LOVE For SICKARINA

LOVE For SICKARINA
TWENTY FOUR



**Aku ingin pergi padamu, datang ke dalam pelukanmu.


•{ Anonimoûs** }•


Sicka dan Kimi memasuki kelasnya dengan Kimi yang berwajah kusut akibat di kantin tadi. Sicka meletakkan tongkatnya di meja, lalu dia ikut bergabung bersama teman-temannya di belakang kelas.


 


"Lha tumben cuma ada kalian, yang lain mana?" tanya Sicka kepada temannya sembari duduk. Mereka duduk membentuk sebuah lingkaran kecil, ada Naya, Jessy, Sinta, Hidayah,Yana, dan Sari.


"Adit sama yang laen lagi pada di taman belakang, nongkrong." jawab Hidayah murid kedua yang menggunakan hijab di SIS.



"Lha terus kalian ngapain nih melingkar kek gini?" Kini Kimi pun ikut bergabung, dia duduk di sebelah Naya.



"Kita lagi bahas pensi apa yang cocok buat KAT nanti, bingung banget dah mau nampilin apa?" jawab Yana sembari menggaruk kepalanya, kebiasaannya ketika tengah pusing berpikir.



"Gue yang nyanyi sambil gitar aja gimana?" Usul Sicka yang mendapat tatapan terkejut dari teman\\-temannya.



"Lha lo bisa main gitar? Serius?"



"Yakin lo mau sendirian? Nggak grogi?"



"Iwawww nggak nyangka sobat gue bisa main gitar haha ..."


Sicka hanya tersenyum kikuk, "Hehe kalo sendiri sih gue grogi. Tapi gue juga pen ikut pensi dong. Secara gue pasti nggak bisa ikut lomba-lomba yang diadain panitia karena kaki gue."


  "Gimana kalo dance cover?"


"*Song cover*? Ntar kita pake alat musiknya galon, terus yang lain gituuuu tau kan yang gue maksud?"


Mereka saling mengusulkan apa yang ada di kepalanya. Kalau urusan lomba-lomba begini mereka tau diri tanpa harus menunjuk siapa yang ikut lomba atau yang tidak. Mereka dengan senang hati mengajukan diri untuk berpartisipasi, hal inilah yang dibanggakan oleh bahasa.


  "Halah ribet, dance sama song cover aja sekalian. Gimana?" Sari yang sedari tadi diam berbicara dan semuanya diam. Memikirkan apakah ide itu bagus?


"Gini, selama ini kan kebanyakan orang cuma nge\-cover dance nya atau lagunya doang. Nah biar antimainstream kita cover aja semuanya." lanjut Sari. Semuanya mengangguk menyetujui ide tersebut.



"Kira\-kira mau dance sama song cover apa?" Tanya Kimi.



"*Kill this love* aja, itu kan semua orang udah tau. Gue bisa nge\-rap kok jadi gue nanti rapper aja hehe ..." ucap Naya.



"Terus yang mau jadi rapper satunya siapa? Kan di Blackpink yang rapper Jenny sama Lisa,"


Semua nya menggeleng kecuali Sicka yang terdiam.


Sicka berdehem yang membuat mata temannya tertuju padanya, "Gue bisa nge-rap." Mata teman-temannya membulat mendengar itu. Selain bermain gitar, Sicka juga bisa nge-rap karena sedari dulu dia kelas 6 SD sering mendengar musik KPop genre hip hop.


 


"Sekarang udah lengkap, untuk bagian dance nya ada Kimi, Yana, Hidayah, Sari. Eh Hidayah lo bisa dance kan?" tanya Naya ke Hidayah.


"Bisa dong, pake hijab nggak jadi halangan buat bisa nge dance kan?" Semuanya mengangguk meng\-iyakan.



"Oke, dan gue, Karin, Sinta sama Jessi vokal, kita mulai latihan nanti pulang sekolah dan seterusnya. Karena Jumat kita udah berangkat, kita harus latihan sungguh\-sungguh!" ucapan Naya diangguki semuanya.


<•[💙]•>


Sekitar jam 5 Sicka dan teman-temannya baru keluar dari sekolah. Sicka yang sudah keluar dari sekolah terkejut saat melihat seorang lelaki duduk di atas motor matic dan menatapnya datar. Segera Sicka berjalan mendekati lelaki itu.


  "Abang ngapain disini?" Sicka celingukan, "perasaan Kak San udah pulang dari tadi." lanjut Sicka.


Lelaki yang tak lain adalah Satria itu mendengus, "Gue nunggu lo, bukan San." Sicka begitu terkejut, setelah bertahun-tahun lamanya baru kali ini dia ditunggui oleh abangnya yang terkesan judes dan dingin ini.


  "Buru naik, gue dah nunggu lama" suruh Satria dan Sicka hanya diam. Biasanya dia akan di angkat Rion agar bisa duduk, tapi masa iya dia meminta Satria agar mengangkatnya? Rasanya Satria tidak akan mau.


"Kenapa diem? Lo nggak suka gue jemput?" Sicka menggeleng cepat. Dia bingung menjelaskannya bagaimana.



"Emm ... it\-itu aku nggak bisa naiknya," ucap Sicka ragu sembari menunduk. Satria berdecak, dia turun dari motornya lalu kemudian mengangkat Sicka dan mendudukkannya di jok belakang. Setelah itu dia naik kembali dan memakai helmnya lalu mulai menjalankan motornya.


Di belakang Sicka tak bisa menahan senyumnya, hal ini membuatnya begitu senang. Senyumnya sangat lebar, dan Satria juga bisa melihat itu. Karena Satria mencuri-curi pandang lewat kaca spion.


Sicka mengernyit saat motor Satria memberhentikan motornya di salah satu cafe yang bernama 'Royalter'. Sicka pun diturunkan Satria, lelaki itu melangkah lambat untuk menyejajarkan langkah Sicka.


"Mau hujan, kita makan dulu aja disini." ucap Satria agak ketus. Sicka hanya tersenyum untuk membalasnya. Keduanya pun memasuki cafe tersebut.


Suasana cafe yang ramai dengan para remaja-remaja ini membuat Sicka dan Satria menjadi pusat perhatian saat memasuki cafe. Mereka mulai menilai penampilan Sicka dan Satria, ada juga gerombolan siswi di salah satu meja yang menghina Sicka tak pantas bersama Satria yang notabenenya cogan sedangkan dia hanya gadis cacat.


Sicka hanya bisa menyabarkan diri, ini semua ujian. Mau mengelak pun kenyataannya Sicka memang seperti itu. Di sampingnya, Satria menatap Sicka yang hanya biasa-biasa saja menanggapi cacian mereka.


Mereka duduk di meja pojok dekat jendela. Nampak diluar hujan mulai turun dan semakin deras. Sicka enggan menatap Satria, karena rasanya begitu canggung. Sudah lama mereka tidak pernah seperti ini.


 


"Kenapa nggak pesen makan?" Satria buka suara saat tadi Sicka hanya memesan minuman. Gadis itu menoleh dan menatap Satria.


"Nggak laper bang hehe ... Lagi haus aja aku," jawab Sicka dengan senyum yang dipaksakan, mendengar cibiran dari orang\-orang di cafe ini tadi membuat nafsu makanannya hilang.



"Bagus, gue kira lo bakal nggak tau diri." ucap Satria yang makin menambah perih di hati Sicka. Tapi tidak apa\-apa, Sicka bahkan bisa menghadapi jauh yang lebih berat dari ini.



Sicka mulai mengambil secangkir milk tea-nya dan menyesapnya sedikit demi sedikit. Satria pun ikut meminum mocachino-nya dengan pandangan yang tak lepas dari adiknya itu.


Sicka meletakkan minumannya di meja kembali. Matanya menatap sekitar dan masih sama, semua remaja perempuan di cafe ini masih menatapnya dan memandangnya remeh. Sicka tak suka ditatap seperti itu, apa salahnya jika dia duduk dengan abangnya sendiri? Sicka menggelengkan kepalanya mencoba tak memikirkan hal ini agar depresinya tak kambuh disini.


Mengingat perkataan dokter Rena, Sicka mengalami depresi ringan. Tapi depresi yang dialami Sicka bisa berubah berat bahkan sampai gangguan kejiwaan bila Sicka benar-benar tidak bisa mengontrol lagi alam kesadarannya. Dan hal itulah yang ditakuti oleh gadis itu.


Dia takut akan kehilangan semuanya ketika dia benar-benar berubah menjadi gila. Dia takut, tapi apa boleh buat?semua ucapan orang-orang bahkan keluarganya sendiri ini membuatnya menjadi tertekan. Semua komentar yang tertuju padanya hanyalah komentar pedas dan cacian.


Satria sedikit terenyuh saat matanya memandang wajah sendu milik Sicka. Dia dapat melihat kesedihan diwajah adiknya itu


Sepertinya ego nya benar-benar harus ditepisnya. Satria pun menyentuh tangan adiknya yang dingin itu. Dapat dia lihat keterkejutan dari Sicka.


  "Lo kenapa? Ucapan gue nyakitin banget ya, Dek? Gue minta maaf." Sicka terhenyak, apakah lelaki ini benar-benar abangnya? Pertanyaan abangnya terdengar lembut ditelinganya.


"Ng\-ng aku nggak papa ko bang hehe ..." Jawab Sicka sembari mengeluarkan senyum andalannya. "Abang mau kuliah dimana? Udah ada cewe yang nyantol hati abang belum?" Sicka mencoba untuk mencairkan suasana.


"Ck. Nggak ada." ucap Satria tak suka.


Sicka terkekeh, "Wkwk abang yang belum nyadar kali, siapa tau ada yang cantik ,kalem terus baiiiikkkk banget. Tapi abang nggak nyadar hehe ..."


"Lo pikir kaya novel yang lo baca?" Satria menggelengkan kepalanya, kenapa semua cewek itu begitu percaya bahwa di dunia fiksi itu akan terjadi di nyata? Heran.



"Hehe ... Kan bisa aja Bang, kalo emang itu terjadi sama Abang ... Abang harus ajak Rin ke Korea, oke?" Sicka mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Satria.


Dalam hati Sicka tertawa, pasti abangnya tidak akan mau. Tapi apakah boleh kali ini Sicka berharap Satria menautkan kelingkingnya juga? Sicka benar-benar ingin harapan itu menjadi nyata.


Dan saat itu juga Sicka tidak tau harus bereaksi seperti apa. Dia terkejut saat harapannya menjadi nyata. Yaitu Satria yang menautkan kelingkingnya di kelingking Sicka dengan senyuman manis terukir di wajah Satria.


"Oke, gue bakal ajak lo ke Korea kalau hal itu bener terjadi di hidup gue."


Tanpa sadar air mata Sicka meluruh meskipun bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Dia sangat berterima kasih kepada yang kuasa karena telah mengabulkan harapannya.


Ya Allah, hamba benar tak menyangka engkau mengabulkan harapan kecil hamba ... Ucap Sicka dalam hati.


Satria cemas saat melihat Sicka tiba-tiba menangis seperti itu, dia mengusap air mata Sicka, "Dek lo kenapa nangis? Gue ada salah kata tadi?"


Sicka menggeleng, "Aku cuma bahagia aja Bang. Abang senyum ke Rin, terus abang juga tadi bales kelingking Rin. Aku beneran seneng banget!"


Ucapan Sicka membuat lelaki itu merasa bersalah. Selama ini dia terlalu jahat kepada adiknya ini, dan mungkin ini waktu yang tepat untuk Satria menebus rasa bersalahnya.


Satria segera berdiri dari duduknya lalu mendekat ke arah Sicka dan kemudian memeluk adiknya itu dengan erat. Dia tak peduli orang-orang di cafe akan mencibir atau yang lainnya.


Satria melepas pelukannya lalu menatap keluar jendela, hujan sudah reda dan langit pun sudah berubah menjadi gelap.


"Dek abisin minumnya terus nanti kita pulang"



"Iyalah Bang, yakali kita mau nginep disini." jawab Sicka sembari tertawa.


<•[💙]•>


Sicka yang sudah selesai berganti baju itu turun dari kamarnya menuju dapur. Dengan langkahnya yang sudah mulai terbiasa dengan tongkat.


Sicka terkejut saat melihat San tengah mengiris bawang. Apakah San kerasukan arwah mantan pembantu di rumahnya? Sampai-sampai San mau melibatkan tangannya bersentuhan dengan bawang.


San yang menyadari kedatangan Sicka pun menoleh sambil mengucek matanya yang berair.


"Heh jelek! Ajarin gue masak dong! Bi Sum pergi jalan sama cowoknya tadi."


Sicka terbengong, nada San tidak terdengar membentak, tapi terdengar meminta sebagai seorang saudara.


"Udah jelek, lemot lagi. Woyy lo denger nggak sih gue ngomong apa?" Sicka pun segera mendekat.



"Kak San mau masak apa emang?tumben banget." San yang ditanya memutar bola matanya malas.



"Gue mau buat nasi goreng. Niatnya besok pagi gue mau masakin buat Brandon. Lo mau kan ajarin gue?" San menatap Sicka yang tiba\-tiba terdiam saat mulutnya menyebut nama Brandon.



"Lo nggak mau? Nggak mau ajarin karena gue lagi deketin mantan lo?" Sicka segara menggeleng sebelum San berpikiran negatif kepadanya.



"Mau Kak, aku tadi hanya merasa aneh aja. Yaudah sekarang kak San panasin minyaknya," San pun menuruti perkataan Sicka.


Sesekali Sicka tertawa saat San berteriak kesal ketika dia salah mengambil garam yang ternyata gula.


Setelah dua puluh menit keduanya berkutat, nasi goreng itupun sudah berada di meja makan.


"Kak San hebat!! Besok pagi pasti kak San udah bisa buat sendiri." Puji Sicka kepada San, dan gadis yang dipuji itu menyibakkan rambutnya menyombongkan diri.



"Iyalah! Apa sih yang Sandriana nggak bisa?"


Sicka hanya tersenyum menanggapi ucapan San.


Sicka berlalu menuju teras depan rumah untuk menikmati langit malam yang berhias bintang dan bulan yang nampak bersinar terang. Dia adalah pecinta langit malam.


"Hai bulan, bintang." Sicka tersenyum lebar saat berbicara.



"Hari ini aku seneng banget! Abang Satria udah baik sama aku. Semoga aja ini awal dari kebahagiaan ku selama ini."



"Aslinya aku takut ... takut semua ini hanya sesaat saja. Tapi aku berpikir positif bahwa ini saatnya untukku. Untukku mendapat kembali masa dimana semuanya menyayangiku. Semoga cinta akan segera datang kepadaku."


Setelah itu, Sicka kembali masuk ke dalam rumah. Tanpa menyadari bahwa sedari tadi ada yang memperhatikannya dibalik gerbang yang tak tertutup rapat.


"Ya, cintamu akan segera datang. Bersabarlah Sickarina ... "