LOVE For SICKARINA

LOVE For SICKARINA
TWENTY SEVEN



Soal rasaku untukmu, bukan sekedar bualan. Ini adalah rasaku yang paling tinggi dari sekedar teman.


•{ The Protector }•


Sicka tengah membantu teman-temannya mendirikan tenda. Gadis itu sibuk berjongkok dengan palu ditangannya, dia tengah menancapkan pasak ditanah.


Lalu suara sirine terdengar tanda bahwa upacara pembukaan akan segera dimulai sedangkan tenda mereka belum berdiri sempurna. Teman-teman Sicka mulai panik, Sicka yang melihat itupun segera berdiri.


  "Hidayah, Yana, Sinta, Jessi, Sari, kalian ikut upacara pembukaan aja. Kan yang ikut upacara minimal lima kan?urusan tenda biar gue, Kimi sama Naya." mendengar itu lima gadis itu pun segera memakai pramuka lengkap. Setelah itu mereka berlari menuju ke tempat upacara diadakan.


Sicka dan kedua temannya membangun tenda dengan kesusahan. Dan setelah lima menit bertarung dengan tali temali yang dikaitkan dengan pasak, akhirnya tenda sudah berdiri dengan kokoh.


  "Kimi, Naya kalian buat pager sama bersih-bersih diluar tenda. Gue yang atur tempat buat tidur sama barang-barang kalian yang bejibun." Kimi dan Naya mengangguk, mereka tidak keberatan sama sekali kalau Sicka yang mengatur.


Tanpa waktu lama Sicka sudah selesai dengan pekerjaannya. Dia kemudian keluar dari tenda, dia melihat sekeliling. Semua tenda dari kelompok lain sudah berdiri. Semua nampak rapi karena sudah diatur oleh guru pembina pramuka dan para dewan ambalan.


Kimi dan Naya yang sudah selesai membuat pagar yang mengelilingi tenda pun berdiri di sebelah Sicka.


  "Kelas sebelas bahasa satu kan?" Salah satu dewan ambalan datang dengan tangan yang memegang sebuah kertas serta pena.


"Iya." balas mereka serempak.


"Ini kertas absen, nanti setelah upacara selesai suruh tanda tangan dan kumpulin ke tempat ujung deket pos dewan ambalan ya?" Kimi menerima kertas beirisi nama\-nama temannya.


"Oke." Naya menyahut, lalu dewan ambalan itu pergi menuju tenda sebelah.


<•[💙]•>


Malam sudah tiba, dimana upacara api unggun akan dilaksanakan. Sicka yang masih berada di toilet sehabis mandi segera kembali ke tendanya.


"Sicka buruan pake hasduk sama topinya, api unggun mau dimulai!" Sicka yang baru masuk tenda segera menaruh alat mandinya sembarangan dan segera memakai hasduk.


Setelah Sicka selesai, gadis itu dibantu teman-temannya untuk berjalan menuju tempat upacara. Mereka berbaris rapi dengan omelan para dewan ambalan yang mengatur atur.


"Biasa aja napa nggak usah ngegas! Kayak lo nggak pernah salah aja." Yana tersulut emosinya karena gadis itu yang barisnya agak kesamping.



"Udah Yan udah biarin aja." Hidayah mencoba menenangkan emosi Yana.  Sicka yang melihat itu hanya geleng\-geleng kepala, entah kenapa Yana itu tak terlalu suka dengan para dewan ambalan.


Suasana nampak hening, mereka berbaris mengelilingi api unggun yang masih padam berada di tengah-tengah. Hanya ada suara pembawa acara dan para petugas api unggun yang memecah keheningan, angin malam pun tak ketinggalan untuk memberikan rasa dingin yang menelusup ke tubuh.


Sicka berada di baris depan dan hal itu adalah yang disukai gadis itu karena dia suka melihat api unggun yang masih berkobar-kobar. Setelah api unggun itu menyala, semua peserta mulai bertepuk pramuka. Dari cahaya api, Sicka dapat melihat wajah Rion yang berada jauh di depannya yang juga tengah melihatnya.


Rion tersenyum tipis kepada Sicka yang dibalas senyum lebar gadis itu. Bahkan sampai upacara api unggun selesai mereka masih saling melempar senyuman.


Sicka kembali ke tenda bersama temannya untuk berganti baju santai, karena malam ini pentas seni akan dimulai. Dan karena undian yang diambil oleh Sari, mereka tampil di pensi besok Sabtu.


Teriakan satu sama lain memenuhi tenda karena mereka semua berganti di tenda.


  "***** PUNYA KIMI RATA!"


"EH PEA JANGAN LIAT KAMPRET!MADEP SANA ANYING!"


"ADUH ITU TENDANYA JAGAIN DONG YAN!! LO KAN YANG UDAH SELESAI!?"


"EH ***** ***** JAN DIBUKA PEA! GUE MASIH NGANCING KEMEJA GUE!"


"BERISIK DEH KALIAN! TINGGAL GANTI BAJU AJA SUSAH AMAT!"


Setelah itu tawa mereka menggelegar tak menghiraukan kalau suara tawa keras mereka mengganggu sekitarnya.


Dapat didengar suara musik musik pengiring mulai dicoba oleh dewan ambalan. Sicka dan temannya masih santai saja di dalam tenda tak berniat untuk menonton, apalagi hawa dingin di sini sungguh membuat mereka tak ingin keluar dari tenda.


Mereka sibuk menyemil makanan yang dibawa oleh Hidayah dan Sari. Lalu Sicka yang sudah selesai memasak air panas pun membuatkan mereka minuman jahe hangat. Di jauh hari memang sudah diberitahu oleh guru, kalau di sini tidak ada yang berjualan makanan ataupun minuman. Jadi kalau ingin minum yang anget-anget harus bawa kompor sendiri. Tadi saja makan malam mereka harus menunggu lama, karena makanan yang di delivery agak lama sampai di Citamiang ini.


Dengan gelas plastiknya, Sicka meniup niup agar minumannya tak terlalu panas. Begitu juga yang lain. Setidaknya tubuh mereka sedikit menghangat sebelum mereka menonton pensi.


  "Relin," suara itu membuat semua menoleh termasuk Sicka yang dipanggil.


"Eh Onald, ada apa?" Sicka pun berdiri menghampiri Rion yang berdiri di luar pagar tenda Sicka.


"Ikut gue." Sicka memutar bola matanya malas saat mendengar nada perintah dari Rion.


"Yang lembutan dikit kek ngajak gue nya? Datar amat dah!" dengus Sicka namun akhirnya dia pun ikut dengan Rion. Tangan kanannya digenggam oleh Rion, sedangkan tangan kirinya memegang gelas plastiknya.


 


<•[💙]•>


Rion membawa Sicka ke area sekitar tendanya. Disitu ada tempat duduk yang memang sudah disediakan. Lalu Sicka pun duduk disitu.


  "Tunggu sini, gue ke tenda sebentar." Sicka hanya mengangguk, lalu Rion pun masuk ke dalam tenda.


Sicka meminum jahe angetnya sambil melihat orang-orang berlalu lalang untuk mempersiapkan pensi. Ada yang lari-lari dengan membawa kostum, ada juga yang teriak teriak kalau mereka harus segera bersiap untuk tampil.


  "Makan!" tiba-tiba Rion datang sambil menyerahkan semangkuk soto kerbau yang aromanya menggugah selera.


"Wihhh kok lo bisa dapet soto?" tanya Sicka sambil mengambil mangkok itu dari tangan Rion. Cowok itu duduk di sebelah Sicka.



"Temen pada pesen sediri tadi, karena gue udah kenyang, gue kasih ke elo aja. Gue liat tadi lo makan dikit." Sicka yang meniup niup sendok berisi soto itu menoleh ke Rion.



"Kok lo tau gue makan dikit tadi?" Sicka kemudian melahap sesendok soto itu. Matanya masih menatap Rion yang tengah memperhatikannya.



"Gue udah bilang kan kalau gue 'liat'." ucap Rion dengan suara datarnya.


Sicka hanya memutar bola matanya malas lalu melanjutkan makan. Soto kerbau memang terasa pas di lidahnya, apalagi hawa dingin seperti ini.


Rion menepuk kepala Sicka, "Makan yang banyak biar gendut."


  "Ih nggak mau gendut ah, ntar nggak ada yang suka gue lagi." jawab Sicka lalu melahap kembali sotonya.



\*Ngegombal tapi wajahnya datar amat. Dih nggak cocok banget\*! Sicka meringis dalam hati.


Setelah selesai makan Sicka menyerahkan mangkok kosong itu ke Rion. Cowok itupun segera kembali ke tendanya untuk menaruh mangkok dan kemudian kembali lagi.


Mereka duduk dengan hening, sama-sama diam. Keduanya menikmati suasana itu, perlahan tangan Rion mengambil tangan Sicka lalu digenggamnya erat. Saat Sicka menoleh lelaki itu bilang, "biar lo nggak kedinginan."


  "Onald lo nggak mau nonton pensi nya? Itu udah mulai loh!"


"Nggak."



"Kenapa?"



"Pengen disini sama lo."



"Heleh buceeen!"



"Nggak papa kan bucinnya elo."



"Idih kagak mau gue!"



"Mau nggak mau harus mau."



"Pemaksaan itu namanyaaa yeuu!"



"Bodo."


Sicka tertawa dan geleng-geleng kepala, begitu juga Rion. Mereka tertawa tanpa menghiraukan kalau di sebelah tenda Rion adalah tendanya Brandon, dan lelaki itu melihat bagaimana wajah bahagia Sicka saat bersama Rion.


 


"Besok lo di tenda aja, nggak usah ikut lomba. Jangan kecapekan!" Sicka mengangguk, menerima perhatian dari Rion membuat Sicka merasakan hatinya begitu bahagia. Apalagi dia tau kalau Rion memang menyukainya.


"Suka nggak gue perhatiin gini?" tanya Rion yang langsung diangguki. Inilah yang Rion khawatirkan dari Sicka. Gadis ini akan mudah nyaman dan suka ketika mendapat perhatian lebih dan hal itu justru membuatnya menjadi gadis yang mudah dimanfaatkan.



"Cukup ke gue aja, lo jangan suka sama perhatian cowok lain ke elo." Sicka mengernyit.



"Kenapa emang?"



"Gue takut lo disakiti lagi kaya kemaren." Sicka tersenyum tipis mendengar itu. Dia mendongak untuk melihat bintang yang berserakan di langit malam.



"Onald ... Kok kalo gue sama lo, jantung gue langsung deg deg deg kenceng banget ya? Itu cinta atau bukan?" Sicka bertanya sambil memegang dadanya yang berdegup dan matanya masih melihat bintang.


Rion terdiam mendengar pertanyaan itu, dia juga tidak tahu menahu soal cinta. Tapi dia pun seperti itu, jantungnya akan memompa begitu cepat saat tengah bersama Sicka.


  "Kalo gue jawab iya, berarti lo cinta gue?" Rion balik bertanya.


Sicka menunduk malu, entah kenapa pipinya terasa begitu panas. Bahkan menatap Rion pun dia tak berani, bagaimana bisa mulutnya berkata seperti tadi.


Rion terkekeh, "Bukan cuma lo yang ngerasain, gue juga sama setiap gue sama lo." Rion mengangkat dagu Sicka.


Mungkin ini saatnya untuk Rion mengatakan perasaannya kepada Sicka. Tapi kenapa lidahnya terasa kelu dan rasa gugup pun melandanya.


  "Jangan cinta ke cowok lain! Ke gue aja, because i love you." ucapan itu keluar sendiri dari mulut Rion dan setelah mengucapkan itu entah kenapa beban di hatinya terasa terangkat.


Sicka mematung mendengar hal itu, "Kita nggak usah pacaran dan lebih sahabatan aja kaya biasa. Dan lo cukup pahami kalau gue sayang dan cinta cuma ke elo. Gue suka lo yang begini." Rion kembali berujar.


Mata Sicka berkaca-kaca, "Gue suka lo yang manja ke gue. Lo yang gue gendong kalo mau naik ke atas motor, gue suka kekurangan lo Sickarina"


Sicka menangis, dia tak menyangka Rion akan mengatakan hal seperti ini.


Rion menghapus air mata Sicka, "Gue bakal disamping lo saat lo butuh sandaran dan berlindung. Gue bakal cinta dan sayang sama lo gimanapun keadaan lo, plis lo jangan mikir kalau gue bakal sesaat sayang sama lo."


  "Se-sejak kapan lo suka gue?" tanya Sicka dengan mata sembabnya.


"Bukan suka tapi cinta. Sejak kejadian kantin waktu lo dibully." jawab Rion dengan sungguh\-sungguh.



"Lo nggak bohong kaya Brandon kan?" Rion menggeleng.



"Nggak akan."


Rion bisa melihat bagaimana raut wajah Sicka yang terlihat senang, "Mulai sekarang kalau ada apa-apa lo bisa bilang ke gue. Kalau keluarga lo jahat ke elo atau siapapun bilang ke gue."


Sicka mengangguk. Jadi seperti inikah rasanya dicintai? Dia tak menyangka akan mendapat cinta oleh Rion.


I give you love Sickarina Aurelin. I love you more than you love me. Trust me. Rion mengucapkan itu didalam hatinya, cukup dia dan Tuhan yang tau.