
Flashback 4 - Perempuan Terunik
Pov Author
Stella Magnolia, wanita dengan postur tubuh yang mungil, tinggi 158 cm, periang, sangat ramah, dan rambut yang selalu dikuncir.
Sejak SMP, SMA hingga kuliah, Stella adalah satu-satunya perempuan yang selalu bersama Albert Ivander.
Pada masa SMA Albert semakin sering berpacaran dan mengakhiri hubungan begitu saja. Stella adalah tempat Albert mencurahkan isi hatinya.
"Okay! Untuk kesekian kalinya kamu mengakhiri hubungan dengan mudahnya.
Dan lagi - lagi aku menjadi korban...", kata Stella pada Albert.
"Tidak satu pun dari mereka yang dapat membuatku jatuh cinta secepat kilat...", kata Albert tersenyum simpul.
"Oh my God! Ya semua butuh proses. Kalau gitu kenapa dari awal kamu terima cinta mereka, bahkan kamu mengejar beberapa diantara mereka...", kata Stella dengan heran.
"Aku akan menunggu seorang wanita yang membuat aku jatuh cinta secepat kilat...", kata Albert sambil tertawa.
"Kamu menikah saja sama alien atau petirnya sekalian...", jawab Stella.
"Kalau aku mentok, aku menikahimu...", kata Albert sambil tertawa.
"Gila! Aku enggak mau...", Stella tersipu malu.
"Besok pulang sekolah aku akan bertemu dengan wanita dari Sekolah sebelah. Bantu aku untuk memberi penilaian", kata Albert sambil tertawa memohon.
"Terakhir kali kau memintaku memberi penilaian, kau langsung meninggalkannya begitu saja...", kata Stella sedikit merasa bersalah.
"Ya sudah kali ini nilailah dengan baik... Mungkin aku akan bersamanya...", kata Albert yang menatapi foto profil perempuan yang diinginkannya.
"Iya aku akan katakan, sebaiknya jangan mau sama Albert karena hatimu akan merana", kata Stella sambil tertawa dan memetik senar gitar.
"Kau menyebalkan...", kata Albert sambil memeluk Stella.
"Nyanyikan lagu untukku...", kata Albert meminta Stella.
"Baiklah...", Stella memetik senar dan memainkan melodinya.
"Apa kau tidak ada rencana untuk berpacaran?", tanya Albert sambil mengamati Stella. Stella hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Kau perempuan terunik yang pernah ku tahu, kau begitu kecil, cerewet, menyebalkan, kau seperti alien tapi kau satu-satunya sahabat terbaikku.", kata Albert tersenyum simpul.
"Kau berisik, menganggu konsentrasiku bernyanyi. Ayo kita bermain basket!!", kata Stella sambil meletakkan gitarnya.
Mereka pun bermain basket di halaman rumah Albert.
***
Pertemuan Kedua
Pov Albert
"Sayang, sudah pagi, tumben kamu belum bangun...", kata Albert membangunkan Alexa.
"Iya sayang, sepertinya aku sedang sedikit malas... Aku mau tidur lebih lama lagi yaa...", kata Alexa sambil menarik selimut lagi.
"Baiklah, aku bersiap untuk berolah raga ya... Aku sudah siapkan sarapan untuk kamu dan Mario.", kata Albert yang sudah berpakaian olah raga.
"Terima kasih sayang..."
"By the way, nanti kita jadi ke toko Missen Ice Cream?", tanya Alexa
"Iya sayang... Aku pergi dulu ya...", sambil mencium bibir tipis Alexa.
Albert pun berolah raga di taman kota.
Ia berlari santai mengelilingi taman.
Tak lama ia bertemu dengan Stella dan Alvaro yang juga sedang berolah raga di taman kota.
"Stella... Ternyata kau berolah raga disini juga?", tanya Albert sambil mengelap keringat di keningnya.
"Albert, iya aku disini bersama Alvaro... Aku baru pertama kali juga kesini karena Alvaro mengajakku..."
"Kenalkan ini Alvaro", kata Stella memperkenalkan Alvaro ke Albert.
"Kita sudah berkenalan...", kata Alvaro sambil menjabat tangan Albert.
"Iya di acara malam amal itu...", balas Albert.
"Oia, aku sampai lupa...", Stella tersenyum kecil.
"Kamu kesini hanya sendiri? Dimana Alexa?", tanya Stella sambil melihat sekeliling.
"Iya, dia sedang tidak enak badan...jadi masih tidur...", kata Albert.
"Kau membiarkan istrimu sendirian? Kau jahat yaa...", kata Stella meledek Albert.
"Tidak, Alexa hanya ingin tidur lebih lama biasanya, bahkan kami ada rencana untuk ke toko es krim mu nanti...", terang Albert.
"Oia? Berkunjunglah...dan nilai pelayanan kami...", kata Stella tertawa.
"Stella, aku carikan sarapan dan minum untuk mu ya..."
"Oia, Pak Albert ingin kopi atau teh?", Alvaro menawarkan Albert.
"Tidak usah, tidak perlu repot...saya bawa minum di mobil saya...", kata Albert.
"Belikan saja Albert teh susu... Itu kesukaannya." kata Stella sambil tersenyum.
Alvaro pun pergi meninggalkan Stella dan Albert.
"Alvaro kekasihmu?", tanya Albert.
"Mmm kami baru mengenal...ini pertemuan kedua kami...", kata Stella.
"Ini juga pertemuan kedua kita setelah tidak bertemu..."
"kau kemana saja? Kau menghilang tanpa jejak...", kata Albert menatap Stella.
"Aku kuliah...kan aku sudah izin...sama kamu dan Alexa.", kata Stella
"Iya, tapi kau tidak ada kabar sama sekali. Bahkan kau tidak datang ke pernikahan kami.", saut Albert.
"Iya, saat itu aku sedang sibuk kuliah dan mengembangkan bisnis yang hampir bangkrut...", jawab Stella tersenyum.
"Bahkan aku tidak bisa menemui mu di media sosial sekali pun...", kata Albert sambil memegang handphonenya.
"Kau memegang handphonemu, apa kau masih mengincar seorang wanita?", tanya Stella sambil tertawa.
"Tidak, aku sudah menemukan wanita yang membuatku jatuh cinta secepat kilat...", kata Albert tersenyum kecil.
"Itu bagus, jadi kau tak perlu memutuskan hubungan begitu saja tanpa alasan...", kata Stella tersenyum kecil.
"Aku senang bertemu dengan mu lagi... Aku sangat kehilangan dirimu...", kata Albert menatap dalam mata Stella.
"Kau sudah punya sahabat terbaik di hidupmu...", jawab Stella tersenyum.
Tak lama Alvaro kembali menghampiri Stella dan Albert.
"Ini untukmu Stella dan ini untuk anda, Pak Albert...", Alvaro memberikan makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Terima kasih...", jawab Stella dan Albert bergantian.
"Jadi kalian bersahabat sejak kapan?", tanya Alvaro.
"Kami bersahabat sejak dibangku SMP...", jawab Stella sambil menatap Albert.
"Wow! Persahabatan kalian sangat awet...", saut Alvaro terkagum.
"Tapi Stella pergi begitu saja dan tak pernah ada kabar. Aku hanya tahu dia kuliah keluar Negeri. Tapi tak pernah tahu dimana dan kapan Stella kembali...", jawab Albert.
"Kau sudah memiliki sahabat untuk hidupmu Albert, aku tidak mungkin terus disisimu. Lagi pula aku kuliah dan memulai bisnisku...", Stella menjelaskan keadaan saat ia memutuskan pergi.
Tiba-tiba suasana hening sejenak.
"Bagaimana Stella saat kalian masih dibangku sekolah dan kuliah?", tanya Alvaro memecah keheningan.
Albert pun tertawa kecil sambil mengenang masa-masa dirinya bersama Stella.
"Stella sangat kecil, cerewet, tegas, dan ia tak bisa menyembunyikan raut wajahnya....", jawab Albert.
"Aku enggak cerewet... Dan kau sosok yang playboy yang selalu tebar pesona dibalik sikap dinginmu terhadap perempuan...!", kata Stella dengan wajah ketusnya karena Stella tidak suka disebut cerewet.
"Kau memang cerewet...", kata Albert tertawa.
"Kau menyebalkan...!", kata Stella ketus.
Alvaro pun turut tertawa melihat Stella yang merajuk.
"Pak Alvaro tahu? Kalau Stella marah, ia akan makan sebanyak mungkin... Namun badannya selalu kecil...", kata Albert tertawa lebih kencang.
"Albert! Kau menyebalkan! Kau membuatku maluuu!", kata Stella sambil marah manja ke Albert.
Albert dan Alvaro pun tertawa melihat Stella merajuk.
"Aku tidak tahu, yang ku tahu saat ini Stella begitu misterius dan anggun...", Alvaro menatap wajah Stella dengan penuh senyum hangat.
"Pak Alvaro belum mengenalnya lebih lama...", kata Albert sambil tertawa.
"Baiklah, hari sudah semakin siang... Aku akan pulang. Alexa menungguku...", Albert menyudahi percakapan.
Alvaro pun melihat jam tangannya dan menyudahi percakapan mereka.
"Baiklah Pak... Hati hati di jalan dan salam untuk keluarga di rumah...", kata Alvaro dengan ramah.
"Stella, ayo kita pulang...", ajak Alvaro merangkul Stella.
Stella dan Albert pun saling bertatapan dan berpamitan.
"Tunggu...", kata Albert menahan langkah Stella dan Alvaro.
"Kemana aku harus menghubungi mu?", tanya Albert ke Stella.
"Aku sudah mengaktifkan nomor lama ku minggu lalu. Kau bisa menghubungi ku ke nomorku yang lama...", kata Stella.
"Baiklah, hati hati kalian...", Albert melambaikan tangannya.
Dan mereka pun pulang ke rumah masing - masing.
**
Sepanjang perjalanan Albert merasakan sesuatu yang berbeda. Sulit dipahami bahkan oleh dirinya. Ia seperti cemburu, namun Albert menyangkali perasaan yang tersembunyi.
Stella adalah sahabatnya dan Albert sudah memiliki Alexa sebagai istrinya.
Stella memendam rasa marah karena mencintai Albert sahabatnya. Namun ia harus membuka hati bagi orang baru yang tulus mencintainya.
Entah bagaimana Stella dan Albert menghadapi perasaan mereka.