Love Is A Magical Thing

Love Is A Magical Thing
Bagian 24



"hahaha baiklah, baiklah"


Gisel terpaksa menghentikan tawanya saat melihat tatapan mata Rani yang menghunus tajam, Gisel benar benar tidak bisa meragukan bahwa Rani adalah adik dari seorang Rayden, karena bahkan tatapannya pun sama sama menyeramkan


"Aku dan kakakmu akan menikah, dan nanti malam kakakmu akan ke rumahku untuk melamarku di hadapan kedua orang tuaku. Jadi kau sudah faham?" tanya gisel menaikkan kedua alisnya sebagai bentuk pertanyaan


"Kalian gila? Kalian akan menikah dan akan melangsungkn lamaran malam ini juga? Apa kalian fikir menikah semudah itu?"


"shuuut! Yang akan menikah adalah aku dan kakakmu, kenapa kau yang terlihat pusing sekali?" tanya Gisel seolah bodoh "oh iya aku lupa, jika aku akan menikah dengan kakakmu, itu artinya kau harus menyiapkan keperluan untuk malam ini bukan, dan kau tidak akan bisa keluar untuk jalan jalan bersama pacarmu seperti biasanya" ucap Gisel menebak


"Dasar sok tahu. Dengar, aku hanya tidak setuju jika kakakku harus menikah denganmu, dan... aku tidak yakin bahwa kau bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk keponakanku yang tampan itu. Sekarang katakan apa tujuanmu untuk pernikahn ini!" Desak Rani, ia yakin bahwa ada maksud tersembunyi dari pernikahan yang sudah di rencanakan oleh kakaknya dan bos gilanya ini


"Dengar, yang pertama yang ingin aku sampaikan adalah aku adalah boss-mu, jadi perlembut sedikit nada bicara mu... "


"Perlembut? Tidak akan. Sekarang katakan yang ingin kau sampaikan" ucap Rani cepat memotong pembicaraan Gisel


hufff


"Baiklah, yang kedua yang ingin aku sampaikan padamu adalah, aku menikah dengan kakakmu karena persetujuan dari kakakmu juga... "


"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku, yang aku tanyakan adalah tujuan kalian berdua menikah, bukan cerita tentang persetujuan antara kau dan kakakku" potong Rani cepat saat merasa Gisel sangat bertele tele dalam penjelasannya "Yang pasti pernikahan ini bukan karena cinta bukan? hm?"


Gisel diam, ia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan yang baru saja Rani lontarkan. jika dirinya menjawab jujur, maka dirinya tidak bisa memastikan bahwa Rani akan menyetujui pernikahan konyol ini, tetapi jika dirinya berbohong, maka akan semakin banyak dosa yang ia tumpuk karena kebohongan


"Kalian menikah karena cintakan?" tanya Rani lagi, kali ini di sertai dengan senyum smirk-nya


"Ten.. tentu saja, tentu saja kami menikah karena cinta, memang karena apalagi? Sudahlah aku malas berdebat denganmu. Sekarang, dengan sangat amat terhormat dan segala kerendahan hati, aku mengizinkanmu untuk memberikan surat resign, setidaknya agar kau tidak malu karena ketahuan di pecat dari sebuah perusahaan hanya karena pemilik perusahaan tempatmu bekerja akan menjadi kakak iparmu. ahhh sangat tidak menarik"


Gisel bangkit dari sofa yang tadi ia duduki, ia beralih menuntun Rani untuk berdiri dan membimbingnya menuju pintu, ia tidak ingin memperpanjang masalah dengan mengobrol lebih lama lagi, karena jika dirinya mengobrol dengan Rani lebih dari satu menit lagi, maka dapat di pastikan kepalanya akan pecah karena pertanyaan pertanyaan yang pasti akan di pertanyakan oleh Rani, dan Gisel tidak bisa menjamin bahwa jawaban jawaban polos tidak akan terlontar dari bibir tak berdosanya itu