Love Is Only You

Love Is Only You
Tanpa Berjabat Tangan



Matahari membongkar segala kekuatannya di pagi itu. Lelah nampak jelas dikedua mata Chaca yang berusaha membangunkan dirinya sendiri dalam pejaman mata yang berat. Pikirannya yang kacau membuatnya terjaga sepanjang malam dan tidak mendapatkan tidur yang nyaman baginya. Sama halnya dengan lehelai bulu yang ringan namun bertumpuk menjadi satu dengan lainnya membuatnya terasa begitu berat. Masalah yang membebaninya nampak sepele dan sederhana namun karena banyak faktor yang digabungkan membuatnya runyam seperti tali kusut.


Tak ingin terlarut dalam pikirannya, Chaca yang biasanya bangun paling awal kini jadi yang paling akhir itu mengikuti apa yang dilakukan Wina yang bangun sejak awal. “Sudah beres ya?” tanya Chaca melihat barang-barang sudah banyak terkumpul.


“Tinggal sedikit lagi. Kau tidak tidur ya?”


“Aku? Aku tidur kok.”


“Lingkar mata itu tak bisa berbohong,” menunjuk wajah Chaca dengan pasti dengan tatapan tajamnya. Chaca hanya tersenyum membenarkan pernyataan sahabatnya itu.


“Kau tidak bisa tidur karena aku akan pulang ya?” dengan membuat wajah memelasnya yang kekanak-kanakan.


“Ingat usiamu Wina. Teman siapa sebenarnya kamu itu?” Chaca membalas dengan candaan. “Apa kak Sean sudah pergi?” tambah Chaca.


“Kak Sean? Dia di luar menyiapkan mobil. Hei bukankah sebaiknya kau mandi dulu. Cepatlah? Penerbanganku pagi ini,” mendorong Chaca yang hanya berdiri memandang keluar.


“Baiklah! Tunggu sebentar ya!” beranjak dengan berlari kecil.


Sarapan sederhana dan segelas teh hangat sudah mereka nikmati dan kini Chaca, Sean dan Wina sedang dalam perjalanan ke bandara.


“Apa kamu yakin tidak mau tinggal di sini saja bersama Chaca?” ucap Sean yang fokus menyetir.


“Apa kakak akan menampungku sebagai adik keduamu dan menafkahi kehidupanku di sini?” menatap dekat Sean dari belakang dengan kedua tangan memegang pundak Sean dan memasang wajah manis.


“Tidak,” jawab Sean singkat setelah melihat tingkah sahabat adiknya itu.


“Lupakan saja. Aku tak akan tinggal di sini. Terimakasih karena sudah bertanya,” dengan cepat melepas tangannya dari pundak Sean dan bersandar dengan kesal.


“Kalian sungguh luar biasa,” saut Chaca dengan bertepuk tangan pelan melihat percakapan kakak dan sahabatnya yang seru itu.


***


Setibanya dibandara, Chaca dan Wina turun dari mobil dan Sean masih di dalam mobilnya. Karena masih ada urusan yang harus di selesaikan dan tak bisa di tinggalkan, Sean hanya mengantar sampai sana saja dan akan langsung pergi lagi.


“Sampai di sini saja ya? Hati-hati di perjalanan. Lain kali datanglah lagi kemari,” melambaikan tangannya ke arah gadis berambut pendek itu.


“Terimakasih kak sudah mengantar. Sampai jumpa lain waktu,” balas Wina ke arah mobil yang mulai beranjak pergi dari tempatnya itu. Setelah melihat mobil hitam menjauh, Chaca menggandeng Wina masuk dan menunggu di dalam. Baru sampai di pintu masuk, seseorang memanggil nama Wina, Spontan keduanya menoleh ke sumber suara secara bersamaan.


“Kamu di sini?” ucap Chaca tanpa sadar.


“Iya, tadi aku mengantar teman dan tak sengaja melihat kalian keluar dari mobil.”


“Lalu di mana temanmu?” tanya Wina yang mencari-cari teman yang dimaksud.


“Dia baru saja masuk, aku hanya mengantar sampai sini karena masih ada urusan.”


“Ah, kalau begitu segeralah pergi!. Kau pasti sangat sibuk,” tambah Wina terang-terangan.


“Benar juga, aku sampai tidak sadar waktu. Kalau begitu aku per.....” belum selesai berucap, kini terdengar seseorang memanggil nama Chaca.


“Cha....”


“Vin kamu datang ke sini juga?” ucap Chaca mendapati Vin yang datang sambil berlari.


“Maaf. Aku belum terlambat kan?” berhenti sejenak dan mengambil napas panjang. “Kemarin aku tanya pada Wina jam berapa akan berangkat, kerena aku menawarkan diri untuk ikut mengantarnya juga,” tambah Vin.


“Seperti itu rupanya,” jawab Chaca menanggapi.


“Ini....,” memandang Rey yang berada di sampingnya dengan wajah yang bertanya.


“Perkenalkan namaku Rey dan aku adalah...”


“Dia adalah temanku. orang tuanya dulu yang mengasuhku sebelumnya,” ucap Chaca melanjutkan ucapan Rey.


“Benarkah?” tersenyum ringan. “Namaku Vin Darius, kau bisa memanggilku Vin. Aku teman sejak kecilnya Chaca. Dulu kami satu klub.”


“Senang bertemu denganmu Vin,” menjulurkan tangannya memberi salam.


“Senang bertemu denganmu juga Rey,” ucapnya membalas dengan membungkuk pelan tanpa menerima salam yang sudah di hadapkan padanya. Rey yang mendapati jabatan tangannya tak dibalas, kemudian ditariknya kembali tangan nya itu. Chaca dan Wina tak menyadari tingkah kedua orang itu. Wina mengajak kedua orang segera masuk dan menunggu di dalam dan meminta Rey untuk segera pergi karena di pikirnya Rey cukup sibuk dengan kafenya.


Rey yang ditinggalkan itu hanya bisa melihat ketiga orang itu berjalan masuk tanpa ada yang menoleh.


“Aku akan ajak dia ke kafe saja nanti malam,” tambahnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan bandara.


***


“Cha, sepertinya kamu tidak kaget bertemu dengan Rey tadi, benarkan?” tanya Wina penasaran.


“Memang benar. Aku tidak kaget melihatnya tadi. Kenapa?”


“Kau tidak kaget melihatnya ada di Amerika?” tambah Wina yang masih penasaran.


“Aku sudah bertemu dengannya sebelumnya.”


“Kapan?”


“Kemarin saat setelah kamu pulang untuk beres-beres barang.”


“Ternyata kemarin. Pantas saja kamu tidak bertanya bagaimana dia bisa di sini.”


“Ku rasa saatnya kamu berangkat,” Vin menunjuk jadwal yang terlihat.


“Aku akan merindukanmu lagi. Sampai jumpa lagi Cha, sampai bertemu lagi Vin. Aku pergi ya,” dia melampaikan tangan cukup lama sampai akhrinya berbalik dan pergi. Chaca dan Vin menyaksikan pesawatnya lepas landas dan setelahnya keduanya pergi bersama dengan mobi yang dibawa Vin. Didalam perjalanan yang tenang itu, dering ponsel Chaca memecah suasana.


“Halo, Rey?” setelah nama itu terucap, Vin yang mendengar sangat tertarik dengan percakapan yang terjadi. “Apa? Memangnya ada apa?” wajah Chaca sedikit terkejut dan diam sebentar lalu melanjutkan percakapannya. “Baiklah aku akan datang,” panggilan itupun akhirnya berakhir. Raut Vin seolah tidak menghiraukan percakapan itu tapi dia mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan. Karena masih merasa penasaran, dia mencoba mengorek informasi.


“Cha, kamu ada waktu luang nanti malam?” tanya Vin berani.


“Nanti malam? Kenapa memangnya?”


“Mari kita makan malam. Kemarin rasanya masih belum puas melepas rindu.”


“Bagaimana ya? Sepertinya aku tidak bisa. Nanti malam aku sudah ada janji.”


“Dengan siapa? Wina? Tidak mungkin, dia kan baru saja pergi.” Vin berhenti berbicara saat masih fokus dengan belokan di depannya. “Apa mungkin dengan kak Sean?” lanjutnya.


“Bukan,” balas Chaca.


“Aku tahu. Pasti Rey yang tadi itu kan?” ucapan umpan itu akhrinya dilontarkan.


“Benar. Dia memintaku ke kafe barunya yang baru buka di sini,” ungkap Chaca mengakui.


“Cha, bolehkah kau mengajakku ke sana. Aku juga mau tahu bagaimana usahanya itu dan aku juga mau berkenalan dengannya. Lagipula aku juga tak banyak kenalan di sini. Bukankah lebih baik jika dia juga bisa jadi temanku,” ucap Vin memancing Chaca untuk menyetujui permintaannya. “Aku tidak memaksa jika kamu keberatan,” tambahnya mencoba membuat tarik ulur.


“Ikutlah, kurasa dia juga akan senang bisa menambah kenalan.”


Vin tersenyum setelah permintaannya akhirnya disetujui. “Tentu saja aku harus ikut. Aku harus membuat tameng untuk Chaca dari laki-laki itu,” batin Vin.


Malam yang dinanti telah tiba. Vin yang berpakaian santai menggunakan hoody berwarna cream dan sepatu hitamnya menjemput Chaca di rumahnya dengan mobilnya. Mereka menuju tempat di mana kafe baru milik Rey berada. Langit malam nampak jelas dengan cahaya bulan sabit diantaranya. Meski bukan musim dingin namun udaranya cukup membuat orang-orang yang berada diluar ruangan kedinginan.


Sambutan dari si pemilik kafe yang berdiri di depan pintu menanti tamu yang ditunggu-tunggu. Chaca yang pertama turun dari mobil dan menyapa Rey di sana. Lalu Vin turun setelahnya dan langsung berkontak mata dengan pria berseragam kafe tersebut. Jelas nampak Rey terkejut dengan keberadaan Vin yang datang bersama dengan Chaca.


“Bukankah ini Vin?” tanya Rey yang melihat Vin mulai berjalan mendekat.


“Iya, aku mengajaknya bersamaku. Karena dia bilang ingin melihat kafemu dan mencoba dekat denganmu, jadi aku mengajaknya.” ucap Chaca dengan tersenyum ragu. “Apa kamu keberatan?” tanya Chaca ragu.


“Tidak apa. Temanmu juga merupakan temanku. Masuklah! Sudah kusipkan meja,” Rey mengantar kedua tamunya masuk dan membawa mereka ke mejanya.


“Biar ku ambilkan minuman dan makanannya. Kalian tunggu di sini?”


Tak lama Rey kembali membawa beberapa minuman dan makanannya. Dia ikut bergabung duduk bersama mereka. Baru saja meneguk minuman yang dibawa Rey, Chaca dikejutkan dengan perilaku Rey yang tiba tiba meminta jabatan tangannya dan berkata maaf kembali.


“Kau sudah meminta maaf kemarin. Jadi tidak usah melakukannya lagi,” kata Chaca menanggapi. Melihat tangan Rey yang masih tak ditarik kembali oleh pemiliknya itu, Vin berinisiatif menggantikan Chaca untuk membalas jabatan tangan tersebut.


“Biar aku yang mewakilinya,” genggaman kedua laki-laki itu sangatlah kuat sampai akhirnya terpisah dengan sendirinya.


“Kenapa diam saja? Apa aku sudah keterlaluan?” tatapan keduanya saling beradu seolah akan ada perkelahian yang tak mendasar hingga membuat suasana sangat tenang. “Aku hanya ingin bercanda dan membuat suasananya jadi lebih akrab,” ucapan Vin akhirnya membuat nuansanya lebih kondusif.


Jabatan tangan yang sepele membuat kedua orang itu saling mempertanyakan makna dibaliknya. Sudut pandang keduanya sangat berbeda dan liar hingga membekukan suasana tanpa melihat keadaan di sekelilingnya. Genggaman yang terikat dikedua tangan yang besar itu seolah memberitahu bahwa ada yang memberikan tameng, ada yang mencoba akur, ada yang penuh dengan rasa penasaran, dan ada pula tanda persaingan yang belum nampak.