LOVE For SICKARINA

LOVE For SICKARINA
TWENTY ONE



**Aku kan menunggu.


•{ Anonimoûs** }•


Rion sedari tadi menunggu Sicka di depan mobilnya dan menyenderkan tubuhnya disitu. Saat melihat Sicka keluar dari rumah Brandon, dia menegakkan tubuhnya dan menunggu Sicka yang mendekat.


Tapi ada yang aneh dari Sicka, Rion dapat melihat dengan jelas kalau rambut dan dress nya basah kuyup. Gadis itu juga nampak murung, sebenarnya apa yang baru saja terjadi?


Rion menatap Sicka yang sudah berdiri di depan Rion memasang senyum lebar di wajahnya. Rion tau senyum itu, gadis ini berusaha menyembunyikan sesuatu lewat senyum lebarnya.


  "Astaga! Kenapa lo basah kuyup gini, Lin?" pekik Rion yang ternyata dugaannya benar. Dia segera mengambil jaket yang berada di dalam mobil. Lalu secepat kilat dia kembali lagi dan memakaikan jaketnya kepada Sicka.


Rion menatap Sicka yang kini malah menundukkan kepalanya. Benar saja, pasti sudah terjadi sesuatu di dalam sana tadi. Ah seharusnya dia ikut masuk saja bukannya menunggu di depan seperti ini yang membuatnya tidak tau apa yang sedang terjadi kepada Relinnya.


  "Lo kenapa? Ada yang nyakitin lo?" tanya Rion dengan nada pelan, dia juga memegang kedua bahu Sicka dan sedikit menundukkan tubuhnya yang tinggi.


Tak ada jawaban dari Sicka, gadis itu masih menundukkan kepalanya membuat Rion menggeram lalu mengangkat dagu Sicka hingga menatap matanya.


 


"Onald ..." Suara Sicka mengecil.


"Sakit Onald ..." Sicka menyentuh dadanya yang terasa sakit, nyeri dan terasa sesak. Air mata juga jatuh dari mata belo Sicka.


Rion terkejut melihat air mata Sicka yang jatuh, hatinya terasa sakit saat melihat Sicka menangis seperti ini. Dia tidak rela Relinnya harus terus menangis.


Rion membawa Sicka kepelukannya, mengelus punggung dan rambut Sicka dengan lembut. Sicka menangis terisak dan makin menjadi tangisannya. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rion.



 


"I am here if you need a hug." Rion mencoba menenangkan Sicka yang tangisnya malah semakin pecah. "Can you tell me what happen with you?" Rion benar-benar khawatir dan merasa sangat ngilu mendengar tangisan dari Sicka.


"Br\-brandon, Nald ... hiks hiks di\-dia mutusin gue tadi ..." Wajah Rion mengeras mendengar nama lelaki itu menjadi penyebab Relinnya menangis.



"Hiks ... dia terpaksa ... dia cuma hiks dare dari Alex hiks.. pacaran sa\-sama gue ..." Tangis Sicka kembali pecah setelah menjelaskan dengan tergugu efek dari tangisannya.


Brandon. Lelaki itu membuat Rion muak, dia akan membalaskannya nanti untuk Sicka. Tunggu saja!


  "Pulang?" Sicka menggeleng saat ditanya Rion, lelaki itu harus bisa berpikir keras bagaimana caranya membuat gadis ini tak menangis lagi.


Perlahan dia mengurai pelukannya, tangannya terulur menghapus air mata Sicka. "Jangan nangis, gue nggak suka! Dia nggak pantes lo tangisin." Sicka hanya mengangguk namun isakan nya masih belum juga reda.


Rion menangkup wajah Sicka, senyum tipis terukir di wajah Rion saat melihat wajah sembab Sicka. Dia nampak menggemaskan sekali. "Mau kue?" reflek Sicka mengangguk, keadaan apapun dia tidak akan menolak bila ditawari kue.


Rion makin mengembangkan senyumnya, "Oke kita beli dan lo nggak boleh nangis lagi. Oke?" Sicka tersenyum lalu mengangguk.


  "Besok pulang sekolah ke Dufan mau? Katanya besok pulang pagi." tawar Rion.


"Kalau main salju aja gimana?" pinta Sicka dengan wajah memelas, rasa sedihnya seketika hilang berganti dengan rasa senang karena Rion.



"Boleh asal bikin lo nggak sedih." Rion tersenyum sembari menjepit hidung Sicka. Gadis itu tertawa lebar lalu memeluk Rion erat.



"Huaaaaa makasih ya Onald ... Eh tapi gue lagi bokek Nald," Sicka menyengir.



"Kode nih?" Rion menatap jahil Sicka dan Sicka mengangguk mantap.



"Jadi, besok kalau gue mau makan dan beli apapun lo yang beliin ya?" Rion tertawa, kali ini tawanya cukup keras. Dan hal itu memiliki efek buruk untuk jantung Sicka yang tiba\\-tiba berdetak.



"Boleh aja sih, tapi ..." Rion menggantung kalimatnya lalu menunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuk. Senyum jahil menghias di wajah lelaki itu.


Sicka yang mengerti maksud Rion langsung menabok lengan cowok itu cukup keras. "Dasar genit."


  "Canda Relin," Rion memperlihatkan jari telunjuk dan tengah yang berbentuk huruf V.


Sicka mengernyit.


  "Lo manggil gue apa? Relin?" Rion mengangguk.


"Gue boleh manggil lo Relin kan?Biar beda sama yang lain." Sicka nampak menimang\-nimang. Namanya tak buruk juga, untuk orang terdekatnya 'Rin', teman sekelasnya 'Karin', dan dari Rion 'Relin'. Sicka pun mengangguk.



"Oke nggak buruk juga."


<•[💙]•>


Sicka tiba dirumah sekitar jam setengah sepuluhan dan rumahnya juga belum terlalu sepi. Sicka masuk ke dalam rumah dengan menenteng plastik berisi coklat cake kesukaannya dan sudah menjadi kebiasaannya bila moodnya jelek seperti tadi dia harus siap sedia makanan itu di kulkas.


Saat dia melewati ruang tengah yang terdapat kedua abangnya tengah menonton sinetron kali ini tak menyapa seperti biasanya. Moodnya masih belum terlalu baik, karena ingatan kejadian tadi masih terlintas di kepalanya.


Satria dan Satya saling memandang seperti mengatakan, 'tumben tuh anak.' Lalu keduanya mengendikkan bahunya acuh seolah tak peduli. Mereka kembali fokus menonton tv kembali.


  "Non beli cake emang lagi nggak mood ya?" Suara dari Bi Sum membuat Satria dan Satya menoleh dimana Sicka akan menaiki anak tangga dan di belakangnya Bi Sum membawa nampan beirisi cake dan jus alpukat menyusul.


"Iya Mam, aku lagi nggak mood banget. Rasanya pengen nangis tapi Onald nyuruh buat aku nggak nangis. Katanya lelaki kaya dia nggak pantes ditangisi." balas Sicka yang diangguki Bi Sum



"Padahal mukanya kayak orang baik kan ya, dia sopan gitu tapi malah nyakitin Non. Awas aja kalo sampe ketemu Mami, biar mami tendang anunya." Mendengar itu tawa Sicka meledak.



"Udah mam biarin aja haha ..." Setelah itu Sicka dan Bi Sum hilang dari pandangan Satria dan Satya.


Satria menatap kembarannya ini lalu Satya pun sama ikut menatap. "Dia siapa?" Satria membuka suara.


  "Dan Onald juga siapa?" Satya balik bertanya.


"Tauk dah nggak peduli gue, bodoamat sama tu anak. Gegara dia gue sama Fani putus." Satya melempar bantal ke kembarannya ini.



"Lo \*\*\*\*\* apa \*\*\*\*\*\* si Sat? Udah jelas emang Fani nggak pantes buat lo, masih aja nggak terima. Hadeh kembaran gue emang super super \*\*\*\*\*!" Satya geleng\-geleng kepala.


Satya menyeringai, "Gue tau seluk beluk cewek lo sebelum lo kenal dia. Tadinya gue mikir lo bakal nyadar kalo Fani cuma manfaatin lo, tapi seperti yang gue bilang tadi. Lo ****** en *****!"


Satria menepuk mulut kembarannya itu tak terima dikatai seperti itu, "Nggak usah ngatain gitu juga kali Sat! Sialan lo!"


  "Lo juga nggak usah nepuk mulut gue ******!! Sakit ***** kena sariawan gue!" Sontak saja tawa Satria meledak.


"Pantes aja lo lebih banyak diem, ternyata sariawan bwahahhaha ... ngakak \*\*\*\*\*\*\*!!" Satya hanya memutar bola matanya malas. Selalu saja seperti ini dengan dia yang berakhir di tertawakan oleh Satria.


<•[💙]•>


Sicka menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana rumah juga sudah sepi dan bisa dipastikan bahwa mereka sudah tidur. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala saat mengingat San yang tiba-tiba masuk kamarnya hanya untuk tertawa bahagia atas kejadian memalukan di rumah Brandon tadi.


Kantuknya malam ini entah hilang kemana, dia tidak bisa tidur sama sekali. Kamarnya yang gelap dan hanya disinari cahaya bulan yang masuk lewat jendela itu Sicka mengedarkan pandangannya. Matanya jatuh pada gitar yang terletak di sudut kamarnya, perlahan dia turun dari kasurnya untuk mengambil gitar itu.


Sicka kembali duduk di tepi kasur dengan gitar di pangkuannya. Mungkin dengan menyanyi sesuai apa yang hatinya rasakan akan membuat kantuknya hilang. Perlahan jari jemarinya mulai memetik senar dan melantunkan lagu milik Jorja Smith- Don't watch me cry.


*Oh, it hurts the most 'cause I don't know the cause


Maybe I shouldn't have cried when you left and told me not to wait


Oh, it kills the most to say that I still care


Now I'm left tryna rewind the times you held and kissed me back


I wonder if you're thinkin' "Is she alright all alone?"


I wonder if you tried to call, but couldn't find your phone


Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine


A moment in time, don't watch me cry


A moment in time, don't watch me cry


I'm not crying 'cause you left me on my own


I'm not crying 'cause you left me with no warning


I'm just crying 'cause I can't escape what could've been


Are you aware when you set me free?


All I can do is let my heart bleed


Oh, it's harder when you can't see through the thoughts


Not that I wanna get in, but I want to see how your mind works


No, it's harder when they don't know what they've done


Thinking it's better they leave, meaning that I'll have to move on


Oh, I wonder if you're thinkin' "Is she alright all alone?"


I wonder if you tried to call, but couldn't find your phone


Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine


A moment in time, don't watch me cry


A moment in time, don't watch me cry


I'm not crying 'cause you left me on my own


I'm not crying 'cause you left me with no warning


I'm just crying 'cause I can't escape what could've been


Are you aware when you set me free?


All I can do is let my heart bleed*


Sicka menghapus air matanya yang mengalir di pipinya. Dia pun bangkit lalu menyenderkan gitarnya di samping nakas. Setelah itu dia membaringkan tubuhnya ke kasur lalu memejamkan matanya.


Tanpa Sicka ketahui ada Satya yang mengintip di celah pintu kamar Sicka yang tak tertutup sempurna. Lelaki itu mematung mendengar suara Sicka dan melihat air mata Sicka jatuh.


Dia tak pernah tau kalau adik kecilnya itu pandai memainkan alat musik petik itu. Dan entah kenapa hatinya bergetar, kakinya tiba-tiba menuntunnya masuk kedalam kamar Sicka. Menghampiri Sicka yang sudah tidur lelap.


Satya duduk di samping Sicka yang tidur miring. Matanya mengamati Sicka, adik kecilnya ini jauh dari kata baik-baik saja. Tubuhnya kurus, matanya sembab karena habis menangis.


Lalu entah dorongan dari mana Satya menyentuh mata Sicka yang tertutup, mengelusnya pelan dan dilanjutkan dengan mengecup kening Sicka.


  "Ngapain lo Sat?" Satya segera berbalik dan menatap tajam Satria yang sudah berdiri disampingnya.


"Sssttt ... lo nggak liat dia tidur?Jangan bangunin dia!" desis Satya yang diangguki malas oleh Satria. Lelaki itu berjongkok di depan Sicka. Tangannya juga melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Satya.



"Gue bisa nebak dia lagi patah hati." ujar Satria yang di angguki oleh Satya.



"Kali ini lo mau ngapain tuh cowok?" tanya Satria kepada Satya. Meskipun mereka menunjukkan rasa tak peduli, tapi hati mereka merasa tak terima adik kecilnya ini dibuat sakit hati.



"Emm kayaknya gue ga perlu bertindak, dia udah punya pelindung sendiri." jawab Satya dengan nada pelan.


Satria menatap wajah damai Sicka dalam-dalam, seketika penyesalan muncul. Selama ini dia tak pernah berbuat baik kepada Sicka, tapi apa boleh buat. Sicka kecil yang dia kenal dulu sedikit membuatnya kecewa dengan kejadian dimana San mengalami kecelakaan. Meskipun dia tau bahwa anak kecil belum tau apa-apa pada saat itu.


  "Lo udah maafin Rin, Sat?" tanya Satya yang sedari tadi memandangi Satria. Cowok itu mengangguk.


"Hanya saja rasa kecewa itu masih sedikit ada, dan gue butuh waktu buat bener\-bener nerima dia kembali." Satya paham itu, diapun sama seperti Satria. Hanya waktu yang tau semuanya, kapan mereka semua akan berkumpul kembali dengan keadaan yang benar\-benar baik.


Kedua lelaki itu terkejut melihat air mata Sicka yang keluar dari mata tertutup Sicka. Lalu isakan kecil muncul dari mulut gadis itu.


  "Aku ... takut ..." gumaman itu keluar dari mulut gadis itu.


Apakah selama ini Sicka selalu seperti itu saat tertidur? Sungguh Satria dan Satya miris melihatnya.


  "Maaf dek, untuk saat ini gue masih belum bener-bener nerima lo jadi adik kecil gue lagi." gumam Satria lalu lelaki itu beranjak keluar dari kamar Sicka meninggalkan Satya yang masih di situ.


"Gue juga minta maaf dek, gue pun sama seperti Satria ... Maaf. *Have a nice dream little girl*," Satya mengecup kening Sicka lagi, lalu keluar dari kamar Sicka.