Love in Friendship

Love in Friendship
Episode 5



Malam Puncak Kegiatan Sosial (Amal)


Pov Author


"Selamat pagi tuan putri...", Liza menyapa dan membuka tirai di kamar Stella.


"He em...aku baru saja menutup mata beberapa jam lalu", jawab Stella.


"Iya, hari ini jadwal kamu untuk berolah raga dan nanti malam, jangan lupa ya kita hadir di acara malam Puncak Kegiatan Sosial (Amal)", kata Liza menjabarkan jadwal Stella.


"Oh ya...ini sabtu ya...aku pikir ini minggu. Rasanya ingin tidur lebih lama", kata Stella kembali memeluk guling.


"Iya ini sabtu, ayo kita nge-gym!", ajak Liza menarik tangan Stella.


"Baiklah sis...", jawab Stella.


Stella pun bergegas mengganti baju tidurnya dengan baju olah raga. Mereka pun turun ke lantai bawah Apartemen untuk berolah raga.


Tiba di tempat gym, Stella dan Liza memainkan alat olah raga mereka masing - masing sambil berbincang ringan tentang makan malam bersama Refli.


"Jadi intinya kalian berhubungankah?", tanya Liza sambil menatap Stella.


"Aku bingung, rasanya aku belum bisa membuka hati untuk siapapun", jawab Stella.


"Oh God! Come on, sudah saatnya kamu membuka hati sis...", kata Liza dengan nada sedikit menegur.


"Iya ya ya, i am trying to open my heart. Akhir bulan Refli aku ajak untuk makan malam bersama keluarga nanti.", kata Stella pada Liza sambil mengelap keringat di keningnya.


"Nah gitu dong..."


"By the way, Rafael mau join gym bareng gak apa - apa kan?", tanya Liza.


"Iya ajak saja sis... Bilang sama Rafael, bawa temannya yang tampan, biar aku gak kaya obat nyamuk", kata Stella dengan nada bercanda.


Tak lama, Rafael kekasih Liza pun datang dan menemui Liza. Rafael langsung mencium kening dan pipi Liza.


Rafael adalah calon suami Liza, tinggi 190 cm dan memiliki pipi yang sedikit "chubby".


Rafael datang bersama Alvaro, teman kantornya yang akan membantunya untuk latihan gym.


Alvaro adalah sosok yang tinggi, tubuh proporsional sedikit sixpack dan memiliki otot bisep, tinggi 185 cm, rambut terikat. Alisnya tebal, matanya menatap tajam, dan senyum simpulnya mengingatkan Stella pada sosok Albert sahabatnya dulu.


"Beb, kamu ajak siapa itu? Kok kamu ga bilang ajak orang lain?", tanya Liza sambil menarik tangan Rafael menjauh dari Stella dan Alvaro.


"Itu temanku beb, dia yang mau bantu aku latihan gym. Dulu dia 'chubby' juga kaya aku.", jawab Rafael sambil tertawa.


"Oh gitu, sepupu aku kaya gak berhenti gitu menatap Alvaro", kata Liza sedikit tertawa dan menarik kembali tangan Rafael mendekat ke Stella dan Alvaro.


"Kenalin Beb, ini temanku Alvaro..."


"Alvaro, ini calon istriku Liza..."


"Ini sepupu Liza, namanya Stella...", sambil mencium kepala Liza.


"Alvaro...", menjabat tangan Stella dan Liza.


"Ok, aku sama Alva latihan dulu ya beb. Kalian lanjut lagi gym nya", kata Rafael mempersilakan Stella dan Liza.


"Hei...Hello siiisss! Kayanya kamu sampai syok gitu... Interest ya?", tanya Liza menggoda Stella.


"Hah? Enggak, dia mirip aja sama sahabatku yang lama. Cuma dulu sahabatku itu kurus tinggi", kata Stella mengenang Albert.


"Ooohhh pantes... Gimana nanti malam kita ajak dia ke acara Malam Puncak Sosial?", tanya Liza berinisiatif mendekatkan Stella dengan Alvaro.


"Kalau tujuannya untuk menambah donatur, silakan saja sis. Tapi please jangan ada inisiatif lain", kata Stella menatap tajam Liza.


Stella, Liza, Rafael dan Alvaro pun selesai berolah raga. Dengan cepat Liza menawarkan Alvaro untuk mengikuti kegiatan sosial. Alvaro pun menerima tawaran tersebut dan bersedia untuk menjemput Stella di Apartemennya.


"Tidak perlu repot, terima kasih ya...", menolak tawaran Alvaro.


"Gak repot kok, aku jemput kamu jam tujuh ya.", kata Alvaro meyakinkan Stella.


"Iya, biar kita bisa double date...", Liza merayu Stella.


"Aku jemput kamu ya sayang...jam tujuh kamu harus siap ya...", kata Rafael ke Liza sambil mencium bibir Liza.


"Hmmm Love bird... This is public area...", kata Stella sambil memutar bola mata dan tersenyum.


"Ups sorry, ya sudah aku pulang ya sis... Sampai jumpa nanti sis and bro!", kata Liza kepada Stella dan Alvaro.


"Bro, thank you ya. Gue gak perlu antar ke parkiran kan ya?", kata Rafael ke Alvaro.


"Sama-sama bro. Gak perlu, santai aja.", jawab Alvaro.


Liza dan Rafael pun meninggalkan Stella dan Alvaro berdua di tempat gym.


Stella tidak pernah membawa pria asing ke Apartemennya karena itu adalah ruang pribadi Stella. Namun tidak pada Alvaro, Stella justru mengajak Alvaro. Mereka pun tiba di Apartemen Stella.


"Kamu mau minum teh atau susu?", Stella bertanya dengan canggung.


"Teh susu boleh...", jawab Alvaro


"Heh?...", Stella tampak bingung.


"Sini biar aku yang buatin. Kamu duduk aja..." Alvaro bergerak menuju dapur semi mini bar milik Stella.


Stella pun duduk di kursi tinggi mini bar nya, menunggu teh susu buatan Alvaro.


Alvaro pun memulai aksinya membuat teh susu dan juga membuatkan sarapan untuk Stella. Stella tak berhenti menatap cara Alvaro memasak. Ia pun mencuri pandang melihat dada Alvaro yang bidang dan perutnya yang sixpack.


"This is our brunch... This yours...", Alvaro meletakkan makanan di meja makan.


Stella pun menghampiri Alvaro, namun ia tersandung dan hampir terjatuh. Alvaro menangkap Stella dengan sigap. Dan lagi-lagi Stella dalam situasi yang canggung.


"Thank you...", Stella duduk di meja makan.


"Enggak masalahkan aku masak untuk kamu?", tanya Alvaro


"Enggak kok. Aku malah merepotkan sepertinya"


"Dari mana kamu bisa masak seenak ini?", tanya Stella.


"Sejak aku ubah pola hidup dan pola makan, aku lebih memilih mengolah makanan ku sendiri", kata Alvaro.


"Ohhh...", Stella yang canggung tetap berusaha bersikap biasa.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Alvaro berpamitan dengan Stella dan membuat janji untuk menjemput Stella pukul tujuh malam.


Stella pun bersiap untuk acara malam puncak.


Saat sedang bersiap, Stella menerima pesan dari Refli.


"ting...", bunyi whatsapp Stella.


"Nanti malam aku jemput kamu ya...?", pesan singkat Refli.


"Kita ketemu di tempat saja ya...", balas Stella.


"Ok, see you there baby...", balas Refli.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh dan Alvaro tiba di Apartemen Stella.


Ia mengirim pesan kepada Stella.


"Aku ada tepat di depan pintu Apartemen mu...", pesan Alvaro.


Stella pun meminta bibi yang bekerja di Apartemennya untuk membukakan pintu. Alvaro menunggu di kursi ruang tengah.


Stella yang mengenakan gaun putih dibawah lutut dengan potongan V pada lehernya hingga menuju belahan dadanya, menuruni anak tangga satu per satu dengan memukau. Alvaro pun menyambut Stella dengan mengulurkan tangannya.


"Kamu sangat anggun...", Alvaro memuji Stella.


"Terima kasih... Kamu terlalu cepat 30 menit", jawab Stella sambil tertawa kecil.


Stella dan Alvaro pun berangkat ke acara malam puncak. Dan setibanya disana, mereka bertemu dengan Liza dan Rafael. Mereka berempat pun duduk di kursi yang telah disediakan oleh panitia. Lalu, Refli datang menyusul dan duduk di kursi yang sama dengan Stella, Liza, Rafael dan Alvaro.


"Hai baby...", Refli menyapa Stella sambil mencium pipi Stella.


"Hai Liza...Raf..", menyapa Liza dan Rafael.


"Hai bro! Kenalin nih kawan gue, Alvaro...", jawab Rafael sambil memperkenalkan Alvaro.


"Refli...", mengulurkan tangan pada Alvaro.


"Alvaro...", membalas jabatan tangan Refli.


"Silakan duduk...", sambil mempersilakan Refli untuk duduk.


Liza yang duduk tepat disamping kanan Stella pun, menyenggol kaki Stella, memberi kode bahwa Stella diperhadapkan kepada dua pria yang mendekatinya. Namun Stella tetap berusaha profesional di acara malam puncak tersebut.


Acara malam puncak dimulai dan dihadiri oleh 500 tamu. MC mulai membacakan susunan acara dan mengundang Ketua Panitia untuk memberikan kata sambutan. Rangkaian acara pun terlaksana, hingga kata sambutan pun dipersilakan pada Donatur tertinggi di acara amal tersebut, yaitu "Queen Star". Stella yang ingin identitasnya tetap dirahasiakan, memilih timnya untuk mewakilinya dalam acara kata sambutan tersebut. Kata sambutan pun berakhir dan acara berlanjut pada acara hiburan.


Untuk mengurangi kecanggungan pun, Stella izin pada Liza, Rafael, Refli dan Alvaro untuk mengelilingi tenda-tenda para Donatur.


"Biar aku temani", Refli dan Alvaro serempak menawarkan diri.


"Gak perlu, aku sendiri saja...", tolak Stella sambil tersenyum.


Stella pun pergi melihat-lihat tenda para Donatur. Saat Stella berada di tenda produk ice creamnya (Missen Ice Cream), ia melihat seorang anak kecil menginginkan es krim. Anak kecil tersebut seorang diri...