
**I have died everyday waiting for you. I'll love you for a thousand more.
•{ The Protector* }•
(Cristina Perri – A Thousand Years*)
Lelaki itu berdiri di depan cermin rias dalam kamarnya. Tangannya membenarkan dasi yang belum terlilit sempurna. Sebagai seorang direktur utama di perusahaan yang dia naungi dia harus tampil rapi dan menjadi contoh yang baik bagi para bawahannya.
Dia Rionald.
Rion sedikit tersenyum tipis di depan cermin ketika melihat penampilannya yang sudah sempurna. Tetapi senyuman tipis itu tak bertahan lama, dia tak ingin tersenyum lagi. Baginya melihatnya tersenyum seperti itu adalah hal memuakkan sekarang.
Rion berbalik dan berjalan keluar dari kamarnya. Saat itu juga dia berpapasan dengan adiknya Rafisqy yang baru saja bangun, terlihat dari penampilannya yang masih berantakan dan tercetak air liur di sudut bibirnya.
"Weh si babang udah rapi aje. Mau ngantor ye? Hoammm," Rafisqy menguap lebar sambil menggaruk kepalanya.
Plak
"Adohh!! Lo apa-apaan sih Bang!!! Sakit ****!" Rafisqy menatap tak suka pada Rion yang hanya memasang wajah dingin setelah menggeplak kepalanya.
"Emang pantes pengangguran kayak lo di geplak." sahut Rion dingin dan terdengar nyelekit di hati Rafisqy.
Rafisqy menatap marah Rion, "Heh sembarangan banget itu mulut lo, Bang! Gue bukannya pengangguran, tugas gue sebagai editor emang udah selese. Terus gue dikasi cuti sama bigboss karena udah kerja keras selama dua bulan! Ngerti nggak lo?"
Rion mengendikkan bahunya acuh, "Buang-buang waktu aja." Dia kemudian melanjutkan langkahnya untuk turun ke bawah sarapan.
"Anjeng banget Abangke!" Saking kesalnya Rafisqy, dia pun melempar sandal berbulu yang dia pakai ke arah Rion namun tak mengenai sasaran karena Rion yang mengelak dengan cepat.
Sesampainya di bawah, dia melihat Mamanya tengah menghidangkan kopi untuk Papanya yang menatap penuh cinta pada sang Mama.
Dia berhenti sejenak untuk mengamati kedua orangtuanya yang selalu terlihat romantis hingga kini. Selama Rion tinggal di rumah ini, Rion tak pernah melihat Mamanya menangis karena sang Papa. Mamanya selalu tersenyum dan bahagia karena memiliki sang Papa.
Dalam hati dia tersenyum iri. Kapan dia bisa seperti itu? Apakah dia benar-benar akan menjadi seorang lelaki yang menyedihkan dan hidup tanpa cinta yang selalu dia harapkan?
"Loh kok malah berdiri aja disitu?" Silvi sang Mama yang menyadari kehadiran anaknya itu langsung menghampiri Rion dan menggeretnya duduk di kursi depan meja makan.
Silvi mempersiapkan sepiring nasi beserta lauknya lalu dia hidangkan di depan Rion.
"Makasih, Ma." Rion tersenyum tipis lalu setelah itu dia mulai memakan makanannya.
Sendra sang Papa hanya bisa menatap dalam diam Rion yang makin terlihat tak tersentuh semenjak kepergian gadisnya.
"Rafisqy mana, Bang? Masih tidur ya dia?"
Rion menggeleng dan menelan makanannya, "Udah bangun," Rion pun lanjut memakan makanannya.
"Gimana soal perkembangan bisnis kulinermu, Bang? Lancar?" Sendra mengajak ngobrol Rion.
"Lancar." balas Rion.
Sendra menghela nafas panjang, "Kamu udah gede sekarang, Bang. Umur kamu udah dua puluh tiga, kapan kamu mau ngasi cucu Papa dan Mama? Emang kamu nggak pengen punya istri yang bisa ngurus segala kebutuhan kamu?"
Rion meletakkan sendoknya agak kasar. Dia menatap Sendra dingin, "Papa udah tau jawabannya." Rion kemudian meminum air putih yang disediakan Silvi.
Rion beranjak dari duduknya, dia memakai jas yang tadi sempat dia tenteng. Setelah itu dia pamit kepada Papa dan Mamanya.
"Rion berangkat sekarang. Assalamualaikum."
"Mau Papa kenalkan dengan anak temen Papa?"
Rion berhenti sebentar tanpa menoleh, "Silahkan, tapi jangan kaget nanti denger kabar Rion tinggal nama aja." Setelah itu Rion berlalu pergi dari hadapan orang tuanya.
<•[💙]•>
Selalu saja, Papanya itu mengatakan akan menjodohkannya dengan anak teman-temannya, padahal Papanya tahu kalau Rion tak suka diperlakukan seperti orang yang tidak laku, juga ada alasan kenapa dia sampai sekarang tak ingin memiliki kekasih.
"Arghh ..." Rion mengacak\-acak rambutnya hingga berantakan. Dia menutup kembali stofmap yang hendak dia buka. Rion menyangga kepalanya merasa pusing, pusing dengan apa yang dia alami.
Tatapannya teralih ke arah pigura kecil yang ada di mejanya yang menampilkan foto seorang gadis yang tengah mengacungkan jempolnya. Foto yang diambil lima tahun lalu.
"Sickarina ..." gumamnya pelan. Tangannya mengambil pigura kecil itu, lalu memeluknya dengan erat. Rion memejamkan matanya dan kembali memutar memori ketika dia tengah bersama Sicka.
Setetes air mata jatuh di atas meja, Rion menangis. Selalu seperti ini, Rion mencoba mengobati rindunya dengan memeluk foto Sicka dan mengingat kebersamaan singkat bersama Sicka.
"Relin, I miss you so bad ... Kembalilah dengan cepat."
Ruangan itu yang selalu menjadi saksi bagaimana air mata Rion dan isakannya terlihat dan menjadi bukti bahwa Rion selalu menanti kehadiran Sickarina, gadisnya.
<•[💙]•>
PRANG
Rion tak sengaja menyenggol gelas hingga pecah, kini dia menjadi pusat perhatian sesaat karena ulahnya.
"Maaf Mbak, saya tidak sengaja, nanti saya ganti kerugiannya."
Seorang pelayan yang baru saja meletakkan pesanan Rion pun mengangguk, "Nanti saya akan bilang ke atasan saya. Kalau begitu saya permisi, Pak. Saya akan membuatkan yang baru."
Rion mengangguk sekali sebagai jawaban.
"Lo makin terlihat sadboy banget, Yon. Ckckck, kawin sono kawin! Ga kuat gue liat muka lo makin datar aja kayak nggak pernah dikasi jatah istri."
Rion menatap tajam Ken, saat ini memang mereka tengah berkumpul untuk quality time di tengah padatnya pekerjaan mereka di cafe.
Leo hanya geleng-geleng kepala melihat Ken yang tak pernah absen menggoda Rion atau sengaja membuat Rion kesal demi bisa merubah raut wajah Rion agar memiliki ekspresi selain ekspresi datar dan dingin.
"Nggak mempan Bang, nggak mempan tatapan tuh mata ke gue. Gue udah kebal sama tatapan lo." Ken tertawa lalu dia meminum es kopinya.
"Tau nggak Le, tadi gelas pecah itu kayak hati Abang Rion. Kira\\-kira simpenan lo ada yang cocok kagak buat Bang Rion ini?"
Plak
Plak
Ken memandang sinis kedua temannya sambil mengusap kepala dan pipinya bergantian.
"Gue bukan fuckboy kawan! Sembarangan aja lo bilang simpenan! Gue bakar juga tuh mulut lo!" ucap Leo kesal.
Sedangkan Rion hanya menyeringai sinis ke arah Ken.
"Andai lo berdua kacung gue, udah gue pecat lo pada! Kagak ada sopan\-sopannya sama gue." balas Ken.
"Najis!" umpat Rion sambil menggeplak kembali kepala Ken.
"Lo sendiri aja ngenes gitu, Ken, segala mau jodoh\-jodohin orang. Hahahaha," Leo menertawakan Ken, "lagian pacar orang udah tau nggak cinta sama lo, masih aja ditungguin. \*\*\*\*\*\* emang!" lanjut Leo.
"HEH!" Ken beranjak dari duduknya lalu kemudian menjepit kepala Leo dengan tangannya.
"Mau gue bunuh lo?"
Rion tertawa pelan menyaksikan pertengkaran sahabatnya yang tak ingat dengan umur itu. Bertemu dengan kedua sahabatnya adalah obat kedua bagi Rion ketika merindukan Sicka.