
Pertemuan Keluarga Mulia (II)
"Aku hampa tanpamu..." Refli menggombali Stella.
"Hmmm he... Aku bersiap siap dulu" Stella meninggalkan Refli di ruang tamu.
3 jam kemudian, Stella menghampiri Refli yang hampir tertidur karena menunggunya bersolek.
"Hai Ref, aku sudah siap" Stella menunduk merapikan gaun dengan tali tipis di kedua bahunya, berwarna maroon bertaburan butiran perak, menampakkan keindahan lekuk tubuh Stella. Membuat Refli panas menatap Stella yang begitu seksi.
"Wow, enggak sia sia aku nunggu lama, kamu seksi dan sangat mempesona..." mata Refli tak berhenti menatap Stella.
"Biasa saja... Kau berlebihan... Ayo berangkat..." Stella merangkul tangan Refli, ia menggunakan kemeja slimfit batik berwarna maroon. Mereka tampak begitu serasi.
Dalam perjalanan Stella dan Refli bercerita - cerita banyak hal. Stella juga bercerita mengenai Alvaro yang mendekatinya. Hingga tak terasa mereka tiba di rumah Ayah Stella.
"Disana kau akan mengenalkan ku sebagai siapa?" tanya Refli dengan tawa kecil memandang kearah luar jendela.
"Sahabat... Ayo kita turun..." ajak Stella dengan sigap untuk memasuki rumah Ayahnya.
"Stelllllllaaaaa... Aaaa i miss you" Stacey berlari ke arah Stella dan merangkulnya dengan erat.
Stacey Marlion adalah adik Stella terpaut 3 tahun dari Stella, tinggi 165 cm, rambut medium dengan highlight, sangat cerdas, seksi dan menggoda. Selama ini Stacey tinggal di Jerman dan hanya pulang ketika acara keluarga.
"Staceeeeyy my lil sister... You are so beautiful" Stella membalas pelukkan erat Stacey
"And you are so gorgeous..."
"Who this man?" Stacey melirik kearah Refli
"My best friend..."
"Refli, this is my little (not little anymore) sister... Stacey..."
Stella mengenalkan Stacey pada Refli.
"Hi Refli, how do you do?" Stacey menjabat tangan Refli dengan lembut
"Hi Stacey, pleased to meet you..." balas Refli kepada Stacey.
Stella, Stacey dan Refli pun bercerita cerita bagaimana kehidupan Stacey selama di Jerman.
"So, Refli, are you my sister's boyfriend?" tanya Stacey to the point.
"Ya, boy friend... Just a boy friend... not boyfriend. Your sister never let me more than just a boy friend" Refli menatap Stella dan Stella membalas tatapannya.
"It's not funny, Ref..." Stella memutar bola matanya sambil tersenyum kecil.
"Kalian ngobrol dulu aja berdua ya... I want to meet my mom..." Stella meninggalkan Stacey dan Refli berdua di ruang tamu.
**
"Mom, mom..." , Stella menemui Erika ke kamarnya dan mencium pipi kanan kiri Erika.
"Hi baby... Stella sayang..." Erika yang sedang bersolek menyiapkan diri untuk acara malam ini menyambut Stella dan membalas ciuman Stella.
"Mommy, you are so gorgeous..." peluk manja Stella sambil memuji Erika
"Thank you sayang. Kamu bawa pacar kamu kan kesini?" tanya Erika sambil melepaskan pelukan dan memegang kedua lengan Stella.
"Ahh mama, yang ditanyain itu... Kalau gak bawa, aku gak boleh pulang?" jawab Stella sedikit merajuk
"Ya tentu boleh dong sayang, emang kamu gak bosan di apartemen terus?" Erika tersenyum
"Iya mom, kangenlah. Aku bawa temanku mom, Refli. Tapi ya kami cuma teman. Sebagai syarat aja biar Papa gak repot kenalin aku ke anak temannya Papa", Stella melepas genggaman Erika dan duduk di kasur
"Ya... Ya sudah enggak apa apa... Ya sudah kamu langsung ke taman gih, semua keluarga sudah pada kumpul disana"
"Oke mom, aku duluan kesana ya..." Stella beranjak dari kasur dan menuju ke taman rumahnya
"Papaaa..." panggil Stella kepada Roy di taman. Semua keluarga melihat kearah Stella dan menyambutnya. Sudah menjadi tradisi bagi sepupu sepupu Stella untuk menanyakan siapa pasangan Stella. Kali ini, akhirnya Stella memutuskan membawa Refli, walau pun hanya teman.
"Aku tau kalian pasti menanyakan aku kan dengan siapa aku kesini?"
Semua Tante, Paman dan Para sepupu Stella pun tertawa dan menanyakan siapa pasangan Stella.
"Tenang semuanya, Stella kali ini membawa seorang pria tampan..." celetuk Liza sambil memegang gelas wine
"Terus mana dong gandenganmu Stella? Bawa dong kesini..." kata salah satu tante Stella.
"Itu Tante, lagi ngobrol sama Stacey di ruang tamu..." jawab Stella
Stacey datang bersama Refli langsung menanggapi obrolan mereka yang ditaman
"Hellooo we are coming..."
"Wah wah wah, gak bisa ini, gak bisa... Jangan sampai terjadi perebutan" celetuk canda salah satu sepupu Stella. Dan semua tertawa.
Roy Mulia memang sering mengundang adik adiknya dan para keponakannya untuk sekedar menjaga keakraban keluarga Mulia. Sekaligus evaluasi kerja beberapa adik Roy yang turut membangun usaha bersama Roy.
Mereka semua menikmati momen kebersamaan dengan keluarga besar dan tetap menjalankan tradisi keluarga Mulia.
"Jadi Stella, kamu tidak kenalkan siapa yang kamu bawa ini?" tanya Roy pada Stella sambil menatap Refli
"Oia, semua, kenalin ini Refli teman aku waktu di London. Kesini kebetulan karena ada pekerjaan..." Stella mengenalkan Refli kepada keluarga besarnya
"Wah, berarti kemungkinan kamu fix di London dong nanti ikut Refli" celetuk sepupu Stella
"Om juga dulu teman kuliah tantemu... Sekarang jadi teman hidup tantemu" celetuk salah seorang Paman Stella.
Mereka terus menggoda Stella dengan celetuk celetukan lucu.
"Sudah sudah... Ayo kita makan dulu... Kita nikmati malam ini sebagai malam kearaban bersama keluarga..." Erika datang dan menutupi gurau gurauan mereka.
Semua anggota keluarga menikmati malam itu. Makan malam bersama, bercerita, sedikit game dan hiburan lainnya. Tak terasa malam semakin larut hingga menuju dini hari. Para orang tua beristirahat, sedang muda mudi melanjutkan acara hingga pagi. Stella yang duduk berdua dengan Refli di pinggir kolam renang asik berbagi cerita, hingga muncul pesan dari Alvaro.
Tinggg...
-Alvaro-
Gimana acara keluarga malam ini?
Stella hanya membaca dan tidak membalasnya.
"Sepertinya kalian semakin akrab..." Celetuk Refli yang mencuri pandang membaca pesan Alvaro.
"He? Ya entahlah... Tapi kadang aku merasa hati berbeda jika bersamanya..." kata Stella
"Jadi kau sudah menjalin hubungan dengannya?" tanya Refli dengan raut wajah sedikit kecewa
"Aku membuka hatiku untuknya. Tapi aku belum berani berkomitmen dengannya..."
"Kenapa? Karena aku?"
"He?" Stella termenung melihat dalam kearah kolam renang...
"Apa kau akan marah padaku?" Stella kembali menatap Refli dengan mata bulat indahnya.
"Aku bisa berkata apa jika cintaku terus terabaikan? Setidaknya persahabatan kita tetap utuh..." jawab Refli dengan penuh keikhlasan dari hatinya.
Stella memeluk Refli dan bersandar di dada bidang milik Refli.
Lalu Stacey datang bersama sepupu sepupunya dan mengangkat Refli lalu melemparnya ke kolam renang.
"it's to keep your mind clean" kata Stacey meledek Refli. Dan semua mereka tertawa.
"Oh come on... Stacey... So cold here... Help me please..." Refli mengulurkan tangannya
"Help him, Stacey... Dont be annoying" Stella tertawa kecil
"Okay, cause my sister ask me... Give me your hands" Stacey mengulurkan tangan. Refli memegang tangan Stacey dan menariknya ke kolam renang.
"Refli... Oh my God! You are ...really ... Hmm!" Stacey memukul manja bahu Refli. Mereka menikmati malam, lalu memainkan permainan 'truth or dare'.
Dan saling menantang untuk berenang di kolam renang dan kolam ikan.
Liza pun ikut mendorong Rafael ke kolam renang dan Liza didorong ke kolam. Sungguh malam itu begitu menyenangkan.
"Sudah, sudah, kalian yang basah, segeralah berganti, kalau kalian sakit berbarengan, bisa repot nanti..." kata Stella
"Sis, sini ayo turun renang..." ajak Liza
"Enggak, kau kan tau aku alergi dingin..." tolak Stella yang sedang menggenggam handphone-nya.
"Huuu curang..." timpa Rafel sambil menyipratkan air kepada Stella. Stella pun hanya tertawa dan duduk di pondokan dekat kolam renang.
Stacey keluar dari kolam renang dan ingin mengganti bajunya. Demikian juga Refli, Liza, Rafael dan beberapa sepupu lainnya.
Mereka menyebar, ada yang menggunakan kamar mandi di kamar Stella, ada juga di kamar mandi tamu, sedangkan Refli menggunakan kamar mandi Stacey.
"Ladies first..." Stacey menabrak bahu Refli seperti anak kecil. Refli hanya tersenyum. Sambil menunggu Stacey, Refli mengelilingi kamar Stacey dan melihat foto foto dan piala piala milik Stacey. Hingga Stacey keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk putih di tubuh dan kepalanya.
"Hei, go get yourself clean..." Stacey melempar handuk ke Refli dan ditangkapnya.
Stacey melakukan ritual malamnya memakai krim di wajah dan serum untuk tubuhnya. Refli pun selesai mandi.
"What? Aku sudah selesai mandi and you still wearing the towel?" Refli terkejut
"Hm he... I am doing my night routine" Stacey menjawab santai.
"Berbalik, aku mau pakai baju..." Stacey meminta Refli membalikkan badannya.
"Aku keluar saja..." Refli ingin keluar dari kamar kemudian terpleset dan jatuh tak sengaja menarik handuk ditubuh Stacey.
Stacey yang hanya mengenakan 2 potong kain ditubuhnya berdiri bak model menatap kearah Refli. Dan Refli dengan mata nanar menatap tubuh Stacey dari kepala hingga kaki, 2 benda kenyal indah mulus yang ditutupi kain, segitiga bawah tipis, kaki mulus jenjang Stacey membuat Refli hampir mabuk dan tak dapat mengatur ritme jantungnya.
"Give me my towel back, boy!" Stacey memintanya dengan santai dan Refli memberikannya.
"Aku keluar dulu..." Refli langsung keluar tanpa basa basi dan menghembuskan nafasnya dengan kencang. Ia menghampiri Stella yang duduk di pondokkan melanjutkan pembicaraan mereka.
"Sepertinya adikmu punya banyak prestasi"
"Iya, dia sangat pandai, di sekolah dan ekstrakulikuler pun ia selalu juara. Dia aktif dan kompetitif. Dan dia seksi..." puji Stella terhadap adiknya.
"Kalau tidak mendapatkan kakaknya, mungkin aku bisa bersama adiknya..." kata Refli melirik Stella.
"Hey... Apa maksudmu? Kau tidak ingin balas dendam melalui adikku kan?"
"Adikmu sangat pintar ...bagaimana aku bisa menggunakannya untuk membalas dendam?" Refli meledek Stella dan mereka saling tertawa.
Di pertengahan malam menuju pagi, mereka tertidur di kamar kamar yang tersedia.