
"apa maksud tuan?"
"jadilah mami untuk nya, dan menemani nya selama nya" ucap rayden tegas
gisel memandang wajah aksa yang menatap nya penuh harap, gisel jadi bingung sekarang, andai saja saat ini tidak ada aksa diantara dirinya dan rayden, maka mungkin ia akan merapalkan sumpah serapah untuk rayden seperti sebelum nya
"mami mau kan sama aksa selama nya?"
gisel gelagapan mendapat pertanyaan ini, apa yang harus ia katakan? bersedia? tidak mungkin, apa ia harus mengatakan tidak, tapi itu akan menykiti perasaan aksa
"mmmm... tan.. tan.. tante" gisel masih memikirkan jawaban yang tepat untuk di berikan kepada aksa
"mami tidak mau?" tukas aksa
ia langsung menjatuhkan es krim yang tadi di berikan oleh sang papi, lalu berlari tak tentu arah, bocah laki laki itu hanya menginginkan gisel menjadi mami nya, tapi harapan nya pupus saat melihat raut wajah wanita yang ia panggil mami itu tampak bingung untuk mengungkapkan penolakan nya
"ak.. aksa" gisel memberikan es krim yang sejak tadi berada di tangan nya kepada rayden, tak lupa ia juga memberi tatapan permusuhan kepada laki laki yang sudah membuat nya berada pada posisi serba salah seperti ini
ia lantas berlari menyusul langkah kecil aksa, diikuti rayden yang juga ikut mengkhawatirkan putra nya
"aksa.... " seru kedua nya bersamaan sat melihat aksa berhenti berlari dan sekarang sedang berada di hadapan dua orang yang tidak mereka kenali
gisel berlari memeluk aksa seolah takut kehilangan, ia memindai aksa dari atas hingga ke bawah, takut ada luka atau semacam nya, dan untung nya semua ketakutan nya tidak terjadi
"jangan tinggal kan mami" pinta nya lirih
deg
gisel membeku, ia tak mampu berkata apa apa, dunia seakan berhenti berputar saat ini, ia tidak menyangka setelah satu minggu menyibukkan diri dan berusaha menghilang dari masa lalu nya, kini ia harus kembali di pertemukan dengan kedua orang ini, leodra dan andre.
gisel bisa membaca keterkejutan di wajah kedua teman nya ini, namun ia juga seakan tidak punya kekuatan untuk sekedar menjelaskan
rayden yang sejak tadi mengamati dari ujung sana pun ikut mendekat, membawa aksa ke dalam gendongan nya lalu merangkul pinggang gisel dengan posesif
"nona pradipta, senang bertemu dengan anda" gisel melihat rayden dengan tatapan bingung, bagaimana bisa seorang rayden mengenal leodra, atau jangan jangan rayden juga tahu tentang hubungan rumit masa lalu dari ketiga nya? "kami rekan kerja" ucap rayden seakan tahu kebingungan yang tergambar di wajah gisel
"tuan rayden, senang juga bertemu anda kembali" sahut leodra setelah cukup lama terdiam
"mami aksa mau bobok" ucap aksa merentang kan tangan nya kearah gisel, dengan senang hati gisel pun menyambut uluran tangan itu, dan membawa aksa kedalam gendongan nya
gisel kembali melihat leodra dan andre yang tampak nya masih di lingkupi kebingungan
"mmm lee, ndre, ini rayden, calon suami ku"
entah mendapat keberanian dari mana, hingga gisel berani menyebut rayden sebagai calon suami nya, yang pasti untuk saat ini hanya kata itulah yang bisa menyelamat kan nya, sedangkan rayden yang mendengar itu hanya menyunggingkan senyum tipis di bibir nya
"dan aksa... " terlihat leodra menutup mulut nya sebelum mengajukan pertanyaan lebih dalam, gisel tahu pasti saat ini kedua sahabat nya ini tengah bertanya tanya tentang status nya "maaf" ucap leodra kembali penuh sesal
"tidak masalah" gisel tersenyum menanggapi perkataan leodra "aksa ini adalah anak mas rayden yang sekarang sudah menjadi anak ku juga, dan kalian juga harus segera menyusul kami untuk menjadi orang tua, karena nikmat nya menjadi orang tua itu sangat luar biasa. aku do'a kan kalian secepat nya mendapatkan momongan" ucap gisel tulus