
**Untukmu yang bersedih dan menangis.
Ketika kamu berpikir dirimu sendirian.
Ketika kamu tiba-tiba mulai menangis.
Ketika kamu merasa seperti tidak ada seorang pun disampingmu. Ingatlah bahwa kamu tak sendirian. Aku tanpa kata akan memelukmu.
•{ The Uknown** }•
Di kamarnya lelaki itu duduk di lantai yang beralaskan karpet beludru, memandang ke sebuah benda yang ada ditangannya.
Sekelebat perisitiwa di hari ulang tahunnya terlintas. Betapa jahatnya saat itu dia mempermainkan sebuah rasa, rasa yang tulus dari gadis tegar seperti Sicka.
Perlahan tangannya meraih pena yang tak jauh darinya duduk, kemudian dia membuka buku diary yang bersampul coklat tua. Pena-nya pun mulai bergerak mencoret sebuah tulisan di kertas itu.
*Juli 2019
Heh cewek cacat, lo bener-bener udah buat gue ngerasa bersalah banget disini. Apa lo puas?
Lo nggak takut, gue bisa aja ngejelekin elo disetiap tulisan yang gue tulis dibuku ini? Oh iya gue lupa, lo kan cewek kuat yang pernah gue temui.
Tapi sekarang lo marah ke gue ...
Bahkan lo bersikap nggak kenal ke gue pas kita papasan. I see, emang itu yang gue minta ke elo.
Tapi ada rasa hambar dihati gue saat ini ...
Tuhan ... Masih bolehkah aku menjadi salah satu pelindung untuknya dan melihat senyumnya selalu setelah apa yang aku lakukan*?
Brandon Revaga
Lelaki yang melukaimu
Lelaki itu menatap apa yang dia tulis di buku itu. Dia kembali mengingat kebersamaannya bersama gadis itu. Saat gadis itu diajak olehnya, Sicka tak pernah meminta apapun dari Brandon. Tapi dengan bodohnya, dia menganggap bahwa itu hanyalah kedok agar membuatnya tertarik kepada Sicka.
Brandon benar-benar menyesal, apalagi saat melihat wajah Sicka malam itu yang tanpa air mata. Bukankah hal itu lebih menyakitkan dari apapun? Brandon tau akan hal itu.
Mungkin Sicka lah yang berhasil membuatnya merasa bersalah seperti ini. Dia ingin meminta maaf, tetapi Sicka sangat sulit untuk didekati. Gadis itu benar-benar menuruti ucapannya.
"Arghhhh bodooohh lo Brandon! ***** banget!" Brandon menjambak rambutnya sendiri. Sekali lagi dia menyesal.
<•[💙]•>
Hari semakin dekat menuju hari H, dimana KAT akan diadakan. Besok mereka sudah mulai berangkat menuju Citamiang. Dan karena hal ini membuat Sicka dan teman-temannya masih tertahan di sekolah. Mereka terus berlatih keras, agar usaha mereka tidak sia-sia.
"Gue sebenernya males banget kemah kemah begituan. Udah pasti para dewan ambalannya sok lagi ditambah lombanya yang bikin pegel jiwa raga." keluh Yana yang memang orangnya pemalas apabila berkaitan dengan kemah.
Mereka kini sudah selesai berlatih dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Dih itu sih elo ... gue maa kagak. Justru kaya gini perlu gue manfaatin buat deketin mas Banu anak IPS 3 hiyaaaa!" Berbeda dengan Yana, Sari justru begitu antusias. Itu karena salah satu dari dewan ambalan ada yang disukainya. Banu yang terkenal kalem dan ramah serta belum pernah sekalipun yang namanya berpacaran, menurut gosip yang tersebar.
"Gue sih b aja yaaa. Disitu nggak ada yang seru juga." ucapan Kimi membuat Sari mendelik.
"Itu karena lo jomblo ngenes, dan belum pernah ngerasain apa yang saat ini remaja rasain." Sicka tertawa saat sahabatnya itu dikatai jomblo ngenes oleh Sari.
"Yasaja, umur nggak ada yang tau . Iyain aja udah." Kimi memakai tasnya lalu berjalan keluar kelas meninggalkan temannya yang lain melongo.
"Dia itu cewek nggak sih, Rin?" Sicka hanya mengendikkan bahunya acuh. Sicka menepuk jidatnya tatkala mengingat dia akan menebeng dengan Kimi, dan sahabatnya itu seolah melupakannya.
"EH KIMPRET TUNGGUIN GUE WOYY!"
<•[💙]•>
Saat memasuki area parkiran SIS, mata Sicka dan Kimi disambut oleh luasnya lahan parkiran yang kalau pagi akan penuh dengan kendaraan. Dan saat ini hanya tinggal beberapa kendaraan dari para siswa yang belum pulang dan memilih nge-tem di parkiran.
Sicka dan Kimi menjadi pusat perhatian para siswa yang tak lain adalah Brandon dan teman-temannya. Dan dikejauhan ada Rion dan teman-temannya juga tengah mengobrol sambil duduk di atas motor masing-masing.
Kimi mendelik saat melihat ban motornya yang kempes dibagian belakang.
"Astaghfirullah astagfirullah!!"
"Ini nih Rin.. ban gue kempes iihhhhh!" tunjuk Kimi ke arah ban motor belakanganya. Bukannya ikut terkejut, Sicka malah tertawa terbahak-bahak.
"Ngapain lo ketawa?" Wajah Kimi makin tak sedap untuk dipandang mata.
"Seneng aja gitu liat lo menderita bwahahhaha ..." Jawaban dari Sicka membuat Kimi harus ekstra sabar.
"Sicka," Panggilan itu membuat tawa Sicka seketika terhenti. Dia menoleh dan mendapati wajah tampan milik lelaki yang sedang ia coba lupakan. Brandon.
"Siapa ya?" Baik Kimi maupun Brandon terkejut mendengar balasan dari Sicka. Kimi tak menyangka bahwa sahabatnya ini akan bersikap seperti itu kepada lelaki yang disukainya.
"Gue mau bicara sama lo pen–"
"Jauh jauh lo dari Relin gue!" Ucapan Brandon terhenti karena Rion tiba\-tiba datang dan menyela di tengah Sicka dan Brandon. Sedangkan Kimi, dia masih melihat itu tanpa sadar ada yang mendekatinya dan menggenggam tangannya erat.
"Mending lo pulang sama gue, biar motor lo temen gue yang urus." Kimi tersentak kaget dan saat itu dia melihat Brian, teman Brandon.
Brian menyeret gadis itu segera karena melihat Kimi yang masih terkejut. Seolah sadar dengan apa yang diperbuat Brian. Kimi mencoba melepaskan cekalannya dari Brian.
"Apaan sih lo pegang-pegang gue anjirrr! Lepasin nggak!!" Kimi menyentakkan tangannya kasar dan berhasil terlepas dari cengkraman Brian. Setelah itu Kimi berlari mendekati Sicka yang tengah diperebutkan untuk diantar pulang.
Bugh
Brandon tersungkur akibat pukulan dari Kimi. Semua orang yang masih ada di parkiran terkejut karena itu, bahkan Sicka sempat memekik keras tadi.
"Itu balasan buat lo dari gue atas Rin yang lo sakiti." tunjuk Kimi ke Brandon yang tengah memegang pipinya bekas pukulan Kimi.
"Dan lo, Rin tetep pulang bareng gue. Karena gue sama dia mau *shopping*." Kimi beralih menatap Rion yang terdiam, "Rin buru naik! Bannya nggak terlalu kempes amat kok!" Sicka hanya menuruti ucapan Kimi, diapun segera naik.
Dan sebelum Kimi menjalankan motornya, dia menatap tajam Brian yang tengah berdiri tak terlalu jauh darinya, "LO KEMPESIN BAN GUE LAGI, GUE OBRAK ABRIK KELAS LO!! GUE NGGAK MAIN-MAIN!" setelah berteriak meluapkan kekesalannya, Kimi melajukan motornya meninggalkan area parkiran.
Rion yang masih berdiri di dekat Brandon menatap cowok itu sinis, lalu segera kembali ke gerombolan temannya.
<•[💙]•>
Kimi bingung harus bagaimana saat tiba-tiba Sicka menangis terisak setelah menyaksikan tayangan iklan di televisi dimana ada kelurga yang tengah berkumpul dan tertawa bersama.
Para pengunjung cafe pun tak ayal melihat ke arah Sicka yang menangis. Mungkin karena isakan gadis itu yang sedikit keras. Pikiran Kimi tertuju kenapa Sicka bisa seperti ini, pasti karena keluarga.
Sicka pasti ingin merasakan kehangatan keluarganya, perlahan tangannya terulur menggenggam tangan Sicka erat. Kimi yang selalu terlihat kasar dimata yang lain akan berbeda saat berhadapan dengan Rin. Dia akan berubah menjadi seorang gadis yang lemah lembut dan penuh senyum untuk sahabatnya itu.
"Gue tau ini berat. Tapi jan nangis dong, atau gue bakal larang lo ikut pensi nanti!" Ancaman dari Kimi berhasil membuat Sicka berhenti menangis dengan raut wajahnya yang berganti merajuk.
"Nggak boleh gitu dong, gue kan udah ikut latian terus. Masa nggak jadi sih?" Kimi tertawa geli.
"Ya makanya jangan nangis lagi, gue nggak suka liat lo nangis buat mereka yang nggak nganggep lo. Tiap lo nangis, gue juga ngerasain perih di hati gue Rin," lirih Kimi.
"Lo baik banget ke gue Kim, gimana cara balesnya gue buat lo? Lo yang selalu ada buat gue, anggep gue sodara, keluarga bahkan bagian dari diri lo. Gue selama ini belum ngelakuin apa\-apa buat lo. Gue ... " Sicka kembali meneteskan air matanya.
"Cukup lo jadi Sickarina yang gue kenal, sosok perempuan hebat dan tegar yang mampu menginspirasi. Bagi gue udah cukup Rin, tanpa sadar karena lo, gue jadi sering bersyukur dengan apa yang gue dapatkan selama ini. Lo tau nggak tiap gue bersyukur, gue selalu nangis dan berdoa. Semoga lo juga bisa dapat apa yang gue dapat. Dan kalo pun itu nggak lo dapet dari keluarga lo atau siapapun, gue selalu *stay* di samping lo." ucap Kimi dengan derai air mata.
"Tiap gue liat muka lo yang selalu nampilin sikap baik\-baik aja, gue selalu pengen lindungin elo Rin."
Sicka tak bisa mengatakan apapun, dia terlalu speechless dengan ucapan Kimi. Andai saja dia tak bertemu Kimi, mungkin dia sudah berputus asa menghadapi dunia.
"Udah udah malah nge drama gini, udah malem nih. Gue anter lo pulang." Kimi menghapus air matanya lalu kemudian menghabiskan minum yang dipesannya begitu juga Sicka yang melakukan hal yang sama.
Inilah persahabatan sejati. Sahabat juga merupakan sebuah kesempurnaan untuk menyempurnakan apa yang belum lengkap dari sahabatnya. Saling mengerti satu sama lain, saling peduli dan saling mengungkapkan adalah cara menikmati sebuah persahabatan.