Love in Friendship

Love in Friendship
Episode 24



"Tuan Albert, bisa kita bicara sebentar?" dengan wajah serius Dokter menghampiri Albert dan mengajaknya ke ruangan kerjanya.


"Bagaimana Dok dengan keadaan istriku?" tersirat kecemasan di wajah Albert. Tatapan matanya yang tajam seketika sayu.


"Kita akan melakukan cek darah dan usg untuk mengetahui indikasi medis yang dirasakan oleh Nyonya Alexa. Sangat disayangkan ibu alexa tidak mau mengikuti prosedur untuk melakukan kemoterapi"


Albert tertunduk lemas membayangkan istrinya, Alexa. Rasanya dunianya hampir runtuh. Kekuatirannya terus meliputi pikirannya.


"Saya mohon lakukan yang terbaik Dokter, saya akan kooperatif dengan semua prosedur"


"Pasti kami akan berusaha yang terbaik. Kami juga mohon kerjasamanya, agar ibu alexa menjalani kemoterapi. Setidaknya mencegah pertumbuhan sel kanker semakin banyak"


"Baik Dok"


Albert berjalan perlahan menuju pintu keluar dan menghampiri Alexa. Air matanya terjatuh melihat keadaan Alexa yang kesakitan.


"Sayang..." Albert memeluk Alexa dan mencium keningnya.


"Jangan sedih. Kau ini kenapa serapuh ini? Aku akan sembuh"


"Aku mohon, kamu kemoterapi ya... Aku mohon" Albert terkulai lemah memohon kepada Alexa.


"Berdirilah sayang... Kemoterapi hanya menyakitkan diriku. Aku tau ini sudah stadium akhir dan aku hanya menunggu waktu. Biarlah aku bahagia tanpa merasakan sakit itu sayang"


Albert terus memohon, namun Alexa hanya menggeleng pelan kepalanya dan tersenyum kecil dengan tatapan sayu.


Air mata Albert terjatuh mendengar permintaan istrinya itu.


"Berbahagialah untukku sayang, ada Mario juga yang harus terus kau jaga, kau didik, dan rawat"


"Cukup. Baiklah. A-aku akan berusaha"


Albert memeluk erat tubuh Alexa hingga cukup lama.


Setelah beberapa hari di rumah sakit, dengan hasil laboratorium yang tidak baik, Alexa akhirnya kembali ke rumah. Wajahnya tampak lebih segar dan lebih bahagia.


Mario menyambut dengan suara nyaring, berlari kecil dan memeluk ibunya yang ia rindukan itu, "Mamaaa!! Finally, you've home.


I miss you, mama" si kecil Mario memberi kecupan lembut di pipi Ibunya.


Albert memapah tubuh Alexa yang baru saja pulih dan mengantarnya ke kamar. Ditemani oleh Mario, mereka bercengkrama dan saling tertawa, "Ma, papa kesepian tanpa Mama. Dan Papa tidak dapat mengurus ku seperti mama mengurus aku" ia membulatkan pipi dan mengernyitkan dahinya di wajah lucu itu.


"Oh ya, Sayang? Lalu siapa yang akhirnya membantumu?"


"Mrs. Rose dan tante yang baik hati itu ke sering ke rumah dan membantuku. Tante Stella datang sama om Alvaro, dia juga baik hati, Ma" cerita lugu dari si kecil Mario.


"Oh ya? " Alexa membelai lembut rambut anaknya itu.


Tak lama setelahnya, Stella dan Alvaro datang ke rumah Alexa dan Albert membawa buah tangan untuk menjenguk Alexa.


"Tanteee! Omm Alva! Bawa apa?" dengan sigap Mario mengecek paper bag yang dibawa oleh Tante favorit anak kecil itu.


"Hai sayang... Kamu senang ya mama sudah di rumah? "


"Iya tante..."


"Mario, yuk main sama nanny dulu ya... " Alexa meminta Mario untuk bermain dengan pengasuhnya.


"alexa, gimana kabarmu? Albert bilang kalian sudah di rumah. Jadi kami kesini"


"Ayo Stella, duduklah"


"Rose, tolong buatkan minuman untuk nona Stella dan tuan Alvaro" titah Alexa kepada assitentnya.


Mereka asik bercengkrama sore itu, Stella dan Alexa berpindah duduk di taman belakang rumah, memulai percakapan lebih intim dan santai.


"Sejak pertama kita berjumpa, aku bertanya - tanya keadaanmu. Aku bahkan sempat berfikir, apakah Albert membuat membuat menderita" ujar Stella sembari menatal kearah langit lalu membawa pandangannya ke mata Alexa.


Alexa terkekeh dan menyeka rambutnya ke telinga, "Aku tak ingin orang melihat ku dengan tatapan iba, Stella. Aku hanya mengatakan pada mereka, aku berdiet"


"Kau tegar sekali... "


"Kau tau, sejak kau pergi, aku selalu berpikir tentangmu" Alexa menatap dalam mata perempuan yang berada disebelahnya itu.


"Aku? "


"Ya, aku merasa bersalah padamu"


"Bersalah padaku? Apa maksudmu? " Stella mengernyitkan dahinya


"Ti-tidak, aku tidak berfikir seperti itu. Hanya saja, jika aku pamit pada kalian, pasti langkahku terhenti"


"Langkah mu tadinya terhenti kan ketika Albert memintamu untuk tinggal? Saat itu kau belum tau kami mulai dekat"


"Lupakanlah itu Alexa... Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku bahagia kau bersama pria bodoh Itu"


Mereka berdua tertawa.


"Kau tau Stella?"


"Uhm?"


"Albert pernah menyukaimu"


Stella tertawa dan terheran disaat bersamaan, "Kau semakin mengada - ada saja. Itu tidak mungkin. Aku bukan tipenya dan dia selalu mengatakan itu"


"Waktu itu, ketika kau pergi, Albert begitu sedih. Hampir sebulan ia seperti orang bodoh dan kesepian. Apalagi kau tidak dapat dihubungi sama sekali"


"Oh ya? Pria bodoh itu?"


"Ya. Dan disaat itu juga aku sering diajaknya ke rumahnya, bertemu dengan orang tuanya dan adiknya"


"Lalu? "


"Aku ke kamarnya dan menemukan potongan puisi dan itu untukmu" Alexa menatap wajah Stella dan tersenyum lembut


Stella hanya tertawa membayangkan hal itu.


"Disana ada fotomu saat pertama kali orientasi siswa. Dan kertas puisimu. Kau si Alien kan? " Alexa tertawa membayangkan kedekatan suaminya dengan sahabatnya.


"Aku tidak pernah melihatnya sama sekali"


"Aku menemukannya di pintu bagian dalam lemarinya"


"Sungguh? Si bodoh itu? " Stella membulatkan netranya karena terkejut.


"Sungguh, Stella"


"Iya... Tapi dulu dia terlalu banyak membidik wanita. Aku bersyukur kau menjadi sasaran terakhir. Bahkan sudah Mario yang begitu lucu dikehidupan kalian"


"Lalu kau dan Alvaro? Apakah kalian?--"


"Uhm, kami dekat, sejujurnya aku baru mengenal dan ternyata kami menjadi rekan kerja"


"Dia tampak mirip dengan suamiku" Alexa menyentuh bahu Stella dengan bahunya.


"Sungguh? Tapi yang ini milikku, jangan kau ambil lagi" Stella dan Alexa tertawa lepas dengan lelucon - lelucon mereka di hari itu.


Mario datang menghampiri Alexa dan Stella, "Mama, aku ingin es krim" pinta si kecil Mario.


"Ayo sayang" ajak Alexa dan Stella mengikuti ibu dan anak itu ke dapur bersih untuk memberi es krim.


Di ruang lain, Albert dan Alvaro juga saling bercengkrama, seputar pekerjaan, hobi, dan kehidupan mereka. Stella, Alexa dan Mario menghampiri pria - pria gagah di ruang tengah yang asik bercerita.


"Papah mirip om!" ujar Mario yang ******* es krim kesukaannya.


Mereka tertawa dengan pernyataan lugu itu.


"Oh ya? Tentu lebih tampan om, kan?"


Mario menggeleng kecil dan tersenyum, dimulutnya penuh es krim, "Papah!"


Suasana hari itu sangat indah, setidaknya kesedihan Alexa berkurang karena tak ada yang mengasihaninya dengan cara yang sedih.


.


.


.


Halo Readers, please jangan lupa tinggalkan jejak kalian, kritik dan saran akan sangat membantu. Biar author semangat up up up.


Jangan lupa untuk vote juga.


Thank you ❤