
All for one who know, together we'd know what to do.
United! Decided, we'll never be divided.
•{ The Musketeers }•
"KELAS DUA BELAS IPS LIMA HADIR KAN?" Suara pengeras suara dari aula terdengar sampai luar. Dan suara itu dari salah satu guru yang biasa di sebut Pak Antok.
"HADIRRR PAK ANTOKK!" Anak IPS lima yang memang sudah hadir disitu mengacungkan jari sembari berseru keras.
"*DUA BELAS BAHASA SATU, ADA*?" Pak Antok lagi\-lagi bertanya, namun tidak ada sahutan dari dalam aula tersebut.
"*HAYO HAYO DUA BELAS BAHASA SATU KEMANA INI? APA TADI PENGUMUMANNYA BELUM JELAS*?" tanya pak Antok karena menganggap bahwa dua belas bahasa satu tepatnya kelas Sicka tidak hadir di aula.
"JELASS PAK ANTOKK!" Seru murid\-murid yang berada di aula.
Di pojok kanan aula tepatnya di barisan kelas duabelas ipa satu, Brandon dan teman-temannya duduk dengan rasa bosan yang mendera.
"Lagian ini ada apaan dah, pake dikumpulin segala begini." gerutu Brian yang duduk di sebelah Brandon.
"Lo nanya gue?" tanya Brandon ketus.
"Dih PMS lo Bran?" Kali ini suara Fahri dan diangguki teman\-teman yang berada di dekat lelaki itu.
"Lagi nggak mood gue." Brandon mengusap wajahnya kasar.
"Udah kek cewek aja lo, pake nggak mood gitu dih!" ledek Alex yang mendapat dengusan dari Brandon. Moodnya buruk akibat kejadian tadi malam di ulang tahunnya.
"Duh ngartis bat dah anak bahasa satu, sok sok an telat segala!" gerutu anak IPA dua yang berada di dekat Brandon.
"Iya nih, udah tau hawa disini makin panas \*\*\*\*. Pak Antok nggak akan mulai ngasi pengumuman kalo kelas nggak lengkap." tambah teman yang satunya lagi.
"ASSALAMU'ALAIKUM!" Salam yang teramat keras itu membuat semua mata menoleh ke pintu aula, dimana anak bahasa satu baru sampai di aula. Mereka semua masuk berjalan menuju barisan yang sudah disiapkan oleh pak Antok.
"*NAH INI ARTIS YANG DITUNGGU\-TUNGGU, KALIAN ABIS NGAPAIN*?" tanya Pak Antok dengan wajah garang yang dibuat\-buat. Pak Antok ini bukan tipe guru\-guru berkumis yang killernya setengah \*\*\*\*\*\*. Guru itu masih muda dan terkesan ramah dimata murid\\-muridnya.
"MAAF PAK, TADI KITA SYUKURAN DULU KARENA EMAK DODO BELI MOTOR. NAH KITA SEBAGAI TEMAN YANG BAIK IKUT SENENG DONG YA? MAKANYA KITA DOA BARENG BIAR EMAK DODO PAS NAIK MOTOR SELAMET." itu suara Adit selaku ketua kelas bahasa satu.
Suasana aula yang tadinya senyap kini nampak ramai lantaran tawa dari beberapa murid yang kadar humornya rendah.
"OGEB BANGET LO ADIT!" seruan itu berasal dari anak bahasa dua. Sedangkan Adit hanya cengir-cengir tak jelas.
Sicka dan Kimi yang masih berdiri di depan aula segera masuk lantaran ulah Adit membuat mereka terhenti di depan aula. Sicka dan Kimi berada di paling belakang.
"HAHAHA ADA ADA AJA KAMU DIT. YAUDAH SEKARANG KALIAN DUDUK." tanggap pak Antok.
Sicka dan Kimi masuk melewati beberapa pasang mata yang kini mulai tertuju padanya tak terkecuali Brandon.
Brandon mengamati gadis yang dibuatnya sakit hati itu, Sicka tengah menatap ponselnya dengan earphone yang terpasang di telinganya. Lalu sesekali gadis itu nampak takjub dengan tatapannya yang tak teralih dari ponsel.
Kira-kira apa yang membuat Sicka fokus ke ponselnya?
"HAI SICKARINA, LIAT JALANNYA JANGAN PONSELNYA MULU NTAR KAMU JATUH," tegur pak Antok yang memang mengenal Sicka.
"Eh iya pak hehe ... Ini lagi liatin mbak mbak saya yang sekseh banget!" Pak Antok hanya tertawa mendengar ucapan Sicka.
Sicka pun duduk di barisan paling belakang dan dia bersebelahan dengan kelas IPS lima yaitu kelas Rion.
Sicka mengangguk sembari tersenyum menyapa salah seorang siswa yang duduk agak di belakangnya barisan IPS lima. Siswa itupun ikut mengangguk dan tersenyum.
"OKE SEMUA KELAS UDAH LENGKAP KAN? BAHASA SATU? DUA?TIGA?"
"SUDAH PAK!" seru kelas bahasa satu, dua, dan tiga.
"*OKE ANAK\\-ANAK, KALIAN SUDAH TAU KAN KALAU KALIAN AKAN DI PULANGKAN PAGI*?" Semua murid berseru 'iya' dengan lantang dan bersemangat. Bagaimana pun pulang pagi adalah hal yang jarang terjadi di SIS ini.
"*JADI BEGINI ... SEHUBUNG DENGAN HASIL RAPAT GURU KEMARIN, AKAN DIADAKAN KAT KHUSUS KELAS DUA BELAS*."
Seketika aula ricuh, kenapa harus diadakan KAT? Membuat badan pegal dan capek aja. Itulah keluhan yang mendominasi di aula.
"HARAP TENANG ... KEMAH INI AKAN DI ADAKAN DI CITAMIANG DAN UNTUK INFO LEBIHNYA, NANTI AKAN DI EDARKAN OLEH ANAK OSIS."
Sicka pun tak urung ikut ricuh dengan teman-temannya. Sicka pasti akan duduk-duduk saja disana karena kakinya. Tidak-tidak, dia tidak mau mati kebosanan sedangkan teman-temannya ikut partisipasi dalam lomba yang diadakan. Kali ini dia juga akan ikut berpartisipasi.
"Iya gue juga sama Do, tapi mau gimana lagi? Kata anak OSIS ini nanti masuk nilai rapot bagian ketrampilan." ucap Sinta.
Sicka dan Kimi saling pandang, ingin sekali mereka membantu tapi keadaanya juga sama seperti teman-temannya yang lain.
"Guys selama ini you you pada anggep me apa? Gue bakal urus biaya kalian yang masi kurang. Kalian tau nggak kalau kalian ini udah gue anggep keluarga sendiri. Disini kita susah seneng sama-sama, karena kalian gue jadi ngerasain gimana punya temen yang nggak pandang harta yang ortu gue miliki." ucapan Jessy si bule membuat Sicka dan yang lain terdiam.
Memang setiap kali ada event di SIS yang sering membantu bagian administrasi ya si Jessy.
"Kita ini cuma ada 16 orang kan di kelas? Kita harus semangat buat KAT kali ini. Kita harus menangin lomba yang ada disana." Adit ikut menambahi. Posisi bahasa satu kini sudah berubah menjadi mengerubung.
Hanya anak bahasa yang memiliki murid sedikit di kelas, tapi khusus kelas Sicka adalah kelas yang sangatlah sedikit muridnya. Cuma 16, delapan perempuan dan delapan laki-laki.
"Gue juga mau ikut lomba kaya kalian." Sicka bersuara yang segera mendapat tatapan tajam dari teman-temannya yang lain. Anak OSIS yang membagikan selebaran kertas info KAT pun ikut menatap bahkan menertawainya.
Teman-teman Sicka bukan bermaksud meragukan gadis itu, hanya saja mereka khawatir takut tak bisa menjaganya yang membuat gadis itu lagi-lagi di bully. Bagaimanapun mereka adalah keluarga di sekolah. Solidaritas di utamakan.
"Hahaha ... Lo mau ikutan lomba juga? Dih kek bisa aja." ucap anak OSIS itu yang segera mendapat delikan tajam dari teman-teman Sicka. Seketika gadis itu menciut, segera dia pergi dari gerumulan anak bahasa satu.
Sicka melihat selebaran itu, dan raut wajahnya sedikit berbinar saat dia melihat bahwa lomba disitu akan diadakan pensi bagi setiap regu kelas. Hm, ini kesempatan emas buatnya.
"Gue bakal ikut pensi dan kalian nggak boleh ngelarang gue buat kali ini." putus Sicka menatap teman-temannya mantap.
<•[💙]•>
Disinilah Sicka dan Rion berada. Trans Snow World, Bekasi. Sesuai keinginan Sicka yang ingin bermain salju. Tadi sepulang sekolah mereka langsung berangkat masih menggunakan seragam sekolah, dan di jalan Rion menghentikan mobilnya di SPBU untuk berganti baju santai.
Rion tersenyum tipis melihat binar bahagia saat melihat salju di tempat ini. Sesekali dia juga membersihkan salju yang ada di rambut gadis itu saat tak sengaja ada anak kecil yang bermain lempar salju dan mengenai rambut Sicka.
Rion masih memperhatikan Sicka yang sekarang duduk di salju dengan kakinya yang diluruskan lalu jemarinya mengambil salju itu dan dilemparkan iseng ke setiap anak kecil yang lewat di hadapannya. Benar-benar menggemaskan, batin Rion saat melihat Sicka tertawa saat aksi jahilnya itu mendapat respon dari anak kecil yang dia jahili.
"Aaaa ampun dek hahah ... Bukan kakak yang lempar salju nya. Tapi kak ganteng yang disebelah," Rion mendelik saat Sicka menunjuknya menjadi pelaku pelempar salju.
Sicka tertawa puas saat melihat Rion menjadi sasaran anak-anak kecil. Lalu dia pun berdiri dan mencoba berjalan menjauh dari Rion. Kebetulan dia tak memakai tongkat, jadi jalannya agak pelan.
Saat Sicka tengah melihat-lihat, ada tangan yang merangkul bahunya. Dia Rion, "Jangan sendiri." ucap Rion.
"Dih kenapa? Gue kan pendekar! Sendiri berani!"
"Lo keliatan jomblo." sahut Rion
"Yeuuu kampret, mentang\-mentang gue baru putus." kesal Sicka.
"Makanya jadi pacar gue aja. Lo nggak bakal jomblo." ucap Rion santai.
Sicka berhenti melangkah dan otomatis Rion juga berhenti, lelaki itu menatap Sicka heran. Sedangkan gadis itu menatap Rion dengan jantung yang bergemuruh di dalam sana.
"Se-sejak kapan lo jadi penggombal gini?" Sicka benar-benar terperangah.
Mendengar pertanyaan itu Rion tertawa, lalu disusul dengan tangannya yang mengacak-acak rambut Sicka. Rion menghadap tepat didepan Sicka, kemudian membungkukkan badannya. Wajahnya dia dekatkan ke wajah Sicka dan hanya berjarak tiga jengkal saja.
Sicka menahan napasnya melihat wajah Rion sedekat ini. Mata belonya sedikit membesar dan itu malah membuat Rion suka.
"Sejak sama lo. Dan gue gini cuma sama lo. Lo doang nggak ke cewek lain." ucap Rion dengan menatap serius Sicka. Oh! Sicka mematung mendengarnya. Bolehkah dia baper dengan apa yang dikatakan oleh Rion?
Melihat tak ada reaksi dari gadis didepannya, Rion mendengus geli. Dia meniup wajah Sicka yang membuat gadis itu sadar dan kini salah tingkah.
"Dasar buaya!" ucap Sicka mencoba menyembunyikan sikap saltingnya sambil memalingkan wajahnya.
"Buaya setia gue maa ..."
"Prett!"
"Nggak percaya?"
"Nggak!!"
"Okee." Sicka mengernyit mendengar jawaban Rion, dan saat dia menoleh ke arah Rion matanya membulat serta seperti ada sengatan aneh ditubuhnya. Sebuah benda kenyal milik Rion menempel di sudut bibirnya.
*GILAAAAA*! jerit Sicka dalam hati. Tubuhnya kaku.
Rion menjauhkan wajahnya dan memasang senyum yang menyebalkan menurut Sicka. Gadis itu langsung menoleh ke sekitar, dia bernapas lega karena tidak ada yang memperhatikannya barusan.
"Nggak ada yang liat. Gue cuma nyium pipi lo." Sicka melebarkan matanya, cowok ini terlalu frontal menyebut apa yang dilakukannya tadi. Menyebalkan!
"Cuma pipi lo bilang?" delik Sicka dan kali ini dia sudah menatap tajam Rion, "disini banyak orang \*\*\*\*\*\*!"
Rion menyeringai jahil, "Jadi ... Maksud lo, lo pengennya di tempat sepi?" Ah kenapa menggoda Sicka sungguh menyenangkan sekali untuknya.
"Ihhhh bukan gitu! Au ah bodo." Sicka melangkah menjauhi Rion dengan wajah kesal. Rion puas melihat itu, segera saja dia menyusul Sicka yang sudah berjalan agak jauh di depannya.
Satu hal yang Sicka belum tau, bahwa perasaan dan semua yang dikatakan oleh Rion adalah tulus dan murni. Dan lelaki itu akan berjuang mendapatkan Relinnya. Berusaha membuat gadis itu hanya jatuh cinta kepadanya bukan ke orang lain. Rion akan memberikan cinta dan kasih sayang kepada Sicka sampai kapanpun.
Dan harapan Rion, semoga gadis itu segera sadar tentang perasaanya yang bukan karena lelaki kepada sahabat tetapi lelaki kepada gadis yang disukainya.