Love in Friendship

Love in Friendship
Episode 11



Flashback 5 - Kehadiran Alexandra Part I


"Hei...hei...hei...tidak disangka kau dan aku menjadi satu angkatan di kampus ini. Kau bukan senior ku lagi", kata Stella meledek Albert yang masuk kuliah di tahun yang sama dengan Stella.


"Itu karena aku menunggumu, kecil...", kata Albert membalas ledekan Stella.


"Oh ya? Hmmm setidaknya kau bukan seniorku lagi..." Stella mendorong Albert.


Setelah kelulusan SMA, Albert memilih bekerja terlebih dahulu untuk membiayai kuliahnya. Albert dan Ayahnya bertengkar karena Albert tidak ingin berkuliah keluar Negeri dan mengurus Perusahaan Ayahnya.


Albert dan Stella sama-sama mengambil jurusan Manajemen Bisnis.


"Secara umur, kau tetap saja juniorku...", kata Albert merangkul dan mengusap-usap kepala Stella.


"Jangan lakukan itu bodoh... Kau mengacak - acak rambutku!", kata Stella merajuk.


"Kau sejak SMP hingga sekarang selalu menguncir rambutmu. Sekali-sekali lepaskan kunciran mu itu...", kata Albert yang terus mengacak rambut Stella.


"Kau menyebalkaaannnn!", kata Stella dengan ketus.


"Banyak sekali perempuan cantik di kampus ini... Tapi tak satu pun yang membuatku jatuh cinta", kata Albert melihat ke kanan dan ke kiri.


"Kita baru mulai kuliah, mungkin nanti kau temukan...", kata Stella.


"Lagi pula aku harus membagi waktuku antara kuliah dan bekerja. Ku rasa akan sulit untuk bertemu yang dapat membuatku jatuh cinta secepat kilat...", saut Albert.


"Ya ya ya...", Stella memberikan ekspresi seperti tidak percaya.


"Hentikan ekspresimu itu..."


"Aku ingin mendaftar tim basket disini dulu...", kata Albert.


Stella turut menemani Albert untuk mengikuti pendaftaran dan seleksi Tim Basket di kampusnya. Albert bertemu dengan Raymond teman satu timnya waktu di SMA 231 Jakarta, ia menjadi wakil ketua Tim Basket di kampusnya.


"Elo gak perlu ikut seleksi. Langsung aja masuk tim inti...", kata Raymond menepuk pundak Albert.


"Serius nih bro?", tanya Albert dengan semangat.


"Haaah itu tidak adil... Sebaiknya tetap diadakan walau pun hanya formalitas...", Stella memberi masukan.


"Oke kalau begitu... Nanti datang ke lapangan jam 4 sore ya!", Raymond mengundang Albert untuk bertanding sesama anak baru yang mendaftar menjadi Tim Basket.


"Oke bro, see you!", kata Albert.


"Stella, kamu disini saja, temani aku...", Raymond merayu Stella.


"Huh, no! Aku juga ingin mendaftar unit kegiatan mahasiswa lainnya.", jawab Stella.


"Masuklah ke Cheerleader... Agar kau menyemangati kami...", kata Raymond meledek Stella.


"Hah! Kau tahu aku tidak bisa menari apalagi sambil bersorak-sorak...", kata Stella sambil tertawa.


"Kau lebih cocok jadi boneka yang membawa papan nilai", kata Albert meledek Stella dan Raymond pun turut menertawai Stella.


"kau memang menyebalkan Albert!", Stella pergi merajuk.


"Hei...jangan ngambek, aku hanya bercanda. Ayo aku temani kau untuk mendaftar kegiatan Mahasiswa", kata Albert sambil mengusap-usap kepala Stella.


"Hentikan Albert yang bodoh...", kata Stella menangkis tangan Albert.


Albert pun menemani Stella di kegiatan Band Kampus. Stella mengambil posisi gitaris.


Ia langsung mengikuti tes kemampuan gitar dan langsung masuk di tim inti Band.


"Sungguh...luar biasa! kau memang perempuan paling ganteng maksimal yang aku kenal!", kata Albert yang merangkul Stella erat.


"Iyalah! Gak usah naksir! Biasa saja...", saut Stella tertawa.


"Enggaklah, kamu bukan tipe ku...", jawab Albert yang lagi-lagi mengacak rambut Stella.


Perkuliahan pun dimulai, semester demi semester mereka lalui. Pertemanan Stella dan Albert semakin erat. Stella sering menemani Albert tanding basket. Albert pun sering menemani Stella pentas seni dan penggalangan dana melalui konser mini. Seperti biasa, banyak perempuan yang mengagumi Albert.


Stella selalu menjadi saksi hubungan Albert yang putus, kemudian berganti pacar baru lagi. Stella pun sering menjadi sasaran para penggemar Albert. Meskipun begitu, Albert selalu membela Stella dan selalu memilih Stella jika ada pacarnya yang meminta Albert untuk menjauhi Stella.


**


Pertandingan Basket Antar Universitas Tingkat Nasional


Albert memiliki kekasih bernama Valencia Abriana, wakil ketua cheerleader. Valencia perempuan cantik, tinggi 170 cm, rambut ikal panjang, manja dan pencemburu.


Valencia tidak menyukai persahabatan Stella dan Albert. Namun ia tahu, bahwa Albert bisa saja meninggalkannya jika ia memberi pilihan antara dirinya dan Stella.


Pertandingan demi pertandingan Stella selalu menjadi Supporter Albert, sementara Valencia menjadi cheerleader yang memberikan semangat pada kekasihnya Albert dan Tim Basketnya. Albert dan Tim pun masuk ke babak semi final.


"Albert, ini minumnya... Sini cepat minum dulu...", Stella memanggil Albert dari arah kursi pemain cadangan dengan membawa minuman untuk Albert juga Valencia.


Dengan sigap Albert menghampiri Stella.


Valencia yang tak lagi bisa menahan cemburu, akhirnya menghampiri Stella dengan membawakan minuman isotonik.


"Kamu kan cape juga berkeringat, ini kamu minum isotonik saja...", kata Valencia sambil menarik air mineral yang dibawakan Stella dari tangan Albert.


"Nih, kamu bawa saja minuman ini. Lebih baik kamu yang minum, supaya sadar diri...", kata Valencia dengan ketus karena rasa cemburunya.


"Aku juga bawa air minum untuk kamu, Valencia...", Stella memberikan Valencia sebotol air mineral.


"Enggak perlu, enggak butuh... Bawa saja sana..."


"Harusnya kamu duduk di kursi penonton...", kata Valencia dengan ketus.


Sedangkan Albert hanya memperhatikan cara Valencia memperlakukan Stella.


"Sayang, ayo kita lanjut tandingnya. Aku akan semangatin kamu".


Albert dan Valencia pun berjalan kearah tengah lapangan.


Pertandingan pun usai dengan kemenangan di Tim Basket Albert, mereka pun masuk semi final. Albert langsung menghampiri Stella di kursi pemain cadangan.


"Ayo kita pergi...", ajak Albert sambil menggandeng tangan Stella.


"Hei, kau meninggalkan Valencia, Albert!", Stella berusaha menahan langkah Albert.


"Biarkan saja dia. Dia sudah memperlakukan mu dengan tidak baik...", kata Albert.


Valencia pun menghampiri Albert dan Stella.


"Sayang, kok kamu gak ada menghampiri aku? Malah menghampiri Stella. Sebenarnya siapa sih pacar kamu?", kata Valencia dengan nada tinggi.


"Mulai detik ini kita putus." , kata Albert dengan singkat mengakhiri hubungannya dengan Valencia.


"Apa?!!! Aku salah apa?!! Kenapa kamu putusin aku???", Valencia terkejut dengan pernyataan Albert.


"Kamu tahu dimana letak kesalahanmu...", kata Albert.


"Aku pacar kamu, aku berhak memberikan yang terbaik untuk kamu!!", kata Valencia dengan rasa marahnya.


"Stella adalah bagian dari diriku. Terima Stella atau kehilangan aku. Aku sudah katakan itu sejak awal hubungan kita.", Albert menarik tangan Stella dan meninggalkan Valencia.


Tim Basket Albert dan Tim Cheerleaders memperhatikan kejadian tersebut. Semua tercengang dengan keputusan Albert, termasuk Raymond. Raymond pun menghampiri Valencia dan menghiburnya.


"Albert, ini gak baik. Kau sering seperti ini. Musuhku bisa semakin banyak!", kata Stella melepaskan genggaman Albert.


"Ya gak apa-apa, biar hanya aku yang jadi sahabat kamu satu-satunya...", kata Albert sambil tertawa kecil.


"Kau gilaa dan menyembalkaaan, Albert!", kata Stella.


"Aku ganti baju dulu, kamu tunggu di mobil", kata Albert melempar kunci mobil ke Stella.


Stella pun menunggu Albert di dalam mobil.


"Tok tok tok...", Albert mengetuk kaca mobil


"Buka pintunya...", kata Albert pada Stella.


Stella membukakan pintu.


"Kamu ikut hangout ya, aku sama anak-anak tim basket mau celebration...", kata Albert.


"Hmmm baiklah...", kata Stella yang pasrah.


"Albert, apa kau akan terus memilih aku?", tanya Stella pada Albert.


"Tentu. Kau seperti bagian dari diriku... Menerima ku, menerima mu..." kata Albert.


Stella termenung dan tersanjung akan jawaban Albert.


"Apa kau akan berhenti mengutamakan aku?", tanya Stella.


"Tidak, aku akan selalu memilihmu jika ada yang memberi pilihan...", kata Albert tersenyum dengan mempesona.


Mereka pun tiba di tempat hangout untuk merayakan kemenangan tim basket Albert.


"Tiba juga akhirnyan seorang playboy berhati dingin yang baru saja mematahkan hati wanita cantik seperti Valencia...", kata Raymond bertepuk tangan.


"Enggak ada burung elang yang bisa dirantai, bro...", kata Albert membalas ledekan Raymond.


"Tapi elo selalu berdua sama Stella. Gue rasa Stella kuncian gembok liar kaya elo", kata salah seorang anggota basket.


"Gak tahu nih! Bisa-bisa musuh gue semakin banyak karena kelakuannya." kata Stella.


Semua tertawa bercanda, demikian juga Stella. Sampai tiba malam hari, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Albert pun mengantar Stella pulang ke rumahnya.