
**Topeng ini semakin menipis. Aku tahu aku akan kehilangan akal sehatku. Aku sudah muak demi kebaikan.
•{ Anonimoûs** }•
Hari Minggu menjadi hari terakhir mereka di Citamiang, seluruh anak kelas dua belas berjejer rapi dan tak ada satupun yang bersuara kecuali petugas upacara penutupan KAT.
Sicka yang berdiri di paling belakang berdoa agar kakak pembina alias gurunya itu tak terlalu panjang dalam berpidato. Dia sudah kangen dengan kasurnya dan ingin segera merebahkan tubuhnya.
Tidak ada sepuluh menit pembinanya berpidato karena mengerti kalau muridnya sudah kelelahan. Dan sekarang dilanjut pengumuman pemenang lomba.
"Kemaren pas outbond kita menang banyak Rin. Pasti ntar semua pada nyinyir!!" Sicka membulatkan matanya, kenapa tidak ada yang memberitahunya kalau ternyata teman-temannya itu menang?
"Serius lo?"
"Serius lah! Nih bentar lagi nama sangga kita disebut wkwkwk. Gue mau sok kul ah nanti." Kimi tertawa sambil menepuk pundak Sicka seolah hal itu benar-benar lucu.
Dan benar saja, sangganya kelompok 'perintis' dipanggil untuk maju mengambil hadiah karena hampir semua dimenangkan oleh teman-teman Sicka. Dia begitu senang sampai-sampai tak sadar bahwa ketika semua orang berhenti bertepuk tangan, Sicka masih bertepuk tangan.
Sicka menunduk malu karena ditatap oleh banyak orang. Tapi setelah itu tangannya ditarik oleh Kimi untuk maju ke depan menerima piagam 'Pramuka yang tanggap, aktif dan ceria'.
Bahkan untuk lomba pensi tadi malam pun dia menjadi juara pertama. Ini benar-benar membuatnya puas begitupula teman-temannya.
Upacara penutupan pun selesai dan dilanjutkan dengan bersiap-siap untuk pulang. Sicka dan teman-temannya sudah selesai, mereka langsung menuju ke bus yang sudah menunggu di pintu masuk.
Sicka mendudukkan dirinya di kursi lalu mulai memasang earphone ditelinganya dan lagu Senorita–Shawn Mendes feat Camila mengalun. Dia menutup mata dan kepalanya bergerak ke kanan dan kiri mengikuti alunan musik itu yang menurutnya sangatlah enak.
Hingga seseorang mencabut earphone di telinga kanannya. Sicka hendak memarahi orang itu yang seenaknya mencabut earphonenya tapi urung saat melihat wajah lelah Rion. Ya pelakunya Rion.
Rion menyandarkan punggungnya lalu memasangkan earphone tadi ditelinga kirinya, dia kemudian memejamkan matanya. Dua malam dia tidak tidur karena teman satu tendanya.
"Nald lo sakit?" tanya Sicka dengan nada cemas dan saat menyentuh kening Rion dia merasa tubuh Rion sedikit panas.
"Cuma kurang tidur aja Rel " balas Rion membuka matanya sedikit.
"Kenapa nggak tidur?" Sicka memperhatikan wajah Rion yang memang terlihat dari bawah kantung matanya yang menghitam.
"Temen gue ada yang kentut terus, ngorok, ngelindur dan masih banyak lagi." Cerita Rion yang membuat Sicka tertawa.
Rion mendengus, "Gue mau tidur, bangunin kalo udah nyampe." Lalu Rion menyandarkan kepalanya di bahu kanan Sicka.
Sicka membenarkan rambut Rion yang sedikit berantakan lalu mengelus kepala Rion agar cowok itu tidur dengan nyaman.
Sicka begitu menikmati yang saat ini dia alami. Dia berharap semoga akan selalu tetap seperti ini meskipun dia tau tak selamanya yang diinginkan akan terkabul.
"Thanks ya Nald, karena lo gue tau gimana rasanya cinta. Dan untuk jatuh gue selalu siap, gue harap lo bakal kuat saat waktunya kita nggak bisa gini. Ada cinta ada juga jatuh." lirih Sicka.
Diapun kembali mengutak-atik ponselnya berjaga agar tak tertidur karena Rion menyuruhnya untuk membangunkan cowok itu.
<•[💙]•>
Bus sudah sampai di sekolah kembali sekitar pukul dua siang. Sicka memilih turun paling akhir karena tak mau berdesakan yang nantinya akan membuatnya jatuh.
Sicka mengguncang pelan tubuh Rion untuk membangunkan cowok itu. Rion pun segera membuka mata lalu meregangkan lehernya yang terasa pegal.
"Udah nyampe?" Sicka mengangguk.
Rion pun berdiri untuk memberi jalan kepada Sicka. Gadis itupun berdiri dan berjalan lebih dulu didepan Rion.
"Dijemput siapa?" tanya Rion yang berada di belakang Sicka.
"Taksi." balas Sicka lemas, mereka pun sudah berada di luar bus. Rion mengambil barang miliknya dan juga milik Sicka lalu dia kembali menghampiri Sicka yang diam mematung menatap sesuatu.
Rion mengikuti arah pandang Sicka, dia melihat San kembaran Sicka yang dijemput oleh orangtuanya. Mereka seolah lupa bahwa masih ada Sicka yang memandang iri ingin bergabung dengan mereka.
Tanpa berucap apapun Rion menarik tangan Sicka menuju mobil miliknya yang tadi diantar oleh sopirnya.
Di dalam mobil Sicka hanya diam dan kepalanya yang menghadap ke luar jendela. Rion sampai harus mencuri-curi pandang untuk memastikan bahwa Relinnya tidak menangis.
"Kapan?" Suara Sicka seperti menahan tangis. Hatinya begitu perih karena orang tuanya benar\\-benar menganggapnya tak ada. Padahal selama ini dia sudah berusaha agar terlihat memuaskan di depan mereka.
Rion diam tak tau harus menjawab apa. Daripada dia salah bicara dan membuat Relinnya makin sedih dia lebih memilih diam saja.
Rion menghentikan mobilnya di depan rumah Sicka. Gadis itupun bersiap untuk turun setelah mengucap terima kasih kepada Rion.
Rion menahan tangan Sicka lalu menariknya mendekat. Sicka terkejut saat keningnya merasakan kecupan dari Rion.
Hanya lima detik tapi mampu membuat Sicka seperti orang punya penyakit jantung. Rion menjauhkan wajahnya lalu melihat Sicka yang masih mematung dengan mata belonya yang mengerjap lucu.
"Gih keluar, abis itu mandi langsung istirahat. Btw lo bau." ucap Rion dengan kekehannya. Sicka langsung memukul lengan Rion karena tak terima dikata bau.
"Gue nggak bau!" Masih dengan memukul lengan Rion.
Rion tertawa setidaknya Sicka tak murung lagi seperti tadi, "Gih keluar, gue mau langsung cabut."
Dengan kesal Sicka turun dan menutup pintu dengan kencang. Dan tanpa menunggu Rion melajukan mobilnya, Sicka masuk ke dalam rumahnya yang gerbangnya terbuka lebar.
Akhirnya tawa Rion pecah, melihat wajah Sicka saat sedang kesal seperti itu adalah kesukaannya. Setelah puas tertawa, Rion kembali melajukan mobilnya meninggalkan komplek Sicka.
<•[💙]•>
Sicka terdiam di kamarnya, air mata terus jatuh di pipinya. Matanya bengkak dan wajahnya merah karena sangking lamanya menangis. Rasanya dia ingin marah dan mengamuk bersamaan tapi untunglah dia sudah minum obatnya agar depresinya ini tidak mengambil alih kesadarannya.
"Ka-li-an j-jahat hiks ... kenapa kalian p-pecat Mami?" Sicka kembali meraung.
Saat dia pulang tadi, dia segera mencari keberadaan Bi Sum tapi dia tak mendapati sesosok yang dicarinya itu. Lalu Aurin bundanya dengan wajah senang bahwa dia sudah memecat Bi Sum atas persetujuan bersama.
Cklek
Sicka menoleh ke arah pintu yang sudah dia kunci tadi kini dimasuki oleh Satria yang memang memiliki kunci cadangan. Satria mendekati adiknya yang masih menangis.
"NGAPAIN LO KESINI HAH?" bentak Sicka tak sadar, entah kenapa emosinya terpancing.
Satria yang baru pertama kali melihat itu berjengit kaget. Niatnya yang tadi ingin menenangkan Sicka sudah terganti oleh rasa amarah, bagaimanapun dia masih belum sepenuhnya menerima kehadiran Sicka.
Satria berjalan cepat menghampiri Sicka lalu dia mencengkram kerah baju Sicka kuat hingga gadis itu tubuhnya sedikit terangkat. Tatapan Satria seketika membuat nyali Sicka ciut.
"BENER YA KATA BUNDA KALO LO TUH MANJA, HARUSNYA BI SUM DIPECAT DARI DULU. LO NGGAK NYADAR DIRI JADI ANAK, MASIH MENDING DIKASI TUMPANGAN HIDUP!"
Sicka mematung, hatinya makin perih mendengar ucapan Satria yang dia kira sudah berubah kepada Sicka. Ternyata Satria masih sama, dia belum menerima Sicka. Dan menurut Sicka, kebaikan Satria hari lalu hanyalah kasian semata.
"Gue benci sama lo!" desis Satria lalu menghempaskan kasar Sicka dan dia berlalu keluar dari kamar Sicka.
Tak henti sampai disitu, San tiba-tiba masuk dengan tawanya. Dia berjalan mendekati Sicka lalu menjambak rambut Sicka yang terurai. Ingatkan Sicka setelah ini agar menggelung rambutnya saja, karena dijambak rasanya sakit sekali.
"Gimana tadi semburannya Bang Satria? Lo udah sadar belum?" San kembali tertawa jahat.
Sicka menangis dan tak berniat melawan. Dia tidak akan mampu untuk memaki apalagi memukul San kakak kembarannya.
"Gue harap lo cepet ... Hus hus dari sini!" ucap San dengan mengibas pelan tangannya.
Setelah itu San keluar dari kamar Sicka dengan membanting pintu dengan keras.
Dia tak tau kalau ternyata dia hanya beban di rumahnya. Dia baru tau kalau selama ini dia tak sadar diri kalau dia menyusahkan. Tapi dia masih ingin disini, menjaga keluarganya dari hal yang membahayakan.
Dan bila memang dia harus angkat kaki dari rumah ini dia siap tapi tidak sekarang.
"Tenang saja aku akan pergi, semoga kalian selalu bahagia." ucap Sicka lirih lalu semuanya gelap. Sicka pingsan tanpa ada satupun yang tau keadaan gadis itu.