
Gisel duduk disalah satu bangku tunggu sebuah rumah sakit ternama yang ada dikota itu, ia mengamati orang-orang yang tampak sibuk mengurus persiapan akad yang akan diadakan didalam salah satu ruang Vvip disana, tepatnya di ruang perawatan tuan Bimo, ayah dari Leodra
Lama ia mengamati hingga terlihat seorang penghulu yang berjalan dengan tergesa mengikuti seorang perawat yang tampaknya menjadi penunjuk jalan, setelah penghulu itu masuk, hanya ada keheningan disana, tidak ada lagi para perawat ataupun dokter yang masuk ke ruangan itu, dan bisa Gisel pastikan bahwa saat ini acara akad sudah dimulai
Tak lama setelahnya, ia melihat kembali beberapa dokter yang masuk beriringan kedalam ruang perawatan tuan bimo dengan tergesa, hingg setelahnya ia mendengar isak tangis yang bersahutan dari dalam ruangan itu.
Apakah mungkin tuan bimo...
Fikiran nya mencoba menebak apa yang terjadi didalam sana, hingga detik berikutnya pintu kembali dibuka oleh seseorang yang sangat ia kenali, dengan segera gisel beranjak dari kursinya dan hendak berjalan pergi, namun langkah kakinya terhenti kala suara seseorang tersebut terdengar
"setidaknya hargailah dia sebagai sahabatmu" laki laki tersebut berjalan menghampiri Gisel dan berdiri tepat satu meter di belakang perempuan itu "ayah dari sahabat mu telah tiada, tidakkah kau berniat untuk memberi semangat untuknya?" gisel membalik tubuhnya, di tatapnya mata laki laki itu dengan intens
"kau serius?" dengan ragu Gisel menanyakan hal yang membuat nya merasa bersalah, ia masih mencoba meyakinkan pendengarannya
"Pernikahan ini bukan keinginan Leodra, Leodra yang sekarang masih sama dengan leodra yang 6 tahun lalu kau kenal, leodra yang merelakan orang yang dia cintai untuk bersama dengan seseorang yang merupakan sahabatnya sendiri, dia masih sama" bukan nya menjawab pertanyaan Gisel, laki laki tersebut malah memberikan pernyataan yang benar benar membuat hati gisel tercubit
"Kevin, aku... "
"Sekarang kau juga harus menjadi Leodra, menjadi sosok yang merelakan orang yang kau cintai menikah dengan orang lain, aku tahu kau mampu" Kevin memberi peringatan sekaligus memberi semangat untuk sahabat dari adik sepupunya ini
Tanpa terasa air mata jatuh dengan deras nya dipipi mulus Gisel, ia benar benar tertampar dengan perkataan kevin, kini ia merasakan bagaimana sakitnya perasaan leodra saat harus berusaha merelakan andre untuknya.
Gisel mengangkat wajahnya untuk menatap sosok tampan yang kini berdiri dihadapannya, sosok teman sekelasnya dulu, dan sosok sepupu dari sahabatnya
"aku akan datang" hanya itu kata yang keluar dari mulut Gisel, meski terkesan ambigu namun kevin bisa mengartikan arti kata itu
Kevin tersenyum dan mengusap pucuk kepala giswel "kau wanita tangguh, sama halnya dengan Leodra, jika Leodra mampu merelakan andre untukmu, maka kini waktunya kau yang harus mampu melepas Andre untuk Leodra" ucap Kevin tulus
Gisel menghembuskan nafasnya perlahan untuk kembali menguasai dirinya, ia menghapus air matanya, kemudian menampilkan senyum manisnya seolah mengatakan terima kasih kepada Kevin
setelah di rasa tenang, Gisel segera pergi dari sana, meninggalkan Kevin yang menatap kepergian nya dengan tatapan bersalah, "maaf karena harus menempatkanmu pada posisi ini" ucap nya lirih