LOVE For SICKARINA

LOVE For SICKARINA
EKSTRA PART



**Rumah tak perlu mewah, sederhana saja asal penuh cinta dan kasih sayang.


- Sickarina dan Rionald** -


Gugup dan tubuhnya panas dingin itulah yang dirasakan oleh Rion saat ini. Apalagi berhadapan dengan Afkar yang menatapnya tajam dan disebelahnya ada seorang penghulu yang bersiap mengucapkan ijab kabul.


  "Saudara Rionald apakah sudah siap?" tanya pak penghulu itu seolah tau kegugupan yang di alami oleh Rion.


Rion menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, "Bismillah saya siap." Dengan tegas dia mengucapkan itu.


Sementara Sicka yang melihat itu dari ponsel San terus tertawa ngakak, San sendiri bingung melihat adik kembarnya itu. Biasanya pengantin perempuan akan sama tegangnya saat saat ijab kabul akan diucapkan tapi berbeda dengan Sicka yang malah tertawa keras. Bahkan Saga yang dipangkuan Sicka ikut tertawa.


  "Heh berhenti ketawa napa lo. Tuh calon adek ipar gue mau ijab kabul eh lo malah ngakak gitu. Nih juga bocah malah ikut ketawa." San heran dengan tingkah Saga yang merupakan anak Satria dan Sesha karena apapun yang dilakukan oleh Sicka maka dia akan menirunya.


"Mukanya Onald lucu banget kak, dia tuh nggak pernah kaya gitu. Makanya aku kelepasan ketawa gini haha,"


Ceklek


Sicka dan San menoleh ke arah pintu yang terbuka, disana ada Aurin dan Sesha yang tengah berjalan menghampiri mereka.


  "Saga sini sama mom yuk!" Sesha segera mengambil anak yang berada di pangkuan Sicka.


"Nak, waktunya kamu turun temui suami kamu." Aurin berbicara dengan sorot yang terlihat sedih. Jelas saja dia sedih karena baru saja dia bertemu dengan anaknya ini, kini dia harus melepasnya untuk Rion yang sekarang menjadi menantunya.


Sicka yang tadinya senang kini ikut merasakan kesedihan yang di alami oleh Aurin. Dia pun berdiri, "Bunda jangan sedih, aku akan kesini terus kok." ucap Sicka berusaha membuat Aurin tak bersedih.


Aurin tersenyum tipis, "Iya Nak, kalo gitu ayo kita turun. Semua penasaran sama kamu loh." Sicka pun berjalan dengan kesusahan tapi San dan Aurin segera membantu Sicka dengan berjalan di samping kanan dan kiri.


Betapa gugupnya saat ini ketika dia di tatap berpasang-pasang mata dengan tatapan yang berbeda. Rion yang tadinya menunduk kini menoleh dimana Sicka turun dari tangga.


Rion terkejut melihat Sicka yang kini sudah duduk di sampingnya. Dia pangling dengan penampilan Sicka, dia hampir tak mengenali Sicka yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.


Rion merasakan hatinya berdebar kencang saat Sicka mencium tangannya dengan lembut. Rion pun memajukan kepalanya lalu mendaratkan kecupan di pucuk kepala Sicka. Hanya beberapa menit saja karena acara dilanjutkan dengan Rion yang harus membacakan beberapa janji sebagai seorang suami yang bertanggungjawab.


Selanjutnya mereka bersiap menuju gedung dimana resepsi akan diadakan.


<•[💙]•>


Sicka sudah pegal harus berdiri sambil menyalami tamu yang tidak ada habisnya. Kebanyakan tamu itu adalah dari para kolega orang tuanya dan juga mertuanya.


  "Capek?" tanya Rion berbisik.


Sicka mendengus, "Iyalah capek, gitu aja pake ditanya. Aku kan pake sepatu hak tinggi."


Rion berkedut ingin tertawa mendengar rengekan Sicka disampingnya, "Kenapa nggak pake jepit aja? Kan lebih simple."


Sontak saja Sicka langsung menabok lengan Rion keras, untung saja tamu sudah pergi setelah bersalaman.


  "Kamu KDRT padahal kita belum ada satu hari nikah." dengus Rion lalu disusul tawanya pelan.


"Yakali aku make jepit, ntar nggak serasi pas sesi foto nya dasar." Sicka memalingkan mukanya ke samping.



"Kamu marah, Yang? Jangan marah dong. Nanti \*make up\* nya jadi jelek." Sicka makin kesal mendengar ucapan Rion, bukannya membujuknya eh malah menambahnya kesal saja.



*Salah lagi nih gue*? Rion bertanya\-tanya dalam hati.



"Wehhh Mas Bro selamat ya," tiba\-tiba teman Rion datang dan hal itu membuat Sicka segera memasang senyum kembali meskipun hatinya sudah dongkol.


Rion tersenyum singkat, "Thanks, Yo, lo udah dateng."


Tio yang merupakan teman sekelas Rion dulu itu mengangguk, "Yoi, sama sohib sendiri masa nggak dateng sih. Eh Sicka, lo cantik deh sekarang hahaha ups!" Tio segera berhenti saat mendapat tatapan tajam dari Rion.


  "Sorry sorry, Yon, gue udah punya kok. Lo tenang aja haha. Yaudah kalo gitu gue turun dulu ya mau ambil makanan udah laper nih gue." Setelah itu Tio turun lalu menghilang di kerumunan orang.


Sicka kembali memasang wajah kesalnya. Rion hanya bisa geleng-geleng kepala karena tidak tau caranya membujuk seorang perempuan yang sedang ngambek.


<•[💙]•>


Sicka yang ditatap oleh Rion langsung menoleh, "Apa?"


Rion memiringkan tubuhnya lalu merapatkan lebih dekat dengan Sicka. Dia menggeleng sambil tersenyum. Sicka pun memiringkan tubuhnya ke arah Rion.


  "Aku ngeri liat kamu senyum terus." Sicka bergidik dan ingin memutar tubuhnya membelakangi Rion. Tapi Rion segera mencegah dengan menarik tangan Sicka lalu secepat kilat Rion sudah berada di atas Sicka.


Sicka merasakan degupan jantungnya menggila. Ditambah wajah Rion dengannya hanya berjarak tipis saja sampai hidung Rion dengan menyentuh hidung Sicka.


  "Aku senyum juga karena kamu Rel. Apa salah jika aku begitu sama istri aku sendiri?" Rion membuka suara setelah tadi mereka saling diam dan memandang satu sama lain.


"Ng\-nggak kamu nggak sa\-" Belum sempat Sicka menyelesaikan ucapannya, Rion sudah menempelkan bibirnya ke bibir Sicka.


Sicka terkejut apalagi saat melihat Rion menutup mata, dia hanya mengecupnya saja. Sicka tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


Rion menjauhkan wajahnya sebentar lalu memandang Sicka yang wajahnya sudah memerah karena malu, "Sorry for your lips but i like now. Can I kiss you again?"


Sicka diam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. Sontak saja Rion kembali menempelkan bibirnya ke bibir Sicka, kali ini bukan sekedar kecupan tapi Rion mulai bermain-main dengan bibir Sicka.


Sicka yang kehabisan nafas segera memukul-mukul dada Rion, cowok itupun menjauhkan wajahnya tapi masih dengan jarak tipis.


  "Maaf." ucap Rion saat melihat nafas Sicka masih tersengal. Sicka menggeleng, entah kenapa dia tak suka bila Rion mengucapkan maaf.


Setelah nafas Sicka sudah normal dia menatap wajah Rion bahkan tanpa sadar tangannya meraba wajah tampan Rion. Rion sesekali memejamkan mata saat tangan Sicka mengelus pipinya. Dia merasa nyaman.


  "Onald ..." panggil Sicka dan Rion pun membuka matanya menatap Sicka yang ada di bawahnya.


"Kamu seneng nggak aku udah nggak cacat lagi?"


Rion diam, tapi dia mengangguk, "Kalo kamu seneng dengan kaki kamu aku juga ikut seneng."


Sicka tersenyum lebar, "Makasih ya udah nunggu aku selama ini." Sicka merasa bahagia sekarang, dia siap menghadapi badai di masa depan bersama-sama dengan Rion.


Rion tersenyum jahil, "Siapa bilang aku nungguin kamu, nggak ada tuh!"


Senyum lebar Sicka lenyap, "Oh gitu ..."


  "Iya, selama kamu nggak ada aku udah punya mantan tiga cantik\-cantik lagi." Rion dalam hati tersenyum puas saat melihat raut wajah Sicka yang terlihat kesal.


Dari zaman dulu sampai sekarang Rion masih menyukai wajah kesal Sicka yang malah membuatnya menjadi gemas dan ingin memakannya.


  "Oke kalo begitu. Kamu bisa tidur di luar." Sicka langsung menendang Rion dan membuat cowok itu terjatuh ke lantai.


Rion meringis mengelus pantatnya ,lalu dia beranjak kembali naik ke atas kasur dan berbaring menghadap Sicka yang memunggunginya.


Rion memeluk Sicka dari belakang, "Aku becanda yang, jangan marah ya. Dan aku nggak mau tidur di luar, ntar apa kata tetangga baru kita?"


  "Bodoamat!" ucap Sicka ketus.


Rion kemudian membalik tubuh Sicka dengan paksa lalu ia hadapkan ke arahnya. Gadis itu berdecak sebal.


  "Mau kamu apasih???" Sicka memancarkan tatapan sinis.


Rion memeluk pinggang Sicka dengan erat, dia menatap dalam mata belo Sicka yang membuat rasa kesalnya menguar entah kemana.


  "Maaf kalo candaanku bikin kamu kesel. Waktu kamu pergi aku nggak pernah deket sama cewek siapapun. Cewek yang deket juga Kimi sama San, mereka doang.


Dan maaf aku nggak bisa beliin kamu rumah mewah. Aku cuma bisa beli rumah sederhana ini untuk kamu sama anak-anak kita nantinya."


Mata Sicka berkaca-kaca, diapun menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Rion dan memeluk Rion erat.


  "Aku nggak minta rumah mewah Nald, asal aku bisa mendapat cinta dan kasih sayang aku udah seneng dimanapun aku tinggal." balas Sicka yang suaranya teredam.


Mendengar itu Rion tersenyum lebar lalu membalas pelukan Sicka lebih erat. Dia beruntung mendapatkan gadis seperti Sicka, dia akan berusaha semampunya untuk menjaga perempuan yang dia cintai ini.


Dan semoga Tuhan tetap memberikan kesehatan serta umur panjang untuk mereka menghabiskan waktu sampai tua. Semoga saja ...