
**Cahayamu semakin redup.
Aku mohon jangan menghilang.
Karena kau adalah sebuah keberadaan yang luar biasa.
Ayo kita bersinar!
•{ The Uknown** }•
( BTS – Mikrokosmos )
Waktu sudah berjalan satu minggu dan Sicka belum menampakkan diri di sekolah, hal itu membuat Kimi uring-uringan. Kimi sudah sering berkunjung ke rumah Sicka tapi keluarganya selalu beralasan bahwa Sicka tak ingin bertemu siapa-siapa.
Kimi menoleh ke samping dimana Sicka sering duduk bersamanya hampir tiga tahun lamanya. Dia yang tengah mengerjakan ulangan bahasa Perancis menjadi tidak fokus karena biasanya dia dan Sicka sering berbisik-bisik untuk mendiskusikan jawaban. Rasanya benar-benar hampa.
Kimi harus bertindak. Dia harus menemui San nanti setelah istirahat di IPA satu. Ya dia harus, demi mengetahui keadaan sahabat yang dia sayang itu.
"Oke cukup waktu sudah habis. Jangan ada yang megang pena atau nanti nilai kalian saya kurangi." Seruan dari Pak Narto selaku guru bahasa Perancis membuat satu kelas mendengus.
"Terima kasih dan untuk nilainya bapak kasih besok saat ada pelajaran Perancis sekalian kita koreksi sama\\-sama. Assalamualaikum warahmatullah, Au revoir!!"
"WA'ALAIKUMSALAM, AU REVOIR!!" jawab satu kelas serempak.
Kimi pun langsung berdiri dan berlari menuju gedung IPA tepatnya kelas XII IPA 1.
<•[💙]•>
Kimi memasuki kelas San dengan wajah sangar khas miliknya tanpa menghiraukan tatapan dan cemoohan tak suka dari warga kelas itu.
Kebetulan sekali San dan temannya belum pergi ke kantin. Kimi menghampiri meja San dan langsung menggebrak meja San.
BRAKK
"Gue tanya baik-baik sebelum gue bongkar semuanya. Dimana Rin?" Kimi mendekatkan wajahnya ke San lalu menekan setiap ucapan yang dia tujukan ke San.
San menelan ludahnya susah. San sulit untuk menjawab Kimi apalagi tatapan mengintimidasinya seolah menjelaskan bahwa dia tak main-main untuk mengungkapkan semuanya.
San menoleh ke kanan dan kiri, semua temannya menatap ke arahnya dan Kimi. Dia pun berdehem dan mencoba membalas tatapan Kimi dengan pandangan sombongnya seperti biasa.
"Ya mana gue tau dia dimana? Emang dia siapa gue sampe dimana dia gue harus tau?" balas San dengan suara agak lantang membuat teman sekelasnya penasaran apa yang mereka bicarakan.
Kimi mengepal tangannya erat, ingin sekali dia menghajar cewek di depannya ini andai dia tak ingat dengan janjinya kepada Sicka untuk tak menyakiti San apapun yang terjadi.
San tersenyum sinis, "Udah nggak ada keperluan kan? Silahkan keluar, karena temen-temen gue nggak nerima orang kayak lo!"
Sudah cukup kesabaran Kimi. Sudah habis untuknya bersabar menghadapi San. Kimi langsung mencengkram erat kerah San membuat semua yang melihat itu memekik keras.
Bahkan Brandon dan teman-temannya yang tadinya hanya diam menonton pun ikut terkejut dengan tindakan Kimi. Brian yang ingin menghampiri Kimi segera ditahan oleh Alex.
"Lo jangan ikut campur dulu. Cewek kalo lagi kayak gitu ganasnya ngelebihin cowok yang lagi tarung lawan sepuluh orang!" ucap Alex yang diangguki oleh Fahri, Fajar, dan Brandon.
"Udah cukup gue diem selama ini. Gue nanya lo baik\-baik, tapi lo yang mancing gue buat bongkar semuanya." desis Kimi tajam dan San meronta mencoba melepaskan diri, dia bahkan menatap temannya untuk meminta bantuan tapi temannya terlalu takut dengan Kimi yang memang jago bela diri.
"Gue tau ada yang nggak beres di rumah lo. Sekarang jawab dimana Rin, HAH?" Kimi menjerit di akhir tanyanya.
"Sshh ... Lepassss!!" San seolah enggan menjawab.
"SANDRIANA AURALIN, DIMANA SICKARINA ADEK LO YANG NGGAK LO ANGGEP HAH?" San membulatkan matanya begitu pula yang lainnya. Mereka hampir tak percaya dengan apa yang didengar.
"SEBEGITU NGGAK PEDULINYA ELO SAMA ADEK LO ITU? LO BENER BENER SETAN \*\*\*\*\*\*\*\* YANG PERNAH GUE KENAL!"
BRAK
Kimi mendorong San hingga gadis itu menabrak meja dibelakangnya dan terjatuh. San mendesis menahan sakit sekaligus malu, tapi ada yang lebih membuatnya malu yaitu terbongkar sudah semuanya.
Dia menutup matanya sebentar lalu mengepalkan tangannya kuat dan berdiri menatap Kimi balik.
San mendorong Kimi balik lalu berucap, "EMANG KENAPA KALO GUE NGGAK PEDULI? BUKAN URUSAN ELO KAN?DAN LO MAU TAU DIA DIMANA?KENAPA DIA NGGAK SEKOLAH SATU MINGGU INI?" San diam lalu tersenyum devil.
"SI CACAT ITU DIRUMAH SAKIT JIWA! DIA GILA! HAHAHA ... DIA GILA KIM! SAHABAT LO NGGAK WARAS! MENDING LO JADI SAH–"
PLAKK
Suasana IPA satu begitu nampak ramai dengan orang yang mengerubung tapi kebanyakan dari mereka diam karena baru kali ini mereka melihat Kimi menangis meraung-raung.
Brandon terkejut bukan main mengetahui hal itu, ternyata Sicka membohonginya kalau dia anak pembantu. Dia tak menyangka kalau Sicka adalah orang yang paling baik yang pernah dia temui, rela mengorbankan dirinya sendiri demi kebahagiaan orang lain.
Kembali dengan Kimi yang kini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kimi menghapus air matanya kasar tapi air matanya masih saja keluar.
"Kenapa? Lo baru tau ya kalo sahabat lo itu nggak waras selama ini?" San masih saja terkekeh dan seolah membiarkan dirinya terlihat antagonis dimata teman-temannya.
"NGGAK MUNGKIN DIA GILA!! RIN ITU SEHAT BAIK BAIK AJA. LO JANGAN NGARANG YANG NGGAK BENER!" Kimi meneriaki San tepat di wajahnya.
San sudah geram, "BUAT APA GUE BOHONG, HAH? UNTUNGNYA BUAT GUE APA? YANG ADA DIA TUH NAMBAH AIB KELUARGA GUE AJA TAUK!"
Kimi benar tak habis pikir dengan San, "Lo tau San? hiks ... hiks ... Rin udah banyak berkorban buat lo. Hiks ... dia rela mati buat lo. Dan lo tau kenapa lo bisa hidup sampe saat ini setelah kecelakaan waktu lo kehabisan darah dua tahun lalu?" Kimi menyeka air matanya.
San diam, dia ingin mendengar kelanjutan ucapan Kimi.
"Rin yang udah donorin darahnya buat lo tanpa sepengetahuan siapapun. Bahkan dia juga rela donorin ginjalnya buat elo saat tau kalau ginjal lo yang kanan juga ikut rusak akibat kecelakaan lo itu. Lo pasti nggak tau kan? hiks ... hiks ..."
San menegang, tanpa sadar dia memegang pinggang bagian kanannya dimana ginjalnya berada.
"Lo nggak tau gimana dia selalu ngelindungi elo. Ralat bukan cuma elo, tapi keluarga lo. SEMUA DIA LAKUIN AGAR KALIAN BAHAGIA!! TAPI APA BALASAN KALIAN HAH?" Kimi mendorong tubuh San yang membuat gadis itu terjatuh lagi.
"Kalau gue jadi Rin, lebih baik gue mati aja daripada hidup sama keluarga iblis kaya kalian!!" Setelah itu Kimi melangkah keluar dengan tangisnya yang tak berhenti dan dikejar oleh Brian.
San benar-benar lemas, lututnya seolah lumpuh seketika mendengar itu. Dia memukul dadanya yang terasa sesak, lalu perlahan isakan keluar dari mulutnya hingga menjadi tangisan yang keras.
Temannya tidak ada yang ingin mendekat, bagi mereka mengetahui hal itu adalah suatu kepuasan bagi mereka. Dan karena mereka juga tak ingin ikut campur dengan urusan San.
Brandon yang melihat San menangis seperti itu pun mendekat. Sebenarnya San adalah perempuan yang baik tapi entah alasan apa dia menjadi setega itu dengan Sicka.
Brandon memeluk San yang menangis kencang, "Sssttt ... Lo boleh nangis tapi nggak disini, ikut gue." Brandon segera menarik San keluar dari kelas yang masih penuh dengan orang-orang yang penasaran.
<•[💙]•>
Kabar bahwa Kimi yang membuat keributan di kelas IPA 1 sudah menyebar dengan cepat ke penjuru sekolah bahkan sampai ke telinga Rion yang tengah berkumpul dengan teman-temannya.
Semua temannya diam, ternyata ini alasannya kenapa Rion yang semula dingin makin menjadi orang yang tak tersentuh dan penampilannya pun tak serapi biasanya.
"Kalian mau ikut jenguk Relin?" Ken, Leo, dan yang lain terkejut saat Rion akhirnya membuka suara setelah lamanya dia mogok bicara.
"Dia nggak gila, dia cuma lagi terguncang karena suatu hal." lanjut Rion dengan matanya yang menerawang kosong. Bahkan nasi goreng yang sering dia pesan pun dibiarkan dingin.
Rion kemudian menatap mereka tajam, "Lo semua ngerti ucapan gue, kan? Dia nggak gila!"
Ken, Leo, dan yang lain mengangguk, mereka tak ingin menyinggung perasaan Rion saat ini. Jadi mereka pun menyahut kalau mereka akan ikut nanti.
<•[💙]•>
Rion dan teman-temannya kini sudah berada di mana Sicka tengah berteriak sambil menangis keras tak lupa meronta-ronta saat dirinya ingin di ikat di ranjang.
Kimi yang melihat itu tak sanggup, dia tak benar-benar tak sanggup. Tadi saat dia di ajak ke kantin oleh Brian dia mencuri dengar kalau Rion akan menjenguk Sicka, maka itu dia langsung menyeruak untuk ikut.
Mereka semua melihat betapa hancurnya Sicka saat ini. Sicka yang terakhir kali mereka lihat masih memancarkan senyumnya kini hilang terganti rasa takut, marah yang menjadi satu.
Setelah mendapat suntikan penenang yang kini mulai bereaksi akhirnya membuat Sicka berhenti meronta-ronta. Sicka akhirnya tenang dan kini berganti diam dengan tatapan yang terlihat kosong.
"Sicka cantik, temanmu ingin menjengukmu. Jadi kamu harus tampil rapi, oke? Kamu jangan histeris lagi ya?" ucap suster yang merawat Sicka.
Dokter pun melepas ikatan Sicka lalu mereka memindahkannya di kursi roda. Setelah itu suster membawanya keluar menemui teman-teman Sicka.
Sicka dituntun menuju taman di rumah sakit itu, taman ini adalah kesukaan Sicka ditempat ini. Dia sering merengek meminta suster untuk membawanya kesini bahkan malam sekalipun.
"Nah mbak tinggal dulu ya? Kamu sama temen-temen nggak papa kan?" Sicka mengangguk pelan.
Suster itu tersenyum lalu menghadap ke teman-teman Sicka yang sedari tadi membuntutinya, "Kalian kalau mau ngobrol sama dia harus halus, jangan ngebentak, nanti dia histeris lagi kaya tadi." Peringatnya sebelum meninggalkan mereka.
Kimi langsung memeluk Sicka dari samping sambil terisak, "Rin, hiks ... hiks ... Kangen elo ..."
Sicka hanya diam dengan tatapannya yang kosong, tapi dia masih mendengar apa yang diucapkan oleh Kimi.
"Lo makin rata hiks ... nggak enak dipeluk!" canda Kimi mencoba membuat Sicka bersuara.
"Lo masih inget gue kan, Rin? Si anak onta yang sering bikin lo darah tinggi waktu ngajarin gue masak yang nggak bisa-bisa. Gue kangen lo ajarin masak Rin, gue kangen lo ketawa kenceng pas liat gue nyungsrup di sawah waktu boncengin lo. Gue kangen semuanya." Brian yang ikut menemani Kimi ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Kimi, tak hanya Brian tapi Rion dan yang lain juga merasakan.
Dari semua yang sudah mengenal Sicka, hanya Kimi yang paling lama bersama Sicka. Jadi mereka tahu betapa sedihnya Kimi saat ini.
"Mereka pasti nyesel senyesel\-nyeselnya udah jahatin lo, Rin. Semoga apa yang lo alami selama ini akan mendapat balasan yang bikin lo bahagia nanti. Dan gue tetep bakal jadi sahabat sekaligus keluarga buat lo."
Selanjutnya Kimi terus mengoceh menceritakan suasana kelas saat Sicka tak masuk ke sekolah meskipun tak dibalas oleh Sicka.
Sekarang Sicka yang dia jaga sudah hancur karena keteledorannya yang tidak bisa dia jaga dengan baik. Kimi benar-benar merasa bersalah untuk hal ini. Dan untuk menebusnya, dia akan selalu ada untuk Sicka sampai Sicka sembuh. Entah itu besok, lusa, tahun depan ataupun bertahun-tahun. Inilah kekuatan persahabatan yang sebenarnya.