih belum memaafkan aku mengenai masalah itu?” raut Rey mulai melemah.


“Bukan, aku sudah memaafkanmu. Aku menolak bukan karena alasan itu,” jelas Chaca meluruskan praduganya.


“Memaafkan masalah apa ini?” Sarah penasaran. “Tidak mungkin malalah saat masih sekolah dulu kan?” tambah Sarah mencoba menebak. Melihat keduanya hanya terdiam membuatnya yakin memang itu masalah yang dimaksudkan. “Kalian bertengkar selama itu sampai sekarang?” tambahnya dengan tersenyum yang nampak seperti menyindir.


“Aku sudah mengaku salah padanya. Tapi aku memang pantas menerima jika dia masih marah padaku,” ucap Rey lagi.


“Baiklah aku akan ikut makan dengan kalian. Bagaimana?”


“Sungguh Cha? Kamu tidak terpaksakan?” tanya Rey memastikan jawaban itu. Tanpa menjawab, Chaca mengangguk sebagai balasan.


“Baiklah akan kuambil mobilnya, kalian tunggu di sini!”


Sementara Rey mengambil mobilnya, Chaca dan Sarah berdiri bersama di sana tanpa menatap.


“Jangan pernah berharap pada Rey, Rey tidak cocok dengan dirimu.”


“Apa hakmu mengatakan itu? Memangnya apa hubunganmu dengannya?” jawab Chaca meladeni omong kosong Sarah.


“Aku tahu kamu menyukainya sejak dulu, bahkan sekarang pun juga sama. Tapi sama seperti dulu sekarang pun kurasa dia sama sekali tidak menyukaimu,” mendekatkan wajahnya kearah Chaca dari samping tanpa memandangnya.


Chaca tak menjawab setelahnya, dia pun merasa ada kebenaran dari pernyataan Sarah saat itu. Chaca pun memang merasa perasaannya tak akan bisa mendapat sambutan yang sama oleh Rey sejak Rey sudah memustuskan menjadikan hubungan keduanya hanya sebatas teman atau dikatakan seperti saudaranya saja.


Mobil Rey datang, Sarah dengan cepat membuka pintu depan dan duduk di samping Rey yang menyetir. Tanpa berdebat Chaca duduk di belakang. Perjalanan yang singkat itu terasa sangat lama dan tak dinikmati oleh Chaca. Ada banyak makanan dan minuman yang disajikan setelahnya di sana. Ketiganya menikmati makanan dengan sesekali di selingi percakapan ringan tanpa perdepbatan.


Puas dengan makanannya, ketiganya memutuskan segara mengakhiri hari itu. Namun Chaca yang pertama ingin pergi sebelum dua orang lainnya itu. Dia merasa tidak enak badan. Pusing dikepalanya membuat pandangannya sedikit buram namun masih bisa dikendalikannya.


“Bagaimana kalau pulang bersama saja. Jangan pulang sendiri,” tahan Rey yang melihat Chaca hendak pergi.


“Tidak usah. Aku harus segera pergi, jadi aku akan pulang lebih dulu. Terimakasih jamuan hari ini,” melangkah keluar.


Masalah rupanya sedang terjadi saat itu. Saat menunggu taksi yang melintas ada sebuah mobil putih yang mendekat dan dengan cepat menyeret Chaca yang mulai berdiri sempoyongan ke dalam mobil itu. Rey yang melihat kejadian itu dari balik jendela restauran, dengan cepat berlari keluar bersama Sarah dan mengejar mobil putih yag mulai melaju cepat.


Pengejaran yang cukup panjang itu membawa Rey dan Sarah ke sebuah penginapan yang cukup sederhana. Mereka masuk dan bertanya pada orang di sana. Menerima informasi mengenai kamar yang dituju, Rey dengan cepat mencari kamar yang di maksud. Dia mulai mengetuk kamar dengan tak sabaran. Tak ada jawaban dari panggilannya, Rey mendobak beberapa kali pintunya sampai terbuka. Pemandangan tak terduga terlihat oleh kedua mata Rey dan Sarah yang ikut terkejut. Baju Chaca terbuka di sisilainnya dan beberapa terlihat robek. Chaca terbaring lemah dan hampir tak punya tenaga itu melihat kedatangan kedua orang itu. Sedangankan seorang lelaki yang tak berpakaian berada diatasnya. Jelas adegan itu bisa membuat semua orang yang melihat akan salah paham.


“Rey tolong aku,” ucap lemah Chaca mencoba melepaskan diri dari laki-laki di atasnya.


“Rey dengan sigap menarik laki-laki itu dan meninjunya cukup keras. Lalu menariknya lagi, ketika hendak melalagi, Si pria berkata, “Apa salahku? Aku hanya menerima permintaanya saja.”


“Apa maksudmu?” menghentikan niatnya untuk memukul wajah si pria.


“Dia mengajakku untuk bermain dengannya hari ini seperti biasanya, tapi dia bilang ditunda karena ada urusan. Lalu tidak lama dia bilang untuk menjemputnya karena urusannya sudah selesai,” omong kosong terlontar dengan lancar dari mulut si pria. Mendengar kebohongan itu, Chaca menyela membantah pernyataan itu.


“Itu bohong. Aku bisa jelaskan yang sebenarnya Rey.”


“Apa itu alasan kamu menolak makan tadi? Untuk bersenang senang dengan pria brengsek ini?” tatapan Rey mulai menandakan dia akan salah paham padanya.


“Tolong dengarkan aku dulu Rey,” mencoba menahan Rey dan menutup badannya dengan selimut.


“Apa kamu sungguh wanita murahan Cha?. Kamu masih menjijikkan rupanya.”


Chaca yakin kejadian ini sengaja dibuat. Mendengar ucapan Rey yang terkahir itu, menghentikannya untuk berusaha memberi penjelasan. Sarah yang berada di belakang Rey menatap dengan senyum tajam. Melihat hal itu, semakin membuat Chaca yakin siapa dalang dibaliknya. Kini Chaca sendirian setelah Rey dan Sarah pergi meninggalkannya. Begitu pula dengan pria yang menyeretnya itu.


“Lagi, sekali lagi kamu tidak mau mendengarku Rey. Kamu yang sejak awal selalu membuat jawaban sendiri dengan apa yang ingin kamu percayai tanpa mempedulikan bagaimana penjelasan yang lainnya. Aku.... sudah menyerah.”