LOVE For SICKARINA

LOVE For SICKARINA
END



 


"AYAH SICKA UDAH PULANG"


Mereka yang tadinya tengah mengobrol segera menoleh saat mendengar nama yang ingin sekali mereka lihat kabarnya. Ya dia Sickarina, kini gadis itu menjadi pusat perhatian di acara itu.


Bahkan Rion tanpa sadar mengepalkan tangannya dan setetes air mata turun dan mengalir di pipinya.


Sickarina gugup dan melangkah masuk menghampiri dimana San dan Brandon tengah berdiri menatapnya dengan keterkejutan. Hampir semua yang ada disini terkejut melihat Sicka karena semua tamu disini adalah rata-rata anak SIS termasuk teman sekelas Sicka.


Batita yang berada digendongannya tadi sudah beralih ke Sastroharja. Dia kini sudah berdiri di depan kembarannya. Senyum tipis muncul di wajahnya.


"Selamat atas pernikahan kalian ya," Sicka menyodorkan kado yang dibawanya tadi kepada San yang kini mulai menangis.



"R\-rin hiks ... Maafin gue," San langsung menerjang memeluk Sicka tanpa mengambil kado dari Sicka.


Sicka mengelus punggung San, "Kak jangan nangis, kasian make up nya kan mahal. Sayang banget kalo luntur." ucap Sicka berusaha menenangkan San, padahal dia juga ingin menangis tapi dia harus menahannya.


"Hiks ... Bodoamat mau luntur kek nggak peduli hiks ... hiks ... Huaaaa maafin gue ya Rin, gue udah jahat sama lo selama ini." San masih saja menangis.


Sicka meringis malu, ternyata kembarannya ini kalau menangis terlalu lebay menurutnya. Dia pun mengurai pelukannya.


"Nggak boleh, ntar jilbab aku ada ingusnya." Sicka mencoba bercanda yang ternyata berhasil membuat San tertawa begitu juga yang lain.


Sicka menggenggam tangan San, "Kak, aku udah maafin kamu, kakak nggak perlu lagi minta maaf. Dan iya pesanku, jadilah istri yang baik." Lalu Sicka pun berbalik menuju tempat minum. Ternyata datang di nikahan San tak seburuk pikirannya.


Semua masih menatap Sicka yang mereka kira Sicka ingin pergi tapi ternyata gadis itu mengambil minum. Sicka kemudian menaruh gelas itu setelah dia selesai minum dan berjalan menghampiri mereka yang masih terdiam memandanginya.


"Kenapa?" Sicka heran dengan mereka semua yang masih menatapnya.



"Kaki lo udah sembuh, Ka?" tanya salah satu tamu yang merupakan teman San.


Sicka mengamati kakinya lalu menatap mereka kembali. Oh jadi ini yang buat mereka liatin aku?


Sicka hanya tersenyum tipis tak menjawab, lalu sebuah pelukan membuat Sicka hampir saja terjungkal. Aurin memeluknya erat lalu disusul Afkar, Satya, dan Satria.


"Kami merindukanmu, Nak." ucap Afkar dipelukan mereka. Sicka menangis, dia sudah tak bisa menahan air matanya yang sedari tadi dia tahan.



"Maafin gue Rin, gue nggak bisa jadi Abang yang baik buat lo." ucap Satria penuh penyesalan.


Sicka tak membalas ucapan mereka, dia terlalu bahagia untuk saat ini. Akhirnya cinta yang dia tunggu tunggu dan harapkan akhirnya tiba. Keluarganya akhirnya mencintainya.


Mereka semua mengurai pelukannya dan mencium pipi Sicka bergantian. Apalagi Aurin yang tak henti-henti mencium pipi tembam Sicka.


"Bunda suka liat kamu berhijab." Sicka hanya mengangguk.


Setelah acara tangis-tangisan kini acara kembali normal. Sicka kini ikut duduk bergabung dengan San dan yang lain. Tapi dia lebih memilih diam tak banyak bicara.


Dan dia sedikit takut melihat ke kiri karena ada Rion yang terus menatapnya tanpa ekspresi. Sicka bisa melihat itu karena dia sempat melirik.


"Rin, pokoknya lo yang harus dampingin gue pas nikahan nanti sama emak gue." Seruan Kimi membuat Sicka tersentak dan segera mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.



"Kok lo dari tadi diem mulu? Oh gue tau nih ... duh duh ehm ..." Ken mulai menggoda saat melihat Sicka yang hanya diam karena Rion terus memperhatikannya. Semua yang ada di situ pun tak ayal ikut berdehem setelah tau apa kode Ken.


Sicka menggaruk kepalanya lalu menole ke Rion, "Haha, eng-enggak kok, apaan sih kalian?" Sicka tertawa canggung.


Mereka makin menggoda Sicka yang nampak salah tingkah. Lalu tiba-tiba Rion berdiri dan menarik tangan Sicka menjauh dari mereka.


Sicka tidak tau dia dibawa kemana oleh Rion, hingga akhirnya Rion menariknya ke salah satu ruangan kosong di gedung itu lalu menutup pintu.


Sicka terkejut saat Rion kini memojokkannya dengan mengurung Sicka dengan tangan Rion yang berada di kanan kiri Sicka.


Sicka menelan ludah tanpa sadar, entah kenapa tatapan Rion begitu mengintimidasinya. Tapi tatapan itu tak berlangsung lama karena kini tatapan Rion berubah sendu.


Mereka tidak ada yang bicara, masih sama-sama melihat wajah masing-masing yang sudah berubah. Rion yang kini nampak lebih dewasa dan terdapat kumis tipis namun terkesan lebih tampan menurut Sicka. Sedangkan menurut Rion, Relinnya terlihat makin cantik dengan balutan jilbab yang menutupi kepalanya.


"Apa kabar?" tanya Rion pada akhirnya. Posisi mereka masih sama tapi masih ada jarak di antara mereka.


Sicka mengangguk, "Baik aja, lo gimana?"


"Nggak baik."


Sicka terdiam, dia mengalihkan pandangannya dari Rion. Dia tak kuat melihat mata sendu milik Rion yang tengah menatapnya.


"Gue boleh peluk lo?" Sicka segera menoleh lalu menatap Rion. Melihat tatapan Rion yang begitu diapun mengangguk. Lalu Rion memeluknya dengan sangat erat seolah\-olah Sicka akan pergi jauh jika dia melonggarkannya sedikit saja.


Sicka tak membalas pelukan Rion, dia masih canggung dengan posisi mereka saat ini. Tapi Sicka merasakan pundaknya basah karena seperti terkena tetesan air. Dia tahu Rion tengah menangis.


Ragu Sicka mengangkat tangannya lalu mengusap punggung Rion perlahan. Tapi justru membuat Rion semakin terisak, dan hal itu membuat Sicka merasa bersalah. Pasti karena dia Rion menangis seperti ini.


"Maaf." ucap Sicka yang langsung mendapat gelengan dari Rion.



"Lo ngg\-nggak salah Rel. Tapi gue yang salah," Rion mengurai pelukannya, lalu tangannya menangkup pipi Sicka dan menatapnya. Air mata masih mengalir di pipinya. Sicka baru pertama kali melihat Rion seperti ini.


Sicka mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Rion. Saat tangannya ingin dia jauhkan segera Rion menahan agar tetap dipipinya.


"Gue salah karena gue kangen sama lo dengan lancangnya. Gue salah karena gue udah ngeharapin lo balik ke gue dan menjadi milik gue ... Gue salah," Rion menundukkan kepalanya.


Sicka meneteskan air matanya mendengar ucapan Rion, "Buat gue jadi milik lo kalo lo ngerasa itu hal bener." Rion mendongak dan matanya memperlihatkan keterkejutan.


"Gue minta maaf hiks ... Udah bikin lo kangen sama gue sampe lo ngerasa bersalah. Hiks hiks sampe lo berharap sama gue ... sampe lo nger–"


Ucapan Sicka terhenti saat dia merasakan benda kenyal yang menempel di keningnya. Rion mencium keningnya cukup lama. Mereka sama-sama meneteskan air mata dalam rasa bahagia dan rindu yang menjadi satu.


Rion menjauhkan kepalanya lalu dia memegang kedua bahu Sicka, "Lo mau jadi milik gue, Rin?" tanya Rion dengan tatapan penuh harap.


Sicka sesenggukan lalu mengangguk, "Gue mau hiks biar nggak j-jomblo lagi." Rion langsung menjitak kepala Sicka.


Rion merogoh saku di jasnya dan dia mengeluarkan pena. Sicka yang melihat itu mengernyitkan dahi.


"M\-mau ngapain lo?" tanya Sicka sambil berusaha menghilangkan sesenggukannya.


Rion tak menjawab, dia lalu mengambil tangan kanan Sicka dan dia mulai menggambar sesuatu di jari manis Sicka.


Sicka hampir tergelak saat tau apa yang di gambar oleh Rion, yaitu cincin dengan sebuah bunga di tengahnya.


"Gue belum beli cincinnya jadi sebagai ganti sementara cincin yang gue gambar ini nggak papa kan?" tanya Rion sambil menahan malu karena rasanya dia menjadi cowok yang tak modal dalam melamar seorang cewek yang dia sukai.


Sicka menahan tawa saat melihat wajah merah Rion. Dia berdehem, "Nggak papa kok, tapi besok cincinnya harus udah ada."


Rion tersenyum tipis sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali, "O-okee."


PROOK PROKK PROKKK


Suara tepuk tangan membuat Sicka dan Rion menoleh ke arah jendela yang baru disadari oleh keduanya ternyata ada jendela disitu. Jendela itu sudah terbuka lebar dan mereka semua bertepuk tangan ke arah Sicka dan Rion.


Ternyata mereka semua melihat drama yang baru saja terjadi diantara Sicka dan Rion. Dan menjadi saksi Rion melamar Sicka dengan cincin buatannya.