
**Langitku kelam.
Malamku tak lagi menenangkan.
•{ Anonimoûs** }•
Skylar International School atau SIS ini kini tengah di sibukkan dengan murid kelas dua belasnya yang tengah bertempur melawan soal-soal Ujian Nasional sebagai bukti mereka belajar selama tiga tahun lamanya.
"Kimiarini Cinder," tegur seseorang yang kini duduk di samping Kimi yang tengah melamun.
Kimi tersadar lalu menoleh ke samping. Dia merasa tak enak, " Maaf Bri, aku nggak denger tadi kamu manggil aku."
"Mikirin Sicka hem?" Brian yang kini sudah menjadi pacar Kimi mengelus kepalanya dengan lembut. Brian tau Kimi masih terpikirkan dengan sahabatnya itu yang kini tidak ada yang tau dimana.
Kimi menatap Brian yang sekarang adalah pacarnya, dia ingat betul bagaimana Brian rela menjadi samsak untuk dia pukuli sebagai pelampiasan saat tau Sicka pergi dibawa kakek dan neneknya. Dia sempat meringis saat bayangan Brian yang babak belur karena dirinya.
"Seperti yang aku sering bilang, Sicka pasti baik-baik aja. Sekarang kamu harus fokus dulu menghadapi ujian yang tinggal besok aja. Aku nggak mau kamu sampai kacau nantinya karena mikirin Sicka sampe segitunya. Aku tau Sicka sahabat kamu, tapi dia juga pasti akan sedih saat tau kamu yang seperti ini." Brian mencoba menasehati Kimi yang kini menunduk sambil mengangguk pelan.
"Tapi aku kangen Rin, aku kangen dia hiks ..." Brian segera membawa Kimi ke pelukannya dan mengelus pelan punggung pacarnya itu.
"Dia juga kangen kamu kok." balas Brian mencoba membuat Kimi tenang kembali. Sicka adalah hal yang sensitif untuk Kimi sekarang. Dia akan seperti ini ketika teringat dengan Sicka.
Berbeda dengan Kimi, San kini tengah duduk di bawah pohon yang ada di taman belakang sekolahnya.
Perlahan tangannya meraba pinggang kanannya dimana ginjal berada. Tak terasa air matanya turun untuk kesekian kalinya. Sejak kejadian dimana semuanya terbongkar, dia dijauhi oleh teman-temannya dan membencinya.
"Hiks ... Maaf Rin hiks ... hiks ... " Sesalnya dengan penuh isakan. "Harusnya gue ... gue nggak benci lo. Ke-egoisan gue yang bikin lo dibenci sama Ayah bunda dan abang hiks ... hiks ... " racaunya.
Kini San menjambak rambutnya dengan kencang, "Makasih hiks ... hiks ... buat segalanya ... buat gue masih ngerasain hidup sampe sekarang. Gue bener-bener kembaran yang jahat hiks ..."
"RINNNN!! DIMANA LO SEKARANG HAH? GUE KANGEN LO ... " San tak lagi duduk di kursi melainkan terduduk di tanah rumput sambil terus berteriak.
Dari kejauhan ada cowok yang memperhatikan San dengan seksama, dia Brandon. Cowok itu membiarkan San meratapi kesalahannya, dia akan datang menghampiri San ketika cewek itu pingsan setelah menangis kencang lalu berteriak. Dan seperti sekarang, San pingsan. Dia pun melangkah mendekati San dan langsung menggendongnya.
<•[💙]•>
Silvi menatap sendu anak laki-lakinya yang kini tengah menatap langit malam dengan diam. Dia tau anaknya memikirkan gadis itu. Sebagai seorang ibu dia pun ikut merasakan kesedihan yang di alami anaknya. Perlahan dia mendekati anaknya yang nampaknya tak menyadari kedatangannya.
"Udah malam bang, kenapa masih di luar? Ini dingin loh udaranya. Masuk yuk!" ajak Silvi sambil menarik pelan lengan Rion.
"Kira\-kira Relin lagi apa, Ma?" ucap Rion menghiraukan ajakan Silvi. Tapi Silvi pun tak menyerah, dia tetap menarik paksa lengan anaknya itu masuk lalu diajaknya duduk di tepian kasur.
Silvi menatap lembut Rion, tapi anaknya itu memasang wajah sendunya. Tangan Silvi terulur mengusap pipi Rion.
"Bang ... Mama tau kamu cinta banget sama Sicka. Tapi mama sedih liat kamu yang kaya gini. Cinta itu wajar Bang, tapi jangan sampai menyiksa diri Abang sampe nggak makan dari pagi. Mama khawatir sama keadaan kamu."
Rion masih diam menikmati elusan di kepalanya, "Tapi kamu juga harus nyiapin masa depan kamu bang. Buat diri kamu beda dari yang dulu pernah di lihat oleh Sicka. Buat dia terpana nantinya saat melihatmu, persiapkan dirimu lebih matang lagi Bang." ucap Silvi dengan senyum lembut yang sangat disukai Rion.
Ya Mamanya benar, dia tidak boleh bersedih seperti ini. Relinnya pasti kembali, dan dia harus tampil beda nantinya. Dia harus membuat masa depan yang cerah untuknya dan juga Relinnya.
"Mama benar, aku harus nyiapin masa depan buat Relin dan aku nantinya. Makasih Mama sayang," Rion langsung bangkit dan memeluk Silvi.
Mungkin ini cara tuhan mengatur masa depannya dengan Sicka sebagai perempuan yang dipilihnya. Dia harus menjadi orang sukses, ya dia harus.
Dan mau sampai bertahun-tahun lamanya dia akan rela menunggu Sicka sampai kembali. Dia tau Relinnya pasti akan kembali.
"Kamu suka Sicka karena apa Bang?" tanya Silvi yang sedari dulu membuatnya penasaran.
"Aku suka semuanya, Ma. Mulai dari senyumnya, matanya, tubuh mungilnya dan kakinya." Rion menjawab sambil tersenyum lebar.
"Rasanya kalo liat dia bawaannya pengen meluk dan ngejagain dia Ma. " Silvi tertawa saat melihat wajah lucu Rion. Lucu sekali rasanya Rion saat membicarakan tentang gadis yang dia sukai.
"Gini dong senyum jangan sedih mulu. Ya udah kamu sekarang tidur jangan lupa itu pintu balkonnya ditutup. Mama ke bawah dulu nemenin kak Rain nonton drakor."
Rion mendengus melihat mamanya yang kini kecanduan drakor karena kakaknya. Tapi bagaimanapun dia tetap menyayangi kedua perempuan itu. Karena begitulah keluarga, saling menyayangi satu sama lain.
<•[💙]•>
Di tempat yang begitu sejuk dan terasa menenangkan, gadis itu memandang langit malam yang bertaburan bintang. Dia begitu menikmatinya sambil tersenyum karena hal itu sangat menyenangkan.
Tapi senyumnya seketika pudar, dia merasakan kehampaan dalam dirinya. Dia merasakan hatinya berdenyut nyeri yang kini membuatnya menangis tiba-tiba, dia kembali menangis dengan meraung-raung.
"Astaghfirullah Sicka, kamu kenapa?" Itu suara Sriyani, nenek yang kini merawat Sicka di tempat yang jauh dari jangkauan mereka.
Sicka, gadis itu keadaanya masih sama. Belum ada perubahan, dia masih sering menangis meraung-raung lalu tiba-tiba tertawa. Mungkin Sicka perlu banyak waktu untuk membuatnya sembuh dan kembali sehat seperti semula.
"Hiks ... hiks ... hahahaha, aku bahagiaaaaa hahaha ... Hiks ... Tap-tapi aku sendirian," Selalu sama kalimat yang diucapkan oleh Sicka.
Sastroharja yang baru pulang dari acara kumpul dengan pak RT setempat langsung menghampiri cucunya yang menangis. Cucu yang tidak dipedulikan oleh anaknya.
"Nak, kamu mau ikut kakek jalan\-jalan? Ssttt ... sssstt ..." rayu Sastro sambil mencoba menenangkan Sicka.
Sicka menghentikan tangisnya lalu menatap nenek dan kakeknya, perlahan bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman hingga lebar.
"Akuuu ingin jalan-jalan Kekkkk!! HOREEEE jalan-jalan!!" ucapnya seperti anak kecil. Menurut dokter yang merawat Sicka, gadis itu akan berucap dan bertingkah seperti anak kecil ketika dia senang. Maka dari itu Sastroharja dan Sriyani tersenyum, kini cucunya tak menangis lagi.