Love in Friendship

Love in Friendship
Episode 7



Memori Tentang Albert


Pov Refli


"Nanti akhir bulan, jadi makan bersama keluarga besar kamu?", tanya Refli kepada Stella


Dalam perjalanan Stella tampak termenung dan tidak fokus mendengar cerita Refli.


"Stella..."


"Stell..."


"Laaa... Haloooww", melambaikan tangan ke wajah Stella yang sedang melamun.


"Heh, iyaaa Ref... Kamu cerita apa tadi?", tanya Stella dengan raut wajah bingung.


"Hmmm sepertinya sejak bertemu Albert dan Alexa kamu jadi melamun", kata Refli.


"Tidak kok, aku hanya sedikit lelah saja... Beberapa minggu ini kan pekerjaan ku padat, jadi kurang istirahat", jawab Stella menyembunyikan lamunannya.


"Bagaimana hubungan persahabatan kamu dulu dengan Albert? Gimana kalian bisa jadi teman?", tanya Refli.


"Iya, kami sahabat dekat sejak dibangku SMP sampai kuliah. Hampir tidak ada rahasia diantara kami.", kata Stella tersenyum kecil.


Flashback 2 - Masa SMP


Pov Author


Masa orientasi siswa adalah hal wajib di sekolah. Saat hari pertama orientasi, Stella datang terlambat hingga mendapat hukuman dari seniornya. Stella pun dihukum di lapangan dan hormat tiang bendera. Kebetulan di pagi hari itu adalah jadwal Albert berlatih basket.


"Sssstttt anak baru, kamu disini mau latihan basket?", tanya Albert sedikit sinis.


"Tidak, aku mendapat hukuman karena terlambat...", Stella menjelaskan dengan tegas.


"Masih baru sudah terlambat. Baiklah, enaknya hukumannya ditambah lagi... ", kata Albert melirik licik.


"Hah? Jangan please, kak...", Stella memohon.


"Bikin puisi tentang alien dan baca depan kelas ya...", kata Albert meledek Stella.


"Serius kak?", tanya Stella bingung.


"Iya serius, siang ini harus jadi.", Albert memberi perintah pada Stella sambil memutar-mutar bola basket ditangannya.


"Baiklah...", kata Stella dengan wajah memelas.


"Hei hei semua, kalian pasti butuh hiburan. Nanti setelah makan siang akan ada yang membacakan puisi di kelas ini...", kata Albert sambil menarik tangan Stella ke tengah-tengah teman seangkatan dan seniornya.


Wajah Stella pun merah memendam malu dan sedikit kesal dengan kejadian tersebut.


Albert pun mempersilakan Stella untuk merangkai puisi.


"Silakan buat karyamu adik junior", Albert tersenyum meledek Stella.


Di jam istirahat Stella pun bergabung dengan teman seangkatannya untuk makan siang bersama di kantin sekolah.


Stella lebih menyukai berkumpul dengan teman laki-laki sambil bermain gitar di kantin.


Albert yang juga sedang berkumpul dengan teman-temannya memperhatikan Stella dari kejauhan.


Jam istirahat pun berakhir dan semua murid baru berkumpul di kelas.


"Jadi siapa yang tadi disuruh kak Albert baca puisi?", tanya salah satu senior.


"Saya kak...", Stella mengacungkan jarinya sambil menengok kearah Albert.


"Sini ke depan adik junior...", kata Albert sambil memegang gitar.


"Iya kak ...", Stella melangkah dengan curiga melihat Albert memegang gitar.


"Baca puisinya dan mainin gitarnya...", kata Albert sambil menyerahkan gitarnya.


"What?!...", Stella menjawab dengan nada kaget.


"Silakan...", Albert mempersilakan Stella.


"Jika kau bintang, aku lah sinar mu"


"Jika kau bumi, aku lah poros mu"


"Jika kau saturnus, aku lah cincin mu"


"Jika kau mars, aku lah merah mu"


"Jika kau bulan, aku lah astronot mu"


Stella menyudahi puisi dan petikan senar gitarnya sambil menatap Albert.


Dan teman-teman Stella pun tertawa sambil bertepuk tangan mendengar puisi Stella.


"Terima kasih, terima kasih semua...", kata Stella menirukan gaya artis diatas panggung.


"Ya ya ya... Ini judul puisinya 'Si Ratu Bintang' yaaa...", kata Albert sambil bertepuk tangan.


"Besok jangan telat!"


Orientasi pun berlanjut, hari berganti hari hingga masa sekolah pun dimulai.


Karena puisi yang dibacakan oleh Stella,


ia menjadi murid yang dikenal oleh teman-teman seangkatan dan dikalangan seniornya. Itu juga yang menjadi awal mula Albert dan Stella akrab.


**


"Oh, jadi Albert menjulukimu Ratu Bintang?, kata Refli sambil tertawa.


"Hmmm kenapa kamu tertawa?", Stella bertanya sambil memutar bola matanya.


"Enggak apa-apa, aku hanya lucu saja mendengar ceritamu"


"Lalu, apa kalian tak pernah saling menyukai?" Refli bertanya dan menatap mata Stella.


"Tidak, kami hanya sahabat. Lagi pula ia sudah memilih teman untuk hidupnya...", kata Stella sambil tersenyum kecil.


"Dan kamu belum memilih teman di dalam hidupmu...", kata Refli membalas senyum Stella.


"Hmmm... Sebaiknya kamu bersiap untuk menjadi temanku di acara makan bersama keluargaku nanti...", kata Stella mengalihkan pembicaraan.


"Baiklaaah...aku siap apapun katamu..."


"By the way, kamu sudah lama mengenal Alvaro?", Refli bertanya pada Stella


"Aku baru mengenalnya hari ini... Ia teman Rafael. Tadi pagi kami bertemu di tempat gym Apartemenku", jawab Stella dengan tertawa.


"Wow, dan kalian langsung pergi bersama ke acara malam ini...", Refli terheran.


"Iya, pikirku, mungkin ia akan menjadi salah satu donatur. Dan Liza memaksaku untuk menerima tawaran Alvaro...", jawab Stella dengan tersenyum.


"Okay, aku harap kamu tidak merubah rencana mu untuk mengajakku ke acaramu", kata Refli sambil melirik Stella.


"Tentu tidak, kamu tetap teman terbaikku.. " kata Stella sambil tertawa.


Mereka pun tiba di Apartemen Stella.


Refli membuka pintu mobil untuk Stella dan mempersilakannya turun.


"Kita telah tiba...silakan turun tuan putriku...", kata Refli sambil membungkukkan badannya


"Terima kasih, Ref"


"Sampai jumpa besok ya... Dan hati-hati dalam perjalanan pulang", Stella tersenyum.


"Sampai jumpa...selamat beristirahat ya...", saut Refli.


Stella pun tiba di ruangannya, seperti biasa, ia selalu membersihkan diri terlebih dahulu dan mengecek kembali pekerjaannya.


"Dddrrrttt...", bunyi suara panggilan telepon Stella dan Stella pun mengangkatnya.


"Hai, apa aku mengganggumu menghubungimu tengah malam?", Alvaro menghubungi Stella.


"Iya, karena aku sedang bekerja...", kata Stella sambil tersenyum.


"Kamu baru saja pulang, sebaiknya beristirahat...", jawab Alvaro.


"Bagaimana aku beristirahat, kalau kamu menghubungi ku?", Stella tersenyum


"Baiklah, aku akan mengakhiri telepon ini. Besok kita olah raga bersama yaaa...", Alvaro mengajak Stella.


"Iya, baiklah, sampai jumpa besok ya...", Stella menyudahi percakapan tersebut.


"Tidur yang nyenyak...", Alvaro menyudahi percakapannya.


"You too...", jawab Stella dan menutup teleponnya.


Di malam itu Stella tak dapat tidur. Ia terus terbayang wajah Albert. Ia tak dapat membendung kegundahan di hatinya dan membuka lagi foto kenangan bersama Albert.


Stella mengenang masa-masa dirinya selalu pergi bersama Albert.