Love in Friendship

Love in Friendship
Episode 19



Pertemuan Keluarga Mulia (I)


Pagi itu, Stella terbangun dari tidurnya, ia menanggalkan piamanya dan menggantinya menjadi safari coklat berkilau yang modis, sepatu flat hitam kekinian dan tas hermes kecilnya, rambutnya ikal terurai.


Seperti biasa Liza menjemputnya dan memberitahu pekerjaan yang harus diselesaikan di hari itu.


"Hari ini kita persiapan closing dan laporan keuangan dari cabang 1 dan cabang 2 akan diserahin diawal bulan ya, sis." Liza membuka catatannya.


"Oke, ada kendala gak atau keluhan para manajer store cabang?" tanya Stella sambil mengusap dagunya mengarahkan padangannya keluar jendela mobil.


"Sepertinya ada. Dan sepertinya kita perlu melakukan audit" saut Liza sambil membuka laptopnya


"Oke sis, kalau gitu kita siapkan meeting aja ya. Untuk audit kita pakai jasa eksternal auditor aja ya..."


"Emm setau aku komite sudah pilih auditor eskternal bulan kemarin sis..."


"Oke, kalau gitu tolong koordinasi ya supaya PT Bintang Mulia (Missen Ice Cream) di audit juga, start awal bulan nanti setelah closing"


"Oke sis, aku segera koordinasi ke sekretaris komite dan koordinasi ke setiap manajer store..." jawab Liza sigap menyerap setiap tugas yang diberikan oleh Stella.


Stella dan Liza pun tiba di kantor, Stella duduk dikursi kepemimpinannya dan mulai mengecek dokumen - dokumen yang perlu ditandatangani. Roy Mulia dan datang bersama seorang pria yang dikenal oleh Stella, membuat Stella terkejut melihat sosok pria bertubuh atletis tersebut.


"Ibu Stella, selamat pagi" sapa Roy dengan penuh wibawa kepemimpinan.


"Iya Pak... Selamat pagi", saut Stella dengan ekspresi terkejut kaku sambil menorehkan senyum kecil


"Komite sudah sepakat untuk mengaudit setiap unit usaha dan sudah menentukan auditor eksternal... Perkenalkan ini Pak Alva yang akan menugaskan tim nya" kata Roy mengenalkan Alvaro pada Stella. Roy tidak tahu bahwa Stella dan Alvaro sudah saling mengenal, Stella pun belum tahu bahwa Perusahaan Roy adalah konsultan audit.


"Mohon maaf, kami sudah saling mengenal, Pak Mulia." jawab Alvaro dengan ramah. Stella hanya tersenyum menanggapi Alvaro.


"Oh begitu... Baguslah, berarti seharusnya segala sesuatunya bisa berjalan lancar dan tetap profesional." Roy menganggukan kepala dan melirik Stella dengan tatapan penuh makna.


"Kami tetap profesional, Pah..." jawab Stella tanpa basa basi.


"Kalau gitu, kalian bisa saling berkoordinasi, saya kembali ke kantor ya..." Roy berlalu dari antara Stella, Alvaro dan Liza


"Silakan duduk Pak Alva" Stella mempersilakan Alvaro duduk dan dirinya pun turut duduk sambil bersandar menggoyangkan kursinya, memainkan pulpen ditangannya.


"Terima kasih Ibu Stella", jawab Alva sambil membenarkan jasnya kemudian duduk dengan gagah


"Kamu gak bilang kalau Perusahaan kamu adalah konsultan audit, Pak Alva", kata Stella menatap heran Alvaro.


"Iya, aku tidak mau segala sesuatunya menjadi kaku..." Alvaro menjawab dengan santai


"kau tidak keberatan kan aku menjadi auditor perusahaan mu?"


"Tidak, lakukan saja dengan benar. Saya butuh Pak Alva audit keuangan perusahaan, stok bahan baik pusat mau pun cabang, kehadiran karyawan, semua di audit ya..."


"Tentu, kapan kita akan mulai dan kapan kamu butuh timeline?" tanya Alvaro sambil menuliskannya dicatatan kecil miliknya.


"Panggil saya Ibu kalau kita di jam kerja. Kita akan mulai setelah perusahaan ku closing dan timeline hanya 3 bulan ya?" jawab Stella dengan cepat dan sigap


"Baiklah Ibu Stella, semoga setiap user dapat bekerjasama dengan baik untuk menyerahkan informasi dan dokumen ya"


"Tentunya Pak Alva", Stella menatap Alvaro dan menahan tawanya.


Stella berjalan kearah pintu untuk mengantar Alvaro keluar dari ruangannya. Ia menatap setiap jengkal tubuh Alvaro dan meleleh dengan tatapan Alvaro yang tajam. Demikian Alvaro menatap Stella dari ujung rambut hingga sepatu Stella dan membisikkan kata kata dengan suara rendah


"Kau tampak mungil dan cantik" Alvaro membungkuk kearah telinga Stella dan tersenyum kecil. Stella hanya merespon dengan senyuman.


Stella melanjutkan pekerjaannya, hingga tak terasa waktu jam pulang kantor tiba, semua karyawan satu per satu meninggalkan kursi mereka. Namun Stella tetap duduk dikursinya, menatap layar laptop dan melanjutkan pekerjaannya.


"Sis, ayo kita pulang... Cukup untuk hari ini, karena masih ada besok" aja Liza sambil membereskan meja kerjanya.


"Aku masih lihat lihat laporan dulu sis, kamu boleh pulang duluan..." saut Stella sambil membaca laporan dan meletakkan bagian atas pulpen di keningnya.


"Hmm baiklah, kalau sudah seperti ini, pasti tidak bisa diganggu. Rafael sudah menjemputku..." Rafael menghampiri Liza ke meja kerjanya.


"Stella, ayo pulang... Rumah mu menunggu" Rafael mengejek Stella dari arah luar ruangan Stella.


"Kau lucu Rafael..." Stella tersenyum kecil


"Kami pulang ya..." Rafael pamit kepada Stella sambil berjalan kearah luar.


"Ada yang datang untukmu..." Liza berteriak dari pintu luar kantor. Stella tidak begitu mendengar kata Liza dan tetap terpaku pada layar laptopnya.


Tok tok tok...


"Permisi Ibu Stella..." Alvaro mengetuk pintu dan menyapa Stella seperti seorang karyawan.


"Iya, pulanglah kalian dengan hati hati" Stella tetap menatap layar laptopnya dan tidak menyadari bahwa yang datang adalah Alvaro.


"Permisi Ibu Stella..." Alvaro mengetuk pintu lagi untuk kedua kalinya, berharap Stella mengangkat kepala dan memandang kearah pintu.


"Pulanglah..." katanya lagi dengan salah tingkah menatap mata Alvaro.


"Kau kenapa disini? Pekerjaan audit belum dimulai"


Alvaro datang menghampiri Stella, membawakan salad sayur dan jus jeruk untuk Stella. Ia duduk tepat di depan Stella


"Aku ingin menjemput bos yang super sibuk"


"Kau menggangguku... Karena aku belum selesai membaca laporan. Aku seperti melihat sesuatu yang tidak pas" kata Stella sambil memandang kertas di meja dan laptopnya.


"Sudahlah, sebaiknya kau istirahat sejenak dan makanlah ini. Nanti saat audit berjalan, aku akan melihat semuanya" jawab Alvaro sambil meletakkan salad dan jus dihadapan Stella.


"Hmm manis sekali... Apa ini sebuah sogokan?" Kata Stella melirik manja menatap Alvaro


"Tidak, aku hanya ingin kau tetap sehat, karena pekerjaan mu akan menumpuk saat audit nanti" kata Alvaro sambil tertawa


"Baiklah...akan aku makan... Mana punya mu?" Stella menyantap lahap salad sayur dan jus jeruk yang diberikan oleh Alvaro


"Aku cukup menatap sudah kenyang..." Alvaro mengejek Stella sambil menyandarkan wajah dengan tangannya.


"Hmmm ya ya ya... Terima kasih untuk perhatianmu... Tapi ini tidak akan menganggu profesionalitas kita" kata Stella dengan tegas


"Baiklah Ibu Stella..." jawab Alvaro


Mereka berbincang bincang hingga larut malam. Dan Alvaro mengantar Stella pulang ke Apartemennya. Di malam itu hampir saja Alvaro melayangkan ciuman di bibir indah Stella, namun Stella menahannya. Alvaro pun melanjutkan perjalanan pulangnya.


Hari berganti hari, Alvaro terus membombardir Stella dengan segala bentuk perhatian dan kebaikannya. Sedikit demi sedikit Stella mulai terbiasa dengan kehadiran Alvaro. Setiap pagi, siang dan malam Alvaro sering mengirimi chat kepada Stella, sekedar mengucapkan salam hingga berbasa basi.


"Baiklah, selamat istirahat, see you when i see you, girl..." pesan yang dikirimkan Alvaro kepada Stella menjelang akhir minggu.


**


Di pagi hari, seperti biasa di hari sabtu Stella selalu memulai hari dengan berolah raga. Kali ini Alvaro yang menjemput Stella di Apartemennya. Ia langsung masuk ke kamar Stella dan membuka tirai membiar sinar matahari menyapa mereka berdua di ruangan itu. Alvaro menatapi Stella dari pinggir kasurnya.


"Hei, matahari mendahului mu... Bangunlah..." suara lembut berbisik ditelinga Stella dan membuatnya terkejut.


"Haaa!!"


"Jangan teriak, telingaku sakit..." kata Alvaro sambil mengernyitkan dahinya dan memegang telinganya.


"Kau tidak boleh ada di kamarku saat aku tertidur... Keluar cepat!" Stella menutupi dirinya dengan selimut.


"Baiklah, segeralah bersiap agar kita berolahraga. Ini sudah siang" Alvaro berjalan menuju pintu


Sejenak memori bersama Albert terpanggil dalam bayangan Stella, karena hanya Albert yang berani masuk ke kamar Stella tanpa izinnya. Ia segera menyadarkan dirinya dari lamunan dan mengganti pakaiannya.


Stella dan Alvaro pun latihan gym bersama, mereka larut dalam keseruan mereka di pagi itu. Rasanya Stella seperti menemukan hati yang baru.


"Nanti malam aku ada acara makan malam bersama keluarga besar mulia" kata Stella sambil memainkan barbel kecil dikedua tangannya.


"Oia? Terus kamu mau ajak aku?"


"Tidak, aku hanya memberitahu saja... Lagi pula aku mengajak sahabat ku Refli."


"Kenapa kamu ajak dia?" Alvaro bertanya heran dan tersirat kecemburuan di tatapan matanya


"Tadinya aku berpikir untuk berkompromi... Lagi pula saat itu aku belum mengenalmu" Stella meletakkan barbelnya dan berdiri dihadapan Alvaro.


"Baiklah... Apa aku juga bagian dari kompromi mu?" tanya Alvaro sambil mengenggam kedua tangan Stella


"Hmm entahlah... Aku bahkan tidak tau hubungan seperti apa yang akan kita jalani" Stella melepaskan tangannya dari genggaman Alvaro dan berlalu meninggalkannya.


Alvaro mengejar Stella, ia berharap Stella dapat memberikan sebuah kejelasan walau pun terasa begitu cepat.


"Pulanglah... Aku ingin beristirahat" kata Stella yang terus melajukan langkahnya


"Stella tunggu, maaf jika aku tidak membuat nyaman" Alvaro menghentikan langkah Stella dan menarik tangan Stella.


"Pulanglah..."


Alvaro pun pulang mengikuti perkataan Stella.


Stella memasuki apartemen dan mendapati Refli duduk di ruang tamunya.


"Hah, kau terlalu awal untuk sebuah dinner sayang..." Stella mengejek Refli


"Aku sengaja hadir lebih awal agar dapat melihat mu lebih cepat. Kau bekerja hingga tak ada lagi waktu untuk sahabatmu" jawab Refli membuka kedua tangannya dengan lebar.


"Iya, ini kan akhir bulan, tentu aku akan sangat sibuk... Bagaimana kabarmu?"