
Pov Stella
Entah kenapa saat bersama Alvaro rasanya aku terbuai akan sikap dan pembawaannya.
Dia membuatku sangat damai, namun aku tetap sulit membuka hatiku untuk laki - laki lain. Tapi...
Aku harus move on, aku tak bisa terus menerus memikirkan laki - laki yang telah menjadi suami wanita lain, walaupun dia sahabatku.
Tapi...
Kini aku menjadi dilema, bagaimana aku harus memulai hubungan dengan Alvaro disaat aku sedikit memberi harapan pada Refli?
Sepertinya aku harus menetralkan pikiranku dulu sebelum memulai hubungan.
Aku tidak ingin terjebak dalam drama jenaka cinta segita lagi.
Pov Author
Alvaro menggandeng tangan Stella dengan lembut dan membukakan pintu mobil untuk Stella. Ia ingin sekali mengajak Stella sekedar meminum kopi. Namun Stella memilih untuk kembali ke apartemennya.
"Kau yakin tidak ingin makan dulu? Atau sekedar menikmati seruput kopi?" Alvaro terus menawarkan Stella untuk menghabiskan waktu bersamanya.
"Besok aku harus bekerja dan aku akan sangat sibuk" Stella menjelaskan persiapannya untuk besok. Mereka pun akhirnya pulang menuju apartemen Stella.
Dalam perjalanan Alvaro bercerita banyak hal, tentang dirinya, perjalanan karirnya, perjalanan cinta dan keluarganya.
"Kalau gadis itu cantik, kenapa kamu gak mau sama dia?" tanya Stella sambil mengernyitkan dahi.
"Entahlah, aku kurang nyaman dengan sikapnya. Seperti ada keangkuhan di dalam dirinya dan sepertinya posesif" Alvaro menceritakan seorang perempuan yang dijodohkan oleh orang tuanya.
"Kau belum mengenal diriku sepenuhnya..." Stella tersenyum kecil dan memandang kearah luar jendela mobil.
"Hatiku tak mungkin salah tentang dirimu... Sejak awal kita berjabat tangan." Alvaro meraih tangan Stella dan mengelus punggung tangannya.
Mereka pun tiba di apartemen Stella, namun Stella meminta Alvaro untuk segera pulang.
"By the way, terima kasih untuk bunga yang kau berikan" Stella tersenyum dan melambai kepada Alvaro. Alvaro hanya tersenyum dan membungkukan badannya.
Stella mengecek handphonenya dan kebetulan Albert memanggil.
Albert : Stella?
Stella : Iya, bagaimana pelayanan kami?
Albert : Terima kasih untuk pelayanan mu. Aku sangat tersanjung. Khususnya Mario... Ia menyukai kado darimu.
Stella : Aku senang kalian suka. By the way aku ingin beristirahat, besok kita lanjut lagi obrolan ini.
Albert : Baiklah... Sampai jumpa lagi dan terima kasih sekali lagi
Stella : with my pleasure :)
Stella kembali duduk di sudut balkon kamarnya. Ia menatapi langit gelap dan kata demi kata mulai terukir.
Puisi
*Tatap tajam dari sepasang bola mata
Sesak kembali ku rasa
Sajak tentangmu ialah duka
Berserak dihamparan memori lama
Diantara sayatan luka
Tetesan embun pagi menjadi air mata
Aku kembali terhempas
Pada sepenggal kisah yang ku lepas
Aku ingin bebas
Biar aku kembali ke peraduan
Menikmati kerinduan dalam kesendirian*
Stella tersadar dari sisi melankolisnya.
Ia pun kembali pada peristirahatannya, menenangkan tubuh dan pikirannya.
Esok harus kembali bekerja dan membutuhkan banyak stamina.
**
Albert, Alexa dan Mario tiba di kediaman mereka setelah menikmati pelayanan yang diberikan di Missen Ice Cream.
"Pah, selain Stella berubah menjadi lebih cantik. Sepertinya ia juga berubah terhadap kita ya? Atau hanya perasaan ku saja?" Alexa merenungkan kejadian yang lampau, saat Stella hilang begitu saja dari kehidupan mereka.
Flashback 9 - Kepergian Stella
Hari itu adalah hari terakhir Stella ke kampusnya, mengurus nilai dan legalisir dokumen kelulusannya. Group musik Stella membuat acara sederhana untuk melepas kepergian Stella. Mereka bermain musik, menyanyikan lagu dan mempersembahkan tarian serta menyuguhkan foto - video kebersamaan mereka. Pelepasan yang disirami air mata dan kata kata mutiara terasa hangat dan indah. Ya, Stella begitu banyak menanam kebaikan pada mereka. Sifatnya yang humble dan supel membuat banyak orang nyaman di dekatnya dan sangat kehilangan jika tanpanya.
Raymond yang berniat menuju lapangan basket tak sengaja menyaksikan keharu - biruan momen tersebut. Ia terheran siapa yang akan pergi, hingga satu nama disebut saat seorang pemusik menyebut nama Stella.
Raymond masuk ke ruangan tempat acara diadakan dan duduk di kursi paling belakang.
Sejenak air mata Raymond menetes, karena sesungguhnya selama ini Raymond menyimpan rasa, hanya saja tidak pernah terungkap.
Ketika acara selesai, Raymond melangkah menghampiri Stella. Ia bertepuk tangan menatap wajah Stella.
"Kau ingin pergi tanpa pamit denganku?" wajah Raymond berhadapan dengan wajah Stella, mata Stella menahan air mata yang hampir terjatuh dari sudut matanya.
Stella memeluk Raymond dengan sangat erat. Suasana haru biru saat itu.
"Tolong jangan bilang pada Albert dan Alexa aku pergi..." Stella memohon pada Raymond.
Acara pun selesai, Raymond membatalkan latihan basketnya dan mengantar Stella pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, Stella meminta Raymond untuk segera pulang.
Keesokan pagi Raymond tak lagi dapat menahan diri, ia segera memberitahu Albert dan Alexa bahwa Stella akan keluar negeri dengan jam keberangkatan sore ini.
Albert pun terkejut dan segera menyusul Stella ke Bandara. Berkali - kali ia menghubungi Stella, namun nomornya tidak aktif. Setibanya di Bandara Albert, Alexa dan Raymond tidak bertemu dengan Stella, mereka menunggu hingga keberangkatan terakhir.
Akhirnya mereka pun pergi ke rumah Stella dan bertemu dengan Roy Mulia, Ayah Stella.
"Om, maaf mengganggu malam malam. Kami mau tanya, Stella pesawat Stella keberangkatan jam berapa ya om?" tanya Albert dengan wajah lesu.
"Loh Stella gak bilang ke kalian? Dia berangkat sudah dari semalam. Harusnya memang hari ini. Tapi pemberangkatan hari ini penuh. Jadi semalam dia berangkat, jam 21.50 pesawatnya berangkat, British Airways" kata Roy sambil mengernyitkan dahi.
Semua terkejut mendengar perkataan Ayah Stella, terutama Raymond.
"Tapi kemarin Stella bilang ke saya, dia berangkat sore ini om..." jawab Raymond terheran dan merasa sedikit kecewa.
"Ini pasti Alexa ya? Sahabat baru Nak Albert? Stella cerita ke Om..." kata Roy dengan penuh wibawa.
"Iya pak... Alexa cerita apa pak?" tanya Alexa dengan lembut sambil mencium tangan Roy.
"Iya cerita tentang kamu, Stella bilang kamu sahabat baru Albert" Roy menepuk pundak Alexa seperti anaknya sendiri.
"Oia, ayo masuk... Kenapa diluar aja dari tadi..." Roy mempersilakan mereka masuk ke rumah. Mereka pun masuk, minum dan bercerita cerita sebentar. Sementara Alexa pergi ke kamar Stella sekedar melihat - lihat.
**
Pov Author
Albert mendekap tubuh Alexa dari belakang membuyarkan lamunannya, tangan Albert disambut oleh Alexa dan kepalanya bersandar di dada Albert.
"Mungkin aku telah mengecewakan Stella" kata Albert menatap jauh.
Alexa hanya terdiam dan berkata dalam hatinya, mungkin juga kehadirannya yang tidak tepat.
"Sebaiknya kita beristirahat sayang..." Albert melepaskan pelukannya dan menari Alexa ke peristirahatannya.
.
.
.
Nah ini flashback dari sudut pandang Alexa.
Di beberapa episode akan ada cerita dengan alur mundur sesuai perspektif setiap tokoh ya. Jadi agak sedikit loncat - loncat lincah kaya kutu. HAHAHA
Disimak terus ya dan jangan lupa tinggalkan jejak... sedalam mungkin sampai gak bisa ditimbun jejaknya...ya good readers 😘❤😂