
Ajakan Makan Malam
Pov Author
Saat Stella sedang melakukan pekerjaannya, tiba-tiba suara Handphone berbunyi.
"Dddrrrttt...dddrrrtt", bunyi suara telepon Stella
Stella mendapat telepon dari Refli Liando. Refli Liando, seorang pria tampan, gaya rambut yang rapi, tinggi 180 cm dengan tubuh atletis, penampilannya membuat banyak wanita terpesona.
"Ya ref, maaf aku masih sedikit sibuk untuk menyiapkan branding produk bisnisku", jawab Stella sambil membaca laporan.
"Sibuuuk sekali wanita karir ini...
Selamat ya, launchingnya berjalan dengan baik. I am proud of you, honey", kata Refli merayu
"Makasih ya, terus aku dapat apa nih? By the way, jangan katakan pada siapa pun identitas penulis", canda Stella
"Siap bos! By the way juga, aku mau ajak kamu dinner jumat malam, gimana? Please jangan tolak.", mohon Refli kepada Stella.
"Ok, kasih aku satu alasan kenapa aku harus terima ajakan dinner dari kamu?", jawab Stella dengan senyum simpulnya
"Kamu tahu? Kamu butuh hiburan dan aku datang untuk menghibur", kata Refli.
"Okay, siapkan tempat istimewa ya", jawab Stella.
"Dandan yang cantik ya, perempuanku", rayu Refli.
Pembicaraan pun selesai dan mereka menyiapkan diri untuk dinner di hari Jumat.
Refli Liando adalah sahabat Stella ketika mereka sama-sama tinggal di Luar Negeri. Refli selalu hadir untuk menemani dan melindungi Stella. Namun sulit bagi Stella untuk membuka hatinya kepada Refli walaupun Refli begitu baik.
**
Stella menghubungi Liza untuk memberitahukan jadwalnya di hari Jumat.
"Hai sis, tolong Jumat malam kosongin jadwalku ya. Aku mau dinner sama Refli", kata Stella via handphone.
"Uw uw uw yee, akhirnya ada juga niatan untuk ngedate ya sis...baiklah aku kosongkan jadwal khusus untuk sepupu jombloku ini", ledek Liza ke Stella.
"He hem...ini cuma dinner biasa. Dari dulu juga dinnernya memang cuma sama Refli", jawab Stella
"Iya sih, tapi jarang banget kamu terima tawarannya. Hehemmm... Refli sangat setia menantimu. Mungkin sudah saatnya kamu membuka hati untuknya.", rayu Liza.
"Ya ya ya, ya sudah, sudah larut. See you ya, sis. Anyway semua novel sudah aku tandatangan ya. Besok bisa dikirim ke para pemilik novelnya ya", kata Stella
"Okay sis, siap. Besok langsung dikirim. See you", Liza menyudahi telepon.
Malam semakin larut, namun Stella masih sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Stella membuat segelas kopi untuk melawan rasa kantuknya.
Ia melihat keluar jendela dari Apartemennya.
Sesekali terlintas kenangan bersama sahabat kecilnya, Albert Ivander.
***
Flasback 1 - Masa SMA
Albert Ivander William adalah salah satu siswa terbaik di SMA 231 Jakarta. Kala itu badannya kurus tinggi, matanya menatap tajam, alisnya tebal dan senyumnya sangat memikat hati para wanita. Albert seorang pemain basket dengan pembawaan yang dingin, namun di cap sebagai playboy karena mudah memutuskan hubungan. Satu-satunya sahabat wanita Albert adalah Stella. Sering kali Stella menjadi sasaran para penggemar Albert. Entah menitipkan salam, sebuah kado atau pun terkadang sikap sinis dari penggemar Albert.
"Hey, mau kah kau menikah dengan ku? Dan menjadi satu-satunya wanita di hidupku?", tanya Albert pada Stella pada saat selesai Wisuda.
Hembusan angin dari jendela tak sengaja membuyarkan lamunan Stella.
Dan tersadar waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Stella pun bergegas tidur karena pagi hari Stella harus kembali bekerja.
**
Pagi hari menyambut dan sinar mentari memasuki ruangan kamar Stella dari jendela.
Ia mengenakan jumpsuit bewarna hitam dan sepatu heels bewarna hitam.
Liza pun menjemput Stella di Apartemennya.
"Sis, are you ready for today?", tanya Liza dengan semangat sambil memakan apel yang sudah disajikan di meja makan.
"Belum nih, tidak ada kata siap sebelum aku kenyang", sambil meminum jus dan memakan roti.
"Yes, i know you so well", jawab Liza tersenyum.
Liza pun meminta pak supir untuk membantu mengangkat novel-novel yang sudah ditandatangani dan membereskan dokumen yang akan dibawa untuk rapat pagi ini.
***
Presentasi Produk Baru
Bisnis adalah pekerjaan utama Stella.
Ia melanjutkan bisnis orang tuanya. Perusahaan orang tua Stella mempunyai banyak unit usaha. Dan Stella dipercayakan memegang unit bisnis ice cream.
Ditangan Stella, bisnis ice cream semakin laris dan semakin dikenal.
Stella pun sering melakukan kegiatan sosial melalui unit usaha yang dipimpinnya.
Pagi ini Stella dan Liza akan mempresentasikan Brand baru di Perusahaannya untuk membuat terobosan baru dan memberikan rasa baru pada produk ice creamnya.
Stella yang didampingi oleh Liza, melakukan presentasi dihadapan Roy Mulia (Ayah Stella) dan para Manager. Stella mempresentasikan rebranding produk menjadi "Missen Ice Cream", menjelaskan mengenai konsep dan rasa baru yang akan dikenalkan ke pasaran. Mayoritas peserta rapat tertarik pada terobosan yang dipresentasikan oleh Stella dan meminta agar perubahan Brand segera dilakukan.
Rapat pun berakhir dan dilanjutkan dengan makan siang diluar kantor. Roy Mulia datang menghampiri Stella.
Roy Mulia adalah sosok yang penuh wibawa, gagah, dan tegas.
"Hebat kamu, semakin hari terobosan yang kamu berikan ke unit usaha ini semakin meningkat. Papah bangga sama kamu!", kata Roy sambil merangkul pundak Stella.
"Iya dong Pah, jauh-jauh aku belajar ke Negeri orang, tentu harus ada ilmu yang aku terapkan!", kata Stella membalas rangkulan Roy.
"Iya dong Paman, sepupuku ini memang wanita hebat dan sangat mandiri. Saking mandirinya dia lupa untuk menghibur diri", kata Liza sambil melirik Stella.
"Iya, benar juga. Kamu boleh sibuk, tapi jangan lupa membahagiakan diri ya. Kapan kamu akan kenalkan pacarmu ke papa? Atau papa yang akan kenalkan kamu dengan anak teman Papa. Gimana?", kata Roy pada Stella.
"Duh Pah, Liza, aku masih fokus untuk berkarir. Aku belum bisa membuka hati untuk siapapun. Yang ada nanti aku jadi gak fokus kerja", kata Stella sambil melepaskan rangkulan Roy.
"Ya Papa hanya mengingatkan. Tapi sampai akhir bulan ini kamu belum datang bawa pasangan, Papa akan kenalkan kamu pada anak teman Papa yaa", tawar Roy dengan serius.
"Hmmm...terserah Papa, yang penting otaknya harus cerdas. Papa tau kan aku enggak suka primot, alias pria lemot", jawab Stella kepada Roy.
Mereka pun saling bercerita bertukar lelucon.
Hingga waktu menunjukkan untuk kembali bekerja. Roy pun kembali ke Perusahaan tempatnya bekerja. Stella menyerahkan tugasnya kepada Liza dan ia pulang menuju Apartemennya untuk bersiap makan malam bersama Refli Liando.
Dalam perjalanan menuju Apartemen, Stella mendapat pesan dari Refli...
"tingg...", suara whatsapp HP Stella
"Kita jadikan dinner malam ini, perempuan hebatku?", pesan Refli merayu
"Iya, aku sedang menuju perjalanan pulang.", jawab Stella
"Iya, aku menunggu, pintu hatiku terbuka untuk kepulanganmu", Refli menggombali Stella.
"Ya ya ya, pintu hatimu enggak punya engsel, jadi selalu terbuka. Hehe", balas Stella
"Untukmu, jangankan engsel, bahkan aku bersedia jika tanpa pintu", saut Refli semakin menggombal
"Crazy! (emote tertawa). Sudah ya, sampai jumpa nanti", jawab Stella.
"Aku jemput kamu ya...", balas Refli
Stella pun tiba di Apartemennya dan segera bersiap untuk makan malam. Setelah selesai bersiap, Refli pun tiba di depan pintu Apartemen Stella. Dan Refli terkejut dengan penampilan Stella...