
"mami... "
panggilan itu menyentak lamunan gisel yang kini tengah berjalan kearah ranjang dengan fikiran yang entah ada dimana
"iya sayang"
gisel segera berjalan menghampiri aksa yang tampak masih mengucek matanya
"minum dulu ya" ucap gisel sembari menyodorkan segelas air kepada aksa, dan bocah laki laki itu pun dengan senang hati menerima uluran tangan gisel
"mami, aksa ingin bertemu aunty"
gisel nampak berfikir, aunty? gisel tahu jika yang di maksud oleh aksa pasti adalah rani, namun dalam keadaan suasana hati rani yang mungkin tidak baik baik saja, apa mungkin untuk mengizin kan aksa bertemu dengan rani?
"mami" ucap aksa lagi, membuat gisel kembali tersadar
"ya sayang? baiklah, ayo kita temui aunty" akhir nya gisel memutuskan untuk menuruti keinginan aksa, dari pada anak laki laki itu terus merengek atau yang lebih parah lagi mungkin bisa menangis
*
gisel masih setia mengikuti langkah kecil kaki aksa yang menuntun nya menuju kamar rani, sang asisten yang baru ia ketahui ternyata adalah adik dari rayden
aksa meraih handle pintu sebuah kamar yang gisel yakini adalah kamar rani, bocah laki laki itu tampak nya sudah terbiasa keluar masuk kamar ini, terbukti karena kini aksa bisa dengan mudah membuka handle pintu yang lebih tinggi dari jangkauan nya, hingga...
"aunty.... "
teriakan itu menggema ke seluruh sudut kamar, terlihat aksa yang berlari dengan kaki mungil nya dengan wajah yang dilingkupi binar bahagia
rani yang masih duduk di meja rias segera membalik tubuh nya dan merentangkan kedua tangan kearah keponakan nya tersebut
"hai sayang nya aunty, uhh my sweety" ucap rani sembari mencubit gemas pipi tembem sang keponakan
"benarkah?" tanya rani tak kalah antusias "lalu dimana mami aksa sekarang?" tanya rani lagi yang tampak sengaja menampakkan raut antusias atas cerita sang keponakan
"itu" tunjuk aksa kepada gisel yang masih berdiri dan mengamati interaksi antara kedua orang itu, gisel hanya menyunggingkan senyum tipis dan melambaikan tangan nya kearah aksa dan rani tanpa berniat mendekat
"wow, your mommy is so pretty isn't she?" ucap rani lagi
"of course" aksa mengembang kan pipi nya saat mendengar pujian yang di lontarkan aunty nya untuk sang mami tercinta
setelah lama terdiam dan hanya menjadi penonton, akhirnya gisel memberanikan diri untuk mendekat, ia duduk diatas ranjang yang berhadapan dengan rani dan aksa yang berada di meja rias
gisel mengedarkan pandangan nya ke seluruh isi kamar, dalam hati ia masih belum percaya jika asisten mengesal kan nya ini ternyata adalah adik dari rayden yang memiliki perusahaan tebesar di negeri ini
"jadi seperti ini kamar sederhana asisten ku" ucap gisel sedikit mencibir
rani melihat kearah gisel lalu menyengir tanpa dosa
"enak saja, ini adalah kamar direktur cabang perusahaan A company" ucap rani sombong
"yang lebih banyak menghabis kan waktu nya menjadi asisten di perusahaan orang lain, begitu?" tanya gisel
"itu.. itu namanya mencari pengalaman, aku hanya ingin tahu saja bagaimana rasa nya menjadi asisten seorang ceo muda" ucap rani lagi
"ck, tapi kau sudah menipu ku" ucap gisel berdecak
"aku tidak menipu mu, kau saja yang tidak memperhatikan latar belakang kehidupan ku, dan aku hanya sedikit memanfaat kan" ucap rani tak mau kalah
"dasar asisten keras kepala"