
"tuan, saya benar benar berterima kasih atas kemurahan hati tuan untuk menerima kerja sama ini walaupun saya sudah telat dari jam yang sudah kita tentukan, dan mengenai itu saya benar benar meminta maaf yang sebesar besar nya"
ribuan terima kasih yang gisel ucapkan rasa nya tidak sebanding dengan kemurahan hati tuan rayden yang terkenal dingin ini untuk memaafkan nya, ia merasa keberuntungan benar benar berpihak padanya hari ini
"tapi ini semua tidak gratis nona"
gisel mengerutkan kening nya mendengar perkataan yang meluncur dari mulut rayden, dan entah mengapa kata itu begitu mengusik hati nya
"ma.. maksud tuan?" tanya gisel masih diliputi oleh rasa penasaran yang begitu dalam
"menikah lah dengan ku"
deg
bagai ledakan bom yang benar benar dahsyat, hati gisel berdenyut dan menimbulkan rasa nyeri kala mendengar ungkapan yang begitu ia harapkan tapi malah di ucapkan oleh orang yang tidak ia harapkan
"sa.. saya masih belum mengerti maksud tuan" gisel masih mencoba bersikap tenang walaupun wajah nya tidak menunjukkan itu karena wajah nya kini di penuhi ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan
"jadilah ibu sambung untuk putra ku, dan aku akan memastikan perusahaan keluarga mu kembali seperti semula"
"tapi kenapa harus aku?" gisel masih belum bisa mengerti dengan semua keadaan ini
"karena putra ku, kau mengingat anak laki laki yang kau temui di central mall waktu itu?" rayden menjeda kalimat nya dan berganti duduk bersandar pada sofa yang kini ia duduki dengan tatapan menerawang "dia adalah putra ku, aksa abimanyu abraham, sejak pertama kali melihat mu ia bahkan sudah memanggil mu mami, dan berlindung dalam dekapan mu dengan tangis nya yang seakan mengatakan betapa hatinya berharap bahwa kau benar benar menjadi ibu pelindung untuk nya"
hati gisel masih dilanda kebingungan yang teramat dalam, lalu apa hal yang membuat ia harus menikah dengan laki laki yang baru ia kenal wajah nya beberapa menit yang lalu ini? ia memang pernah melihat pemberitaan yang memperlihatkan wajah tampan laki laki ini lima tahun yang lalu, tepat nya saat pemberitaan yang menggemparkan dunia bisnis dengan berita meninggal nya istri pengusaha tersohor yang tak lain dan tak bukan adalah rayden adithama abraham, sang raja bisnis yang terkenal dengan kehebatan nya mencapai kesuksesan di usia muda.
"sa.. saya masih belum mengerti maksud tuan" kembali gisel berucap dengan penuh kebingungan
gisel diam dengan hati yang berkecamuk, apakah ini semacam pernikahan kontrak? tidak! ini hanya sebuah kesepakatan dalam pernikahan tanpa cinta, sesuatu yang sangat gisel hindari
"saya memang mencintai putra anda, tapi untuk menikah... maaf, saya tidak bisa" ucap gisel seraya meraih tas nya dan beranjak dari sofa, saat sudah di ambang pintu ia kembali membalik badan nya "saya tidak butuh bantuan anda dengan dalih kesepakatan untuk menguntungkan pihak anda" ucap gisel dan bergegas pergi
"mami" panggilan itu berhasil menghentikan langkah gisel yang tampak terburu buru menuju lift, ia membalik badan nya dan mendapati anak laki laki yang begitu membuat nya jatuh cinta itu.
Gisel berjongkok dan merentang kan tangan nya untuk memeluk bocah laki laki itu, dan tanpa segan aksa berhambur ke dalam pelukan gisel
"sayang, tante harus pulang" ucap gisel sembari membelai wajah polos aksa
"pulang? aksa ikut" sahut nya polos
"ikut? sama tante?"tanya gisel dan diangguki aksa "mm sayang, tante ini penculik loh, nanti kamu tante culik terus ngga bisa ketemu lagi sama papi, sama omah, emang aksa ngga sayang sama papi sama omah?" tanya gisel lagi
aksa mendongak dan menatap gisel dengan pandangan polos nya "mami ngga sayang aksa?" tanya nya dengan mata yang sudah mulai memerah
seketika itu gisel di buat gelagapan, dalam fikiran nya, anak se-usia aksa pasti akan takut dengan ucapan nya tentang penculikan, tapi ternyata dugaan nya salah, karena ternyata fikiran aksa sudah cukup dewasa untuk mengartikan semua nya
"sayang, mmm mami.. eh tante... tante sayang sama aksa, tapi sekarang tante harus pulang" ucap nya "aksa anak baik kan?" tanya nya dan di jawab anggukan oleh aksa "aksa sayang papi?" tanya nya lagi dan lagi lagi di jawab anggukan oleh aksa "sayang omah juga kan?" kembali ia bertanya dan lagi lagi di jawab aksa dengan anggukan kepala, gisel tersenyum sembaru mengusap puncak kepala aksa "makanya sekarang tante harus pulang, dan ket ef mu sama mama nya tante, tante kan sayang juga sama mama nya tante, sama papa nya tante juga, nanti kita main lagi deh, oke"
"janji?" aksa mengacung kan jari kelingking nya ke hadapan gisel, dengan ragu gisel pun menautkan jari kelingking nya ke jari mungil milik aksa
"janji"