
"apa maksud mu dengan menolak keinginan ku?" tanya gisel kepada rayden setelah sebelum nya diam seribu bahasa
"apa tujuan mu menerima tawaran ku?"
alih alih menjawab pertanyaan yang di lemparkan gisel padanya, ia malah balik bertanya pada wanita di hadapan nya ini
"apa kau membutuhkan kejujuran?" tanya gisel sembari menatap manik mata indah itu
"apa perlu aku menjawab nya?" tanya rayden dingin
hufff
"aku akan di jodoh kan" ucap gisel masih menatap lekat manik indah itu, ia menunggu reaksi apa yang akan di tunjukkan rayden setelah tahu alasan nya menerima tawaran pernikahan ini "dan... aku membutuhkan bantuan mu untuk membatalkan perjodohan orang tua ku" ucap gisel lagi setelah melihat keterdiaman rayden
"itu artinya kau ingin mempermainkan pernikahan!" klaim rayden
"ini berbeda, klau kau mau menikah dengan ku, setidak nya aku bisa belajar untuk mencintai mu, dan aku juga bisa menjadi ibu sambung untuk putra mu, bukankah itu sepadan?" ucap gisel masih berusaha meluluhkan hati rayden
rayden masih diam, mencerna kata demi kata yang di sampaikan gisel, ia dilanda dilema, jika ia menerima tawaran menggiurkan ini, maka sudah dapat di pastikan bahwa ia akan mengalami fase penyesuaian yang panjang karena wanita yang akan ia nikahi adalah wanita yang kuat pendirian seperti gisel. Ia terus berfikir keras, tidak ingin memutuskan semua nya tanpa pertimbangan, sekelebat bayangan putra nya kembali muncul dalam benak nya, tentang agaimana sang putra yang begitu merindukan sosok ibu dalam hidup nya, bahkan putra seringkali mengigau menyebut nama sang ibu
hufff
"pernikahan bagiku bukan lah sebuah permainan, kau mungkin menerima ku karena alasan yang besar, yaitu menghindari perjodohan yang telah orang tua mu persiapkan, dan aku juga memiliki alasan kuat untuk pernikahan ini, aku ingin putra ku kembali merasakan dekapan hangat seorang ibu, maka setelah pernikahan ini, jadilah ibu sambung yang baik untuk putra ku dan istri yang baik untukku"
"jadi kau menerima pernikahan ini?" tanya gisel antusias
"katakan kepada orang tua mu bahwa aku akan melamar mu secara langsung malam ini juga" ucap rayden yang membuat gisel terperangah tak percaya
"yaa, apa masalah nya? bukankah lebih cepat lebih baik, kau akan terhindar dari perjodohan, dan aku akan mendapat pelayanan, kau tahu? aku sangat merindukan seseorang memakaikan dasi untukku di pagi hari" ucap rayden
"apa maksud mu? aku? memakaikan dasi untuk mu? setiap pagi?" tanya gisel tak percaya
"bukankah kau akan menjadi istriku? jadi rutinitas itu hanya hal biasa yang dilakukan istri untuk menyenangkan suami nya" ucap rayden santai
"baiklah, mari sekarang kita coba" gisel maju ke hadapan rayden, hingga kini jarak kedua nya semakin dekat, baru saja tangan nya akan menjangkau dasi yang melingkar di kerah kemeja rayden, nmun rayden malah mundur seakan memberi penolakan keras untuk nya
"kenapa?" tanya gisel
"kewajiban itu hanya berlaku setelah kita menikah nona"
*
gisel memasuki lift dengan santai, beban berat yang sedari tadi menimpa nya seakan lenyap tak bersisa, tib dilantai yang di tuju ia segera keluar dan menuju ruangan nya, dari kejauhan ia bisa melihat rani yang tampak fokus mengerjakan berkas di hadapan nya
"ran" panggil gisel
rani yang mendengar namanya di panggil segera melihat ke sumber suara, melihat gisel berada di hadapan nya ia pun segera bangkit dan menundukkan sedikit tubuh nya
"ibu memanggil saya?" tanya nya memastikan
"iya, ikut ke ruangan saya sekarang" ucap gisel sembari berjalan lebih dulu meninggalkan rani