Love Is A Magical Thing

Love Is A Magical Thing
bagian 23



"Ada apa ibu memanggil saya?" tanya Rani setelah keduanya berada dalam rungn Gisel


"Ada yang ingin kamu sampaikan?"


Rani mengerutkan dahinya, bukankah tadi bosnya ini yang mengajaknya kemari, lalu sekarang mengapa ia bertanya seolah olah ia mengetahui satu hal, dan bertanya hanyalah jalan untuk mendapatkan sebuah kepastian


"maksud ibu?" tanya Rani sopan


Gisel bangkit dari kursi kebesarannya. menghampiri rani yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mejanya, Gisel menatap Rani dengan tatapan mengintimidasi. Ia menatap Rani dalam waktu yang cukup lama hingga membuat Rani menjadi risih


"Ada yang ingin kau sampaikan, Lexia Rani Abraham?"


Deg


Rani merasa jantungnya berpacu berkali kali lipat dari biasanya saat namanya di sebut dengan begitu lengkap oleh gisel. Ia bahkan tidak mampu untuk sekedar menelan salivanya karena terlalu terkejut. Tadinya ia berfikir bahwa Gisel mungkin tidak tahu nama lengkapnya, karena saat ia memasukkan surat lamaran pun, Gisel bahkan tidak pernah memperhatikan dengan detail orang yang akan bekerja dengannya, ia hanya meminta sekretaris lamanya yang sangat ia percaya untuk menyeleksi dan memilihkan pilihan terbaik sebagai calon sekretaris barunya.


"Ada?" lagi lagi Gisel mendesak Rani untuk berbicara


"A.. Aku... Aku... "


"Ahhh baiklah, aku rasa kau begitu sulit untuk mengatakan keinginan mu, tapi aku sudah tahu apa yang kau inginkan. Kau ingin berhenti bekerja bukan? Maka mulai hari ini kau aku pecat!"


"Tap.. Tapi... Aku masih ingin bekerja disini" ucap Rani dengan menundukkan wajahnya


"Bekerja disini? Menjadi sekretaris dari calon kakak iparmu? Apa kau masih waras? Aku tidak mau mempekerjakan orang yang merupakan calon keluargaku sendiri" ucap Gisel di sertai senyuman kecil di wajahnya


"Maksudmu?"


"Kemarilah! Kau tidak ingin duduk dengan calon kakak iparmu? Kemari, biar aku jelaskan semuanya agar kau tidak bingung"


Dengan sedikit keraguan akhirnya Rani mengikuti perintah Gisel, ia duduk tepat berhadapan dengan Gisel yang masih tampak santai memainkan kuku kukunya tanpa berniat membuka pembicaraan


"Jadi?" kali ini Rani memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu


"ah ya, aku sampai lupa dengn keberadaan calon adik iparku ini. Jadi begini, aku akan menikah dengan kakakmu, yang artinya aku juga akan menjadi kakak iparmu. Kurasa sudah itu saja yang perlu aku sampaikan" ucap Gisel tanpa beban


"What? Kau memintaku kesini hanya untuk mengatakan bahwa kau akan menikah dengan kakakku?"


"Yaaa, memang apalagi?" tanya Gisel seolah tanpa dosa


"Jika di dunia ini hukum negara tidak berlaku untuk kasus pembunuhan, maka kau adalah orang pertama yang aku bunuh!" ucap Rani menggebu gebu, tentunya dengan kedua tangan terkepal yang ia angkat ke udara, seolah mewakilkan betapa kesal hatinya saat ini


"hahahahah"


Alih alih marah karena perlakuan Rani yang sangat tidak pantas, Gisel justru merasa terhibur. Ia bisa kembali melihat sisi lain dari seorang Rani, sejujurnya ia sengaja membuat Rani kesal sedari tadi agar Rani marah padanya dan menunjukkan sifat aslinya yang menurut Gisel cukup untuk mengembalikan moodnya. Namun sejak tadi dirinya mencoba memancing, tetapi tidak ada reaksi berlebihan yang di tampakkan Rani, dan sekarang ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Rani yang terlihat begitu kesal padanya


...----------------...


Omg gabut bamget ngga sih tulisannya?


selamat bergabut gabut ria membaca tulisan non-faedah ini