
Jangan lewatkan sebuah cinta dan membuat dirimu menyesal karenanya.
•{ Protector }•
"Mami yakin pasti kali ini nyonya bangga sama Non hehe ..." ucap Bi Sum yakin saat mereka akan memasuki rumah.
Suara tawa bahagialah yang menyambut indra pendengaran Sicka saat dia memasuki ruang tamu. Tapi seketika tawa-tawa itu terhenti saat sosok Sicka dan Bu Sum berdiri dan menatap mereka.
Seakan tak peduli mereka pun melanjutkan mengobrol dengan santai.
"Bunda selalu bangga sama kamu sweety. Bunda sudah duga kamu pasti akan dapat ranking 1 paralel." Aurin berucap dengan keras agar Sicka dapat mendengar dan seraya mengelus rambut San lembut.
*Bunda Sicka juga pengen kaya kak San* ... Lirih Sicka dalam hati.
Sicka dapat merasakan tangannya di genggam kuat oleh Bi Sum. "Ayo tunjukkan Sicka kalo kamu berhasil dapet ranking dua di kelas tadi," Bi Sum tersenyum meyakinkan.
Sicka pun tertular senyuman, dia pun mengambil nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan. Entah kenapa hal ini membuatnya begitu gugup.
Perlahan dengan langkah pincangnya dia mendekat ke arah orangtuanya tengah duduk dengan San yang berada ditengah-tengah di Sofa.
"Ayah ... Bunda ... " Panggilan dari Sicka membuat mereka menatap sinis seolah\-olah mengatakan 'pengganggu'.
"Rin tadi dapet ranking dua loh, tahun ini Rin mengalami peningkatan. Coba deh liat nilai Rin." ucap Sicka riang sembari memberikan buku rapot ke arah orang tuanya.
"Cih dapet ranking dua aja bangga, gue aja yang ranking 1 paralel be aja. " sahut Sandriana tak suka melihat Sicka berada disini mengganggu momen yang membuat orang tuanya sedari tadi memujinya.
Dengan kasar Aurin menerima buku rapot itu lalu ...
PAKKKK
Buku rapot Sicka dilempar ke lantai hingga berada tepat disamping Bi Sum berada. Bahkan bunda belum buka rapotnya ... Sicka menatap miris apa yang baru saja terjadi.
"Buat apa saya melihat rapot anak bodoh nggak berguna kaya kamu? Cih paling kamu yang dari tujuh lima ke delapan puluh. Dan kamu berharap akan mendapat pujian dari kami? TIDAK AKAN!" Sicka hanya bisa menunduk, kali ini dia tidak akan menangis. Orangtuanya akan makin membencinya bila dia menangis. Ya dia harus tahan.
San hanya melihat drama di depannya ini sembari duduk dengan angkuh. Rasain lo Rin.. duh kenapa gue seneng banget ya ... Batin Sandriana tersenyum senang.
"Tapi Rin udah usaha Yah ... Bun ... biar kalian bangga sama Rin, nilai rapot ini aku pengen tunjukin ke kalian agar kalian tau aku udah belajar sungguh\-sungguh seperti apa yang kalian mau." jelas Rin mencoba santai.
"Bagus kalo kamu menurut, tapi hal itu belum cukup untuk memuaskan saya." ini suara Afkar.
Hilang sudah senyuman di bibir Sicka, ya sedari tadi memang Sicka masih mencoba tersenyum. Dia hanya tersenyum kecut saat melihat Afkar dan Aurin kembali mengajaknya bicara bahkan kini mereka tengah menawari San yang ingin menghabiskan liburan dimana.
"Sayang kamu mau liburan kemana kali ini?" tanya Afkar kepada San yang langsung dijawab girang olehnya.
"San mau kerumah bibi Ana di Korea, boleh kan yah? Nanti kita nginep disana sama\-sama." tanpa perlu berpikir dua kali, mereka pun mengiyakan permintaan San. Bibi Ana adalah adik dari Afkar yang ke dua.
Sicka memilih pergi dari hadapan mereka, menaiki tangga dengan lemas. Sedangkan Bi Sum segera menyusul Sicka.
<•[💙]•>
Sicka yang tengah berbaring di kasur king size nya terkejut dengan suara pintu yang dibuka secara kasar.
BRAKKK
Tampak wajah San dengan wajah sangarnya. Sicka yang melihat kehadiran San pun segera bangun, kemudian menghampiri San.
"Duh kak pelan\-pelan napa, nanti pintunya rusak kan berabe. Pasti nyewa tukang kayu nya mahal." ucap Sicka sembari meringis.
"Terus gue peduli?" San menundukkan kepalanya hanya untuk bisa menatap wajah Sicka. Memang San memiliki tubuh yang cukup tinggi yaitu sekitar 163 sedangkan Sicka dia hanya memiliki tinggi tubuh 157cm yang membuatnya harus mendongak saat menatap San.
Mungkin Sicka kekurangan gizi, terkadang batin Sicka mengatakan hal itu saat dia tengah berkaca menatap tubuhnya yang pendek.
"Nah karena nggak ada yang peduli, makanya aku yang peduli kak." sahut Sicka yang membuat San memerah menahan marah.
Lalu tiba-tiba San mencengkram lengan kurus Sicka. "Heh gue peringatin sama lo ... " desis San seraya menunjuk Sicka dengan telunjuk dan kali ini dia makin mencengkram lengan Sicka dengan kuat yang dapat dipastikan oleh Sicka kalau kulitnya akan terluka oleh kuku San.
"Kalo ayah ataupun Bunda ngajak lo juga di liburan ini. Lo harus tolak. Lo ngerti?" Selalu seperti ini, Sicka mendesah.
"GUE BILANG TOLAK YA TOLAK. LO NGERTI NGGAK SIH?" bentakan San membuat Sicka memejamkan matanya ditambah dia harus meringis lantaran menahan perih di lengannya.
"I\-iya kak San, aku tolak kok." ucap Sicka menyerah, dan setelah mengatakan itu San segera melepaskan cengkramannya di lengan Sicka lalu tersenyum puas.
"Bagus, itu baru kembaran yang baik." kemudian dia keluar.
Sicka menatap lengannya yang memerah dan ada licet-licet bekas kuku San yang terlalu kuat menekan. Perlahan tangannya meraih kotak P3K lalu mulai mengobatinya sendiri.
"Kali ini mau ikut?" Suara berat seseorang membuat Sicka terkejut dan menoleh seketika. Dia mendapati Afkar ayahnya tengah berdiri di depan pintu yang tengah menatapnya dengan tatapan aneh.
Sicka tau apa yang diperhatikan oleh ayahnya, lalu dia segera memasang cengirannya, "E-eh ayah hehe i-ini tadi kesangkut pintu terus jadinya licet."
"Kamu pikir saya bertanya?" ucap Afkar seolah tak peduli, jauh dalam lubuk hatinya ia menghela nafas mendengar ucapan Sicka.
"Kamu ikut atau tidak?" tanya Afkar lagi.
Seketika Sicka teringat akan perintah San yang menyuruhnya untuk menolak.
"Duh yah maaf, Sicka jaga rumah aja yak. Kaya biasanya, Sicka pengen abisin liburan dengan tiduran di kasur," ucapan Sicka hanya mendapat anggukan dari Afkar, lalu kemudian lelaki yang akan menginjak usia kepala 5 itu beranjak pergi.
Sicka menghela nafas lega, lalu dia berkutat mengobati lukanya tadi yang sempat tertunda.
Kalo emang menuruti kata Kak San akan buat dia senang dan perlahan melupakan kejadian itu, waaku siap. Batin Sicka.
<•[💙]•>
Di lain tempat tepatnya di dalam kamar Rion, lelaki itu tengah menatap kedua tangannya yang dia gunakan untuk menggendong Sicka.
Bahkan dia masih merasakan degupan jantung Sicka yang begitu terasa tadi. Di tambah dia juga masih mengingat wajah gadis itu yang terkejut saat dia mengendong dan jujur wajah Sicka terlihat imut di mata Rion.
Tapi dia juga menyadari bahwa jantungnya juga berdetak kencang saat mengingat kejadian tadi. "Kenapa sama dada gue? Kaya ada yang diskonan?" tangannya menyentuh dada bagian kirinya yang masih berdegup kencang.
Merasa aneh dengan dirinya, dia pun memilih beranjak dari pembaringannya dan keluar kamar.
Saat dia akan turun kebawah, dia melihat adiknya Rafisqy tengah duduk di anak tangga sembari tertawa sendiri dan menatap ponselnya.
Karena penasaran akan tingkah aneh adiknya, dia pun menghampiri adiknya. Dapat dia lihat adiknya tengah chattan dengan seseorang yang dia beri nama ' Buntalku❣ '.
"Masih kecil udah pacaran aja lo!" Sontak hal itu membuat Rafisqy terkejut dan hampir saja membuat ponselnya terjatuh.
"Astaghfirullah Bang Onald bikin gue kaget aja, sialan!" Rafisqy masih memegang dadanya.
"Dih gue b aja perasaan. Lo nya aja yang asik ketawa nggak jelas." ucap Rion datar.
"Gue ketawa gini karena lagi jatuh cinta bang. Dan itu hal yang wajar, emang elo yang nggak pernah ngrasain. Makanya sirik pas liat gue." Adiknya ini terlalu ceplas\-ceplos bila ke Rion.
"Anak baru gede kaya lo bisa jatuh cinta?" Rion tersenyum meremehkan. Rafisqy yang dikatain begitu pun tak terima.
"Gue tuh udah remaja bang, gue kan sekarang udah naik ke kelas sebelas di SIS. Ya jelas gue udah bisa jatuh cinta. Anak SD aja bisa jatuh cinta mana panggilannya aja 'mamah\-papah' ." papar Rafisqy panjang lebar ingin memberitahu Rion bahwa dia memang tengah jatuh cinta.
"Ya deh serah lo, bagi gue lo itu masih anak ayam yang baru gede kemaren udah berani bikin anak orang jatuh cinta." ucapnya lalu melenggang turun.
Rafisqy hanya geleng-geleng kepala "Semoga lo jatuh cinta amin!" Teriak Rafisqy kepada Rion.