
Flashback 5 - Kehadiran Alexandra Part II
"Aku masih terbayang dan merasa bersalah ke Valencia...", kata Stella diatas motor saat perjalanan pulang.
"Abaikan saja...", kata Albert dengan singkat.
"Kau terlalu dingin dan cuek ke pacar-pacar mu...", kata Stella mengkritik Albert.
"Aku memang sudah muak dengan sikap cemburunya. Bahkan saat aku foto bersama sepupu ku, ia cemburu...", kata Albert dengan dingin.
"Suatu hari nanti jika kau bersama wanita yang kau cintai, apa kita akan tetap menjadi sahabat? Aku takut kehadiran ku selalu menjadi bayang-bayang...", kata Stella merasa bersalah.
"Tenanglah...aku akan menemukan wanita yang juga akan menjadi sahabatmu...", kata Albert.
"Hmmmm... Semoga saja. Aku lelah juga menjadi korban dari korban mu..." kata Stella tertawa lebar diatas motor.
"Hei, jangan terlalu lebar tertawa, jalanan berdebu!", kata Albert melihat ke spion motornya.
"Oia... Baiklah akan ku tutup mulutku...", Stella menutup mulut Albert.
"Ini mulutku, bodohhh..." kata Albert sambil memindahkan tangan Stella kearah dada Albert.
"Kau sendiri, jika nanti bertemu dengan lelaki yang kau cintai, apa kau akan tetap menjadi sahabatku?", kata Albert.
"Kita akan terus menjadi sahabat, apapun kondisinya..." kata Stella sambil teriak di jalan.
"Kau berisik, kecil...", kata Albert
"Tapi kau sayangkan?", kata Stella merayu Albert. Stella yang berharap suatu hari nanti Albert akan bersamanya, memeluk Albert dengan erat dan bersandar di badan Albert.
"Iya alien kecil, ratu bintangku...", kata Albert tersenyum kecil.
Persahabatan Albert dan Stella terlalu indah. Mereka seperti dua sejoli yang tak terpisahkan. Albert yang sikapnya terkadang dingin dan Stella yang selalu ceria, membuat mereka saling mengisi karakter mereka. Berbagi cerita dan emosi bersama.
Semester demi semester pun mereka lewati. Kini mereka sudah memasuki semester enam dan Stella sudah mempersiapkan magang dan skripsinya.
"Stella, tunggu...", Raymond memanggil Stella yang baru saja keluar dari perpustakaan.
"Tumben kamu sendiri...? Mana Albert?"
"Paling lagi sama wanita incarannya", kata Stella sambil tertawa.
"Wah, emang dasar anak satu itu..."
"By the way, besok sepupuku akan mulai kuliah disini. Dia perpanjangan kuliah, karena dulu sempat cuti...", kata Raymond menceritakan tentang sepupunya
"Oh iya, terus sepupu mu masuk jurusan apa?"
"Namanya siapa?", tanya Stella
"Namanya Alexandra, dia akan masuk jurusan bisnis manajemen, sekelas sama kamu dan Albert. Makanya aku mau titip sepupuku ya...", kata Raymond
"Aku bukan penitipan..." Kata Stella sambil tertawa.
"Sepupu mu pasti cantik ya? Bilang padanya hati-hati dengan laki-laki yang bernama Albert.", Stella dan Raymond sama-sama tertawa.
"Aku sudah bilang padanya untuk berhati-hati dengan Albert..."
"Tolong jaga sepupuku ya... Dia terlalu cantik untuk Albert.", kata Raymond.
"Baiklah, katakan padanya untuk bertemu dengan ku besok Lobby kampus jam sepuluh pagi.", kata Stella sambil tertawa kecil
"Okay!...akan ku katakan pada Alexa...", jawab Raymond sambil mengirim pesan pada Alexa.
Albert pun datang tiba-tiba dari arah parkiran mobil dekat perpustakaan.
"Hei... Sedang apa kalian?
"Kau sudah selesai mencari inspirasi untuk skripsi mu?", Albert bertanya pada Stella dan Raymond.
"Kemana saja kau?", tanya Stella.
"Kami sedang ngobrol-ngobrol saja...", jawab Raymond.
"Valencia tadi menghampiriku, ia ingin hubungan kami kembali lagi. Tapi aku tidak bisa...", kata Albert.
"Dasar laki-laki berhati dingin", kata Stella.
"Pergilah kalian berdua latihan basket, aku mau pulang... Aku mengantuk sekali...", kata Stella sambil menguap.
"Ayo aku antar kau pulang...", kata Albert
"Tidak usah...kau latihan saja...", Stella menolak tawaran Albert.
"Atau aku yang antar kamu pulang, Stella?", tanya Raymond.
"Heh? Tumben... Boleh deh...", kata Stella.
"Wah, apa maksudnya kau menolak ajakan ku dan menerima tawaran Raymond? Apa jangan - jangan kaliaaaan....", kata Albert dengan nada curiga dan tertawa kecil.
"Hm... Elo enggak usah cemburu...Gue cuma senior dan junior", kata Raymond.
"Enggak...antarlah sahabatku ini pulang... Dan hati - hati ya, dia suka mendadak kumat.", kata Albert berwajah datar meledek Stella.
"Menyebalkaaan!", kata Stella.
Stella berharap Albert cemburu, namun tidak tampak dari ekspresi wajah Albert.
Stella pun pulang bersama Raymond dengan mengendarai motor.
"Stella, boleh aku bertanya sesuatu yang sedikit pribadi?", tanya Raymond.
"Apa? kau ingin bertanya size pakaian dalam ku?", kata Stella dengan ekspresi lugu tapi bergurau.
"Kau gila...", Raymond tertawa lebar.
"Aku ingin bertanya perasaan mu..."
"Aku tidak ada rasa padamu...", kata Stella sambil bergurau.
"Aku serius bodoh...", kata Raymond tertawa kecil.
"Iya, iya...silakan bertanya...", Stella mempersilakan Raymond.
"Kau sudah berteman lama dengan Albert, apa diantara kalian tidak ada yang menyimpan rasa?", tanya Raymond.
"Hah??? Tidak! Albert sudah menjadi bagian dari diriku, namun aku tidak punya rasa terpendam...", kata Stella yang menyangkal perasaannya.
"Kau takut ya Albert mematahkan hatimu, makanya kau tidak memberikan hatimu padanya...", kata Raymond sambil tertawa kecil
"Tidak, tidak mungkin Albert akan mematahkan hatiku...", kata Stella dengan yakin.
"Baiklah, jika hatimu patah karenanya, datanglah padaku...", kata Raymond tertawa dan Stella pun turut tertawa.
Sepanjang perjalanan Raymond dan Stella bercerita banyak hal dan tertawa-tawa karena saling menceritakan lelucon. Tibalah mereka di rumah Stella.
"Mampir yukk...ke rumah ku...", ajak Stella
"Kapan - kapan aku pasti akan main ke rumahmu...", kata Raymond.
"Oke deh, thank you ya Raymond...", kata Stella sembari masuk ke rumah.
"Yap! Jangan lupa ya besok janjian dengan sepupuku. Aku kirim nomor whatsappnya padamu ya setibanya aku di rumah.", kata Raymond.
"Oke...siap!", jawab Stella.
Stella pun membersihkan dirinya dan tiduran di kasurnya.
"Tingg...", bunyi suara Handphone Stella.
"Stella, ini nomor sepupuku... aku sudah bilang juga pada Alexa untuk menghubungimu", isi whatsapp Raymond.
"Oke...aku akan menghubunginya nanti setelah aku bangun dari tidurku...", jawab Stella.
Stella pun beristirahat...
Nah, bagaimana kehadiran Alexandra akan mengubah dunia Stella??
Ayo ikutin episode selanjutnya yaaa...
Kita akan membayangkan sosok Alexa yang begitu membuai mata Albert... 😄