LOVE For SICKARINA

LOVE For SICKARINA
THIRTY



**Hari ini terus aku jalani.


Matahari menghentikan napasku.


Dunia telah menelanjangi semua milikku.


•{ Anonimoûs** }•


Sicka mempercepat langkah nya dengan tongkat pergi menuju toilet. Dia sendirian pergi ke toilet karena Kimi masih belum selesai mengerjakan tugas dari Bu Ema.


Setelah selesai dengan urusannya dia hendak keluar, tapi dia urungkan saat mendengar suara orang yang dia kenali. Meldi dan kedua temannya, cewek yang cinta mati dengan Brandon.


Tadinya Sicka inginnya toilet di samping gedung jurusannya tapi sedang ada perbaikan jadi dia terpaksa ke toilet dekat dengan gedung IPA dan IPS.


  "Kapan lo mau ngejalanin misi itu?" Itu suara teman Meldi yang dapat didengar oleh Sicka. Dengan sangat hati-hati Sicka didalam salah satu bilik agar tak menimbulkan suara gaduh.


"Gue bakal mancing Sandriana ke club yang sering di datengin Jedy malam ini." Ini suara Meldi.



"Jedy yang masih temennya Brandon itu?"



"Iya."



"Kayaknya seru tuh wkwkw," Mereka tertawa. Sedangkan Sicka yang didalam bilik toilet menggigiti kukunya, dia bingung harus apa.


Dan setelah tak terdengar suara Meldi dan teman-temannya sudah dipastikan mereka pergi. Sicka segera keluar dan kembali ke kelasnya.


Kimi yang sudah menyelesaikan tugasnya mengalihkan pandangannya ke samping dimana Sicka duduk. Dia terheran dengan tingkah Sicka yang diam serta melamun setelah kembali dari toilet.


Tubuh Kimi mendadak merinding, dia takut kalau ternyata itu bukan Sicka.


Gusti ini Rin atau nggak ya?


 


"Rin," Kimi menyenggol lengan Sicka tapi tak ada sahutan dari sahabatnya itu. Dia masih sibuk melamun dan mulutnya yang tertutup rapat.


"GUYSS TOLONG SI RIN KERASUKAN!" teriak Kimi yang sudah ketakutan dan karena teriakan itu membuat Sicka sadar dan menoleh ke arah Kimi yang menatapnya horor.


Teman sekelasnya mengerubungi meja Sicka dan Kimi. Lalu Fahmi anak rokhis langsung panik dan membaca doa-doa.


  "Ya ampun Karin abis ngapain? Kenapa bisa kerasukan?"


"Bismillahirrahmanirrahim setan yang ada di dalam tubuh teman saya tolong MINGGATTTT!!!!"


Sicka paham sekarang, diapun memberontak dan menggebrak meja berkali-kali, "WOYYY GUE KAGAK KERASUKAN GOBLOKK!!"


<•[💙]•>


Malam ini Sicka tidak bisa diam, sedari tadi dia terus bergerak kesana kemari karena bingung dia harus apa.


Keluarganya malam ini tidak ada rumah, hanya ada dia dan San. Sicka akhirnya memilih keluar kamarnya, dia melangkah menuju dapurnya untuk mengambil air putih.


Menenggak air putih setidaknya bisa mengurangi sedikit rasa bingung yang melanda dirinya. Hingga langkah terburu-buru dari tangga membuat Sicka segera melangkah cepat melihat San.


  "Kak mau kemana malam\-malam begini?" tanya Sicka sedikit berteriak dan dia melirik jam di dinding yang menunjuk pukul sebelas malam.


"BUKAN URUSAN LO!" Balas San dengan kesal dan kembali berjalan dengan terburu\-buru. Sicka tak ingin ketinggalan jejak dia segera menyusul keluar, tapi dia telat. San sudah melajukan mobilnya keluar gerbang.


Dan entah suatu keberuntungan atau bagaimana tiba-tiba ada taksi yang melintas didepannya, diapun menyetopnya dan segera naik.


  "Pak ikutin mobil yang didepan. Tolong kejar mobil itu secepatnya." Sicka begitu panik, dia menduga\-duga ini pasti ada hubungannya dengan Meldi.


 


<•[💙]•>


Sicka menatap tempat yang hendak ia masuki, begitu banyak remaja muda mudi yang keluar masuk dengan keadaan hampir semuanya mabuk. Dia tidak pernah masuk ke tempat seperti ini sebelumnya bahkan tidak ingin.


Dengan langkah pasti dia mulai melangkah masuk agar bisa membawa kakaknya San keluar dari tempat seperti ini.


Saat dia masuk suara dentuman musik sangatlah memekakkan telinga. Disini dia juga harus waspada karena dia juga mengenakan pakaian yang sedikit terbuka, dia hanya mengenakan baju terusan yang dilapisi kardigan hitam.


Di kejauhan dia melihat San tengah minum dan didepannya ada Meldi beserta kedua temannya. Bahkan disitu ada Jedy teman Brandon yang menatap San penuh nafsu. Melihat hal itu Sicka merogoh saku di kardigan nya lalu menghubungi seseorang.


 


"Halo Brandon, tolongin!!" ucap Sicka sedikit kesusahan karena sempat ada yang mencolek tubuhnya.


*Lo dimana? Kenapa berisik gitu*?  Suara Brandon disana nampak cemas.



"Tolong dateng ke club dimana temen lo yang namanya Jedy sering dateng. Selametin kak San gue mohon Bran ..." Sicka kini ingin menangis  karena di depannya ada seorang laki\\-laki seumurannya yang tengah menatapnya tajam sambil melihat tubuh Sicka.



"*San kenapa, Sicka*?"



"Lo jangan banyak nanya, plis cepetan lo dateng kesini. Kak San dijebak sama Meldi, dia peng–" Ucapan Sicka terputus saat cowok yang menatapnya tajam kini menggendong tubuhnya di bahunya.



"TURUNIN GUE WOY!! TURUNIN!!" Sicka meronta\-ronta dan memukul cowok itu, tapi cowok itu seakan tak merasa sakit akibat pukulan Sicka.


Sicka merasakan jantungnya ingin keluar saat dia dibawa masuk ke dalam ruangan oleh cowok itu.


 


"Mari main denganku."


<•[💙]•>


Brandon sudah masuk ke dalam club dimana Jedy temannya sering datang. Dia bergegas masuk untuk mencari San karena permintaan Sicka. Dia juga sangat khawatir dengan Sicka karena sambungan teleponnya setengah jam lalu putus tiba-tiba.


Di dalam dia dapat melihat Meldi yang tengah mabuk berat begitu pula kedua temannya. Dia menghampiri cewek itu.


  "Dimana San hah?" tanya Brandon tak sabar, Meldi yang melihat Brandon begitu senang. Diapun bergelayut manja di lengan Brandon yang segera ditepis cowok itu.


"Hahahaha, kenapa sih sayang kamu nyariin San sok cantik itu? Emang dia seseksi apa sih? Seksian juga aku." Brandon jijik mendengar hal itu.


Lalu saat dia mengedarkan pandangannya ke atas dia melihat seorang cewek yang dibawa paksa oleh cowok menuju ke ruangan khusus.


Brandon mengenali cowok itu, dia Jedy temannya.


Segera saja dia menepis tangan Meldi yang bergelayut di tangannya lalu segera lari naik ke atas dimana dia tadi melihat San.


Sampai di lorong yang hanya berisi kamar-kamar Brandon segera membuka salah satu pintu dimana Jedy sering masuki bersama perempuan bayarannya.


BRAKKK


  "BRENGSEK LO JED!!" maki Brandon saat melihat San yang bajunya hampir terlepas dan ditindih oleh Jedy. San tampak kacau, dia menangis. Melihat itu Brandon langsung menarik kerah Jedy dan membantingnya dari atas kasur.


BUGHH BUGHH


Brandon memukul rahang Jedy berkali-kali hingga cowok itu lemas tak berdaya. Jedy tak bisa mengimbangi Brandon karena dia dalam keadaan mabuk juga. Setelah melihat Jedy yang sudah seperti itu, Brandon segera melepas jaketnya lalu berjalan mendekati San dan memakaikan jaketnya.


  "Brandon hiks ... " San menangis kencang.


"Sssttt ... Jangan nangis oke? Gue ada disini. Gue anter lo kerumah." San mengangguk lalu dia segera digendong oleh Brandon keluar dari club tanpa mengetahui bahwa masih ada satu orang yang saat ini tengah menangis kencang disalah satu kamar dilorong itu.


<•[💙]•>


Sicka memasuki rumahnya dengan tatapan kosong dan bajunya yang sedikit lusuh. Saat dia ingin menaiki tangga tiba-tiba tubuhnya terjungkal ke belakang.


Plak


  "DARIMANA KAMU HAH? JAM 4 PAGI BARU PULANG? APA KAMU TIDAK TAU KALAU SAN TADI MALAM DILECEHKAN? KENAPA KAMU TIDAK MENJAGANYA HAH?" Aurin menampar pipi Sicka berkali-kali sambil menangis.


Aurin berhenti menampar Sicka saat ada Satya yang memegangi lengan Aurin. Satria pun turut hadir disitu dan hanya memandang Sicka yang masih terduduk dilantai dengan sudut bibirnya yang berdarah akibat tamparan tadi tanpa mau menolong.


Sicka berdiri dengan susah payah tanpa menatap mereka, diapun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


  "MAU KEMANA KAMU HAH?DASAR ANAK TAK TAU DIUNTUNG!!"


Aurin benar-benar hanya peduli dengan San tanpa mau memperdulikan Sicka yang kini sudah berada dititik kehancurannya. Apa yang dialami oleh San masih lebih parah yang dialami oleh Sicka.