Love Is A Magical Thing

Love Is A Magical Thing
bagian 11



gisel kembali bergelut dengan ramai nya jalanan ibukota, dilanda macet berkali kali tidak membuat semangat nya patah untuk memacu kendaraan nya agar cepat sampai di perusahaan dan secepatnya membereskan kekacauan yang saat ini menimpa perusahaan nya, sebenar nya ia bisa saja meminta sang papa untuk membantu perusahaan nya, namun gisel lebih memilih menyelesaikan semua nya sendiri, ia akan mencoba berdiri tanpa sandaran sekarang, ia harus bisa membuktikan bahwa dirinya bisa dan sanggup mendirikan perusahaan dan membuat perusahaan yang ia bangun menjadi maju


"mari kita lihat, apakah setelah ini kanjeng ratu yang terhormat masih akan menyebut mu putri manja? kita lihat saja nanti, apakah anak manja ini bisa mempertahankan milik nya, atau justru akan rela menyandang gelar manja yang sudah lama di kau semat kan nyonya puspita" monolog nya sembari terus memacu kendaraan nya


sesaat setelah sampai di perusahaan nya, ia segera masuk dan menuju ruangan nya, ia akan membereskan semua nya secepat mungkin


"maaf bu, tadi nyonya besar menghubungi saya..."


tanpa menunggu penjelasan panjang lebar dari asisten nya, gisel segera menyela


"ikut aku" ucap nya dan segera masuk ke ruangan nya "jadi apa yang nyonya ratu katakan?" tanya gisel setelah ia duduk di kursi kebesaran nya


"nyonya ratu mengatakan... "


"itu hanya panggilan khusus untuk ku" ucap gisel menyela dengan tatapan tajam kepada asisten nya


"huh baikah, tadi nyonya besar mengatakan ehemm" rani berdehem sejenak untuk mencoba menirukan gaya bicara nyonya puspita "katakan pada anak itu, jika samai dalam waktu satu minggu ini masih belum ada perkembangan dengan perusahaan, maka siap tidak siap dia harus bersedia menikah dengan pilihan kami" ucap rani sembari menunjuk nunjuk gisel, tidak lupa dengan tatapan tajam nya yang menjadi ciri khas seorang nyonya puspita


"stopp, kenapa tidak kau saja yang bicara? jangan menjadi kan aku kambing hitam atas perseteruan antara kalian, aku masih ingin hidup normal dan menikmati hasil jerih payah ku, aku belum ingin mendengar semua omongan pedas dari mulut nyonya besar, jadi katakan saja sendiri" ucap rani santai


"hei... dia itu bos mu, jadi sudah sewajar nya kau yang menyampaikan" ucap gisel sengit


"dan perlu kau ingat nona, bahwa orang yang kau sebut nyonya ratu itu adalah ibu mu" ucap rani tak kalah sengit


"sial" gisel mengumpat kasar saat tidak lagi bisa membalas ucapan rani yang benar adanya, ia merasa kalah telak sekarang


"sekarang kembali ke meja mu dan kerja kan semua pekerjaan mu, aku tidak menggaji mu untuk bersenang senang menikmati fasilitas di kantor ini" ucap gisel


"of course, bye nona" ucap rani sambil berjalan keluar dari ruangan gisel


gisel hanya menatap kepergian rani dengan senyum tipis di bibir nya, berdebat dengan rani kadang mampu mengembalikan mood nya yang rusak, entah bagaimana ia bisa mendapat kan asisten tidak tahu diri seperti rani, asisten yang berani mendebat dirinya yang berstatus bos di kantor tempat nya bekerja, benar benar tidak masuk akal