
setelah kepergian farel, kini nyonya puspita, tuan bram dan gisel kembali duduk di ruang keluarga, hanya keheningan yang kini mengisi ruang keluarga di kediaman manullang tersebut
"jadi siapa laki laki yang menjadi pilihan mu?" tanya nyonya puspita membuka suara setelah kebisuan panjang yang sempat tercipta
gisel mengangkat kepala nya yang sejak tadi menunduk, dipandang nya wajah sang mama yang seperti nya menunjukan ketidaksukaan atas penolakan yang sudah ia lakukan tadi
huh...
"rayden adhitama abraham" jawab gisel tanpa keraguan setelah sebelum nya menghela nafas panjang
"apa?" pekik nyonya puspita terkejut bahkan sampai bangkit dari kursi nya karena terlalu terkejut dengan penuturan putri semata wayang nya itu
"ma" tuan bram menarik lengan nyonya puspita untuk sedikit meredam emosi nya, lalu setelah nya ia memberi isyarat kepada sang istri untuk duduk kembali di tempat nya semula
tuan bram memandangi putri nya, setelah lama terdiam dan hanya mengamati, rasanya ini adalah waktu yang tepat untuk nya berbicara
"jadi kau yakin dengan pilihan mu?" tanya tuan bram datar, gisel tampak mengangguk dengan yakin dihadapan sang papa
"papa setuju dengan pilihan kamu" ucap tuan bram
"pa.."
nyonya puspita yang hendak protes mengurungkan niat nya saat melihat isyarat dari sang suami.
"apa ini? papa merestui putri papa untuk menikah dengan laki laki yang..." nyonya puspita tampak menghela nafas nya sebentar untuk sedikit meredakan emosi yang saat ini menjalari hatinya "dia seorang duda pa" ucap nyonya puspita lagi dengan wajah frustasi
"lalu apa masalah nya?" tanya tuan bram santai
"pa, dia duda dengan satu anak, dia tidak akan bisa membagi cinta nya dengan adil untuk anak nya dan putri papa, dia pasti akan cenderung mencintai anak nya daripada gisel pa"
"itu hanya sugesti dari diri mama sendiri, kekhawatiran mama terlalu berlebihan" ucap tuan bram masih dengan nada santai nya
"pa, kita tidak mengenal laki laki itu secara personal, papa mau anak papa menikah dengan laki laki yang bahkan tidak papa kenal sama sekali" ucap nyonya puspita emosi
"kita bisa mencoba mencari tahu dia dengan cara kita sendiri, atau bila perlu kita undang laki laki itu ke sini untuk mengenal nya lebih jauh" ujar tun bram memberi solisi
"papa tidak pernah tahu apa yang sebenarnya menjadi beban fikiran mama"
nyonya puspita bersandar lemah pada sandaran sofa yang ia duduki, ia tidak bisa menjelaskan bagaimana keadaan hatinya saat ini, ketakutan ketakutan berlebihan kini menjalar dalam hatinya
tuan bram menggeser duduk nya lalu membawa nyonya puspita kedalam pelukan nya "papa tahu kekhawatiran mama yang sebenarnya, bukan karena status laki laki itu yang ternyata duda dengan anak satu, tapi mama takut putri mama tidak bisa memainkan peran nya sebagai seorang istri dan juga seorang ibu dalam waktu bersamaan, itu kan yang mama khawatir kan?" tanya tuan bram kepada nyonya puspita yang masih berada dalam pelukan nya
"papa tahu alasan mama?" nyonya puspita menarik dirinya dari pelukan hangat sang suami "mama hanya takut pa, gisel terlalu papa manjakan selama ini, mama takut dia tidak bisa menjalankan peran nya dengan maksimal, apalagi dengan menjalani dua peran yang berbeda, mama takut, anak yang sudah menantikan perhatian besar dari ibu sambung nya malah berakhir kecewa dan terluka karena peran ibu yang tetap tidak ia dapat kan meskipun sudah memiliki ibu sambung, anak itu akan terluka pa"
"papa yakin putri kita mampu"