
**Hidupkan aku.
Karena aku tak bisa datang padamu bila kau tak memanggil.
•{ Anonimoûs** }•
PRANG
BRAKKK
"AAAKHHHHH KENAPA GINI hiks ... AKU BENCIIIII" Sicka terus melempar benda apapun yang ada disekitarnya bahkan ponselnya pun ikut dilempar sampai pecah tak berbentuk.
Brak Brak Brak
"SICKA BUKA PINTUNYA! APA YANG KAMU LAKUKAN DIDALAM HAH?BUKA PINTUNYA!!" Sicka tak mempedulikan teriakan Afkar yang menyuruhnya untuk membuka pintu.
Sicka benar-benar lelah, dia sungguh lelah dan lebih parahnya dia jijik dengan dirinya sendiri. Dia berdiri menatap pantulannya di kaca, masih dengan air mata yang mengalir dia teringat kejadian tadi malam yang menimpanya.
"AAAAAAAA AKU NGGAK SUCI hiks ... hiks ... AKU BENCI! AKU BENCI!"
PRANNGGG
Kaca yang tadinya utuh kini sudah pecah akibat hantaman keras dari vas bunga yang Sicka lempar ke kaca itu. Sicka terduduk tanpa memperdulikan kakinya yang terluka akibat pecahan kaca tadi.
Dia memeluk tubuhnya sendiri dan menangis kencang. Hingga tiba-tiba tangisnya berubah menjadi tawa, tawa yang begitu menyeramkan.
"HAHAHAHA AKU NGGAK GILAA HAHAHA," Sicka terus menerus mengulang kalimat itu. Dan tawanya berubah tangisan hal itu terus berulang-ulang dan menunjukkan bahwa Sicka sudah berubah.
Apa yang dia takutkan selama ini kini terjadi. Dia berubah, dan tidak tau kapan dia akan kembali seperti dulu.
BRAKK
Pintu didobrak kencang dan Afkar masuk dibelakangnya ada Aurin, Satria Satya dan San. Mereka begitu terkejut melihat kamar Sicka yang sangat berantakan.
Sicka menatap mereka sinis lalu tawanya menggelegar, "HAHAHAHA ... SIAPA KALIAN HAH?"
Mereka begitu terkejut dengan ucapan Sicka, apa Sicka tengah berpura-pura?
"Sicka lo apa apaan!! Kenapa lo pecahin ini semua?" tanya Satya dengan nada tinggi. Sicka malah kembali tertawa lalu menangis bersamaan.
Dia berdiri lalu menghampiri mereka yang tengah menatapnya tajam seolah belum tahu kalau Sicka saat ini sudah bukan Sicka yang mereka kenal.
"JANGAN SEBUT NAMA ITU!! DIA UDAH MATI. LO TAU MATI KAN?HAHAHAHA ..." Lagi-lagi mereka terkejut dengan ucapan Sicka.
"Sicka kamu kenapa? Kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya Afkar pelan mencoba menyentuh Sicka, tatapannya tadi yang tajam seketika berubah saat melihat Sicka sekarang.
Sicka mundur sambil memegang kepalanya. Rasanya kepalanya begitu sakit seperti ada yang menusuk-nusuk dan menghujam ya dengan pukulan keras. Semua kejadian yang dia alami terputar bagai kaset.
Aurin berubah panik saat melihat Sicka seperti itu bahkan Sandriana mulai menangis karena takut
"Arrggghhh ..." Sicka mengerang kesakitan ditambah semua kejadian dimana dia yang sering dicaci oleh keluarganya, kerabatnya bahkan teman-temannya terputar jelas diingatannya. Kejadian dimana keluarganya memukul dirinya pun ikut terputar.
Satria yang ingin maju langsung membuat Sicka berteriak, "BERHENTI LO ORANG JAHA! JANGAN DEKET-DEKET GUE! LO SEMUA ORANG JAHAT, NGGAK PUNYA HATI, KEJAM!!!"
Deg.
Ucapan Sicka menohok hati mereka bersamaan. Melihat Sicka yang meraih foto keluarga dan ingin membantingnya segera ditahan oleh Satya.
"Sicka sadar lo kenapa bisa gini?Kenapa sama lo?" Sicka terus memberontak dari dekapan Satya. Sicka menyikut dengan keras perut Satya dan membuat dekapan itu lepas.
PRANGG
Sicka tersenyum puas saat menatap foto itu sudah pecah. Dia kemudian menatap Afkar mereka bergantian.
"Kalian semua bukan keluargaku!" setelah mengucapkan itu Sicka kembali mengerang karena kepalanya kembali sakit dan akhirnya dia tak sadarkan diri.
"SICKA!!"
<•[💙]•>
Afkar duduk bersama istrinya yang tengah menangis karena khawatir dengan keadaan Sicka yang masih diperiksa oleh dokter. Ya, Afkar langsung membawanya ke rumah sakit saat Sicka tadi pingsan dan menyuruh untuk ketiga anaknya dirumah saja.
"Yah hiks hiks Sicka tadi k-kenapa?a-aku nggak pernah liat dia ngamuk kaya tadi," Aurin masih terbayang dengan Sicka yang tadi.
"Aku juga nggak tau Bun,"
Cklek
Dokter yang memeriksa Sicka keluar lalu menatap Afkar dan Aurin bergantian, "Kalian keluarga pasien?"
Afkar dan Aurin berdiri cepat lalu mengangguk, "Ya kami keluarganya, bagaimana keadaan anak kami Dok?" tanya Afkar.
Dokter pun diam sejenak lalu mengajak mereka menuju ruangan sang dokter. Mereka duduk berhadapan dengan dokter yang kini sepertinya bingung ingin menjelaskan dari mana.
"Apa kalian benar orang tua Sickarina?" Dokter yang bernama Reva itu kembali bertanya yang membuat Aurin menatap marah.
"Kami memang orangtuanya! Sekarang jelaskan gimana keadaan anak kami." Aurin begitu kesal dan Afkar mencoba menenangkan Aurin.
"Sickarina adalah pasien dari teman saya yang merupakan dokter psikologis." lanjut dokter Reva yang membuat mereka bertanya \-tanya.
"Kalian pasti bingung kenapa anak kalian menjadi pasien psikologis teman saya. Apa kalian tidak memperhatikan Sicka selama ini?"
Afkar dan Aurin terdiam, mereka tak menjawab.
"Dari yang kalian jelaskan kepada saya saat tadi membawa Sicka kemari saya sudah menduga. Depresi yang dialami oleh Sicka benar-benar sudah parah dan lebih mengarah ke gangguan jiwa."
Brakk
"ANAK SAYA NGGAK GILA!!!" Aurin menggebrak meja sambil berteriak, tidak mungkin. Ini tidak mungkin, anaknya tidak gila.
"Mohon tenang Bu, untuk lebih jelasnya biar saya hubungi teman saya." segera saja dokter Reva menghubungi Rena temannya.
Setelah selesai menelpon Reva menatap kembali orang tua yang ada dihadapannya. Dalam hati dia merasakan perih yang dirasakan oleh Sicka.
<•[💙]•>
Afkar dan Aurin menangis bersamaan setelah mendengar penjelasan dokter Rena yang mengatakan Sicka harus dibawa ke rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan khusus disana. Mereka tak menyangka anak bungsunya akan mengalami hal seperti ini.
Dan yang bisa mereka lakukan hanyalah melihat Sicka yang kini mengamuk sambil meracau karena tak mau dibawa masuk ke dalam ruangan pemeriksaan di rumah sakit jiwa kini.
"Apa yang kalian tanam inilah yang kalian petik. Berdoa saja semoga Sicka bisa sembuh dalam waktu yang cepat." ucap dokter Rena yang tadi disamping mereka lalu dia melangkah pergi.
<•[💙]•>
Rion sedari tadi tidak bisa diam, dia tidak bisa fokus ketika guru tengah menjelaskan sejarah. Hatinya merasa tak tenang, dan yang membuatnya tak tenang adalah Relinnya. Dia mendapat kabar bahwa Sicka tak masuk sekolah dengan keterangan sakit.
"Rion ada apa dengan kamu?" tegur Bu Wati yang menangkap Rion tidak terlihat seperti biasanya.
Rion diam berpikir sejenak, sepertinya dia harus ijin untuk pulang demi memastikan keadaan Sicka.
"Woy Yon lo ditanya Bu Wati tuh!" senggol Ken yang berada disebelahnya. Rion pun langsung berdiri dan mengambil tasnya lalu dia ijin ke Bu Wati.
Bu Wati tau kalau alasan yang di berikan oleh Rion yang mengatakan bahwa ibunya menyuruhnya pulang tidaklah benar. Dia tau kalau saat ini tengah memikirkan Sicka. Sudah menjadi perbincangan hangat kedekatan Sicka dan Rion di ruang guru, maka pasti Rion ingin menjenguk Sicka.
Kembali dengan Rion yang kini mulai melajukan motornya menuju rumah Sicka. Dan tak butuh waktu lama dia sampai di depan rumah Sicka yang terbuka.
Saat dia hendak masuk mengetuk pintu dia harus berhenti karena mendengar suara tangisan yang dia ketahui adalah ibunya Sicka. Dia juga mendengar suara Satya yang berteriak mengucap 'TIDAK MUNGKIN'.
Apa yang terjadi? Rion bertanya dalam hati.
"Sicka udah di rumah sakit jiwa sekarang, dia harus mendapat perawatan khusus disitu."
Deg
Rion kenal suara itu, itu suara ayah Sicka. Dan apa tadi? Sicka dirumah sakit jiwa? Kenapa bisa? Rion yang benar-benar penasaran pun segera melangkah masuk tanpa permisi.
"Apa maksud anda Sicka di rumah sakit jiwa?" Kehadiran Rion membuat semua yang ada dirumah menengang. Mereka sudah tau Rion adalah sahabat Sicka yang sangatlah peduli terhadap gadis itu.
Rion menahan amarahnya saat semuanya hanya diam tak ingin menjelaskan, "Jawab apa maksud anda Sicka di rumah sakit jiwa?" Rion kembali bertanya dengan sedikit ditekan.
Afkar menghela nafas lelah, diapun mendekati Rion, "Nak, Sicka ada di rumah sakit jiwa sekarang. Selama ini dia mengalami depresi ringan yang kami tidak ketahui." Afkar menunduk.
Rion mematung dia benar-benar terkejut, tapi bila masih depresi ringan kenapa dia harus dibawa ke rumah sakit jiwa?
"Wajar saja kalian tidak tau karena kalian nggak peduli sama dia." Rion tersenyum sinis, "lalu kenapa anda membawanya ke rumah sakit jiwa jika Relin masih depresi ringan?"
Afkar tak sanggup untuk menjawab, dia terisak pelan masih dengan wajah yang menunduk. Melihat itu Satria mendekat lalu menjelaskan apa yang terjadi dengan Sicka secara rinci.
Rion makin terkejut setelah tau ternyata Sicka juga menjadi korban pelecahan. Rion menggeram kesal lalu segera pergi dari rumah yang tidak memberi cinta untuk Relinnya.
<•[💙]•>
Rion melajukan motornya menuju rumah sakit jiwa dimana Sicka berada setelah diberi tau Satria tadi. Dia tau Relinnya tengah dititik rapuhnya. Bahkan dia tak bisa merasakan betapa sakitnya menjadi dirinya.
Seperti namanya dia kesakitan, Rion tanpa sadar meneteskan air matanya. Ingin sekali dia mendekap gadis itu saat ini, maka dari itu dia melajukan motornya lebih cepat.
Sekitar tiga puluh menit dia menempuh akhirnya dia bisa melihat Relinnya yang tengah terduduk di kursi roda dengan tatapan kosong. Hatinya mencelos melihatnya apalagi wajah Sicka nampak pucat sekali.
Rion mendekati Sicka lalu menyuruh perawat yang menjaga Sicka pergi. Rion jongkok didepan Sicka sambil menggenggam tangan Sicka. Dia mengarahkan tangan Sicka ke wajahnya lalu perlahan punggung laki-laki itu bergetar disusul suara isakannya.
"Relin gue dateng buat lo," ucapnya pelan dalam isakannya. Sedangkan Sicka dia hanya diam dengan wajah datarnya sambil menatap Rion.
"Gue janji bakal jenguk lo terus disini, gue juga bakal nunggu dan nemenin lo sampai sembuh. Terus nanti kalo gue udah mampu, lo harus tinggal sama gue." Rion kini menatap Sicka dengan air mata nya yang mengalir.
Sicka menatap wajah Rion lama tanpa berbicara apapun dan hal ini membuat Rion makin menangis. Sungguh dia tak sanggup melihat hal ini, diapun memilih pergi meninggalkan Sicka yang tiba-tiba meneteskan air mata.