
Percaya, sebuah keajaiban dimulai setiap kali kamu bermimpi.
•{ Anonimoûs }•
"Gue Sickarina Aurelin Sinegar." jawab Sicka dengan senyuman lebar.
Sinegar bukannya nama belakangnya Sandriana si gadis inceran cowok satu sekolah di SIS? Rion makin yakin saat melihat Sicka tengah memukuli kepalanya. Sepertinya gadis ini menyimpan rahasia dari Sandriana itu.
"Lo diem jawabannya iya." Dan dapat Rion lihat wajah pasrah Sicka. Tapi seketika dia memasang wajah garang.
"Cuma lo sama sahabat gue yang tau, jadi lo harus tutup mulut jangan sampe ada yang tau." Ingat Sicka dan hal ini membuat Rion semakin ingin tahu. Entah kenapa dia seperti ini, Rion penasaran dengan dia, berarti tanpa sadar dia akan masuk ke dalam cerita hidup Sicka.
Apabila Sicka adik Sandriana kenapa gadis itu malah membully saudaranya sendiri? Bahkan hampir dua tahun dia membully. Tunggu-tunggu, bukannya Sandriana punya dua kakak? Terus kenapa mereka semua hanya diam saat saudaranya ini dibully?
"Kenapa?" Entah kenapa kata itu yang keluar dari mulut Rion. Apakah dia peduli dengannya? Ah tidak mungkin. Mungkin Rion cuma iba.
Sicka terdiam, dan Rion merutuki mulutnya yang bertanya hal itu. Sebisa mungkin dia mempertahankan wajah datarnya agar Sicka tak melihat bahwa cowok itu tengah merasa bersalah dengan pertanyaannya.
"Gu-gue nggak mau buat kak San malu punya adik kembar cacat yang kakinya lumpuh kaya gue." ucapnya membuat Rion sedikit terkejut, dia adalah adik kembar Sandriana. Berarti mereka adalah kembar tak identik.
"Termasuk kedua Abang lo?" Sial! Ada apa dengannya?
"Iya, gue rela lakuin itu agar mereka tau kalau gue sayang sama mereka. Gue rela agar bisa dapet maaf dari mereka, karena gue Kak San hampir mati saat itu." Dapat Rion lihat mata Sicka mulai mengeluarkan air mata.
Sicka terus bercerita seakan-akan Rion ini adalah teman lamanya, mulai dari kecil saat dia sudah terasingkan oleh keluarganya bahkan kerabatnya.
Ya Allah kenapa engkau menciptakan perempuan setegar dia? Dia hanya gadis kecil yang tidak sengaja melakukan kesalahan lalu kenapa mereka malah mengucilkannya sampai dia dewasa? Dan apakah berarti semua senyumannya yang gue lihat di sekolah hanyalah kepalsuan?
Melihat Sicka makin menangis tersedu-sedu, membuat Rion tanpa sadar memeluknya erat. Rion mengusap punggung Sicka mencoba meredakan tangisnya.
"Gu-gue hiks ... harap lo bisa hiks ... jaga rahasia hiks hiks gu\-gue percaya sama lo," Rion mengangguk. Dia mengusap kepala Sicka masih dengan memeluknya. Dan Rion rasa Sicka juga nyaman dipelukannya. Jujur Sicka adalah gadis pertama yang Rion peluk selain ibu dan kakaknya.
Rion melepas pelukannya untuk melihat wajah Sicka. Matanya membesar dikarenakan menangis dan wajahnya juga merah. Air mata masih keluar dari matanya, entah kenapa tubuh Rion selalu bertindak diluar kendalinya. Ya, Ruon mengusap air mata Sicka dan mengelus pipinya.
Deg deg deg
Gue nggak lagi denger musik dangdut, tapi kenapa dada gue terusaja berdangdut hanya karena gue ngusap pipinya?
"S\-sorry, kaos lo jadi kena ingus gue." ucapnya yang membuat Rion terkekeh. Heh apa ini? Rion segera berdehem untuk mendatarkan wajahnya.
Sicka melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Kemudian matanya menatap Rion, dia tersenyum, "Makasih udah nolong gue untuk kesekian kalinya dan mau denger cerita hidup gue. Dan gue harap lo jangan berfikiran jelek tentang keluarga gue." Di keadaan seperti ini masih saja dia memperingati Rion agar tak berfikir jelek. Padahal apa yang dilakukan keluarganya memanglah perbuatan jelek.
Rion hanya mengangguk saja, "Oh iya gue nginep sini ya? Dan harus minum obat juga?" Sekali lagi Rion mengangguk.
"Yaaaa kenapa harus obat sihhh gu-"
Hihihihi Hiiihihihi
Tiba-tiba suara kuntilanak terdengar, suaranya tidak terlalu kencang dan itu berarti kuntilanaknya berada dekat kan?
Ngeri juga denger tawanya. Rion bergidik.
Hiiiiihihihihi Hihihihihi
"Rion tolong ambilin tas gue, ada yang telpon itu." Rion mengernyit, apa dia tidak mendengar suara tawa kuntilanak? Dan dia malah menyuruh Rion untuk mengambil tas lantaran ada yang menelponnya.
"Telfon?" Beo Rion dan diangguki oleh cewek itu.
"Suara mbak Kunti itu *ringtone* kalo ada yang telpon gue hehehe ..." Hampir saja Rion menjatuhkan rahangnya karena mendengar ini.
*Dari sekian banyak lagu yang bisa dijadiin ringtone, kenapa harus tawa Mbak Kunti*?
Rion mendengus lalu berdiri untuk mengambil tas itu dengan segera. Setelah itu dia berikan ke Sicka. Sicka segera mengangkat telpon saat ponselnya sudah dia ambil.
Rion teringat bahwa dia belum mengabari Mamanya di rumah. Dia pun segara memberi pesan kepada Silvia, Mamanya.
<•[💙]•>
"Iya Mami, Rin nggak apa\-apa kok. Mami kalo mau kesini besok aja ya? Lagian disini Rin ditemenin sama Rion kok." Sicka mencoba menenangkan Bi Sum yang panik di sebrang sana.
"*Iya udah Mami dateng besok aja. Dan kamu harus istirahat jangan pacaran mulu*."
"*Yaudah yaudah intinya kamu harus istirahat dan jangan lupa minum obat*."
"Siapppp!"
Sicka kemudian meletakkan ponselnya di meja dekat dengan gelas. Dia menyengir saat menatap Rion yang masih menatapnya tajam.
"Ampun mas bro, liatinnya gitu amat ntar kalo keluar kan berabe, hehehe ..." Rion menghela nafasnya lalu berdiri.
"Lo tidur. Gue bakal jagain lo." ucap Rion sembari membantu Sicka berbaring, tak hanya itu dia juga menarik selimut hingga sedada Sicka.
Sicka yang sudah berbaring menatap Rion yang wajahnya masih dalam datar, tangan Sicka tanpa sadar terulur menyentuh pipi Rion dan membuat lelaki itu terkejut.
"Nih kalo bibir dibuat senyum, gue yakin pahala bakal nemplok ke elo tiap hari." ucap Sicka sembari menarik sudut bibir Rion.
Seakan tersadar, Sicka segera menarik tangannya kembali. Kemudian dia memunggungi Rion. Diam-diam dia memegang dadanya yang berdetak kencang.
Gue udah senyum tadi, dan itu karena lo. Hati Rion berkata.
Karena melihat Sicka yang memunggunginya. Rion berbisik di telinga Sicka, "Kalo gue senyum dan alesannya elo. Apa lo mau tanggung jawab?" Tubuh Sicka menegang, dia memang belum tertidur jadi dia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Rion.
"Orangnya sedang tidur." jawab Sicka yang membuat Rion tersenyum tipis. Lalu berjalan menuju sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya.
<•[💙]•>
Samar-samar Sicka mendengar suara selain Rion di ruangannya. Perlahan matanya membuka, lalu mengerjap-ngerjapkan pelan. Hingga objek yang dilihatnya kini cukup jelas.
"Mama sama kakak kenapa ke sini? Kan udah Onald kasi tau nanti aku bakal pulang." ucapan Rion membuat kedua perempuan di depannya merengut kesal.
"Kita kesini kan pengen liat cewek yang bikin lo jadi manusia yang berbudi luhur dan menolong orang." itu suara Rain kakak Rion.
Mama Rion mengangguk menyetujui ucapan anak gadisnya. Hingga mata Rion menangkap Sicka yang kini terbangun, dia pun segara mendekati Sicka. Silvia dan Rain pun ikut mendekat ke ranjang Sicka.
"Perlu sesuatu?" tanya Rion kepada Sicka. Silvia dan Rain saling lirik melihat Rion yang penuh perhatian.
"Eh kamu kan cewek yang digendong Onald di parkiran kan?" Rion berdecak ternyata Mamanya masih mengingat itu.
"Onald? Gendong cewek, Ma? Nggak salah tuh?" Silvia mengangguk mantap.
"Iya kak, dia jadi cewek pertama yang digendong sama Onald." ucap Silvia sambil tersenyum bangga.
Rain memekik, "Ya ampun! Gue baru nyadar kalo lo kan yang punya usaha Rin's Hand kan?"
Sicka hanya tersenyum menanggapi kedua perempuan beda umur di sampingnya dan sesekali menatap Rion yang memutar bola matanya malas.
"Lha emang iya kak? Yang kamu beli syal merah itu?" Silvia bertanya dan diangguki Rain.
"Wah kamu hebat banget nak, kecil\-kecil udah buat usaha sendiri." ucap Silvia dan mencubit pipi Sicka.
"Ma udah Ma, Mama nggak liat dia masih lemes gitu?" Rion melepas tangan mamanya dari pipi Sicka.
"Ih kamu apaan sih Bang? Kamu pulang aja sana mandi! Sekalian ganti baju biar gadis kamu mama sama kakak yang jaga." usir Silvia kepada anaknya.
"Betul tuh kata Mama, lo pulang sana mandi. Tenang aja cewek lo aman sama kita." tambah Rain dan Rion memilih mengalah. Tanpa mengucapkan apapun dia keluar dari ruang inap Sicka.
"Siapa nama kamu cantik?" tanya Silvia ramah.
"Nama saya Sickarina Aurelin Tante, kalo Tante siapa? Terus Kakak ini juga siapa?"
"Nggak usah formal gitu kali sama kita, gue Rainisya Ajeng Dinata kakak dari Rion dan ini Mama gue namanya Silvia." ucap Rain memperkenalkan.
"Oh iya kamu laper nggak? Kebetulan Tante bawa sup ayam yang masih anget loh!" Sicka mengangguk karena memang perutnya sudah lapar. Apalagi mendengar sup ayam, membuat cacing di perutnya makin berdemo.
"Kak ambilin supnya dong!" pinta Silvia yang langsung di angguki Rain. Sementara Silvia menyibak korden jendela memperlihatkan langit pagi yang masih agak gelap dan membuka sedikit jendela hingga membuat udara pagi yang segar masuk.
"Nah gini kan jadi seger ruangannya,"
Sicka dalam hati merasa senang, dia dipertemukan oleh Allah dengan orang yang baik akhir-akhir ini. Semoga kedepannya dia terus semangat menjalani kehidupan kerasnya.