Love Is A Magical Thing

Love Is A Magical Thing
bagian 17



rayden duduk menghadap dua wanita di depan nya ini, ia memandang keduanya bergantian, hingga kini pandangan nya fokus pada sang adik


"jadi bisa kalian jelaskan tentang semua ini?" tanya nya dingin


rani menunduk, melihat sorot mata dingin milik sang kakak membuat nya tidak bisa berkutik, inilah hal yang paling tidak pernah rani sukai dari kakak nya ini, jika sedang menginterogasi maka wajah nya akan berubah sedatar tembok


"bisa kau jelaskan?" kali ini rayden beralih menatap gisel


gisel menarik nafas, lalu beralih menatap asisten laknat nya yang terlihat tertunduk ketakutan, tapi ia tidak peduli, saat ini ia hanya ingin meluruskan semua nya, yaa semua nya, tentang siapa sebenar nya asiten nya ini


"dia adalah asisten ku" ucap nya


"asisten?" tanya rayden dengan nada yang begitu dingin "apa maksud semua ini?" tanya nya beralih menatap pada adik perempuan satu satu nya itu, ada raut kecewa yang terpancar di matanya saat mengetahui kenyataan ini "bukan kah selama ini kau mengurus perusahaan cabang? lalu bagaimana kau bisa menjadi asisten nya?" tanya nya lagi


rani tertunduk semakin dalam, bagaimana ia harus menjelaskan semua ini kepada sang kakak? bagaimana ia harus mengatakan kepada sang kakak bahwa selama ini dirinya jarang sekali ke perusahaan cabang dan lebih banyak menghabis kan waktu menjadi asisten di perusahaan yang gisel pimpin?


"jawab aku mayra rania abraham!"


deg


bukan hanya rani yang terkejut atas sentakan rayden tapi gisel juga, bahkan gisel ikut tertunduk dalam setelah menyadari keadaan yang tidak sedang baik baik saja


"maaf" ucap rani lirih menahan tangis nya yang akan tumpah


mendengar nada bicara adik nya yang tampak menahan tangis membuat rayden tak tega


rayden mendekati sang adik yang kini masih setia menunduk, diangkat nya dagu adik nya itu agar memandang kearah nya, dan benar saja, wajah cantik itu bahkan sudah banjir oleh air mata


rayden mendekap sang adik dengan begitu erat, lalu mencium pucuk kepala itu beberapa kali, hal yang sedari dulu tidak pernah berhasil di lakukan oleh seorang rayden hanya satu, yaitu memarahi adik nya yang cengeng ini, setiap kali ia menyentak nya dengan intonasi yang sedikit keras, maka adik nya ini pasti akan menangis


rayden mengurai pelukan nya saat merasa tangis sang adik sudah sedikit mereda, dipandang nya mata sembab itu, ada sedikit rasa ngilu di hatinya setiap kali melihat air mata itu keluar dari pelupuk mata indah milik sang adik, ia selalu merasa gagal menjadi seorang kakak setiap kali melihat air mata itu menetes


"masuklah ke kamar, tenang kan dulu fikiran mu" ucap nya


*


setelah kepergian rani, kini rayden dan gisel duduk berdampingan dalam keheningan, kedua nya diam dengan fikiran masing masing, jika gisel diam karena baru saja melihat sisi lain seorang rayden, maka rayden diam karena masih di rundung rasa bersalah yang besar kepada sang adik


"dia adalah adik ku, satu ayah namun berbeda ibu" ucap rayden memecah keheningan "aku masih belum mengerti kenapa dia bisa menjadi asisten mu, tapi... aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan nya, dia masih butuh waktu untuk menenangkan diri" ucap rayden yang kini beralih menatap pada gisel


gisel diam, ada sisi hatinya yang menghangat mendengar penuturan rayden tentang betapa rayden yang begitu memahami perasaan adik nya yang kini sedang tidak baik baik saja, gisel mengangkat pandangan nya hingga kini matanya bersitatap dengan mata indah milik rayden, mata indah dengan sejuta pesona


...----------------...



kadang menjadi dewasa se-menyakit kan itu, selalu menunjukkan senyum ceria di tengah hidup yang tidak baik baik saja


haduh... jadi curhat kan😂