
Flashback 5 - Kehadiran Alexandra Part III
Stella terlalu lelap dalam tidur hingga sinar mentari pagi menyambut dan menghangati tubuhnya. Ia terbangun dan membaca satu per satu pesan di whatsappnya.
(07.00) Pesan Albert : Hei apa kau sudah hidup kembali? Aku akan menjemput mu lima belas menit lagi.
(20.08) Pesan Albert : Kau masih hidup?
(19.07) Pesan Alexandra : Hai Stella, salam kenal, aku Alexandra, sepupu Raymond. Besok kita ketemu jam sepuluh ya.
Stella membalas pesan Alexandra dan membaca pesan Albert, ia langsung bersiap diri, merapikan tempat tidurnya dan menanggalkan satu per satu pakaiannya.
Ia membersihkan dirinya sambil mendengarkan musik, hingga ia tak mendengar Albert yang masuk ke kamarnya.
"Oh my God!"
"Untung aku tidak sedang telanjang ya! Kau jangan asal masuk ruanganku.", kata Stella yang terkejut melihat Albert sudah berbaring diatas kasur dan menatapi tubuh Stella hanya dengan balutan handuk putih.
"Hmm... Aku juga tidak nafsu melihat dirimu... Bahkan dadamu saja hampir rata...", kata Albert dengan dingin dan menatap layar Handphone.
"Barusan kau menatapi aku...keluarlah dulu, aku ingin memakai baju..." kata Stella sambil menarik tubuh Albert dari kasurnya.
Albert pun keluar dari kamar Stella.
Stella selesai berpakaian dan menemui Albert di ruang makan sedang menikmati sarapan. Mereka menikmati sarapan dibumbui cerita hangat dan rencana yang akan mereka jalani.
"Ayo kita berangkat, aku ada janji...", Stella menarik tangan Albert dengan semangat.
"Kau bersemangat sekali pagi ini...", Albert turut melangkah dengan santai. Mereka pun berangkat mengendari motor Albert.
Setibanya di kampus, tepat pukul sepuluh, Stella dan Albert menunggu Alexa yang ternyata datang terlambat.
"Hai, Stella, sorry ya bikin kamu menunggu lama...", Alexa menghampiri Stella, tersenyum seraya menjabat tangan Stella.
Albert tak henti menatap dingin Alexa, namun pesona Alexa memberi kehangatan pada hati Albert. Mata Alexa seperti almond, pipinya merona, bibirnya tipis berkilau, rambutnya yang hitam dan lebat, sangat memanjakan gairah Albert dibalik tatapan dinginnya.
Kali ini Albert jatuh cinta secepat kilat dan terbius hingga ke tulang.
"katakan saja terlambat, tak perlu berbasa-basi...", Albert berkata dengan ketus sambil mengalihkan pandangannya.
"Maaf aku terlambat. Kamu pasti Albert..."
"Salam kenal, aku Alexa...", mengulurkan tangan kepada Albert namun Albert berlalu dari pandangan Alexa.
"Kau tau siapa aku...", Albert hanya menjawab secukupnya.
"Stella, apakah Albert marah padaku?", Alexa merasa tidak enak atas keterlambatannya.
"Tidak, nanti dia akan sadar kembali.
Dia hanya tidak suka dengan kata terlambat. Waktu kami di sekolah yang sama, Albert pernah menghukum ku saat masa orientasi, itu karena aku terlambat.", Stella menjelaskan sedikit sifat Albert sambil berjalan menuju kelas.
Albert duduk 3 kursi dibelakang Stella dan Alexa. Dari belakang Albert terus memerhatikan Alexa, lekuk tubuh Alexa dari belakang, rambut ikal Alexa, betis Alexa yang jenjang. Bahkan ketika Alexa berdiri mengenalkan dirinya di depan kelas, Albert tak melepaskan pandangannya dari dua benda sintal yang hampir menampakkan belahannya. Albert benar-benar jatuh cinta secepat kilat.
Mata kuliah umum pun berakhir, dengan sikap dingin Albert mengajak Stella ke kantin.
Stella mengajak Alexa untuk ikut ke kantin.
"Tidak usah, kau saja! Cepat! Raymond sudah menungguku...", kata Albert dengan dingin.
"Hei tunggu, aku berjanji pada...", belum selesai Stella berbicara, Alexa memotong omongannya dengan cepat.
"Iya, biar saja dia pergi dengan sepupunya...", kata Albert menarik kerah baju Stella kearah pintu kelas meninggalkan Alexa.
"Albert, kau ini tidak sopan!", Stella ingin menahan langkahnya namun kalah kuat dengan tenaga Albert.
Alexa menghubungi Raymond untuk menemaninya mendaftar Cheerleaders.
Alexa : Ray, ayo antar aku mendaftar jadi anggota Cheerleaders.
Raymond : Stella tidak jadi menemani mu?
Alexa : Albert bilang kalian ada janji.
Raymond : Iya untuk latihan basket. Kau dimana? Aku tunggu di lobby jurusan mu ya.
Alexa : Okay! I'll be there.
Setelah menemani pendaftaran, Raymond dan Alexa menghampiri Albert, Stella, dan tim basket ke kantin.
"Sorry lama, gue habis antar sepupu gue daftar Cheerleaders.", Raymond menjelaskan perihal keterlambatannya.
Albert pun terkejut mendengar pernyataan Raymond dan tak dapat menyembunyikan rasa terkejut dari wajahnya.
"Kenapa kamu? Seperti kaget?", Stella tertawa meledek Albert.
"Payah lo bro, sepupu gue cantik gini lo sinisin...", Raymond dan Alexa tertawa melihat ekspresi terkejut Raymond.
"Kenalin, ini sepupu gue, sekarang dia anggota cheerleaders. Biar kalian pada semangat", Raymond mengenalkan Alexa dengan rasa bangga.
"Salam kenal cantik...", salah satu anggota tim basket mengulurkan tangannya pada Alexa. Lalu Raymond menyela dan meminta Alexa untuk berhati - hati dengan tabiat anggota tim basket.
"Sama kita mah gak perlu hati - hati. Tapi kalau sama Albert, wajib hati - hati..." semua anggota tim meledek Albert, sekita wajahnya memerah dan tersenyum simpul.
"Iya, sebelum hatimu patah, kami mengingatkan mu ..." Stella turut membumbui gurauan tersebut.
"Dasar bodoh... Aku selalu baik padamu...
Aku masih setia sampai saat ini denganmu", Albert memantulkan bola basket ditangannya berulang - ulang dan tak menatap siapa pun.
"Sudahlah, ayo kita berlatih..." Raymond mengajak Albert dan teman - teman lainnya.
Alexa pun menemani Stella untuk latihan musik bersama timnya.
"Hai semua, kenalin ini Alexa...anak baru di kelas ku. Dia sepupu si Raymond anak basket...", Stella mengenalkan Alexa grup musiknya, semua mata terkagum melihat kecantikan Alexa.
"Hai, aku Alexandra, panggil saja Alexa..." Alexa mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Hai Alexa...", jawab semua anggota serempak dengan senyum penuh kehangatan.
Alexa duduk manis melihat Stella dan tim latihan musik untuk konser mini menggalang dana yang akan diselenggarakan sabtu depan.
"Alexa, kau bisa bermain alat musik yang mana? Ayo bergabung, dari pada kau hanya duduk disitu...", Stella mengajak Alexa dengan semangat.
Alexa menerima ajakan Stella, ia memainkan jemarinya diatas tut piano, melantunkan melodi indah. Semua terpikat oleh pesona Alexa. Bahkan Albert pun begitu terpesona dengan lantunan yang dimainkan oleh jemari lentik Alexa, ia menatap Alexa dari luar ruangan.
Cinta yang membawa luka bagi Stella, berawal disini...
Bagaimana akhirnya persahabatan dan cinta mereka?
Lanjut terus bacanya yaaa 😀