
Sepadan dengan bagaimana kehangatan dari mentari yang hendak muncul dengan hembusan udara yang menerobos di setiap sela jendela setelah dibuka sedikit, mempersilahkan cahaya mengintip kamar tidur itu. Setelah kesadaran dari dua orang gadis itu didapatkan, keduanya terlihat memejamkan mata bukan untuk kembali terlelap melainkan menikmati aroma yang melintasi indra penciuman mereka.
“Kau bisa menikmati aroma kebahagiaan seperti ini setiap hari, aku sangat iri,” oceh Wina pelan dengan sindiran.
“Jadi kau pindah saja ke sini?” balas Chaca menanggapi dengan canda.
“Tidak terimakasih. Aku harus bekerja,” jawab Wina dengan sangat yakin.
“Katamu iri dengan aroma kebahagiaan yang bisa ku nikmati setiap hari?” menambah candaannya.
“Maka dari itu, akan ku nikmati hari-hari selama aku di sini. Jadi manjakan aku selama di sini oke.”
Keduanya saling melempar canda hingga panggilan dari pria dewasa dan satu-satunya di rumah itu meminta keduanya segera sarapan.
“Berhenti mengoceh dan segera cuci muka kalian. Lalu turunlah untuk sarapan. Aku sudah buatkan sarapan untuk kalian di bawah,” ucap Sean yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Setelah meminta adik-adiknya turun, dia menutup kembali pintu kamar itu. Namun, belum sampai beberapa detik, Sean kembali membuka pintu itu dan memandang ke arah para gadis. Tanpa berbicara, hanya dengan isyarat tangannya, dia meminta untuk segera bergegas dan tak banyak bicara lagi
***
Pagi yang tak terlalu cerah namun cukup menyejukkan itu membawa kedua orang sahabat itu ke tempat yang tak asing bagi keduanya. Keduanya nampak mencari-cari sesuatu hingga mondar-mandir di sana.
“Barang apa yang tertinggal?”
“Buku catatanku yang biasa ku bawa.”
“Bagaimana bisa sampai tertinggal sih? Kamu yakin bukumu tertinggal di sini? Atau mungkin terjatuh di tempat lain.”
“Aku yakin tertinggal di sini. Seingatku kuletakkan di meja tunggu saat sebelum naik panggung.”
Chaca mencari buku kesayangannya itu ke sana kemari menelusuri setiap jengkal lokasi festival semalam. Wina yang menemani pun ikut memasang mata mencari di setiap sudut yang mungkin.
“Apa mungkin ada yang mengambilnya ya? Bagaimana ini?” resah Chaca menghentikan pencahariannya sebentar dan menatap sahabatnya itu. Dia terus menggaruk kepalanya yang tak gatal. Berulang kali bertanya pada orang-orang yang berlalu lalang pun tak ada jawaban yang memuaskan bagi mereka.
“Ah...” Chaca menabrak seseorang hingga minuman yang dibawa tumpah. “Maaf biar saya ganti,” memungut gelas yang terjatuh.
“Chaca,” panggil si pria.
“Kamu kenal saya?”
“Kamu tidak ingat aku,” tanganya menunjuk ke arah Chaca dengan wajah terkejut. “Ini sungguh kamu, padahal ku pikir kemarin malam aku salah lihat.”
“Kamu....” berpikir sejenak dengan tatapan yang tak teralihkan. “Kamu Vin, Vin Darius,” spontan Chaca menjabat tangan orang di depannya itu. Seorang yang cukup lama dikenal baik dan lama tak berjumpa begitu pula dengan salam sapa yang hampir tak pernah dilakukan.
Vin Darius adalah orang kedua yang paling dekat dengan Chaca sebelum akhirnya bertemu dengan Wina. Mereka bukan teman satu sekolah melainkan teman satu klub yang bernama Mind Kingdom atau biasa disebut Miking. Pertemuan mereka pun bisa dibilang biasa tapi setelah pertemuan hari ini, sungguh bisa dikatakan bahwa ada cerita rahasia yang terencana jauh dari pemikiran pelakunya karena bertemunya mereka sama persis seperti hari ini. Perbedaannya hanya tempatnya saja. Vin pria yang sangat hangat dan pengertian. Alasan keduanya tak pernah saling berkomunikasi dalam waktu lama adalah karena Vin mendapat kesempatan menjadi sukarelawan di tempat yang sangat jauh dan tak terjangkau oleh komunikasi. Bahkan Chaca tak pernah tau berapa lama program tersebut berlangsung. Yang pasti klub yang pernah jadi tempat mainnya itu sudah lama bubar karena para anggotanya harus meninggalkan klub dengan alasan pribadi.
Seketika itu, Chaca melupakan catatan yang sibuk dicarinya sebelumnya. Jangankan bukunya, temannya yang ikut mencarikan, Wina pun dilupakan olehnya sampai saat Wina melintas terlihat oleh Chaca.
“Win,” panggilnya dengan melambai mengisyaratkan untuk menghampiri si pemanggil.
“Sudah ketemu?”
“Apa? Ah, bukunya. Aku belum menemukannya.”
“Ah, aku mau mengenalkan temanku padamu?”
“Teman?” menoleh ke arah yang dimaksud Chaca. Seketika setelah melihat Vin, dengan cepat memandang ke arah Chaca lagi.
“Memangnya kamu punya teman lain selain aku?”
“Tentu saja aku punya.”
“Lebih baik kita duduk saja di sana dulu baru bicara lagi,” Sela Vin yang mulai merasa capek harus berdiri sambil mendengar kedua gadis di sana tak berhenti berbicara.
Tempat duduk kayu, meja kotak yang terbuat dari kayu pula. Tempat yang dekat dengan dua pohon besar di sisi kanannya dan tak jauh dari jalanan orang berlalu lalang. Lokasi yang cukup teduh untuk ketiganya menikmati perbincangan yang akan mereka lakukan. Angin yang lembut menerpa memberi sensasi teduh lainnya bagi mereka. Setelah dirasa mendapatkan lokasi yang cukup nyaman, Vin yang hendak membeli minuman dihalangi oleh Chaca.
“Biar aku saja, sebagai ganti yang tadi. Sebentar ya, kalian ngobrol saja dulu,” Chaca meninggalkan Wina yang terus menatap Vin dengan penasaran.
“Kau sungguh teman Chaca? Aku yakin tak pernah mendengarmu dari Chaca.”
“Seharusnya aku yang bertanya, apa benar kamu temanya Chaca?”
“Aku memang temannya, aku sahabatnya. Kenapa aku tak percaya padamu?”
“Kenapa denganku, jika kamu tidak pernah dengar aku darinya bukankah seharusnya kamu yang tidak percaya dengan Chaca?”
“Aku, aku percaya dengannya. Aku sangat percaya padanya. Tidak mungkin dia berbohong padaku kecuali memang belum diberitahu olehnya.”
“Hmmm, Aku tersentuh mendengarnya,” Chaca muncul dengan nampan ditangannya. Satu persatu gelas diletakkannya di meja memberikannya pada kedua temannya. Mengikuti kedua temannya, dia duduk kembali dan memandang dengan senyum kearah mereka.
“Baiklah biar aku jelaskan. Wina, ini adalah Vin, teman lamaku yang hampir tak pernah kutemui sampai saat ini karena dia menjadi relawan di tempat yang sangat jauh. Dan Vin, ini adalah Wina teman sekaligus sahabat baikku selama ini. Dia sudah seperti saudara bagiku. Dia banyak membatuku sekala ini.”
“Yang pasti aku adalah teman pertamamu bukan?” ucap Vin sedikit menyombongkan diri.
“Wah, lihat dia sombong sekali. Mana mungkin kamu teman pertamanya, jelas itu pasti akulah teman pertamanya. Berapa lama kamu berteman dengannya?”
“Aku? 10 tahun mungkin sampai saat ini,” jawab Vin sambil mengingat ingat. “Memangnya sejak kapan kamu berteman dengan Chaca?”
“Kau yakin ingin dengan jawabanku? Aku berteman dengannya sejak kami masuk taman kanak-kanak,” jawab Wina dengan tersenyum tipis. Kini kesombongan Vin nampak sedikit demi sedikit luntur.
“Benarkah?” tanya Vin pada Chaca dengan rasa takut jika memang seperti itu kenyataannya. Chaca tak menjawab hanya mengangguk mengiyakan.
“Kau bahkan tak genap 10 tahun berteman dengaku karena kita bertemu saja hanya satu tahun lalu 9 tahun kau pergi dan baru sekarang bertemu lagi,” tambah Chaca pada Vin menambah realita pahit bagi Vin. Chaca hanya tertawa melihat tingkah teman-temannya itu.
“Sudahlah aku menyerah,” Vin mengankat kedua tangannya untuk menyerah untuk berdebat.
“Karena sudah lama tidak bertemu, aku akan lakukan sekali lagi yang seharusnya ku katakan,” ucap Vin menambahkan.
“Halo Cha, Senang rasanya bisa bertemu dengamu lagi setelah waktu yang cukup panjang,” tambah Vin sambil mengarahkan tangannya meminta untuk dijabat oleh orang yang diajaknya berbicara.
“Senang bertemu denganmu lagi Vin. Selamat datang kembali,” balas Chaca menerima jabatan tangan teman lamanya itu.