
gisel melangkah kan kaki nya tanpa semangat saat memasuki kediaman nya, saat ini hatinya masih cukup gundah, banyak hal gila yang ia temui hari ini, dimulai dari perjodohan yang di cetus kan sang mama tadi pagi, lalu rayden yang mengajak nya menikah, dan yang terakhir dan menjadi boom nya adalah, rani yang ia tahu hanya seorang asisten nya ternyata adalah keluarga besar dari keluarga abraham, ini gila!
"sayang, sudah pulang, kemari mama mau mengenalkan seseorang sama kamu" ucap nyonya puspita dengan heboh saat melihat putri semata wayang nya
gisel berhenti sejenak dan melirik sang mama, lalu beralih melihat ruang keluarga, terlihat tuan bram bersama dengan seorang laki laki muda yang gisel perkirakan umur nya setara dengan nya, hatinya jadi menduga duga, siapa laki laki itu? atau mungkin sang mama sudah bergerak cepat dari perkiraan nya? dan laki laki itu adalah...
"sayang, kemari" panggil nyonya puspita lagi saat melihat sang putri hanya terdiam
gisel mendekat kearah sang mama, dan berjalan mengikuti tuntunan sang mama menuju tempat dimana tuan bram masih tampak berbicara akrab dengan laki laki muda yang gisel tidak tahu siapa
"nak farel, ini dia gisel sudah pulang" ucap nyonya puspita kepada pemuda tadi "dan gisel, ini adalah laki laki yang mama maksud, farel, anak teman mama" nyonya puspita beralih kepada sang putri
"maksud mama?" tanya gisel
"sini duduk dulu" nyonya puspita kembali menuntun gisel untuk duduk di sofa yang berseberangan dengan farel "tadi pagi kan mama sudah bilang kalau mama sudah mempersiapkan seseorang yang tepat menurut mama buat jadi pendamping kamu, dan nak farel inilah orang yang tepat yang mama maksud" ucap nyonya puspita lagi
"ta.. tapi ma, aku... "
"sudah ada pilihan lain? tidak kan?" tanya nyonya puspita tampak menunjukkan senyum kemenangan di wajah nya
"tapi sayang nya aku benar benar sudah memiliki pilihan ma" jawab gisel tegas seakan tidak ada keraguan
"ma"
belum sempat menanyakan dengan tuntas tentang hal yang mengganjal dalam hatinya, nyonya puspita sudah harus diam saat melihat isyarat tuan bram untuk diam
"ahh maaf nak farel" ucap nyonya puspita berbasa basi, ia sampai melupakan keberadaan laki laki itu diantara mereka Karena shock dengan perkataan sang putri yang ternyata sudah memiliki pilihan
"tidak apa apa tante"
mereka terus berbicara mengenai hal lain, mengalihkan fokus dari perkataan gisel tentang pilihan nya, setidak nya mereka ingin tetap menghargai laki laki yang saat ini masih berada di tengah tengah mereka
tring... tring...
dering ponsel farel mengalihkan kefokusan nya dari obrolan yang sangat tidak berfaedah itu, farel tampak menjawab panggilan di ponsel nya, dan itu semua tidak luput dari perhatian gisel, entah mengapa gisel bisa melihat raut cemas yang berlebihan dari wajah farel sesaat setelah panggilan telepon itu terputus
"mm om, tante, mohon maaf atas ketidaksopanan saya, tapi saya harus pergi sekarang karena ada urusan mendesak yang memaksa saya untuk pergi" ucap farel
"ahh sayang sekali, kenapa harus buru buru? tapi baiklah, lain kali main lah lagi kemari, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk mu" jawab nyonya puspita, sedangkan tuan bram hanya diam, begitupun dengan gisel.