Love Is A Magical Thing

Love Is A Magical Thing
bagian 04



Tring.. Tring..


Dering jam beker membangunkan gisel dari tidur nyenyak nya, dengan malas diraih nya jam beker tersebut lalu di matikan nya tanpa membuka mata se inci pun, setelah jam itu mati, ia kembali tidur tanpa mengembalikan jam itu pada tempat nya. Gisel kembali tidur karena mata nya benar benar menuntut untuk kembali di pejamkan


Gisel kembali menyelami alam mimpinya, hingga satu jam kemudian matanya baru bisa diajak berkompromi, ia membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan pencahayaan dari sinar matahari yang menerobos masuk dari jendela kamar nya. Ia duduk dari posisi baring nya dan bersandar di kepala ranjang, dilihat nya kamar yang begitu berantakan oleh banyak nya tisue


Ia menjadi terbayang kejadian semalam, ia menangis semalaman penuh, dan menghabiskan semua persediaan tisue yang ada di kamar nya, ia menjadi malu sendiri dibuat nya. Ia merasa menjadi remaja labil yang putus cinta saat ini


Dret.. Dret


Getar ponsel diatas nakas mengalihkan atensi nya dari tumpukan tisue yang berserakan, diraih nya ponsel tersebut, namun belum sempat menerima panggilan sudah lebih dulu mati, dilihat nya ada 22 panggilan tak terjawab dari reni;sekretaris nya.


Ia balik menghubungi sang sekretaris karena tidak biasa nya sekretaris nya itu menghubungi nya sepagi ini


^^^"halo ren kenapa?" ucap nya to the point sesaat setelah panggilan terjawab^^^


^^^"hari ini? Jam 8? Ahh baik, 10 menit lagi saya kesana" tut panggilan dimatikan sepihak oleh gisel, dilirik nya jam yang ada di ponsel nya menunjukkan pukul 08.02^^^


Gisel segera bergegas ke kamar mandi, mencuci muka, dan menggosok gigi, setelah nya ia keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan pakaian yang hari ini akan ia kenakan, syukurlah ia menuruti permintaan mama nya waktu itu untuk mempekerjakan bik inem, jadi ia tidak perlu repot harus menyetrika pakaian terlebih dahulu pagi ini.


Gisel keluar dari kamar nya dan mendapati bik inem yang sedang berdiri didepan pintu kamar nya, dengan posisi tangan di udara, gisel yakin bahwa bik inem pasti ingin membangunkan nya karena sekarang sudah lebih dari jam yang seharus nya untuk dirinya bangun. bik inem benar benar ajudan setia sang nyonya, gisel menggelengkan kepala tidak habis fikir dengan mama nya yang bisa mendapat seorang ajudan yang begitu setia, bahkan saat sang nyonya tidak berada di rumah sekalipun, ia tetap menjalan kan tugas nya dengan sempurna


"non mau ke kantor?" tanya bik inem dan hanya di jawab anggukan serta senyum manis dari gisel karena ia masih sibuk memperbaiki penampilan nya


"sarapan dulu ya non" saran bik inem


"udah telat banget bik, gisel berangkat sekarang aja ya, nanti kalau mama nanya udah sarapan belum, bilang aja udah, oke" gisel mencium pipi bi inem lalu berlari menuju pintu utama, walaupun gisel tahu bahwa bik inem tidak akan pernah bisa berbohong jika menyangkut sang nyonya rumah, tapi setidak nya ia sudah berusaha membujuk bi inem fikir nya


Gisel segera menaiki mobil nya dan tancap gas menuju perusahaan A company sesuai yang di beritahukan oleh sekretaris nya.