Love Is A Magical Thing

Love Is A Magical Thing
bagian 15



"jadi... kau setuju?" tanya rayden melirik gisel yang duduk di sebelah nya


"apa maksud mu? itu tadi hanya sebuah alasan" ungkap gisel


"tapi aku menganggap nya serius" timpal rayden lagi


gisel hanya mendengus, ia menyesal karena sudah berkata semau nya tanpa berfikir tentang dampak yang akan terjadi, kalau saja tadi ia tahu bahwa rayden akan menganggap perkataan nya dengan sungguh sungguh, maka ia akan berfikir seribu kali untuk memakai alasan yang mengatakan rayden adalah calon suami nya di hadapan leodra dan andre


"berhenti, dan turun kan aku disini" ucap gisel ketus


"apa kau juga akan melanggar janji mu pada putra mu?" tanya rayden


gisel hanya mampu diam dan merengut sembari terus merapal kan sumpah serapah nya yang di tujukan kepada rayden, kenapa ia harus berjanji kepada bocah laki laki itu tadi untuk menemani nya tidur siang, dan sekarang ia terjebak dalam janji nya sendiri


"hei nona, jadi bagaimana? masih ingin turun disini?" tanya rayden menghentikan mobil nya


gisel melirik rayden dengan tatapan membunuh nya "jalan kan mobil nya sekarang" ucap gisel ketus


"of course" rayden kembali melajukan mobil nya dengan senyuman mengembang


kini mereka tiba di kediaman abraham, rayden segera turun dari mobil nya dan beralih membuka pintu mobil bagian belakang dimana terdapat putra nya yang saat ini tengah tertidur pulas, di gendong nya putra nya itu memasuki kediamana nya, serta tak lupa mengajak gisel untuk mengikuti langkah nya


"jika kau ingin membersihkan diri, kamar mandi ada di sebelah sana" tunjuk nya kearah kamar mandi yang ada di pojok ruangan, setelah nya ia beranjak keluar dari kamar sang putra


melihat rayden keluar, gisel segera meletakkan tas nya di atas meja di samping ranjang aksa, lalu setelah nya ia berjalan menuju kamar mandi yang tadi di tunjuk oleh rayden, karena ia benar benar merasa gerah sekarang


gisel memandang dirinya di pantulan cermin kamar mandi, kenapa ia harus terjebak dalam masalah ini? mencintai seseorang dan berakhir menjadi tamu undangan, lalu setelah nya diajak menikah oleh seseorang yang bahkan baru ia kenali


huff


gisel menghela nafas kasar, lalu setelah nya ia beralih membasuh wajah nya dan keluar dari kamar mandi, ia mendekat kearah ranjang dan mendapati daster yang terlihat sangat lucu ada di atas kasur yang masih di tempati aksa


gisel meraih daster itu lalu memindai nya, darimana daster itu berasal? seingat nya ia tidak melihat daster itu saat tadi ke kamar mandi, dan... mengapa bisa ada daster di kamar anak laki laki? apa mungkin laki laki itu yang menaruh nya disini? fikiran gisel menerka


tanpa berfikir panjang, gisel segera kembali ke kamar mandi dan mengenakan daster itu, ia memandang penampilan nya, ia tersenyum saat melihat dirinya yang tampak imut dengan balutan daster yang ia kenakan, tapi fikiran nya masih menerka, milik siapakah baju ini? apa mungkin baju ini adalah milik mendiang istri rayden? atau mungkin...


ahhh sudah lah, terlalu pusing memikir kan hal itu, gisel segera keluar dari kamar mandi dan kembali menuju ranjang yang kini masih di temati aksa, ia duduk di tepi ranjang sembari memindai seisi kamar, lalu pandangan nya terhenti pada sebuah foto berukuran besar yang berada di atas kepala ranjang, terlihat foto pernikahan yang sangat mewah di sana dengan menampilkan rayden dan mendiang istri nya yang terlihat dilingkupi kebahagiaan


ia beralih menatap pada bocah laki laki menggemaskan yang saat ini masih betah mengarungi mimpi nya itu, ada sedikit rasa ngilu di hatinya melihat bocah itu, ia harus kehilangan ibunya bahkan di usia yang sangat sangat belia, ia kembali memandang foto tadi dan kembali tersenyum


"aku tidak tahu siapa dirimu, bahkan wajah mu pun aku baru melihat nya, ternyata kau sangat cantik, dan aku yakin hati mu juga secantik wajah mu" ucap gisel tersenyum lembut