
Flashback 3 - Pujaan Para Wanita
Pov Author
Albert Ivander William, seorang pria dengan tinggi 180 cm, alis tebal dan tatapan mata tajam.
Di masa SMP, ia banyak dikagumi wanita, namun kekasihnya hanya satu, Alona.
Alona Priska, seorang gadis cantik, tubuhnya ideal dengan tinggi 167 cm, ia menjabat sebagai ketua dancer di Sekolah, ia pernah menjadi kekasih Albert. Namun ketika penerimaan siswa baru, Albert memutuskan hubungan dengan Alona.
Alona tahu bahwa Albert dekat dengan Stella.
Ia tidak cemburu dengan kedekatan Albert dan Stella, karena Alona tahu Stella bukanlah tipe Albert.
Saat di bangku SMP Stella adalah wanita bertubuh mungil dengan tinggi 158 cm.
Stella mempunyai sifat yang humble, periang dan memiliki banyak kelebihan.
"Hai Stella, hai... Kamu kenalkan siapa aku?", tanya Alona dengan kecentilannya.
"Iya, aku tahu, kamu Alona kan?", jawab Stella dengan lugu.
"Eh em...bukan, maksud aku, siapa aku, kamu kenalkan?", tanya Alona menegaskan.
"Oia, aku tahu, kamu Alona, gadis populer, ketua dancer. Ya kan?", Stella menjawab dengan lugu.
"Em... Iya kamu benar. Tapi kurang tepat.", Jawab Alona.
"Jadi kamu siapa?", tanya Stella dengan heran sambil tersenyum kecil.
"Aku Alona, mantan kekasih Albert, sahabat kamu...", kata Alona sambil melipat kedua tangannya.
"Oh maksudnya itu. Kenapa enggak to the point aja dari awal?", kata Stella sambil tertawa.
"Ada yang bisa aku bantu?", Stella bertanya.
"A a ya... Iya tentu ada. Aku mau tahu, apa Albert sedang mengincar anak baru di sekolah ini?", tanya Alona dengan gaya centilnya.
"Hmmm...sepertinya tidak. Albert sedang fokus belajar agar ia dapat lulus dan masuk ke sekolah impiannya.", Stella menjelaskan dengan tegas.
"Oh begitu... Thank infonya. Kamu boleh pergi", Alona menyuruh Stella pergi begitu saja.
Stella pun pergi dengan santai dan menemui Albert di kantin sekolah. Setibanya di kantin Stella melihat Alona bersama Albert.
"Heh, perasaan ini orang tadi di ruang OSIS, kenapa sekarang duduk disebelah Albert?", tanya Stella di dalam hatinya.
Stella pun menghampiri Albert dan duduk dihadapan Albert bersama teman-teman lainnya.
"Bisa pergi gak dari sini? Aku kan sudah bilang, hubungan kita selesai. Aku mau fokus belajar.", Albert meminta dengan ketus ke Alona.
"Tapi aku gak mau putus... Kita kan bisa belajar bersama dan saling memotivasi.", Alona memohon ke Albert.
"Iya, kasihan Alona. Jangan diputusin dong kakak Albert", kata Stella dan teman teman lainnya meledek Albert.
"Kamu belajar saja, nanti ada waktunya kita pacaran lagi", kata Albert membujuk Alona agar ia segera pergi.
"Bener yaaa, aku akan ikut ke sekolah mana pun kamu mau...", jawab Alona.
Alona pun pergi meninggalkan Albert, Stella dan teman-teman lainnya.
"Gila ya...sempat-sempatnya kalian ngeledek... Kamu juga Stell, aku jadi salah ngomong tadi. Dia pasti akan ikut kemana aku pergi.", kata Albert sambil tersenyum simpul.
"Uhuy, pujaan wanita satu sekolah sih beda yaa... Tadi Alona tuh datang ke aku dan nanya tentang kamu... Alona mau tahu kamu dekat sama siapa...", kata Stella sambil tertawa.
"Bilang aja dekat sama kamu... Paling dia menggila", kata Albert tersenyum simpul.
"Wow, no! Pasti aku di bom kesinisan sama Alona..."
"Oia, nih, ada titipan coklat dari penggemar kamu...Rebecca", Stella memberikan coklatnya pada Albert.
"Buat kamu aja... Sampai bosan makan coklat", kata Albert ke Stella.
Rebecca melihat dari kejauhan, ia tahu bahwa coklatnya ditolak oleh Albert dan dimakan oleh Stella.
Jam istirahat pun berakhir, mereka kembali ke kelas masing-masing.
Rebecca menghalangi jalan Stella saat ingin ke kelas.
"Maksudnya bagaimana?", Stella bertanya heran ke Rebecca.
"Iya, aku tahu kamu pura-pura jadi teman supaya kamu bisa terus menempel ke Albert kan?", Rebecca bersikap sinis dan kasar terhadap Stella.
"Auuuww... Tolong jangan berlebihan ya. Aku dan Albert bersahabat baik. Tentu dia akan marah dengan cara mu ini.", kata Stella membela dirinya.
"Dengar ya, Albert itu gak akan menjadikan kamu pacarnya! Karena kamu bukan tipe dia. Please, berkacalah!", Rebecca menghardik Stella.
Rebecca terus menyerang Stella dengan sindirannya. Dan Albert pun melihat kejadian tersebut. Albert datang dan membela Stella.
"Stop! Jangan pernah kamu kasar ke Stella. Stella jauh lebih menarik dari perempuan kasar seperti kamu!", Albert melerai dan menarik tangan Stella menjauhi Rebecca.
"Kamu masuk kelas sana, nanti pulang aku antar ya...", Albert menemani Stella hingga kelasnya.
Stella selalu menjadi sasaran para penggemar Albert, ada yang menjadikan Stella sebagai perantara dan kadang Stella mendapatkan sikap sinis dari penggemar Albert.
Hal tersebut pun berlanjut hingga ke bangku SMA, dimana Albert, Stella, dan Alona juga Rebecca bersekolah di sekolah yang sama lagi. Albert pun semakin sering berganti pacar saat ia dibangku SMA.
Stella pun kembali memasuki masa orientasi di SMA. Namun kali ini Albert menitipkan Stella kepada teman-teman seangkatan agar Stella aman pada masa orientasi.
"Sebaiknya kalau di sekolah kita jangan terlalu dekat deh, aku yakin pasti penggemar mu semakin banyak di sekolah ini...", kata Stella berbicara sembunyi-sembunyi dengan Albert.
"Kamu tenang saja, gak akan ada yang berani ganggu kamu. Lagi pula kamu bukan saingan mereka...", kata Albert tersenyum kecil.
"Ya ya ya... Aku tahu, aku tak secantik mereka. Tapi aku lebih pintar dari mereka. Mereka bodoh mengejar-ngejar dirimu", Stella tertawa.
"Hmm... Kamu lebih cantik dari mereka...", kata Albert sambil memainkan Handphonenya.
Stella tersanjung dengan kalimat Albert. Sejak saat itu, Stella menyimpan rasa untuk Albert. Hanya saja ia memilih untuk tidak mengungkapkannya, karena ia tidak ingin hubungan persahabatannya rusak.
"By the way, aku lagi mau dekatin satu perempuan, seangkatan mu, cantik orangnya, tinggi, putih, rambutnya terurai panjang...", kata Albert menatap profil facebook seorang wanita.
"Ya ya ya pasti aku lagi yang jadi sasaran nantinya. Kamu selalu menjadikan aku tumbal...", Stella menunjukkan wajah masamnya.
"Tenang, aku akan menjaga mu. Besok aku janjian sama dia di kantin. Kamu ikut dan nilai dia ya...", kata Albert penuh gairah.
"Baiklah...", kata Stella dengan wajah ceria.
Jam pulang sekolah Albert pulang bersama Stella. Mereka pulang jalan kaki, karena rumah mereka tak jauh dari sekolah. Banyak penggemar Albert yang tidak menyukai kebersamaan mereka, walaupun mereka tahu Albert dan Stella hanya berteman.
"Kamu sampai kapan mempermainkan perasaan pacarmu? Memutuskan mereka sesuka hati...", kata Stella sambil menatap wajah Albert.
"Aku tidak mempermainkan, hanya tidak suka berbasa basi, kalau aku sudah tidak ada rasa, ya tidak perlu diperpanjang...", kata Albert melirik Stella.
"Hmmm... Terus apa kau tidak akan menetap pada satu hati?", kata Stella sambil menggarut kepalanya.
"Nanti, ada saatnya aku hanya menetap pada satu hati. Sekarang aku nikmati dulu ketampanan ini...", kata Albert dengan gaya coolnya.
"Kau gilaaa! Semoga aku bukan salah satu targetmu!", kata Stella tertawa.
"Tentu tidak, kau bukan tipe ku...kau sahabat terbaik ku...dan tetaplah begitu...", kata Albert memeluk Stella.
Stella pun terdiam dengan perkataan Albert.
Dan berpikir akankah Albert menyukainya suatu saat nanti.
"Apa suatu hari nanti kita akan tetap bersama?", kata Stella
"Tentu, kau satu satunya ratu bintangku, sahabat terbaikku...bahkan tidak boleh ada yang memilikimu selain aku...", kata Albert sambil tertawa lebar.
"Kau gila! Jangan sampai kau menyukaiku yaaa!" kata Stella mendorong tubuh Albert sambil bercanda.
"Tidak akan, kau kecil, pendek...cerewet! Bukan tipeku...", kata Albert menarik tubuh Stella ke pelukannya.
Stella kembali dari lamunannya dan ia tertidur.
**
Albert dan Alexandra yang telah tiba di rumahnya bercerita diatas kasur dan bantal mereka.
"Pah, Stella cantik sekali ya...dia sangat berubah. Bahkan pembawaannya pun anggun sekali.", kata Alexa sambil menghadap ke Albert yang hanya tersenyum dengan komentar Alexa.
"Besok kita ke toko Missen Ice Cream yaa Pah, kita harus ketemu Stella...", kata Alexa
"Iya, besok kita kesana...sekarang kita istirahat dulu ya sayang...", Albert memejamkan mata, namun ia tak dapat berhenti membayangkan Stella.