LOVE For SICKARINA

LOVE For SICKARINA
THIRTY SIX



**Setiap hari aku memberimu air yang disebut dengan cinta


Itu adalah sebuah hadiah hatiku untukmu


Dimanakah kini dirimu berada?


•{ The Protector** }•


*Surat permohonan maaf ke-1901


Di tujukan untuk Sickarina Aurelin Siregar.


Rin, adek kembaran gue. Selamat ulang tahun yang ke-20. Semoga kita diberi umur panjang, kesehatan juga rezeki yang melimpah.


Rin, gue kangen lo. Kangen banget malah. Setiap malam gue selalu gelisah dan tiba-tiba nangis sendiri tiap keinget lo. Apa ini yang lo rasain selama ini? Gue bener-bener minta maaf Rin, mungkin maaf ini nggak bakal cukup buat nebus semua kesalahan gue.


Kapan kita bisa ketemu? Kapan kita bisa berbagi cerita? Gue bener-bener pengen meluk lo. Terakhir kali gue belum sempet peluk lo sebelum dibawa sama nenek dan kakek. Bukan cuma gue yang kangen, tapi Abang Satria, Abang Satya, Ayah juga Bunda. Mereka kangen lo.


Asal lo tau, selama lima tahun ini, semua udah berubah Rin. Ayah dan Bunda udah nggak suka mabuk-mabukan lagi ke club. Mereka udah sering ngaji dan diam-diam juga  nangis.


Oh iya, sekarang Abang Satria udah punya anak, namanya Saga. Dia lucu banget, persis ibunya yang udah berhasil luluhin hati Abang. Beda lagi kalo sama Abang Satya, dia masih kurang yakin sama pacarnya yang sekarang. Dia masih trauma takut kalau dia bakal nyakitin pacarnya sama pas dia nyakitin lo. Mungkin kalo lo disini, lo bakal ngeyakinin Abang Satya.


Rin, gue harap lo bakal balik sebelum pernikahan gue sama Brandon. Gue bener-bener pengen lihat kehadiran lo di pernikahan gue. Seminggu lagi gue bakal nikah. Semoga pas lo kembali lagi ke rumah ini dan baca semua surat yang udah gue tulis lo nggak akan muak hehehe* ...


Tertanda, Sandriana.


San menghapus air mata penyesalan setelah menulis surat itu. Dia kemudian beranjak keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar Sicka yang sudah ditinggalkan pemiliknya bertahun-tahun.


San meletakkan surat itu di dalam lemari Sicka, di tempat yang sama dimana dia meletakkan surat yang selalu dia buat. Setelah itu dia menutup kembali lemari itu lalu berjalan keluar kamar Sicka.


San terduduk lemas di depan pintu kamar Sicka sambil menangis. Masih teringat jelas dimana dia sering berbuat kasar kepada Sicka dan dia yang selalu berharap agar Sicka pergi dari rumah ini. Tapi apa? Setelah keinginannya terkabul dimana Sicka pergi dari rumah ini, kesedihan, rasa sakit dan bersalah menghantuinya di setiap malam.


Cklek


Satya yang baru saja keluar kamar terkejut melihat San yang menangis. Dia lantas berjalan cepat dan jongkok di depan San, lalu memeluknya erat.


  "Sssstt ... Tenang Dek, jangan nangis. Rin nggak suka liat lo yang kayak gini. Sssstt ..." ucap Satya menenangkan, padahal setetes air matanya juga jatuh.


"Hiks ... Kapan Rin kembali pulang, Bang? Aku nggak kuat kalo begini terus hiks ... A\-aku ingin denger dia maafin aku Bang hiks ... hiks ..."


Satya sedikit terkejut kala melihat kehadiran Brandon yang akan menjadi adik iparnya itu berdiri di ambang tangga paling atas tengah menatapnya juga San.


Satya mengurai pelukannya, "Adek Abang yang paling cantik ini jangan nangis terus dong! Hapus air matanya, tuh udah ada Brandon. Hari ini kamu mau fifting baju kan?"


San menghapus air matanya sambil mengangguk. Dia kemudian menatap Brandon yang kini tersenyum hangat kepadanya.


 


"Udah lama nunggu?" tanya San dengan suara serak karena habis menangis.


Brandon mendekat, dia kemudian membantu San untuk berdiri, dia menghapus jejak air mata San, "Lumayan lah, calon istri aku makin keriput aja karena nangis terus."


San langsung memukul lengan Brandon sedikit keras karena kesal. Satya yang melihat itu pun memilih pamit undur diri.


  "Gue turun duluan, gue ngidap uwuphobia. Bye!"


Brandon tertawa pelan begitu pula San.


  "Yaudah yuk berangkat, biar kita punya banyak waktu buat Pak direktur utama yang basinya makin menjadi." ajak Brandon kepada San untuk turun ke bawah.


San tertawa, "Kamu dihajar lagi sama dia ******! Masih aja ngatain Rion gitu, hahahaha,"


<•[💙]•>


Tok tok tok


  "Masuk,"


Cklek


  "Permisi Pak Rionald, ada tamu yang ingin bertemu Bapak. Mau saya persilakan masuk atau saya suruh tunggu di ruang pertemuan?"


Rion mengalihkan pandangannya dari laptop, dia menatap sekretarisnya, Bayu, kemudian menganggukkan kepalanya.


  "Masuk aja." ucap Rion yang langsung dimengerti Bayu.


"Baik, Pak."


Rion balas menatap dingin, "Kalo nggak penting, keluar lo pada."


Kedua orang itu berdecak.


  "Ini calon adek ipar nggak ada sopannya sama gue! Baru aja mau ngeluarin undangan. Nih! Lo kudu dateng, awas aja lo nggak dateng."


Rion menyeringai, "Penting buat gue?"


San gregretan sendiri, dia menoleh ke Brandon, "Yang, tolong dong hajar mulutnya itu orang. Asli nyebelin banget!"


Brandon tertawa, "Itu penting Cok, gue harep lo datang. Lo nggak dateng gue bangkrutin nih perusahaan lo."


  "Bangke!" umpat Rion pelan.


Kedua pasangan itu tertawa, mereka tertawa melihat wajah masam Rion.


  "Jadi lo kudu dateng, karena feeling gue akan ada hal bagus di nikahan gue. Tapi nggak tau juga sih, gue kayak ngerasa gimanaaa gitu," ucap San.


"Hm." balas Rion sambil bersidekap dada.



"*Feeling* cewek itu kuat bro. Lo jangan raguin." tambah Brandon.



"Ya." balas Rion.


San mengipas-ngipaskan tangannya seperti tengah kepanasan, "Ya ampun panas banget disini. Yang, kita balik aja yuk. Tuan direktur udah mau nyalain api kayaknya."


Brandon tertawa kencang, dia kemudian berdiri lalu menggamit lengan San.


  "Kita pamit, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." balas Rion sambil memperhatikan kedua pasangan itu melenggang keluar dari ruangannya.


Setelah kepergian mereka, Rion mengambil undangan itu sambil menghela nafas. Sudah dua undangan yang dia dapat di hari yang sama. Tadi pagi sekitar jam sepuluh, ada Brian dan Kimi yang memberinya undangan pernikahan, sekarang ada San dan Brandon juga memberinya undangan pernikahan.


Rion memandang sendu undangan yang ada di tangannya.


  "Kita pasti bisa kayak gini kan? Nama kamu dan aku tertulis di undangan. Sickarina Aurelin dan Rionald Bayusendra ..."


Senyum tipis dia keluarkan, "Cepat kembali ya? Aku udah putus asa nyari kamu kemanapun tapi tetep nggak ketemu."


When it comes to you, don't be blind


Watch me speak from my heart, when it comes to you ...


Rion bernyanyi pelan lalu melanjutkan pekerjaannya.


<•[💙]•>


*Teruntuk setengah hati yang tengah bersembunyi di antara ribuan manusia


Do'a selalu ku panjatkan semoga kau selalu dalam keadaan sehat


Setengah hati, Sickarina ...


Bila nanti akan ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku di kedepannya, aku berharap kau terlibat di dalamnya


Aku selalu ingin melakukan dan menyaksikan bagaimana dunia menua hanya bersamamu.


Hanya kau, Sickarina Aurelin.


Di malam yang gelap bersama deburan ombak,


Aku melayarkan sebuah perahu kertas berisi harapan-harapan semuku akan dirimu*.


Semoga nanti kita bisa melayarkan dua perahu kertas di luasnya lautan


Rion melihat bagaimana perahu kertas itu berjalan dibantu ombak yang akan membawanya ke tengah lautan.


Semilir angin yang menerpanya itu tak membuatnya ingin cepat-cepat pulang. Rion merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya.


Hanya kata semoga yang selalu dia ucapkan disetiap do'a-do'anya.