Love in Friendship

Love in Friendship
Episode 16



Flashback 8 - Patah Hati


Pov Stella


Hari terus berganti, tak terasa aku sudah memasuki semester akhir. Harusnya aku bisa lulus 3,5 tahun, namun karena Albert aku menggenapi masa kuliah ku menjadi 4 tahun. Papa pulang dari luar kota, rasanya aku malas jika harus berhadapan dengan Papa saat ini. Ia pasti memaksaku kuliah Keluar Negeri.


Yah, hadapi saja hari ini, semoga di meja makan tidak ada drama antara aku dan papa.


"Pagi putri papa, Stella..." Roy menyapa Stella dengan wajah berseri.


"Pagi papa", menyapa Roy dan Erika dengan ciuman di pipi mereka.


"Jadi setelah sarapan, papa akan dapat jawabankan?" Stella berjanji hari ini akan memberi keputusan untuk melanjutkan kuliah Diluar Negeri atau kuliah di Indonesia.


"Iya papa, sepertinya aku kuliah disini saja Pah. Disini juga banyak kok kampus yang bagus..."


"Coba kamu pikirkan lagi ya sayang... Ini demi masa depan kamu dan Perusahaan", Erika berusaha meyakinkan Stella dan merayunya agar mau kuliah di London.


"Hemm mamah, aku di Indonesia saja ya. Dekat sama mama dan papa. Sudah ayo sarapan, jangan bahas lagi" Stella tetap kekeh dengan pendiriannya, sehingga membuat Roy dan Erika kehabisan bujuk rayunya.


"Ya sudah, papa mama mau bilang apalagi kalau kamu kekeh seperti ini..." Erika dan Roy saling bertatapan


"Ya sudah, aku sarapan, habis itu berangkat, lanjut ajuin judul skripsi ya..."


Tingg...


Albert : Alien, kau sudah siap? Aku akan menjemputmu


Stella : Ready.


"Pah, mah, Albert sudah tiba, aku berangkat ya"


"Om, tante, Albert sama Stella jalan ya..."


"Iya, hati - hati ya kalian" Erika memberangkatkan mereka hingga ke depan pintu.


***


Pov Author


Stella dan Albert tiba di kampus, Stella langsung menuju perpustakaan, sementara Albert menunggu Alexa.


"Alexa, kau lagi - lagi terlambat, Albert sangat tidak menyukai keterlambatan. Kau akan ditelannya jika terus terlambat" Stella menegur dengan santai sambil bergurau


"Iya maaf ya, aku ada sedikit urusan..."


"Sudahlah, ayo kita kerjakan skripsi ini. Kita harus lulus tepat waktu bersama", kata Albert sambil mengeluarkan laptopnya


"Huh beruntunglah dirimu, karena ketika aku terlambat, Albert menghukumku dengan menyuruh ku membaca puisi bodoh" Stella melirik Albert mengingat kejadian waktu di Sekolah dulu dan mereka tertawa.


"Aku beruntung memiliki kalian berdua... Satu sahabat terbaikku... Satu kekasihku..." Albert menatapi Stella dan Alexa


"Hmmm..." ekspresi Stella dan Alexa hanya tersenyum.


"Sebentar, aku ke toilet dulu..." Albert berlalu dari hadapan mereka.


"Stella... Aku boleh bertanya?"


"Ya Alexa"


"Hampir sepuluh tahun kalian bersahabat, persahabatan kalian pasti indah... Apa kalian tidak saling mencintai?"


Stella tersedak mendengar pertanyaan Alexa


"Kenapa kamu tanya seperti itu? Tidak ada yang lebih indah dari persahabatan kami. Dan akan tetap menjadi sahabat" Stella tersenyum lebar untuk menyembunyikan perasaannya.


"Hei apa yang kalian bahas? Seperti serius sekali..." Albert datang memecah kekakuan diantara Stella dan Alexa


"Tentu kami sedang berdiskusi tentang skripsi..." jawab Stella dengan cepat


Mereka menghabiskan waktu untuk mengerjakan skripsi di perpustakaan, bertemu dengan dosen, revisi dan tidak lupa untuk makan di kantin karena Stella sangat mudah lapar. Hari berganti hari, akhirnya tiba bagi Stella, Albert dan Alexa menghadapi sidang skripsi.


Mereka pun lulus dan menerima hasilnya dengan baik. Dan menanti Wisuda mereka.


Alexa dan Albert terlihat semakin dekat dan semakin mantap untuk melangkah serius.


H-1 sebelum wisuda Albert menghubungi Stella.


(17.00)


Albert : kau sibuk?


Stella : tidak, ada apa?


Albert : pulang kerja aku ingin ke rumah mu ya.


Stella : kau seperti orang asing, harus minta izin. Haha


Albert : see you


(18.30)


Albert : aku tiba di rumahmu...


"Masuk saja bodohhh!" Stella membuka pintu dan terkejut melihat Albert membawa mawar putih untuknya.


"Ini bunga kesukaanmu... Mawar putih tanda indahnya persahabatan kita", Albert merangkul Stella dan mengacak - acak rambut Stella.


"Rasanya aku ingin marah padamu, tapi kau telah memberiku mawar..." Stella merajuk manja dan membalas rangkulan Albert.


"Iya, baiklaaah Albert"


Albert pulang,


Malam berganti pagi dan Wisuda menanti.


Stella, Albert dan Alexa duduk di baris yang sama. Acara wisuda pun usai, mereka mengabadikan momen kebersamaan mereka disetiap sudut kampus. Setah itu Alexa langsung pulang bersama keluarganya.


Stella dan Albert merayakan wisuda mereka bersama.


"Hey, mau kah kau menikah dengan ku? Dan menjadi satu-satunya wanita di hidupku?", Tepat di taman kampus dekat danau dimana Albert dan Stella sering bersama, Albert bertanya dengan lembut, menatap Stella dengan tajam dan menyeka rambut Stella ke balik telinga.


Sekujur tubuh Stella terbuai dengan perkataan dan sentuhan Albert.


"Albert... Kau? Aku? Ya, aku mau... Aku sangat mau" mata Stella berbinar dan senyumnya memancarkan kebahagiaan.


"Hei alien, besok jangan lupa bawa kado untukku. Aku akan rayakan ulang tahun dan kelulusan kita bersama... Aku mengundang teman - teman kita ke rumahku. Dan aku akan memberi pengumuman"


"Baiklah Albert... Besok akan menjadi harimu dan hariku yang bersejarah... Sampai jumpa besok"


***


Albert menyiapkan pesta ulang tahunnya dengan nuansa putih - pink dan sederhana namun tetap berjiwa muda. Satu per satu tamu berdatangan. Setiap laki - laki memakai nuansa biru muda dan perempuan nuansa pink muda. Alexa hadir bersama Raymond, duduk tepat disebelah Stella.


Stella mengenakan dress balon berwarna pink dan sepatu kets putih. Alexa mengenakan dress putih tanpa lengan dengan heels 7 cm berkilau.


Jantung Stella berdebar menyaksikan kehadiran kedua orang tua dan keluarga Albert, membuatnya tidak fokus.


"Terima kasih atas kehadiran kalian semua, di pesta ini, aku ingin merayakan tiga hal sekaligus, ulang tahun ke 24, kelulusan dan hal terpenting dalam hidup ku..." Albert memberi kata sambutan sebelum meniup lilin di kue ulang tahunnya. Jantung Stella semakin berdebar menanti momen selanjutnya.


"Untuk itu aku mengundang Stella dan Alexa ke depan" Stella dan Alexa menghampiri Albert dan berdiri tepat disebelah kanannya.


Albert meniup lilinnya, kemudian ia setengah berlutut di hadapan Alexa sambil membuka sebuah kotak kecil berwarna biru tua dengan cincin berkilau di dalamnya.


"Hai Alexa, kekasih hatiku, mau kah menikah dengan ku dan menjadi satu - satunya wanita di dalam hidupku?"


"Iya aku mau..." Alexa mengulurkan tangannya dan Albert melingkari jari manisnya dengan emas berkilau. Albert memeluk Alexa dan kecupan mesra mendarat tepat di kening Alexa.


Stella tepat berdiri dihadapan sepasang kekasih yang memadu hati. Ia tercengang, membisu, nafasnya melambat, dadanya terasa sesak, seperti ada luka yang mengaliri ruang hatinya. Riuh tepukan tangan setiap orang menarik kembali jiwa Stella dari kehancuran hatinya. Stella tersadar Albert dan Alexa memakai nuansa yang sama.


"Sebelum saya bertanya pada Alexa, saya bertanya pada Stella, agar saya bisa menyiapkan mental malam ini... Dan untungnya jawaban Alexa sama dengan jawaban Stella..." terang Albert sambil memeluk Alexa. Semua tamu tertawa akan pernyataan Albert.


"Nuansa mawar putih ini saya persembahkan untuk sahabat tebaik saya Stella... Kami bersahabat sejak kecil... Dia sahabat terbaikku" Albert memeluk Stella dan Stella membalas pelukan tersebut walau dengan hati yang luka. Albert mengenalkan Alexa pada keluarganya.


Sementara Stella turun dari panggung dan berjalan keluar rumah Albert. Raymond yang menyadari kesedihan di raut wajah Stella, mengikuti Stella keluar rumah.


"Stella, tunggu ..." Raymond berlari meraih pundak Stella dan memeluknya. Air mata Stella mengalir tanpa henti.


"Ia mematahkan hatiku, Raymond...


Ia mematahkan hatiku... Hanya aku yang mencintainya..." Stella berurai air mata dan tersedu sedu.


Raymond memeluk Stella semakin erat...


Malam itu menjadi malam yang bersejerah bagi Albert dan Alexa terlebih bagi Stella.


***


Pov Stella


Pagi ini terasa berat bagiku untuk membangunkan diriku. Rasanya kepedihan masih mewarnai hariku. Aku harus pergi.


Aku harus pergi. Aku harus pergi sejauh mungkin.


"Pagi Pah..."


"Pagi Stella..."


"Aku terima tawaran papah deh untuk lanjut kuliah di London" Aku memeluk papa dengan begitu erat.


"Loh kenapa jadi berubah pikiran? Nanti si Albert Albert mu itu bagaimana?


"Dia sudah punya sahabat Pah untuk menjadi teman hidupnya"


"Lusa aku berangkat..."


"Apa itu tidak terburu - buru"


"Tidak, aku kan belum memilih kampus yang mana, belum lagi harus ada tes dan lainnya. Besok aku akan ke kampus untuk menyelesaikan urusan - urusan yang belum selesai."


"Baiklah, papa akan minta Doni untuk mengurus tiketmu"


Stella pun berangkat keluar Negeri...


.


.


.


Nah ini flashback dari sudut pandang Stella :


Kehadiran Alexa hingga patah hatinya Stella.


Di beberapa episode akan ada cerita dengan alur mundur sesuai perspektif setiap tokoh ya. Jadi agak sedikit loncat - loncat lincah kaya kutu. HAHAHA


Disimak terus ya dan jangan lupa tinggalkan jejak... yang dalam hingga membekas ya good readers 😘❤😂